Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kaget.


__ADS_3

Sepeninggalnya Louis, tatapan matanya kembali menatap suaminya yang masih terbaring dalam komanya. Hatinya semakin sakit, dan dilema semakin terasa begitu mendalam bagi seorang Alana.


"Seandainya saja dari dulu kau memenuhi apa yang aku inginkan, pasti semua ini tidak akan terjadi, dan aku tidak akan berada diposisi yang sulit seperti ini Dave," Gumamnya, disela tangisnya yang semakin pecah.


Alana semakin menumpakan tangisnya, dia seperti dihadapkann posisi yang sulit saat ini, memilih cintanya atau demi kedua anaknya yang menginginkan kedua orantuanya tetap bersama, apalagi permintaan mereka yang menginginkan seorang adik, dari dia dan Dave.


Kembali hening dengan matanya terfokus pada Dave, yang masih setia memejamkan matanya, dan tiba-tiba saja tanda tanya menghinggap pikiran wanita berambut panjang itu mengenai hubungan suaminya, dan Laura.


"Apa yang terjadi dengan hubungannya, dan Laura? kenapa sampai sekarang, kekasihnya belum menjenguknya sama sekali?" Bertanya dalam hati, dengan rasa penasaran yang begitu melanda. Mengingat bagaimana saling mencintainya suaminya, dan kekasihnya itu.


Saat larut dalam lamunannya, dia dikejutkan dengan kedatangan Daven.


"Nona.." Panggilnya. pelan.


Mengalihkan tatapannya, menatap Daven yang berjalan menuju arah pinggiran ranjang, dan duduk disampingnya, setelah mengambil sebuah kursi.


"Ada apa, Daven?"


"Tuan Louis, memanggil anda. Dia membelikan anda minuman, dan beberapa roti, dan sedang menunggu anda diluar."


Tidak langsung beranjang dari duduknya, saat mendengar apa yang disampaikan sekretaris suaminya itu. Dan rasa penasaran yang tadi melanda diri tentang suami, dan kekasihnya belum juga hilang, dan memutuskan untuk menghapus rasa penasarannya, dengan menanyakan pada Daven.


"Daven.."


"Ada apa, Nona?"


"Apakah menurutmu Laura sudah mengetahui, kalau Dave sedang berada dirumah sakit? sebab sampai sekarang, wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Apakah menurutmu, ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan mereka?"


"Untuk itu saya tidak tau pasti Nona, apakah Nona Laura sudah mengetahui kalau Tuan Dave kecelakaan. Tapi kalau mengenai hubungan mereka, sepertinya Tuan Dave sudah tidak memperdulikan Nona Laura lagi. Dan aku bisa melihatnya, saat pertengkarannya dengan Nona dirumah. Mungkin dengan hadirnya Tuan Louis dalam rumahtangga kalian, baru Tuan Dave menyadari sebenarnya, untuk siapa cintanya itu," Jelas Daven, panjang lebar.


Teralihkan menatap dengan intens Daven, hatinya sedikit tercubit saat mendengar apa yang dikatakan Daven barusan.


"Apakah kau yakin dengan apa yang kau katakan Daven, bukankah dia sering mengatakan pada kita, bahkan padaku juga, kalau dia sangat mencintai Laura? dan aku rasa hubungan mereka bukan sekedar hubungan pacaran biasa, bahkan sudah lebih dari itu. Bukankah dia, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan wanita itu,"

__ADS_1


"Maksud Nona, Tuan Dave sudah melakukan hubungan suami istri dengan Nona Laura?" Bertanya dengan mencoba untuk menebak, dengan apa yang dimaksud oleh wanita berambut panjang itu.


"I..iya." Jawabnya, sedikt gugup.


"Aku sangat mengelnal Tuan Dave, bahkan Tuan Louis yang merupakan sahabat darinya, pasti sangat mengetahui prinsip dari temannya. Tuan hanya akan melakukan hubungan suami istri, dengan wanita yang berstatus istrinya saja. Sekalipun dia mencintai wanita itu, dia pasti akan menahan diri sampai mereka menikah. Dan hal itu, terjadi juga pada saat dia masih menjalin hubungan dengan Nona Karin, mantan tunangannya dulu,"


"Jadi menurutmu, aku adalah wanita pertama melakukan hal itu dengannya?" Bertanya, mencoba untuk menebak.


"Iya. Dan setelah sadar dari komanya ini saya sangat yakin, pasti Tuan Dave, akan mengatakan cintanya pada anda,"


"Darimana kau tau, Daven? dan juga bagaiamana dengan Laura?" Bertanya dengan menatap intens sekretarisnya itu, dan intonasi yang terdengar menuntut.


"Saya sudah bekerja dengan Tuan Dave, bertahun-tahun lamanya, jadi saya sangat mengenal pribadinya. Dan menurut saya, setelah ini pasti dia akan mengakhiri hubungannya dengan Nona Laura."


"Kau terlalu yakin, Daven?" Dengan raut wajah, yang terlihat kesal.


"Kenapa saya berani berbicara seperti ini, karena yang saya lihat, Tuan baru menyadari sebenarnya untuk siapa cintanya."


Hembusan napas, dengan tarikan begitu panjang, yang menunjukkan betapa semakin dilemanya dia saat ini, itulah yang terlihat dari raut wajah seorang Alana.


Senyuman memaksa terlihat dari raut wajah cantik Alana, yang mewakili dilema yang melanda diri.


"Terima kasih Daven, karena akupun bingung saat ini." Jawabnya, dengan senyuman kecil yang nyaris tak terlihat.


Alana tersadar, dan dia baru menyadari kalau Louis sudah menunggunya diluar, setelah sedari tadi dia asyik berbincang dengan Daven.


"Maaf aku harus keluar, bukankah tadi kau bilang Louis menungguku?"


"iya Nona, silahkan."


Tatapan Daven teralihkan kembali pada Tuanmudanya setelah kelurnya Alana, dengan senyuman menatap Dave yang masih memejamkan mata.


"Jika memang Nona Alana memilih sahabat anda, semoga anda ikhlas melepaskannya Tuan, kalau itu bisa membuatnya bahagia."

__ADS_1


****


Alana keluar dari ruang ICU, dengan senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat tatapannya, dan Louis saling bertemu.


"Dia sangat tampan, dan juga baik."Bathinnya, yang begitu mengangumi ketampanan kekasihnya.


"Mau sampai kapan kau berdiri didepan pintu Alana, dan terus menatapku. Padahal aku sudah menunggumu, daritadi." Dengan senyuman kecil menatap Alana, yang sedari terus menatapnya didepan pintu.


"I..iya." Jawabnya dengan raut wajah yang sudah bersemu merah, seraya berjalan menghampiri kekasihnya.


Louis membingkai senyuman kecil diwajahnya, saat melihat Alana makan dengan lahapnya. Lelaki tampan itu, nampak begitu perhatian dengan Alana, yang tengah duduk disampingnya.


"Aku sangat mencintaimu Alana, sangat mencintaimu. Aku tau, kau tengah dilema saat ini, antara aku dan Dave." Bathinnya, dengan terus menatap kekasihnya itu.


"Makan yang pelan Alana, nanti kau bisa tersedak..?" Ucapnya lembut, dengan tatapan penuh cinta.


Yang benar saja, Louis baru saja mengucapkan kalimat peringatan itu, Alana sudah batuh-batuk dengan roti dimulutnya. Dan dengan cepat, Louis memberikannya minum.


"UHUKK, UHUUK"


"Sudah biar aku saja yang memegangnya, Louis?" Ucap Alana, saat laki-laki itu ingin memegang botol airnya, membantu Alana minum.


"Biar aku saja Alana.." Dengan senyuman kecil, menatap kekasihnya.


Langkah kaki lelaki paruhbaya itu terhenti bersama orang kepercayaannya Jordan, ketika melihat pemandangan mesrah didepan mata mereka.


Senyuman kecil membingkai diwajah tuanya, dan dia berpura-pura batuk agar mengejutkan putrinya, dan juga Louis, lelaki yang sudah yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, dari kemesraan mereka.


"UHUUKK, UHUUKK."


Keduanya seketika mengalihkan tatapan matanya kearah batuk, dan betapa kagetnya wajah sepasang kekasih itu, hingga wajah mereka berubah pias, saat melihat keberadaan Damian, dan Jordan yang tengah menangkap basah kemesraan mereka.


"Papa..!"

__ADS_1


"Paman..!" Dengan bolamata, yang nyaris menyeruak.


__ADS_2