Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Datang bersama Laura.


__ADS_3

Louis membingkai senyuman kecil diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana padanya.


Mebenamkan Alana dalam pelukannya sesaat, dan kembali melepaskan pelukannya, dengan tatapan yang begitu dalam, dan penuh arti.


Mengibas-ngibas rambut Ariana yang terkena salju, dengan senyuman diwajahnya.


"Kenapa kau tidak menutup kepalamu, dengan jacket dari topi ini Alana? nanti kau bisa terkena flu." Dengan meraih topi dari Jacket hoody itu, dan menutupnya kekepala Alana.


Aku tidak tau, kau sungguh-sunguh mencintaiku, atau karena patahati yang kau rasakan, hingga membuatmu menerimaku, dan menjadikan sebagai tempat pelarian. Tapi bagiku itu tidak masalah, setidaknya ijinkan aku untuk membautmu jatuhcinta padaku, dengan tulusnya perasaanku padamu."


"Louis... kenapa kau berbicara seperti itu?" Dengan tatapan dalam, menatap laki-laki tampan didepannya.


"Sudah lupakan apa yang baru saja, aku katakan. Dan sekarang, kau adalah kekasihku, walapun belum terang-terangan aku menunjukan pada dunia."


"Maafkan aku, Louis? karena sudah menyeretmu dalam masalah ini." Ucap Alana dengan raut wajah, yang begitu merasa bersalah.


Meraih jemari Alana, dengan senyuman menatapnya.


"Bagaimana, kalau sekarang kita jalan-jalan."


"Jalan-jalan. Kemana?" Bertanya, dengan nada penasaran menatap Louis.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ikut saja." Dengan menarik tangan Alana, berlalu dari taman itu.


****


Dave melangkahkan kaki memasuki rumah mewahnya, bersama Laura yang terus menggandeng manja dirinya. Sejak perginya Louis, dan Louisa keAmerika, pria tampan itu merasa tidak perlu lagi menyembunyikan kemesraannya dirinya, dan Laura, mengingat selama ini dia hanya tidak mau kedua anaknya mengetahui hubungannya, dengan Laura.


Laura mengedarkan pandangannya menyapu bersih seisi ruangan, hingga kepalanya sampai mendongak keatas karena begitu mengagumi kemewahan rumah, yang dibeli Dave untuk Alana.


"Kau sangat memanjakan dia Dave, kau bahkan membeli rumah semewah ini untuknya." Seru Laura yang terlihat begitu kesal, dan juga ada rasa iri hatinya pada Alana, sebab Dave membeli rumah yang begitu mewah untuk istrinya.


Menghembuskan napas berat, ketika melihat raut wajah Laura yang terlihat begitu kesal.


"Bagaimanapun, Alana adalah istriku Laura? jadi ini sudah menjadi tanggung jawabku."


"Tapi rumah ini sangat mewah, dan aku yakin harganya pasti sangat mahal." Menjawab, dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Kau memiliki uang yang banyak, dan kau adalah seorang CEO. Aku yakin, kau pasti sangat sanggup untuk membeli rumah semewah ini."


"Aku memang sangat sanggup untuk membeli rumah semewah ini, tapi aku menginginkan itu darimu, Dave? bahkan rumah ini, jauh lebih mahal dibandingkan apartemenku,"


"Baiklah-baiklah, kita akan membasahanya nanti. karena seperti yang kau tau, aku sedang membangun cabang perusahaan disini. Sebenarnya Papa sudah memintaku, dan Alana untuk kembali keAmerika."


"Jadi apa kau akan meninggalkanku lagi, Dave? seperti yang kau lakukan dulu?" Dengan nada penasaran, menatap kekasihnya.


"Tidak, Laura? kau tau, mendirikan cabang perusahaan itu hanya alasanku saja, agar masih tetap berada Inggris."


Laura tampak begitu bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Dave? kalau akulah alasannya, kenapa kau masih berada disini." Dengan senyuman, dan memeluk kekasihnya.


"Sama-sama Sayang?" Jawab Dave dengan membalas pelukan itu, dan mengecup singkat kepala Laura.


Alma yang baru saja turun dari lantai atas, usai membersikan kamar Alana, begitu terkejut ketika melihat pemandangan mesrah didepannya.


Bukannya malu, atau apa, Dave malah terlihat biasa saja dengan kehadiran pelayan rumahnya itu.


"Maafkan saya, Tuan?" Ucapnya, dengan raut wajah yang terlihat gugup.


"Tidak apa-apa Alma, karena tidak perlu ada yang ditutupi lagi."


"Terima kasih, Sayang? itu memang yang aku harapkan." Timpal Laura, dengan menggandeng manja kekasihnya.


"Alma, bisakah kau membuatkan minuman hangat untuk kami? karena yang kau tau, cuaca sekarang sangat dingin."


Walapun terlihat kesal, tapi tidak mungkin Alma menolak permintaan dari kekasih Tuannya itu.


"Baik Nona, akan buatkan kalian minuman. " Jawab Alma, dengan berlalu menuju dapur.


"Sayang ayo kita duduk, aku lelah dari tadi kita berdiri terus."


Hanya mengiyakan keinginan kekasihnya, dengan senyuman diwajahnya.


Dave, dan laura tampak begitu mesrah saat berada diruang tamu itu. Daven yang baru saja datang begitu kaget, ketika melihat kemesraan Tuanmudanya, dan juga Laura. Karena selama ini Tuanmudanya itu, tidak pernah menunjukkan secara terbuka hubungannya denga Laura.


"Daven, darimana saja kau?"


"Saya baru saja, dari mini market didepan Tuan?" Jawabnya dengan tersenyum kikuk, karena merasa risih saat melihat manjanya Laura pada Dave.


"Tuan, Nona, ini minumnya." Ucap Alma, dengan meletakan dua buah gelas minuman hangat, diatas meja.


Daven, dan Alma saling menatap sekilas, dan Alma hanya bergidik saat mendapat tatapan dari Daven, seolah bertanya tentang ini semua.


"Kalau begitu saya permisi kedalam dulu, Tuan?" Pamit Daven dengan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu, tapi seketika langkah itu terhenti saat tiba-tiba Dave memanggilnya.


"Daven..."


"Ada apa, Tuan?" Dengan kembali, menghampiri Tuanmudanya.


"Dimana Alana? daritadi aku tidak melihatnya."


"Nona sedang keluar, Tuan?"


"Keluar, kemana?" Bertanya, dengan nada penasaran.


"Tidak tau, Tuan? mungkin saja Nona bertemu dengan kekasihnya, karena dia terlihat sangat cantik hari ini." Celah Alma, karena merasa kesal dengan Tuanmudanya, dan Laura.


"Apa..?" Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.

__ADS_1


"Ma, maafkan saya, Tuan? saya hanya bercanda." Ucap Alma, dengan tawa kecilnya.


Daven menghampiri wanita paruhbaya itu, dengan berkata pelan ditelingahnya


"Apa yang kau bicarakan, Bibi Alma? apa kau mau membuat Tuan marah padamu?"


"Biarkan saja, aku tidak perduli. Paling juga dia memecatku. Karena aku sangat kesal, dia membawa wanita murahan ini kedalam rumah Nona Alana. Mereka berdua memang manusia, yang sudah tidak punya malu." Jawabnya pelan, yang membuat Daven hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi kalian berdua tidak tau, dia kemana?" Tanya Dave, lagi.


"Tidak Tuan." Jawab keduanya, bersamaan.


Laura terlihat begitu kesal, saat mendapati kekasihnya yang terlihat mengkhawatirkan Alana.


"Sayang, kenapa kau terus bertanya dimana dia, apakah kau sudah lupa dengan keberadaanku disini?" Dengan raut wajah, yang terlihat begitu kesal.


"Tidak Laura? aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya."


"Kau berbohong, Sayang? tapi yang aku lihat, kau sepertinya sangat gelisah saat Alma mengatakan kalau Alana, bertemu dengan kekasihnya."


Mengusap kasar wajahnya, saat melihat Laura yang tampak merajuk.


"Maafkan aku, Laura? karena bagaimanapun Alana adalah tanggung jawabku. Apalagi papa, begitu menyayanginya."


Profil.


Dave.



Alana.



Louis.



Laura.



Novel ini, sebenarnya aku sudah ingin ganti judul, dengan.


TAKDIR CINTA ALANA


KETIKA HARUS MEMILIH.


Tapi gak bisa, karena novel ini sudah lulus kontrak. Karena aku sudah konfir, kepihak manggatoon. Jadi maaf, atas ketidaknyamanan ini.

__ADS_1


__ADS_2