
Langkahnya terasa begitu gontai, tidak mencintai, tapi dirinya dihadapkan posisi yang sulit, memikirkan nasip kedua buahatinya.
Saat sudah berada dilantai dua, dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan kamar kedua anaknya. Mendengar suara berisik, diapun memutuskan untuk pergi menuju kamar, yang berada disebelah kiri.
Membuka pintu, dan betapa terkejutnya Alana, saat mendapati kamar kedua anaknya, yang begitu lucu, yang kental dengan ornamen anak-anak.
"Apakah dia sudah menyiapkan, ini semua sebelumnya?" Bertanya pada diri sendiri, dengan pandangan menyapu bersih kamar itu.
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat melihat senyuman putra-putrinya.
"Maafkan Mama, karena selama ini tak sanggup membahagiakan kalian." Dengan tetesan bening, yang sudah mengalir dari kedua sudut matanya.
Saat Louis melemparkan pandangan, dia mendapati keberadaan Ibunya, yang berdiri didepan pintu.
"Mama..? ayo kemari?" Panggilnya, dengan sedikit berteriak.
"Mama.., ayoo?" Timpal Louisa, pula.
Melangkahkan kaki menghampiri keduanya, dengan senyuman kecil diwajah.
"Mama..? kau lihat, Papa membelikan aku mainan mobil yang menggunakan remot ini, bukankah ini sangat mahal? Papa mengatakan padaku, kalau dia akan membelikan lagi, yang banyak. Dan kau lihat tempat tidurku, sangat bagus Maa? ada gambar superhero, dan begitupun dengan juga selimutnya." Ucap Louis, dengan raut wajah yang terlihat begitu antusias.
"Aku juga Maa, kau lihat, boneka barbie ini. Ini juga sangat bagus, kau tau Maa? aku sudah sangat lama, ingin memiliki boneka ini. Dan kau lihat ranjangku, sangat bagus Maa?" Timpal Louisa pula, dengan bolamata berbinar.
Mendengar ungkapan kedua anaknya, membuat Alana hanya bisa menangis dalam hati, sebab selama ini dia tak sanggup membelikan mainan mahal, buat kedua anaknya.
"Apakah kalian, senang tinggal disini?" Tanya Alana, tiba-tiba.
"Tentu Mama, kami sangat senang tinggal disini." Jawab Louisa, seraya memainkan rambut boneka barbie, miliknya.
"Seandainya kita pergi dari sini, bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak Maa, kalau kita pergipun, kita harus bersama Papa? lagi pula kita akan pergi kemana, Maa? bukankah rumah kita sudah tidak aman lagi, kami juga tidak mau kembali kesana, takut kalau Paman Jhon, akan menyakitimu lagi?" Ucap Louisa, dengan wajah sendu.
Menghembuskan napas, yang terasa berat didadanya saat mendengar jawaban putrinya.
"(Apa yang harus aku lakukan? kami tidak saling mencintai, apalagi daridulu, dia begitu membenciku, bahkan sama sekali tidak menginginkan kehadiranku dirumah. Apa aku harus bertahan, dan mampukah aku membuatnya luluh, tapi kenapa kebencian itu masih ada, dia tidak mencintaiku, dia hanya mencintai anak-anak ini. Yaa, apa yang dikatakan Laura sangatlah benar, kebersamaan kami hanya karena anak-anak.)" Bathinya, dengan keresahan yang tengah melanda.
Louis menyentuh tangan Ibunya, yang membuat wanita itu terjaga dari lamunannya.
"Maa, apa yan kau lamunkan? terus dimana Papa?"
"Papa masih bersama Bibi, Laura." Jawabnya, tersenyum.
"Apakah Bibi itu, akan merebut Papa, dari kita Maa?" Tanya Louisa, pula.
"Itulah hal yang wajar anakku? kalau mereka berdua saling mencintai, tentu saja itu bisa terjadi."
"Apakah kau mencintai Papa, Maa? karena Kata Bibi Rose, dia akan hidup bersama dengan pria yang dia cintai, dan memiliki anak bersamanya. Apakah kami berdua lahir, karena kau mencintai, Papa?!"
Raut wajahnya seketika berubah gugup, dan pucat seketika, saat putrinya, menanyakan hal itu. Karena bagaimana mungkin, dia berkata jujur bagaimana, mereka berdua bisa lahir.
"Baiklah..?" Jawab Louisa, dengan mimik cemberut.
"Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus terus bertahan dengan pria yang daridulu begitu membenciku, demi mereka berdua. Kenapa aku harus berada diposisi sulit seperti ini, seandainya saja mereka tidak bertemu dengannya, dan Dave tidak mengetahui siapa mereka, pasti kehidupanku, dan kedua anak-anakku akan baik-baik saja." Gumamnya, seraya menghembusakan napas panjang, dan melangkahkan kaki mengikuti langkah kedua anaknya menuju kamar mandi.
****
Terlihat ditaman depan rumah, Dave, dan Laura tengah berbicang-bincang, seraya memandang ikan-ikan yang berenang, didalam kolam kecil yang terletak ditaman itu.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka, sekarang Dave? maksudku, Alana?"
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Apakah kau akan menikahinya, dan apakah kau yakin, kedua anak itu, adalah anakmu."
"Aku sangat yakin, Laura?kalau kedua anak itu, adalah anakku."
Menghembuskan napas, saat mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Dan apakah kau juga, akan menikahinya?"
"Yaa, karena ini demi kedua anakku."
"Kau tidak mencintainya, buat apa kau menikahinya, hanya karena rasa bersalahmu? jujur aku masih sangat mencintaimu, dan aku ingin kita kembali bersama."
"Tapi Laura? aku..?!" Kalimat yang terputus, saat Laura menghalau kalimat yang akan keluar dari bibirnya, dengan jarinya.
"Jangan dijawab, kalau itu membuatku kecewa. Aku tau, kau masih mempunyai perasaan yang sama denganku, Dave? dulu aku harus mengalah, saat Karin merebutmu, dariku? tapi ijinkan aku, untuk memperjuangkanmu kembali dirimu, Dave?" Ucapnya dengan langsung, mencium bibir pria itu.
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat Alana akan menuju lantai bawa, secara tak sengaja dia melihat pemandangan manis itu.
"Kenapa seperti ini, bahkan aku harus menyaksikan pemandangan ini?" Gumamnya dengan membalikkan badan, tapi seketika Alana terkejut, saat mendapati keberadaan kedua anaknya dibelakangnya, dan disana Dave tengah berciuman bersama Laura.
"Kalian mau,kemana?" Tanyanya, dengan menggunakan tubuhnya agar kedua anaknya tidak turun, dan melihat pemandangan itu.
"Kami mau menemui Papa, Maa?"
"Papa sedang membicarakan pekerjaan bersama BIbi Laura, nanti saja baru kalian bertemu dengannya."
"Tapi Maa?" Ucap Louisa, yang tetap kekeh ingin bertemu dengan Papanya.
"Ayoo, kita kembali kekamar. Papa sedang sibuk, jadi nanti baru kalian menemuinya."
"Baiklah..?" Jawabnya keduanya dengan nada malas, dan kembali membalikkan badan menuju lantai dua kamarnya.
__ADS_1
Menghembuskan napas lega, yang terasa begitu berat.
"Mau sampai kapan aku akan bertahan keadaan yang seperti ini? mungkinkah aku kuat, jika harus menjalaninya seumur hidupku, hanya demi kedua anakku."