
Usai perginya Daven, Dave nampak melamun. Lelaki berambut hitam itu, mulai berperang dengan hatinya sendiri.
"Mencintai Alana, tidak mungkin. Ini sangat mustahil. Mana mungkin, aku jatuhcinta padanya. Tapi kenapa aku harus menangis? mungkinkah yang dikatakan Daven benar, kalau sebenarnya tanpa kusadari, aku telah jatuhcinta pada Alana, istriku." Gumamnya, dengan berusaha menelusuri hatinya.
Alana menumpakan semua tangisan, dalam kamarnya. Wanita berambut panjang itu duduk disudut kamar, dan menangis tersedu-sedu. Semua bebannya yang dia rasakan selama ini, dia tumpakan semua lewat airmatanya, yang terus mengalir.
"Kenapa kau begitu egois, Dave?? apakah kau sengaja membuatku terjebak dalam pernikahan ini, agar kau terus membuatku menderita. Kau sangat egois Dave.., kau sangat egois..." Gumamnya, dengan terus menangis.
Alma menapaki kakinya, melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai tiga kamar, Nonamudanya.
Saat sudah berada didepan pintu, dia mendengar suara tangisan Alana.
Hembusan napasnya begitu dalam, dan diapun ikut merasakan prahara yang menimpa rumahtangga majikannya.
Disaat sudah memantapkan hati, Almapun memutuskan untuk masuk kedalam kamar.
Membuka pintu kamar secara perlahan, dan mendapati kamar dalam suasana remang-remang.
Matanya mengedar kedalam seisi kamar, dan mendapati Alana menangis dengan duduk dilantai.
"Nona...?" Gumamnya, pelan.
Alana mendongakkan kepala, dan dia semakin menumpakan tangisannya, saat melihat keberadaan Alma dikamarnya.
"Bibi Alma..." Dengan airamata, yang terus mengalir.
Alma begitu melihat keadaan Alana saat ini, karena diapun sangat mengetahui penderitaan bathin, yang dialami Nonamudanya.
Dengan langkah pelan, dia menghampiri Alana. Mensejajarkan tingginya dengan wanita itu, dan menatapnya dengan sendu.
"Bibi Alma..., aku sudah lelah dengan ini semua.., aku sudah lelah..." Ucapnya, dengan terus menitikkan airmata.
__ADS_1
"Saya sangat tau betul penderitaan bathin yang Nona alami selama ini. Anda sudah cukup bersabar, dengan apa yang dilakukan Tuan Dave selama ini, Nona?"
"Aku ingin bercerai dari dia, Bibi? aku ingin bercerai dari Dave. Aku tau, aku sangat egois, dan tidak pantas aku melakukan ini, apalagi mengatakan pada suamiku, kalau aku mencintai pria lain. Apalagi pria itu, adalah sahabatnya sendiri. Tapi apakah, aku tidak berhak bahagia..? dan hidup bersama dengan pria, yang tulus mencintaiku," Seru Alana, yang menumpakan semua beban dalam hatinya, lewat airmata yang terus mengalir.
Almapun ikut menitikkan airamata, saat mendengar keluh kesah dari Nonamudanya. Merangkul penuh tubuh Alana, guna menenangkan wanita itu.
"Bersabarlah Nona, aku sangat yakin suatu saat anda pasti akan bahagia."
"Semoga saja Tuhan tidak menutup matanya untuku, Bibi? karena aku sudah tidak kuat, untuk bertahan terus dengannya."
****
Senyuman sang penerang bumi, telah menampilkan sinarnya, menyinari semesta alam.
Terangnya cahaya matahari pagi begitu menyilaukan, hingga membuat pengusaha tampan itu, tak dapat melanjutkan tidurnya, saat matahari memberikan sedikit cahayanya, ketika dia tengah berbaring disofa panjang, dalam ruang kerjanya.
Dave membuka matanya perlahan, dan dengan rasa kantuk yang masih mendera, lelaki tampan itu memaksa membuka matanya.
"Aku bangun, kesiangan. Apalagi, hari ini ada rapat penting." Gumamnya, dan dengan langkah yang masih terasa berat, Dave keluar dari raung kerjanya.
Melangkah berlalu menuju arah tangga, dan saat melewati ruang makan, dia mendapati keberadaan sekretarisnya Daven, yang tengah menikmati sarapan pagi, dan Alma yang tengah menyiapkan menu lainnya.
"Dimana, Nona Alana?" Tanya Dave tiba-tiba, yang mengejutkan pelayan, dan juga sekretrisnya itu.
"Nona Alana, masih berada dikamar Tuan?" Jawab Daven.
TIdak melanjutkan lagi pembicaraan mereka, dan diapun melanjutkan langkahnya menuju arah tangga.
langkahnya terasa berat, karena baru kali ini Dave merasakan suasana cangung, dan juga kecewa pada istrinya. Apalagi semalam berkali-kali Alana meminta bercerai, dan dengan lantangnya wanita yang masih berstatus istrinya itu, mengatakan telah jatuhcinta pada sahabatnya.
Menghentikan langkahnya sejenak, saat akan membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak terkunci.
__ADS_1
Disaat merasa hatinya telah siap, Dave membuka pintu kamar itu.
Pintu kamar terbuka lebar, mengalihkan seketika tatapan Alana yang sedang menyisir rambutnya, saat tengah duduk dimeja riasnya.
Alana sedikit kaget saat mendapati keberdaan Dave disana, karena dia mengirah suaminya, semalam menginap diapartemen Laura, kekasihnya.
"Pagi..." Sapa Dave, yang mencoba untuk mencairkan suasana.
"Pagi.." Jawab Alana, dengan nada datar.
Menghembuskan napas, saat melihat ekpresi Alana yang nampak acuh padanya, membuat Dave kesal.
"Ingat Alana, kau adalah istriku!" Dengan nada, penuh penekanan.
"Dan kau, baru menyadari aku adalah istrimu, setelah sekian lama. Bahkan aku begitu terkejut, dan bahkan sangat terkejut, melihat kau berada dirumah ini Dave..?"
Dave hanya menghela napas berat, saat mendengar apa yang dikatakan Alana padanya.
"Siapakan jasku, karena hari ini aku ada rapat penting." Serunya, dengan berlalu begitu saja menuju kamar mandi.
Raut wajah Alana terlihat begitu kesal, hingga dia menghentikan seketika kegiatan menyisir rambutnya. Apalagi melihat sikap Dave yang nampak acuh, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Bahkan dia bersikap santai. Apakah dia tuli?? padahal semalam, aku sudah mengatakan padanya berkali-kali, aku ingin bercerai."
Walapun dengan setengah hati, tapi Alana tetap menjalankan apa yang dititahkan oleh suaminya itu.
Berjalan menuju ruang ganti, dan mengambil sebuah setelan jas berwarna hitam, yang dia padukan dengan dasi berwarna marun.
Meletakkan setelan jas tersebut diatas ranjang, dengan dasi yang dia letakkan diatasnya.
Menghembuskan napas, dengan tatapan intens dia menatap jas tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak tidak perduli sekalipun kau tidak mau bercerai, tapi yang jelas aku sudah terlanjur jatuhcinta pada sahabatmu, Dave." Gumamnya, dengan berlalu dari kamar itu.