
Hari yang ditunggu-tunggupun, telah tiba. Dan hari ini, adalah hari pernikahan Dave, dan juga Alana. Setela sah dinyatakan sebagai sepasang suami istri, kini sang imam mengijinkan Dave, untuk mencium istrinya Alana.
Keduanya saling menatap, dan belum ada diantara mereka, untuk mengawali ciuman panjang itu.Karena nyatanya, ciuman ini hanya sebuah ikatan saja. Tapi nyatanya, tidak ada cinta diantara keduanya.
"Cium....? cium....?" Begitulah teriak para tamu undangan, saat pasangan suami istri itu, tak kunjung berciuman.
Menghembuskan napas kasar, dan dengan perlahan, Dave mendekatkan bibirnya kearah istrinya, dan mencium bibir merah jambu itu, dengan begitu lembut. Keduanya saling mengecap bibir masing-masing, yang membuat suasana tampak riuh.
Laura yang melihat ciuman panas kekasihnya, tampak begitu kesal, hingga kepalan tangan, dan raut wajah yang memerah, terlihat jelas disana.
"Awas saja, kau Dave?! beraninya kau mencium wanita itu, didepanku." Bathin laura, dengan raut wajah yang begitu memerah.
Jhon yang mengikuti berlangsungnya acara pemberkatan itu, terlihat begitu kecewa saat Alana memutuskan untuk menikah dengan Dave, pria yang pernah terlibat perseturuan dengannya.
Dan diapun memutuskan, untuk pergi dari tempat ibadah itu.
Saat memalingkan wajah, Alana menangkap sosok Jhon. Pria yang sebenarnya adalah sahabat baiknya, dan memutuskan untuk mengejar pria itu.
"Jhon...?" Panggilnya, dengan mempercepat langkahnya, mengkuti langkah kaki pria itu.
Menghentikan langkahnya, tanpa berbalik menatap Alana.
"Jhon..." Panggil Alana, lembut.
"Ada apa, Alana?"
"Kenapa kau pergi, apakah kau tidak menganggap aku sahabatmu, lagi?" Dengan suara, yang terdengar parau.
Membalikkan badannya, seraya menghembuskan napas.
"Aku tau, aku bukan laki-laki yang baik. Dan kesalahanku sudah sangat fatal padamu, Alana? dan tidak mungkin, dimaafkan. Tapi kenapa kau memilih dia, Alana? aku tidak tau apa yang kau pikirkan. Tapi aku sering melihatnya, bersama dengan wanita itu. Dan hubungan mereka bukan sebatas rekan kerja Alana?! apakah kau terlalu mencintainya, hingga kau tidak berpikir jernih!"
"Maafkan aku Jhon? maafkan aku, kau akan mengertinya suatu saat nanti." Jawab Alana, dengan tatapan mata sudah berkaca-kaca.
"jadi kau, mengetahui tentang hubungan mereka?" Tanya Jhon, memastikan.
"Iya, aku tau." Jawabnya, dengan nada berat.
Mengusap kasar wajahnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Alana, Alana. Aku tidak menyangkah, bahkan kau sudah mengetahui tentang perselingkuhan ini. Tapi kau masih saja, mau melangsungkan pernikahan ini."
"Maafkan aku, maafkan aku Jhon...? tapi aku minta kau tidak menyudutkan aku. Karena kau tidak berada diposisiku, dan aku punya alasan melakukan ini..?"
"Baiklah, aku minta maaf. Dan kalau begitu aku, pergi dulu. Dan semoga saja, kau tidak menyesali keputusan gila ini."
__ADS_1
****
Malam telah menyambut, kota Cambrigge. Kota kecil, yang terletak dipinggiran kota London. Para tamu undangan terus berdatangan, untuk memberi selamat pada kedua mempelai.
Tatapan mata Laura begitu menghunus, karena seharian ini Dave tampak mengacuhkannya, saat melihat kekasihnya tengah berbincang dengan para tamu undangan. Tidak mengirim pesan, ataupun menghubungnya. Apalagi melihat raut wajah Alana yang sedari tadi membingkai senyuman, membuat CEO cantik itu, diliputi rasa cemburu yang teramat sangat.
"Sebenarnya, aku yang berada diposisinya." Gumamnya.
Tamu-tamu undangan terus berdatangan, membuat Dave, dan Alana tak bisa beranjak dari pesta, yang bertema garden party itu.
Dave terlihat begitu resah, karena daritadi suara teleponenya terus berdering, yang dia simpan pada saku celananya. Dan memutuskan, untuk pamit sebentar.
"Aku kesana dulu," Berbisik pelan ditelinga Alana, yang mendapatkan anggukan dari wanita itu.
Dave: Hallo Laura, ada apa?
Laura: Kau kenapa daritadi tidak mengangkat teleponeku? apakah sekarang kau sudah melupakan keberadaanku?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.
Dave: Maafkan aku, Sayang? tapi aku minta kau mengerti. Sekarang resepsi pernikahanku. Dan tamu-tamu terus berdatangan, mau tidak mau aku harus menyambut mereka." Jelas Dave, memberi pengertian pada Laura.
Laura: Aku tidak perduli, Dave? aku menunggumu ditaman belakang." Dengan mengakhiri percakapan mereka, secara sepihak.
Mengusap kasar wajahnya, dengan raut wajah yang terlihat frustasi. Dan dia memutuskan untuk menghampiri Laura, yang tengah menunggunya ditaman belakang.
"Laura...?" Panggil Dave, saat sudah berada ditaman belakang.
"Maafkan aku, Sayang?"
Mendecak kesal, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Kau baru sehari saja sudah menjadi suaminya, kau sudah melupakan aku. Apalagi nanti, Dave?"
"Aku janji, sampai kapanpun tidak akan pernah melupakanmu." Jawabnya tersenyum, dengan mencubit gemas pipi Laura, yang akhirnya membuat wanita itu luluh.
Tamu-tamu terus berdatangan, untuk memberi selamat pada kedua mempelai. Dan mereka menanyakan, dimana keberadaan pengantin pria.
"Alana, dimana Dave? kenapa dia tidak ada. Apakah dia sudah melupakan, kalau hari ini hari pernikahannya." Tanya ayah Damian, pada menantunya.
"Aku tidak tau, Paa? tadi dia keluar, dan mengatakan hanya sebentar."
"Anak ini, sudah sangat keterlaluan." Geram, ayah Damian.
"Kalau begitu, biar aku mencarinya, Papa?" Pamit Alana, dengan berlalu begitu saja.
Alana melangkahkan kaki, ditengah keramaian para tamu undangan, mencari keberdaan Dave suaminya, menyusuri taman.
__ADS_1
Louis yang tengah berbincang dengan para tamu undangan, memutuskan untuk menghampiri Alana saat melihat wanita itu, melangkah seorang diri.
"Alana...?" Panggilnya, tapi tidak didengar.
Alana terus menyusuri taman, untuk mencari keberdaan Dave, suaminya. Dan dalam dirinya, diliputi tanda tanya, dimana pria itu. Dan betapa terkejutnya dia, saat sudah berada ditaman belakang, melihat Dave tengah berciuman panas dengan kekasihnya, Laura. Menghentikan langkahnya, dengan tetesan airmata yang sudah mengalir, dan menatapnya dari kejauhan.
"Alana..?" Panggil Louis, yang ikut menghentikan langkahnya, dan begitu terkejut saat melihat Dave, tengah melakukan ciuman panas dengan Laura, yang diketahui Louis, sebagai mantan kekasih sahabatnya.
Raut wajahnya terlihat memerah, saat melihat Alana hanya menitikkan airmata, ketika melihat ciuman panas suaminya, dan Laura.
"Dave...?!!" Panggil Louis, yang mengejutkan pasangan kekasih itu.
"Louis., Alana...?" Gumam Dave, dengan raut wajah sudah berubah pucat.
Alana langsung berbalik meninggalkan tempat itu begitu saja, dan ntah kenapa hatinya teramat sakit saat melihat Dave berciuman, dengan Laura.
"Alana...?" Panggil Louis, dengan segera mengejar wanita itu.
Dan Ketika Dave akan mengejar Alana, Laura langsung mencekal tanganya.
"Buat apa kau, mengejarnya Sayang? apakah kau tega, membiarkan aku sendiri disini?" Dengan raut wajah, yang terlihat sendu.
"Tapi Laura..? bagaimanapun, Alana adalah istriku?"
"Dan aku adalah kekasihmu, wanita yang kau cintai." Jawabnya, tegas.
"Alana...? Alana...?" Panggil Louis, dengan langsung mencekal tangan Alana.
"Lepaskan aku, Louis...? lepaskan aku...?"
Langsung menarik tangan Alana, dan membenamkan wanita itu dalam pelukannya.
"Aku tau apa yang kau rasakan, menangislah kalau itu bisa membuatmu tenang." Dengan memeluk erat, tubuh wanita itu.
"Louis....?" Ucapnya dengan airmata sudah kembali mengalir membasahi pipinya, dan semakin menumpakan tangisannya, dalam pelukan Louis.
Menangis, dan terus menangis dalam pelukan pria itu. Dan disaat sudah merasakan suasana hati lebih tenang, Alana segera melepaskan pelukannya.
"Aku tidak minta kau menjelaskannya sekarang, kalau kau belum siap. Dan aku tau apa yang tengah kau rasakan. Bagaimana, kalau aku mengajakmu, ketempat yang indah, untuk menghilangkan kesedihanmu."
"Tapi Louis...? bagaimana, kalau orang-orang mencariku. Dan melihat kebersaman kita?"
"Kita akan lewat jalan belakang. Kau pasti suka tempatnya. Anggap saja, ini sebagai hadia pernikahanmu."
"Baiklah, aku mau. Dan untung saja, aku sudah mengganti gaun yang lebih pendek." Ucapnya, kesal.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bicara lagi. Ayo kita pergi."
Hanya mengangguk, seraya tersenyum saat Louis menggenggam tangannya, melewati taman yang ditumbuhi banyak bunga.