Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Menemui Alana.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, selama dua hari itu pula Alana melewati harinya tanpa Dave, suaminya. Apa yang dipikirkan laki-laki tampan itu, hingga dia melupakan keberadaan Alana yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Tatapan matanya melempar jauh kedepan, menatap keindahan alam dari lantai tiga balkon kamarnya.


Sesekali tatapan matanya menatap layar phonselnya, dan dia berharap agar Dave sekedar mengirim pesan, ataupun menelponenya.Tapi harapannya, hanya tinggal harapan. laki-laki itu, benar-bemar sudah melupakannya.


"Dave., apakah kau sudah melupakan aku? sampai kau tidak menghubungiku, atau mengirimkanku pesan sama sekali. Kau semakin menjauh dariku, saat Louis, dan Louisa pergi keAmerika." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.


Terus menatap keindahan kota London, hingga ada titik-titik putih yang jatuh dari awan, seketika mengalihkan perhatiannya.


Alana mendongakkan kepala menatap keatas, senyuman mengembang diwajahnya, saat mendapati salju berhamburan jatuh kebumi.


'Salju...?" Gumamnya tersenyum, dan berlalu dari balkon itu.


Membuka lemarinya, dan pilihannya jatuh pada sebuah jacket Hoody berwarna putih tulang.


Segera membalut pada tubuh rampingnya, dan berlalu keluar dari kamarnya, setelah dirinya menyambar sebuah minibag, dan phonsel yang terletak diatas meja.


Alana terlihat begitu bersemangat, saat kakinya berpijak pada setiap barisan anak tangga menuju lantai bawa.


"Anda mau kemana, Nona?" Tanya Alma, saat mendapati Alana tampak akan bepergian.


"Diluar ada salju, Bibi? aku akan bepergian sebentar." Dengan senyuman kecil, menatap wanita paruhbaya itu.


"Anda tidak sarapan dulu, Nona?" Tanya Daven, pada istri Tuanmudanya.


"Tidak Daven, aku akan sarapan pagi diluar saja."


"Kalau begitu hati-hati, dijalan Nona?" Ucapnya, dengan sedikt berteriak.


"Tentu, Daven?" Jawabnya, dengan berlalu dari dalam rumah mewah itu.


Daven, dan Alma menatap nanar Alana yang telah berlalu pergi. Saling menatap sekilas, dan kembali melempar pandangan kearah Alana dengan pandangan iba.


"Aku sunggu kasian pada Nona Alana, bahkan Tuan Dave sudah beberapa hari ini tidak pulang. Kita lihat saja, seperti apa rumah tangga mereka nantinya, akan berakhir dengan perceraian, atau Nona Alana akan membalas perbuatan Tuan Dave."


"Maksud Bibi Alma, apa?" Dengan tatapan penasaran, menatap wanita paruhbaya itu.


"Nona Alana sangat cantik, dan dia juga jauh lebih muda dari Nona Laura. Yang aku dengar umur dia, dan Tuan Dave terpaut lumayan jauh. Kalau aku jadi Nona Alana, aku sudah membalas Tuan Dave, dengan menjalin hubungan dengan pria lain. Agar Tuan Dave tau, bagaimana sakitnya jika pasangan kita, menjalin hubungan dengan orang lain."


"Kamu sangat benar Bibi Alma, tapi aku tidak tau, bagaimana kalau sampai Tuan besar mengetahui ini semua. Dan aku punya keyakinan, kalau Nona Alana merahasiakan ini semua dari Tuan Damian."


"Kita lihat saja, apa yang akan terjadi nantinya. Tapi aku sangat mendukung, kalau Nona Alana membalas perbuatan Tuan Dave, walapun itu sangat tidak baik."


****


Alana melangkahkan kaki kearah taman, tempat dimana dia dan Louis pernah bertemu.


"Ternyata taman ini tidak jauh, dari tempat tinggalku."


Melemparkan tatapan matanya jauh kedepan, dengan titik-titik salju yang terus berjatuhan, dari atas langit. Senyuman membingkai diwajahnya, saat melihat kemesraan pasangan suami istri, dan anak-anaknya.

__ADS_1


Larut dalam lamunannya, dengan terus tersenyum membayangkan jika itu dirinya, dan Dave, dan kedua anak mereka. Terus menatap hingga lemparan bola, membuatnya terkejut.


"Bibi...?! tolong berikan bolanya..?"Teriak seorang, anak laki-laki.


"Kenapa aku berpikir terlalu sangat jauh, karena semua itu sampai kapanpun tidak akan terjadi. Bahkan dia tidak memberiku celah sedikit saja dihatinya, untuk namaku. Sebab semuanya, sudah terisi penuh dengan Laura." Gumamnya dengan segera meraih bola itu, dan melemparkan pada anak laki-laki itu.


"Sadar Alana, sadar..? dia sama sekali tidak mencintaimu..?" Gumamnya, pada diri sendiri.


Meraih phonsel dari saku jacketnya, dan mulai menghibur diri dengan berselfi, ditengah salju yang terus berjatuhan.


Dan dengan iseng Alana memposting foto-fotonya, diakun IG miliknya.


Bererapa like mendarat, dan ada juga yang berkomentar tentang foto-fotonya itu.


"Kamu sangat cantik, Nona? dimana kamu tinggal?"


"Apakah kita bisa berkenalan, lebih jauh Nona?"


"Kamu sangat manis." Berbagai komentar yang kebanyakan dari pria, yang membuat Alana hanya tersenyum, dan bisa melupakan rasa kecewanya, walapun hanya sesaat.


****


Menjatuhkan dirinya disofa tunggal, dan meraih remot menyalahkan televisi.


Louis melemparkan tatapan matanya kearah samping yang menembus pemandangan luar, dan mendapati titik-titik salju yang berhamburan jatuh dari langit.


"Aku bahkan tidak menyadari, ada salju yang turun." Gumamnya dengan meraih phonselnya, disela acara menonton tivinya.


" Apakah Alana sedang berada diLondon? dan sepertinya dia berada ditaman itu, dan foto-foto ini baru saja diposting beberapa menit yang lalu." Gumamnya, dengan beranjak dari duduknya. Tapi seketika langkahnya terhenti, dan dia tampak ragu.


Apakah dia bersama, dengan Dave?" Larut dalam pemikirannya, sendiri.


Tidak, aku yakin dia sendirian. Karena dia dalam foto itu, dia hanya seorang diri." Dengan memantapkan hati, menyambangi Alana ditaman.


****


Louis melangkahkan kaki, ditengah keramaian para pengunjung taman, yang kebanyakan datang untuk menikmati turunnya salju, yang turun di awal bulan november ini.


Terus melangkahkan kakinya, dan dirinya meyakini kalau Alana pasti berada didekat danau itu.


Memandang Alana dari kejauhan, yang tengah duduk seorang diri dikursi taman, dengan pandangan lurus kedepan.


"Alana...?" Panggilnya, pelan.


Memalingkan wajahnya keasal suara, dan sedikt kaget saat mendapati keberadaan Louis disana.


"Louis...?" Gumamya pelan, dan beranjak dari duduknya.


Louis menghampiri Alana, dengan senyuman kecil diwajahnya.


"Kau, sendirin?"

__ADS_1


"Iya. Aku sendiri."


"Dimana, Dave?" Dengan tatapan iba, menatap wajah Alana yang tampak sendu.


"Jangan tanyakan dia, Louis? karena tanpa aku menjawabnya, kaupun sudah tau." Menjawab dengan mencoba untuk tersenyum, ditengah kegundahan hatinya.


"Apakah kau sedang, ada keperluan keLondon?"


"Tidak Louis? aku, dan Dave sudah pinda keLondon dua hari yang lalu."


"Benarkah?" Bertanya, dengan raut wajah seolah tidak percaya.


"Benar, buat apa aku berbohong."


Hening sesaat, dan mereka saling menatap dengan senyuman membingkai diwajah, mereka masing-masing.


"Aku merindukanmu, Alana?" Ucap Louis, tiba-tiba.


Alana hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Louis.


"Dia sangat baik, dan tulus mencintaiku. Buat apa aku berharap pada pria, yang jelas-jelas tidak menginginkanku sama sekali. Aku tidak tau ini apa, tapi tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk lebih dekat dengannya. Dan aku sudah tidak perduli dengan apa yang terjadi nanti, karena aku tau sampai kapanpun tidak akan ada cinta dari Dave, untukku." Bathinya Alana.


"Kamu baik-baik saja, Alana?" Bertanya, saat mendapati Alana tampak melamun.


"A..aku, baik-baik saja." Jawabnya, dengan sedikit gugup.


Tatapan matanya menatap laki-laki itu dengan dalam, sebelum menyampaikan apa yang ingin dia katakan.


"Louis...?"


"Ada apa, Alana?"


"Apakah kau betul-betul, menyukaiku?" Dengan tatapan intens, menatap pria itu.


"Aku bukan hanya menyukaimu, tapi aku sungguh mencintaimu, Alana?" Dengan penuh keyakinan, menatap Alana.


"Aku ingin kita memulainya."


"Maksudmu, kau ingin kita menjalin hubungan denganku?" Bertanya, untuk memastikan.


"Apakah kau sedang, menolakku?"


"Tidak Alana, aku sama sekali tidak menolakmu."


"Tapi...?" Dan dia terlihat ragu.


"Tapi apa?" Dengan nada penasaran.


"Bagaimana kalau Dave mengetahui ini semua, bukankah dia sahabatmu?"


"Aku akan menghadapinya, sekalipun hubungan persahabatan kami pasti akan renggang nantinya. Dan aku tidak perduli, karena diapun menjalin hubungan dengan Laura secara terang-terangan. Tapi apakah kamu serius, dengan apa yang kamu katakan, Alana?"

__ADS_1


"Aku serius Louis, aku tidak mungkin memaksakan dia untuk mencintaiku. Sementara dia hanya mencintai satu wanita, yaitu Laura."


__ADS_2