Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kegundahan hati.


__ADS_3

Dave melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya, dengan raut wajah yang terlihat memerah, dan tersirat kesedihan mendalam disana.


Alma, dan Daven saling menatap dalam kebingungan.


Melihat Tuanmuda mereka yang berlalu dengan wajah memerah, dan istrinya yang tengah menangis, memanggil nama suminya.


"Aku jadi prihatin dengan rumahtangga mereka. Dan disini yang jadi korban, adalah anak-anak mereka. Seandainya saja Tuanmuda Dave, tidak menjalin hubungan dengan Nona Laura, pasti kisah rumahtangga merekaa tidak seperti ini." Seru Alma, dengan raut wajah sendunya.


"Iya, Bibi. Seandainya saja Tuanmuda tidak menjalin hubungan dengan Nona Laura, rumahtangga mereka, tidak akan sekarang ini." Timpal, Daven.


Dave membanting pintu dengan sangat kasar, dan segera menghampiri kursi kebesarannya, dan duduk bersandar disana.


Terlihat resah, dan kesedihan yang amat mendalam dari raut wajahnya.


"Kenapa ini terjadi padaku. Apakah Alana sengaja menjalin hubungan dengan sahabatku, agar dia tepat membalas dendamnya padaku..? dan Louis..., kau..., kau.... Kau sahabatku. Tapi kenapa kau tega, melakukan ini padaku.


Aku tidak mencintainya, tapi kenapa disaat mengetahui dia menjalin hubungan dengan pria lain, dan meminta cerai, kenapa membuat aku begitu frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku..? kenapa..?" Gumam Dave dalam kebingungan, dengan mata berkaca-kaca.


Menengadakan kepala, menatap langit-langit ruang kerjanya. Hingga suara telepone, mengalihkan tatapan lelaki tampan itu. Meraih ponselnya, yang tersmpan disaku celana. Dan terlihat, nama Laura disana. Tidak menghiraukan telepone itu, dan meletakkan ponselnya begitu saja diatas meja.


Lagi-lagi suara telepone terdengar lagi, dan melihat nama yang sama, yaitu kekasihnya Laura.


Suara telepone begitu mengganggu, dan tak hentinya berdering. Dave mengusap kasar wajahnya, dan dia terlihat begitu kesal, hingga akhirnya dia memutuskan, menerina telepone dari wanita itu.


"Hallo..!!" Dengan nada, ketus.


"Hallo Dave, kau sedang berada dimana?? kenapa sampai sekarang, kau belum juga pulang!" Dengan nada, yang terdengar kesal.


"Aku sedang, berada dirumahku Laura..?"

__ADS_1


"Apa..??" Dengan nada, yang begitu terkejut.


Baiklah kalau kau berada dirumah itu. Tapi ini sudah hampir jam 9, kenapa kau belum pulang juga Dave? bukankah kau sudah janji padaku, kalau mulai sekarang kau akan lebih banyak menghabiskan waktu denganku."


"Maafkan aku, Laura..? tapi malam ini, aku akan tidur disini."


"Aku tidak mau, kau menginap dirumah itu. Bukankah kau sudah janji padaku, kalau mulai sekarang kau hanya akan menghabiskan waktu denganku, dan bukan dengan perempuan itu."


"Ingat, L:aura!! bagaimanapun, Alana adalah istriku."


"Tapi kau tidak mencintainya, dan kau hanya mencintaiku Dave..? dan bukankah kau sudah janji padaku, kalau kau tidak akan menyakitiku lagi untuk kedua kalinya. Ingat janjimu Dave, yang selalu kau katakan padaku. Kalau kau tidak akan membuatku terluka, untuk kedua kalinya." Ucapnya, dengan nada terisak.


Dave mengusap kasar wajahnya, saat mendengar isak tangis Laura, membuat pengusaha tampan itu, terlihat begitu frustasi.


"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Tapi malam ini, aku akan tidur disini. Jadi aku mohon, mengertilah." Ucapnya, dengan memutuskan sambungan telepone begitu saja.


"Kenapa ini terjadi padaku. Aku sangat mencintai Laura. Terus apa yang aku rasakan, pada istriku Alana!! kenapa begitu menyakitkan, bahkan sangat menyakitkan, saat mengetahui dia menjalin hubungan dengan pria lain. Kenapa ini terjadi padaku, Tu..han? kenapa engkau membuatku, terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini?"


Dave larut dalam lamunannya, memikirkan apa yang terjadi padanya. Hingga suara pintu terbuka, mengalihkan tatapan pengusaha itu.


"Tuan, bolehkah aku masuk..?" Tanya Daven, dengan nada pelan.


Memaksakan diri untuk tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan sekretarisnya.


"Masuklah Daven, aku memang sedang membutuhkanmu."


Daven melangkahkan kaki, dengan langkah pelan, karena tatapan matanya terfokus pada raut wajah Dave, yang terlihat tidak bersemangat.


"Anda baik-baik, saja Tuan?"

__ADS_1


Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang ditanyakan sekretarisnya itu.


"Kau menanyakan aku baik-baik saja, Daven..?" Dengan kembali, tertawa.


Mana mungkin aku baik-baik saja, disaat dengan lantang dia mengatakan dia mencintai sahabatku, dan jatuhcinta padanya. Dan..." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, seraya mengusap airmata yang sudah kembali menetes.


Dan dia berkali-kali, meminta aku untuk bercerai. Alana ingin, bercerai dariku Daven...?" Dengan nada, yang begitu pelan karena kesedihan yang mendalam.


"Tuan..., anda menangis..? Anda menangis, untuk wanita yang tidak anda cintai."


Tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya.


"Iya Daven, bukankah ini lucu..? seorang Dave, menangis untuk wanita yang tidak dia cintai. Bahkan orang-orang pasti akan menertawakan aku, jika melihatnya. Bahkan Alana, juga."


Daven menghembuskan napas kasar, dengan segera dia menduduki kursi, yang berada didepan meja kerja Tuanmudanya.


"Tuan.... Menangis adalah hal yang wajar. Bahkan sangat wajar, jika kita menangis, untuk orang yang kita cintai."


"Maksudmu, aku..." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, saat Daven menyela ucapannya.


"Tanpa anda sadari, anda telah jatuhcinta pada Nona Alana. Itulah kenyataannya, yang sebenarnya Tuan?


anda begitu menderita disaat, anda mengetahui Nona Alana menjalin hubungan dengan pria lain. Bahkan disaat dia meminta berpisah, dengan tegas anda menolaknya. Bahkan sekarang, anda menangis untuknya. Bukankah itu semua, karena cinta?"


Tatapannya sekilas menatap Dave, dan kemudian menghembuskan napas dalam. Dan dia nampak menimang, dengan apa yang baru saja dikatakan sekretarisnya itu.


Daven tersenyum, saat melihat ekspresi Tuanmudanya.


"Mungkin anda belum menyadarinya. Tapi tidak ada salahnya, jika anda mulai menelusuri hati anda, Tuan? sebenarnya siapa wanita yang anda cintai, Nona Alana, atau Nona Laura." Ucapnya, dengan berlalu dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2