
Senyuman merona diawajahnya, saat mendengar panggilan sayang , yang diucapkan Louis padanya.
"Kabarku, baik Louis?"
Damian terus menatap putri tirinya Alana, dan Louis yang tengah saling bertatapan, dengan pandangan yang sulit diartikan.
Menghampiri keduanya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Memegang pundak lelaki tampan itu, dengan senyuman sinisnya, yang membuat Louis tampak sedikit kaget.
"Ada apa, Paman?"
"Paman tau, kau sangat menyukai Alana. Tapi ingat?! dia calon istri dari anakku, dan mereka akan segera menikah." Nada peringatan, yang terdengar tegas.
"Baiklah, Paman?" Jawabnya dengan nada memelas, yang membuat Alana hanya tersenyum.
"Alana? dimana Dave, daritadi kenapa Papa tidak mendapati keberadaannya, hanya kau saja yang menyambut kedatangan kami."
"Ntalah, saat bangun, aku tidak mendapati keberadaannya."
"Apakah dia sedang keluar, bersama sikembar?" Tanya Louis,. tiba-tiba.
"Sikembar? sikembar siapa?" Tanya Damian, yang belum mengetahui tentang keberadaan kedua cucunya.
Katakan Alana? siapa yang dikmaksud Louis, dengan sikembar?'
"Maaf, Paa?" Dengan menjeda kalimatnya, sejenak.
karena kejadian itu, aku hamil. Dan melahirkan sikembar, Louis dan Louisa.
"Louis..?!" Dengan menyerngitkan dahinya, menatap Alana.
"Iya Louis, nama anak laki-lakiku bernama Louis? dan perempuan bernama Louisa."
"Bahkan kau mengabadikan nama namaku, pada anak laki-lakimu. Apakah, agar kau tidak melupakan aku Alana?"
"Apa yang kau bicarakan?" Ucap Alana, dengan wajah cemberut.
Damian memukul pelan kepala Louis, saat mendengar apa yang dibicarakannya.
"Apa yang kau bicarakan, apa kau sudah lupa kalau Alana akan menikah dengan Dave?
Dan Papa minta maaf padamu, Alana? atas apa yang dilakukan Dave padamu. Dan Papa yakin, Dave pasti sangat menyesal, hingga dia mau menikahimu. Dia sudah mencarimu bertahun-tahun, untuk memepertanggung jawabkan perbuatannya, tapi dia tak kunjung menemukanmu. Tapi Tuhan, tau maksud baik putraku, tanpa sengaja takdir mempertemukan kalian, dikota kecil ini."
Alana hanya menghembuskan napas, yang terasa berat didadanya, saat mendengar apa yang dikatkan oleh ayah tirinya.
"(Seandainya saja kau tau, Papa? bagaimana kelakuan putramu, apakah kau akan tetap membiarkan, kami menikah?)"Bathin, Alana.
"Apakah Dave, sedang keluar bersama dengan kedua cucuku?"
"Iya. Karena Louis, dan Louisa juga tidak ada.
Terdengar suara mobil, yang baru saja yang masuk kedalam pekarangan vila itu. Dan teriakan kedua bocah, Louis, dan Louisa, yang memanggil Ibunya.
__ADS_1
"Mamaa...?!" Panggil keduanya dengan berlari kecil masuk kedalam vila, diikuti Dave dari belakang.
Ketiga pasang mata itu seketika tertuju pada arah pintu, dan Damian terlihat begitu antusias. Dengan langkah perlahan Damian berjalan menuju arah pintu, untuk menyambut kedua cucu-cucunya, yang sama sekali tidak disadari keberdaannya selama ini.
Louis, dan Louisa seketika menghentikan larinya, saat melihat keberadaan seorang pria paruhbaya, dan juga laki-laki tampan itu, didalam.
Begitupun juga Dave, yang terkejut melihat keberadaan ayahnya, dan juga Louis.
"Papa..?" Gumamnya, pelan.
Damian melangkah pelan dengan tetesan bening, yang sudah membasahi pipinya, menghampiri kedua cucunya.
"Apakah kalian bernama Louis, dan Louisa?" Tanya Damian, dengan mensejajarkan tingginya, dengan kedua bocah kecil itu.
"Iya. Aku Louisa, dan ini adikku Louis? kau siapa Kakek?" Tanya Louisa, bingung.
"Tanyakan Pada Papamu, siapa aku." Dengan senyuman kecil, diwajahnya.
"Ini ayah dari Papa, Louis? Louisa?.."Jawabnya terhenti, saat Louisa langsung memotong ucapannya.
"Jadi kau Kakek dari kami, kakek Damian?" Tanya Louisa, dengan bolanmata berbinar.
"Iya." Jawabnya tersenyum, dengan sebuah anggukan kecil.
Louis, dan Louisa saling menatap, dengan senyuman kecil. Dan langsung memeluk, pria paaruhbaya itu karena sudah lama mereka mengharapkan bertemu dengan pria paruhbaya itu.
"Kakek....?"
"Maafkan Kakek, karena sama sekali tidak mengunjungi kalian."
Louis, dan Louisa melepaskan pelukan pada Damian, dengan senyuman kebahagian diwajahnya.
"Kau tau kakek, sudah sangat lama kami ingin bertemu denganmu. Dan kenapa kau baru datang sekarang? Mama selalu bilang belum punya cukup uang, untuk kami bisa mengunjungimu." Ucap Louis, dengan mimik cemeberut.
"Maafkan Kakek, lain kali kakek yang akan mengunjungi kalian, jika Papa, dan Mamamu tidak punya uang. Karena kakek, mempunyai uang yang banyak." Kelakar Damian, dengan tertawa kecil.
"Papa...?" Panggil Dave, dengan menghampiri ayahnya.
"Bagaimana kabarmu, anakku?" Seraya beranjak, dan memeluk tubuh putranya.
"Baik, Paa?" Jawabnya, dengan melepaskan pelukan.
"Bagaimana pembangunan hotelnya? hasil kerjasamamu dengan DIAMONT SWIHT, dan Papa dengan ternyata CEOnya, adalah Laura. Apakah benar itu, Dave?"
"Iya Kakek, namanya Bibi Laura. Dan dia sering datang kemari." Jawab Louis, dengan wajah polosnya.
"Tunggu-tunggu, dan maaf kalau aku menyela. Apakah yang dimaksud Paman, Laura itu adalah mantan kekasih dari Dave, saat berkuliah dulu?" Tanya Louis, yang mencoba untuk menebak.
"Iya."
"Apakah kau, menjalin kerjasama dengan Laura, Dave?" Tanya Louis, dengan senyuman kecil diwajahnya menatap sahabatnya itu.
"A..apa yag kau pikirkan Louis? ini tidak seperti yang ada dipikiranmu." Sangkal Dave, dengan wajah yang sudah berubah pucat.
__ADS_1
"A..ku kan hanya bercanda, tapi kenapa wajahmu jadi pucat begitu?" Dengan senyuman, menatap sahabatnya.
"Tapi kau sangat dekat, dengan Tante genit itu Papa?" Seru Louisa tiba-tiba, dengan wajah cemberut menatap ayahnya.
"Dave..? Papa percaya padamu, kalau kau tidak akan menyakiti perasaan Alana."
"Tentu, Paa?" Jawabnya, dengann nada yang terdengar berat.
"Alana...?" Panggil Dave, tiba-tiba.
"Ada, apa?"
"Ayo ikut aku, aku ingin bicara berdua denganmu." Pinta Dave dengan melangkah ketaman belakang, dikuti oleh Alana.
Louis terus menatap Alana, dan Dave yang telah berlalu pergi. Dan dalam dirinya timbul rasa penasaran pada Dave, dan juga Alana yang tampak menyembunyikan, sesuatu. Tapi dengan cepat pria itu menepisnya sebab tidak mau berburuk sangkah, dan menghampiri Louis kecil, dan juga Louisa yang tengah bercanda bersama Kakeknya, Damian.
"Apakah kau, Louis?"
"Iya Paman, namaku Louis."
"kau tau? namamu sama dengan Paman. Nama Paman, juga Louis."
"Benarkah?" Tanya Bocah itu, seolah tidak percaya.
"Tentu." Jawabnya, tersenyum.
"Paman..?" Panggil Louisa, tiba-tiba.
"Ada apa?" Dengan senyuman, seraya mencubit gemas pipi bocah perempuan itu, yang membuat Louisa tertawa kecil.
"Kau sangat tampan, Paman?"
"Bagaimana, kalau aku yang menjadi ayahmu."
"Apa yang kau bicarakan?! memangnya kau pikir Alana, perempuan apa?! mau menikahi dua pria, sekaligus."Ucap Damian, kesal.
"Maafkan aku, Paman?" Jawabnya, tersenyum.
****
Sementara ditaman belakang, Alana, dan Dave tengah berbicara yang terlihat serius.
"Katakan ada apa, Dave? kenapa kau mengajakku berbicara disini."
"Aku minta, jangan beritahukan pada Papa tentang hubungan aku, dan Laura."
"Jadi kau mengajakku kesini, hanya untuk membicarakan itu, Dave?" Tanya Alana, seolah tidak percaya.
"Iya, karena aku sangat mencintainya, dan aku minta kau mengerti. Tapi aku janji, mulai saat ini akan memenuhi semua kebutuhanmu. Karena sebentar lagi, kita akan menikah."
"Sudahlah, aku cape, aku lelah. Dan aku minta, jangan salahkan aku, kalau aku jatuhhati pada pria lain. Karena kau yang memaksaku, untuk melakukan itu." Dengan ingin melangkah meninggalkan Dave, tapi tangannya langsung dicekal oleh pria itu.
"Apa maksudmu, Alana?!"
__ADS_1
"Dave..? lepaskan aku? kau menyakitiku, Dave?" Dengan berusaha melepaskan cengkraman tangan itu, hingga suara telepone mengalihkan perhatian keduanya.
"Terima telepone itu, aku yakin itu pasti dari Lauramu." Ucap Alana dengan langsung menghempaskan tangan Dave, dan berlalu begitu saja.