
NEW YOARK, AMERIKA SERIKAT.
Dave menatap keindahan malam kota New yoark dimalam hari, dari lantai tiga kamarnya. Tatapan matanya jauh kedepan menikmati keindahan kota, ditengah cuaca dinginnya kota dimalam hari.
Terdengar suara pintu terbuka, menoleh kebelakang, dan tersenyum saat mendapati keberadaan ayahnya, yang tengah berjalan menghampirinya.
"Papa..?" Gumamnya, dengan kembali menatap kieindahan malam, yang disajikan kota itu.
"Apakah besok kau akan jadi pergi keLondon, Dave?" Bertanya, dengan mensesejajarkan dirinya dengan putranya, dan pandangan lurus kedepan.
"Iya Paa, besok aku harus pergi KeLondon, karena aku akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Daimont swift, dan ini merupakan proyek besar."
Menghembuskan napas yang terasa begitu berat, sebelum mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan selama ini, pada putranya.
"Ini sudah lebih dari lima tahun, tapi Alana belum juga ditemukan. Papa minta berhentilah Mencarilahnya, karena bisa saja, dia sudah memiliki kehidupan barunya." Ucapnya, dengan suara yang terdengar berat.
Dave mengernyitkan dahinya, karena bingung dengan apa yang dimaksud ayahnya.
"Maksud Papa apa, aku tidak mengerti?!"
"Papa tidak akan memaksa kau lagi, untuk mencari Alana. Dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Segeralah mencari istri Dave, karena Papa juga ingin menimang cucu."
Dengan tatapan penasaran, dia menatap ayahnya. "Apakah, Papa serius?!"
"Iya, Papa serius. Selama lima tahun terakhir ini sudah cukup membuktikan kalau kau ingin bertanggung jawab, dan Papa yakin kau pasti sangat menyesal dengan perbuatanmu."
Dave hanya tersenyum, dan langsung memeluk erat tubuh pria parubayan itu.
"Terimakasih Papa, terima kasih. Aku janji, tidak akan mengecewakan kau lagi."
****
Dua hari Kemudian, London Inggris.
Tatapan matanya terus menatap kearah luar kaca jendela, menikmati titik-titik putih yang terus berjatuhan, dari atas langit.
'Mungkinkah ini takdir, karena tanpa sengaja perusahaan Papa akan menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Dave Hounston, mungkinkah itu dia? lelaki yang pernah membuat hari-hariku begitu indah?!" Gumam L:aura, dengan menyentuh sebuah kertas, dimana tertulis nama mantan kekasihnya, Dave Hounston."
Pintu ruangan terbuka, dan dengan segera Dave, dan Daven melangkah masuk kedalam keruangan privat itu.
"Selamat siang Nona, maaf kami terlambat." Ucap Dave pada seorang wanita, dengan penampilan yang begitu elegant yang sedang membelakangi mereka.
__ADS_1
Laura hanya tersenyum, dan sekarang dia semakin yakin itu adalah suara mantan kekasihnya Dave, dengan suara seraknya yang begitu khas.
Berbalik, dan tersenyum pada lelaki tampan itu.
"Dave...?" Dengan senyuman kecil, pada laki-laki itu.
Dave mengucek-ngucek kedua matanya, untuk memperjelas penglihatannya, pria tampan itu seolah tidak percaya wanita yang berdiri didepannya sekarang, adalah Laura mantan kekasihnya.
"Laura, apakah ini kau?!" Bertanya, untuk memastikan.
"Iya ini aku Dave, aku tidak percaya kalau perusahaan milikmu, dan perusahaan keluargaku akan menjalin kerjasama. Dan kenalkan, aku CEO dari Diamont SWift" Dengan senyuman, menatap Dave.
"Maaf sudah membuat kau menunggu lama.Dan aku tidak menyangkah, kalau ternyata kau adalah putri dari Tuan Gabriel."
"Duduklah," Serunya, dengan mempersilakan kedua lelaki tampan itu untuk duduk.
"Kau datang seorang diri Laura, dimana seketarismu?"
"Aku datang sendirian Dave, kau tau bagaimana aku kan?" Dengan tatapan menggoda, menatap Dave yang tengah tersenyum padanya.
"Mana berkas-berkasnya, biar aku periksa."
"Apa kau ragu padaku, Dave?!"
"Kau tau bagaimana aku kan Laura, apalagi perusahaanku akan menjalin kerjasama dengan perusahaan keluargamu, dan aku tidak mau gegabah."
"Silahkan pelajari berkasnya, tapi yang jelas kerjasama ini akan membawa keuntungan untuk kedua perusahaan kita."
"Dengan senang hati, Nona Laura?!'
Dave mulai mempelajari berkas-berkas tersebut, dan dia hanya tersenyum saat Laura menatapnya, dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bagaimana, apakah kau tertarik untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kami, Dave?" Bertanya dengan tatapan intens, menatap laki-laki tampan itu.
"Aku mau, dan tawarannya sangat menggiurkan. Nanti aku akan melihat lokasi tersebut, dan apakah lokasi tersebut dapat menarik minat para wisatawan?"
"Tentu Dave, karena aku tidak mau mengecewakanmu."
"Kau masih sama seperti dulu Laura? aku senang bekerja sama denganmu." Dengan langsung menandatangani berkas itu, dan memberikan pada Laura.
Mereka pun mulai terlibat perbincangan dengan begitu intens, karena tidak menyangkah akan bertemu lagi, setelah bertahun-tahun berpisah.
__ADS_1
"Aku dengar kalau kau sudah menikah, dengan seorang pengusaha asal Dubai, apakah itu benar?!"
Laura menghembuskan napas, yang terasa begitu sesak didadanya, saat mendapat pertanyaan yang membuka luka lamanya kembali.
"Kami sudah bercerai dua tahun yang lalu, dia berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri," Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Menyandarkan pundaknya, menatap iba pada laura.
"Maafkan aku, karena sudah menanyakan ini padamu,"
'Katakan padaku, apakah kau sudah menikah? karena aku mendengar dari salahsatu teman kampus kita, kalau kau sudah bertunangan dengan Karin, wanita yang dulu pernah begitu tergila-gila padamu."
"Aku, dan Karin tidak jadi menikah. Karin berselingkuh, Laura?"
"Ja...jadi sampai sekarang, kau belum menikah Dave?" Tanya Laura, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
'Iya sampai sekarang aku belum menikah, laura?"
Laura tampak begitu bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya itu, dan dia seperti mendapat angin segar, saat mengetahui Dave belum berumah tangga hingga saat ini.
"Apakah boleh, aku meminta nomor phonselmu," Tatapan penuh harap, pada lelaki tampan itu.
"Tentu saja boleh laura, bukankah kita akan menjalin kerjasama?"
Daven hanya tersenyum, dan dia mulai berasumsi kalau ada cinta lama yang akan bersemi kembali antara Bosnya, dan CEO dari Diammont Swift.
"(Sepertinya mereka berdua bukan hanya akan menjalin kerjasama, tapi juga akan menjalin cinta,)" Bathin Daven, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Setelah membicarakan kerjasama, Dave, dan juga Daven memutuskan untuk kembali kehotel, tempat mereka menginap.
"Dimana kau, dan sekretarismu menginap, Dave?!" Tanya Laura, saat mereka tengah berdiri didepan restorant.
"Aku menginap dihotel, Hilton."
"Apakah aku boleh berkunjung, kehotel tempatmu menginap?"
"Tentu saja, boleh." Jawabnya, tersenyum.
Mereka larut dalam perbincangan, dan saat Dave melemparkan tatapan matanya kedepan, dia melihat sosok seorang wanita, dan dia menyakini itu adalah Alana. Mengucek-ngucek matanya, agar memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.
"Alana..? apakah itu Alana?!" Dengan langsung berlari kearah pinggriran jalan, tapi sosok itu sudah menghilang ditengah keramaian lalu lintas.
__ADS_1
"Apakah aku yang salah lihat?! tapi aku yakin, itu adalah Alana??" Dengan mengedarkan pandangannya kesegalah penjuru arah, mencari adik tirinya.