
Dave masih larut dalam lamunan, memikirkan apa yang baru saja dikatakan Alana mengenai Louis, yang membuatnya dia terlihat begitu resah.
"Kenapa aku jadi resah seperti ini? tidak mungkinkan aku cemburu? bukankah wanita yang aku cintai jelas-jelas adalah Laura, bukan Alana?!" Gumamnya, dengan kegelisahan yang teramat sangat.
Setelah larut dalam pemikirannya sendiri, Dave memutuskan kembali masuk kedalam kamar, dan menjumpai Alana sudah tertidur.
Terus menatap Alana dengan tatapan intens, tanpa berkedip sedikitpun.
"Dia sangat cantik, tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa jatuhcinta padanya. Padahal dia adalah wanita yang baik, dan juga Ibu dari kedua anakku." Bathin Dave, dengan terus menatap Alana.
Berbaring disamping wanita itu, dengan menatap punggung Alana yang tidur membelakanginya.
"Maafkan aku, kalau sudah membuatmu kecewa. Tapi aku sungguh, tidak berdaya Alana? karena aku sangat mencintainya?" Gumamnya yang terdengar oleh Alana, karena sejujurnya wanita itu belum tidur.
Dave mendekat kearah Alana, dan tangannya menelusup masuk memeluk tubuh calon istrinya, dengan begitu erat, hingga hembusan napas itu bisa terasakan.
Tetesan bening mengalir bebas, dari sudut matanya. Walaupun dia memiliki raga Dave, tapi tidak dengan hatinya.
"Semakin kau menyakitiku, membuat aku semakin hanyut dengan cinta yang Louis tawarkan padaku, Dave? Maka jangan salahkan aku, jika suatu saat akan melakukan hal yang sama, seperti yang kau lakukan sekarang." Bathinya memejamkan mata, dan membiarkan rangkulan Dave yang semakin erat.
****
Matahari pagi telah menyapa bumi. Setelah redupnya kegelapan, seiring berjalannnya waktu.
Membuka matanya perlahan, dan mendapati Alana sudah tidak berada disampingnya.
Dave segera berlalu pergi kekamar mandi, guna melakukan ritul mandi paginya. Setelah selesai dengan ritual mandinya, menuju ruang ganti, dan turun kelantai bawa setelah selesai dengan kegiatannya, dikamar.
Menuruni setiap barisan anak tangga, dan mendapati keberadaan Louis yang tengah bercanda bersama kedua anaknya, dan mereka tampak begitu akrab.
Teringat kembali akan perkataan Alana tadi malam, dan melihat kedekatan Louis dengan kedua buahatinta, ntah kenapa membuat ada rasa tidak suka dalam dirinya.
Dan memutuskan untuk menghampiri, sahabatnya itu.
"Hallo Laouis..?" Sapa Dave, yang baru saja datang.
"Hai..? aku kira kau sedang tidak berada divila."
"Semalam aku pulang larut malam, jadi aku bangun terlambat."
"Aku tau, kau pasti menemui Bibi genit itu lagi kan, Paa?!" Celah Louisa.
"Bibi genit? siapa yang kau maksud Louisa?"
"Itu Paa, Bibi Laura. Kakak menjuluki Bibi Laura dengan, dengan julukan Bibi genit." Jelas Louis Kecil, pada ayahnya.
Rahang Dave seketika mengeras, dan terlihat dia tengah menahan amarah pada putrinya, yang sudah memberi julukan, tidak sopan pada wanita yang dia cintai.
__ADS_1
Mencengkram tangan Louisa dengan sangat kuat, hingga membuat gadis kecil itu meringis kesakitan.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?! apakah Papa mengajarkanmu, untuk tidak sopan pada orang lebih dewasa?!" Dengan tatapan, penuh amarah.
"Aku sangat membenci Bibi Laura, Papa?!! aku sangat membencinya. Karena dia selalu saja, ingin dekat denganmu. Padahal kau akan menikah dengan Mama. Jadi tidak salah, kalau aku menyebutnya Bibi genit. Karena aku tau, dia pasti akan merebutmu, dari Mama." Teriak louisa.
"Kau sudah sangat kerterlaluan Louisa, sejak kapan kau jadi pembangkang, seperti ini..?!!" Dengan masih mencengkarm tangan anaknya, yang membuat Louisa menangis.
"Dave...?! apa yang kau lakukan..? ini menyakiti putrimu." Ucap Louis, dengan melepas paksa tangan Dave, yang mencengkarm tangan putrinya.
"Aku sangat membencimu, Papa..?!! aku sangat membencimu..?!" Teriak Louisa dengan menangis, dan berlari meninggalkan mereka.
"Louisa....?" Teriak Dave.
Dave menjambak rambutnya frustasi, melihat sikap putrinya. Dan dia begitu merasa bersalah, karena sudah bersikap kasar.
Louisa berlari menghampiri Kakeknya, yang kebetulan akan menghampiri mereka.
"Louisa, kenapa kau menangis? siapa yang menyakitimu..?" Tanya Damian, penasaran.
"Papa jahat, Kakek..? Papa jahat...? aku sangat membencinya, aku sangat membencinya..." Ucapnya, dengan terus menangis.
"Sudahlah jangan menangis. Ayo kita temui Papamu. Kakek akan memarahinya." Bujuk Damian, pada cucu perempuannnya.
Menganngguk pelan, seraya mengusap airmatanya.
"Papa...?"
"Katakan ada apa? kenapa kau membuat Louisa, menangis?"
Menghembuskan napas, yang terasa berat didadanya, saat mendengar pertanyaan itu.
"Maafkan aku, Paa? aku hanya ingin mengajarkan putriku, untuk lebih menghargai orang yang lebih tua. Karena bagaimanpun, Laura adalah rekan bisnisku."
"Tapi aku sangat membenci, Bibi Laura..? dan aku sangat tidak menyukainya." Ucap Louisa, dengan sedikit berteriak.
Kakek.., aku ingin ikut kau keAmerika. Aku tidak mau, tinggal bersama Papa."
"Bailklah, Kakek akan membawamu keAmerika."
"Aku juga ikut, Kakek..?" Timpal, Louis kecil pula.
"Papa tidak tau apa yang begitu membuat putrimu, membenci Laura. Tapi Papa harap, kau tidak membuat Papa kecewa, Dave?"
"Baik, Paa?" Jawabnya, dengan nada yang terdengar berat.
****
__ADS_1
Detik terus berjalan hingga malampun, telah menyambut. Hari ini mereka tampak begitu sibuk, karena besok adalah hari pernikahan Dave, dan juga Alana.
Dave melangkahkan kaki menuju arah tangga, tapi langkah itu seketika terhenti, saat melihat Louis sahabatnnya, tengah berdiri seorang diri memandang keindahan taman dimalam hari, dan memutuskan untuk menghampiri.
"Tamannya , sangat indah bukan?" Ucap Dave tiba-tiba, yang mengejutkan laki-laki berambut cokelat itu.
"Dave...?" Dengan senyuman sekilas menatap sahabatnya, dan kembali melemparkan pandangannya kedepan.
Iya, tamannnya sangat indah." Dengan, senyuman kecil.
"Apakah aku, boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya Dave, yang tiba-tiba berubah serius.
"Apa yang ingin kau tanyakan Dave, sepertinya sangat serius?" Dengan tatapan intens, menatap sahabatnya.
"Apakah kau masih mempunyai perasaan pada Alana, sampai saat ini?"
"Jadi itu, yang ingin kau tanyakan."
"Apakah salah? karena besok, Alana sudah resmi jadi istriku."
"Kau ingin aku berkata, jujurkan?"
"Yaa." Jawabnya, tegas.
"Yaa, aku masih mencintainya sampai saat ini."
Seketika Dave meraih kra baju Louis dengan kasar, dan menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Louis hanya tersenyum, dan melepaskan dengan paksa tangan Dave, yang mencengkram kra bajunya.
"Aku tau dia akan menjadi istrimu, mana mungkin aku merebut dia darimu. Kecuali kau menyakitinya, maka jangan salahkan aku." Jawab Louis, dengan berlalu begitu saja.
****
Duduk seorang diri, dan menatap keindahan taman dibelakang rumah.
'Katakan apa yang ingin kau bicarakan, hingga kau meminta Papa datang kesini." Tanya Damian, yang mengejutkan lamunan Alana.
"Ada hal penting, yang ingin kubicarakan denganmu Papa?"
"Hal penting?" Dengan menyerngitkan kedua alisnya, menatap Alana penasaran.
"Iya Papa, hal penting. Aku ingin kau membawa kedua anakku, untuk tinggal bersamamu diAmerika."
"kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu, dari Papa kan Alana?" Tatapan penuh selidik, menatap putri tirinya.
"Tidak Paa? aku, dan Dave baik-baik saja. Aku hanya ingin kau membawa mereka berdua, untuk tinggal bersamamu."
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Dan Papa, tidak akan menanyakan apa alasannya."