
Rumah sakit
Suasana bahagia, tengah dirasakan Dave, dan Alana dengan lahirnya anak perempuan mereka. Tubuh lemah itu masih terbaring diatas ranjang hospotal, usai tenaganya terkuras habis melahirkan anak ketiganya yang berjenis kelamin perempuan.
Kedua bolamata itu terus tertuju pada Dave, yang tengah menerima telepone. Senyuman kecil membingkai diwajah cantik itu, mengandung makna yang begitu mendalam.
Keduanya alis Dave bertaut, saat mendapati tatapan Alana yang begitu dalam menatapnya. Menghampiri ranjang, dan duduk ditepiannya.
"Katakan padaku, ada apa. Kenapa kau terus menatapku? apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?"
Senyuman kecil melukis diwajah cantik Alana, seraya mengusap airmata yang sudah lolos tanpa dia sadari.
"Aku hanya bahagia. Semua terasa seperti mimpi Dave..?"
Keningnya berkerut, sebab tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Alana.
"Hal apa yang membuat kau bahagia. Katakan padaku. Apakah karena, kelahiran anak ketiga kita?"
"Salah satunya itu."
Menautkan kedua alisnya, dengan raut wajah yang semakin penasaran.
"Katakan padaku. Apa itu."
"Aku bahagia, sebab disaat awal kehamilan hingga aku melahirkan, kau selalu ada disampingku. Tidak seperti dulu.." Dengan menunduk, ketika dia melewati kehamilan, hingga melahirkan seorang diri.
Tersenyum getir, mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku, yang tidak ada disaat kau berjuang melahirkan Louis, dan Louisa dulu. Untuk menebus semuanya, aku janji akan menjadi suami, dan ayah yang baik buat kau, dan anak-anak kita."
"Terima kasih suamiku. Aku sangat mencintaimu. Aku juga akan menjadi istri, dan Ibu yang baik buat anak-anak kita nantinya."
Senyum bahagia, membingkai diwajah tampan Dave dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Aku juga mencintamu Alana? sangat mencintaimu." Dengan melabuhkan sebuah kecupan kecil, pada bibir istrinya.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, hingga membuyarkan suasana romantis yang tercipta antara pasangan suami istri itu.
"Papa... Mama...." Suara Louisa yang cukup memekikkan telinga, saat kedua kakinya melangkah masuk kedalam ruangan, bersama ketiga orang dewasa itu.
"Apa yang kau bawa untuk Papa, Louisa? bukankah kau dan Paman Louis baru saja dari toko kue?"
"Maaf aku Papa? aku lupa karena terburu-buru ingin kemari." Kedua kakinya menghampiri tempat tidur bayi, dan melihat isi didalamnya. Raut wajah kecewa seketika membingkai penuh diwajah mungil Louisa, saat tidak menemukan adikbayinya.
"Mama, dimana adik bayiku. Bukankah dia sudah lahir?"
"Bersabarlah. Sedikit lagi adikbayimu akan diantar."
Bibirnya mungilnya mengerucut, terselip rasa kesal disana, mendengar jawaban ayahnya.
"Apakah masih lama Papa? kenapa mereka tidak segera membawanya? apa yang masih mereka lakukan pada adikku?"
Dave tersenyum kecil seraya jemarinya membenahi helaian rambut, yang menutupi sebagian alis anak perempuannya.
"Tidak akan lama lagi, Louisa?"
"Baiklah..." Jawabnya dengan nada memelas.
__ADS_1
Rose menyambangi sahabatnya, dan duduk dikursi kecil samping bed hospital.
"Sedari tadi kau terus tersenyum, aku jadi iri dengan apa yang kau rasakan sekarang."
Membingkai senyuman kecil, mendengar apa yang dikatakan Rose padanya.
"Maka cepatlah menyusul, agar kau bisa merasakan seperti apa yang aku rasakan. Bukankah dia ada disini?" Dengan tatapan sekilas menatap kearag Louis, yang tengah berbincang-bincang dengan Dave.
Wajah Rose seketika berubah pias, dengan apa yang baru saja dikatakan Alana padanya.
"A..apa maksudmu Alana? aku tidak mengerti," Jawabnya tersenyum kikuk.
Louisa mengerucutkan bibirnya, melihat Bibinya yang masih saja tidak mau mengakui Paman tampannya sebagai kekasihnya.
"Ayolah Bibi? kau jangan berbohong lagi. Bukankah kau juga menyukai Pamanku, bahkan kalian pernah berciuman." Jawab Louisa dengan lugasnya.
Apa yang baru saja dikatakan Louisa, membuat mereka semua yang berada didalam situ begitu terkejut, terutama untuk Alana dan Dave.
Hingga membuat Dave mengeram kesal, sebab mengirah putrinya sudah berbicara sembarangan.
"Kenapa kau berbicara seperti itu Louisa, itu sangat tidak sopan?!"
"Iya Louisa, siapa yang mengajarmu untuk berbicara seperti itu. Itu sangat tidak baik anakku?
Louis, Rose, maafkan putriku. Dia masih kecil, jadi belum paham apa yang dia bicarakan." Celah Alana, yang merasa tidak enak hati pada kedua orang dewasa itu.
Gadis kecil itu mendecak kesal, pada kedua orang tuanya.
"Aku hanya berbicara sebenarnya Maa, Paa, buat apa aku berbohong. Kalau aku berbohong Papa, dan Mama bisa menanyakan langsung pada Paman, dan Bibi. Iyakan Oma Alma?"
Tersenyum palsu, saat tatapan Alana, dan Dave tertuju padanya, untuk meminta jawaban kebenaran apa yang dikatakan anak perempuan mereka.
"Kenapa kau berbohong Oma, bukankah tadi kaupun mendengarnya. Kalau Paman Louis bilang, dia pernah mencium Bibiku Rose."
Alana dan Dave tersentak kaget, mendengar apa yang dikatakan putri mereka.
Tatapan Alana teralih menatap Rose, dengan raut wajah yang telah bersemu merah, seraya menunduk malu. Beralih pada Louis yang nampak santai, seolah ucapan itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Apakah itu memang benar Louis, kalau kau pernah mencium sahabatku?"
Senyum kecil terukir diwajah CEO tampan itu, dengan apa yang baru saja ditanyakan Alana.
"Tanyakan saja langsung pada sahabatmu Alana, apakah semua itu benar?" Dengan bolamata tertuju pada Rose, yang hanya menunduk.
Tatapan tajam, dengan raut wajah kesal dia menatap Louis mendengar apa yang baru saja dia katakan.
"Kau sangat menyebalkan!"
Dave yang sedari tadi memperhatikan semuanya. Seketika langsung menyela pembicaraan mereka.
"Tunggu.. tunggu... mendengar bagaimana ekpersi Nona Rose, aku rasa yang dikatakan putriku ini benar. Dan kau Louis, apakah ada hal yang kau sembunyikan dariku?'
"Paman menyukai Bibi, Papa..? dia memintaku untuk membantunya, untuk menjadikan Bibi Rose, sebagai pacarnya." Celah Louisa, yang terlihat begitu antusias.
"Apa yang kau bicarakan Louisa? kenapa kau mengatakan pada semua orang? kau membuat Bibi malu." Raut wajah tertekuk kesal.
Tawa lepas membingkai diwajah Alana, dan Dave melihat bagaimana sikap yang Rose tunjukkan.
__ADS_1
"Apa yang kau ragukan dari sahabatku Nona Rose, dia adalah pria yang baik. Dan aku sangat mengenal latar belakang keluarganya, jadi kau tidak perlu khawatir."
Perlahan Alana meraih jemari sahabatnya, menatapnya dengan senyuman lembut.
"Rose..." Panggilnya pelan.
Mendongakkan kepala, menatap dengan intens wajah Alana.
"Maafkan aku Alana, karena tidak jujur padamu. Aku hanya malu.., karena diam-diam sudah mengaguminya selama ini,"
Seulas senyuman membingkai diwajah Alana, mendengar apa yang dikatakan gadis berlesung pipi itu.
"Buat apa kau malu. Kau tau, kita berdua ini sudah seperti saudara, jadi tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Dan aku sangat mendukung, jika kau bersamanya."
"Alana...." Kedua bolamata nampak buram, akibat airmata yang sudah tergenang.
Maafkan aku. Dan kau juga, sudah kuanggap saudaraku sendiri Alana? aku sangat menyayangimu,"
"Kau mencintai Tuan Louis...?" Alana mencoba untuk bertanya, memastikan perasaan sahabatnya pada mantan kekasihnya.
"Aku..." Jawabnya yang terlihat ragu.
"Katakan, bagaimana perasaanmu. Kau tidak perlu merasa tidak enak hati padaku." Alana tersenyum menatap sahabatnya.
"Ayolah Bibi, kenapa kau mesti malu? aku tau, kau menyukai Pamanku." Gadis kecil itu, nampak tidak sabaran saat Bibinya Rose tak kunjung berbicara.
Tatapannya mengedar kesegalah arah, menatap setiap orang yang terlihat resah, dan berhenti pada Louis, yang terlihat lebih gelisah menanti jawabannya.
Hembusan napas terdengar berat, sebelum mengutarakan isi hatinya.
"Aku mencintaimu Tuan Louis, aku tidak pernah berhenti mengagumi, dan mencintaimu. Dan aku mau, memberi kau kesempatan lagi."
Mereka yang berada didalam situ terlihat begitu bahagia, dengan jawaban yang keluar dari bibir gadis bermanik abu itu.
Louisa segera menyambangi Bibinya, dengan bolamata berbinar menatap Bibinya.
"Kau serius Bibi? kau mau menjadi pacar Pamanku?"
"Ayolah Louisa, bukankah tadi Bibimu sudah bilang memberi Pamanmu kesempatan? berarti dia mau menjadi pacar Pamanmu." Alana nampak tersenyum, menatap wajah sahabatnya yang nampak merona.
"Tapi aku mau, Bibi yang mengatakan langsung Mama? bagaimana Bibi, apakah kau mau menjadi Pacar Pamanku?" Tatapan penuh harap, dengan raut wajah tidak sabaran.
"Iya. Bibi mau, menjadi Pacar Paman tampanmu Louisa?" Dengan senyuman kecil, seraya mencubit gemas pipi gembul Louisa.
Seketika melonjak kegirangan, mendengar jawaban yang keluar dari Bibinya Rose. Kedua kaki kecilnya menyambangi Louis, yangs sedari tadi terus tersenyum.
"Ingat Paman, kau harus menyelesaikan pembayaran hari ini juga. Bukankah, misi kita sudah selesai? tadi kaupun sudah mendengarnya, kalau Bibiku Rose mau menjadi pacarmu!"
Tawa kecil, dengan jemari mengacak-ngacak rambut gadis kecil itu.
"Terima kasih Nona Louisa, karena kau sudah menjalankan tugasmu dengan sangat baik. Dan apapun yang Nona minta, aku pasti akan mengabulkan." Canda Louis, pada putri sahabatnya itu.
"Terima kasih Paman, dan aku senang bisa membantumu." Jawabnya dengan bangga.
Alana, dan Dave menggeleng pelan, melihat bagaimana sikap putrinya itu.
"Aku rasa sikapnya itu, diturunkan darimu Sayang? bukan aku. Sebab kurasa, aku tidak pernah bersikap seperti itu."
__ADS_1
"Dan apakah,menurutmu itu buruk istriku?"
"Ntahlah..." Dengan mengangkat kedua pundaknya, saat Dave mengajukan pertanyaan itu.