
Dave terlihat begitu merasakan kesakitan pada tangannya, tapi pria berkulit eksotis itu, memutuskan untuk tetap emengejar Alana.
Terus berlari hingga kakinya terhenti pada persimpangan jalan, dan dia tampak bingung harus mengejar Alana kearah mana.
Menjambak rambutnya frustasi, karena kehilangan jejak wanita yang selama ini dicarinya.
"Kemana aku harus mencarinya?!"
****
Dengan napas yang terengah-engah, Alana tibah dirumah, dengan keresahan yang teramat sangat.
Membuka pintu rumah, dan mendapati tiga pasang mata yang tengah menatapnya dengan tatapan heran.
"Kau sudah pulang, Alana? mana terigunya, apakah minimarketnya sudah tutup?" Tanya Rose, dengan tatapann penasaran menatap sahabatnya.
Tidak menjawab, dan dengan segera dia berlalu kedalam kamar.
Louis, Louisa, dan Rose saling menatap, dengan diliputi tanda tanya.
"Bibi Rose, sepertinya Mama sedang menangis?" Ucap louisa, pada wanita muda itu.
"Kau yakin, Louisa?"
"Meemm, aku sangat yakin."Jawab Bocah perempuan itu, seraya mengangguk cepat.
"Baiklah, ayo kita hampiri Mamamu," Jawab Rose, dengan beranjak dari duduknya, menghampiri kamar Alana diikuti kedua bocah kecil itu.
****
Duduk disudut ruangan, dan menangis tersedu-sedu, itulah yang dilakukan oleh seorang Alana, menumpakan rasa sedih yang dia rasakan pada kakak tirinya itu. Bertahun-tahun lamanya, dia berusaha menghapuskan kenagan pahit itu, tapi kini kenangan itu datang lagi.
"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi, kenapa?! " Serunya, dengan terus menumpakan airmatanya.
Terus menangis, dan menangis hingga suara putranya, mengalihkan tatapannya pada arah pintu.
"Mama...?!" Seru Louis.
Semakin menangis, saat melihat kedatangan kedua anaknya.
"Kemarilah, anak-anakku?" Dengan merentangkan kedua tangannya, guna menyambut tubuh kedua anakknya.
Lous, dan Louisa saling menatap kemudian berjalan menghampiri Ibunya, dan seketika Alana langsung mendekap tubuh kedua anaknya, dan tangisnya semakin keras akibat kenangan buruk yang masih membekas.
"Mama kenapa? apakah kami melakukan kesalahan, hingga membuatmu menangis?!" Tanya Louisa, saat berada didalam dekapan Ibunya.
"Iya Mama, apakah aku dan Kakak melakukan kesalahan, jadi membuatmu bersedih?!" Timpal Louis, pula.
Berusaha untuk meredam tangisnya, dan tersenyum kecil menatap kedua buahatinya.
"Tidak anak-anakku. Kalian tidak melakukan kesalahan apapun,"
"Kalau begitu berjanjilah pada kami, kau tidak akan bersedih lagi," Ucap Louisa, dengan menyeka airmata Ibunya.
__ADS_1
"Tentu, anakku?" Dengan berusaha tersenyum, dibalik rasa sedih yang tengah melanda.
Disaat merasa sudah tenang, Rose memutuskan untuk menghampiri teman baiknya itu.
"Alana..?"Panggilnya, pelan.
Mendongakkan kepala, beranjak dari duduknya, dan segera memeluk erat sahabatnya , menumpakan semua kesedihan.
"Dia ada disini, Rose? dia ada disini?" Ucapnya, dengan terus menangis.
"Katakan siapa, yang kau maksud?"
Melepaskan pelukannya, dan bahu yang masih bergetar dia mencoba untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh Rose.
"Dave, dia sedang berada diCambrigge aku baru saja bertemu dengannnya."
"Apakah kau yakin, itu dia?!" Bertanya, untuk memastikan apa yang dikatakan Alana.
"Aku sangat yakin Rose?! aku sangat yakin?! aku takut Rose, aku sangat takut?" Ucapnya, dengan kembali mengeluarkan airmatanya.
Rose langsung merengkuh tubuh sahabatnya, guna menenagkan Alana dari rasa gelisahnya.
'Tenanglah Alana, semuanya akan baik-baik saja"
****
Langkahnya terasa begitu gontai, saat menuju lantai dua vIla itu. Masih teringat dengan begitu jelas dengan apa yang baru saja baru dialaminya.
"Tuan..? Panggil Daven tiba-tiba, yang menghentikan langkah lelaki tampan itu.
"Dia? dia siapa Tuan?" Tanya Daven, yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bosnya.
"Alana, adik tiriku."
"Apakah anda yakin, Tuan?"
"Aku sangat yakin, tapi dia terlihat begitu ketakutan, bahkan menyangkal siapa dirinya, saat aku meyakinkan kalau dia adalah Alana." Ucapnya dengan suara yang terdengar berat, dan kembali melanjutkkan langkahnya.
Dave menatap keindahan malam, dari lantai dua kamarnya. Dan teringat kembali olehnya, pertemuannya dan Alana tadi.
"Bagaimanapun caranya, aku akan kembali membawamu Alana."
****
Dua hari telah berlalu, dan Alanapun telah kembali melanjutkan aktifitasnya. Saat melihat Ibunya tengah sibuk didapur, Louis, dan louisa yang segera berlari keluar dari rumah. Sebab sejak pertemuannya dengan Dave, Alana melarang kedua bocah itu, untuk bermain diluar rumah.
"Ayo Kakak, cepat nanti Mama melihat kita?" Ucap Louis, dengan sedikit berbisik.
Louisa segera memakai sendalnya, dan dengan mengendap-ngendap kedua bocah itu, segera berlari menuju danau. Saat tiba didanau, raut wajah kedua anak itu tampak begitu kecewa saat tidak mendapati keberadaan Dave.
"Paman tampannya, tidak ada Kakak?!" Ucap Louis, dengan mimik cemberut."
"Kalau begitu , ayo kita cari paman tampannya."
__ADS_1
"Ayo kakak?"
Louisa, dan Louisa kembali melangkah, menyusuri kota kecil itu, untuk mencari keberadaan Dave, dan berhenti saat keduanya tiba disebuah bangunan, yang tengah dikerjakan.
"Coba kita tanya dipaman gemuk itu, mungkin saja dia mengenal paman tampan."
"Baik Kakak?" Jawab Louis, dengan menghampiri seorang pria bertubuh tambun.
"Paman, apakah kau mengenal Paman tampan?!"
"Paman tampan?!" Dengan mengernyitkan dahinya, karena bingung apa yang dimaksud oleh kedua bocah itu.
"Iya paman tampan, dan juga punya banyak uang."
"Daven...kau catat, apa-apa saja, yang masih dibutuhkan untuk pembangunan hotel ini."
"Baik, Tuan,"
"Paman, Paman tampan?!" Teriak kedua bocah itu, dengan langsung berlari kerah Dave.
Berbalik keasal suara, dan seketika senyuman terlihat diwajah pria itu, saat melihat kedatangan Louis, dan Louisa.
"Paman, tadi kami mencarimu, tapi kau tidak ada danau," Seru Louisa, dengan mimik cemberut.
"Iya Paman, tapi kami pergi kedanau, tapi kau tidak ada."
"Paman dua hari ini menunggu kalian, tapi kalian tidak datang."
"Maafkan kami Paman?" Ucap kedua bocah itu, dengan tawa kecilnya.
"Siapa mereka Tuan?" Tanya Daven, yang terlihat begitu penasaran.
"Mereka adalah Louis, dan Louisa."
Daven menghampiri bosnya, dan berbisik pelan ditelinga pria itu.
"Tuan, anak laki-laki ini bukan putramu kan?"
"Apa maksudmu?!"
"Sebelumnya maafkan saya Tuan? tapi anak laki-laki ini, wajahnya benar-benar mirip dengan anda."
Dave hanya terdiam, dan dia tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh sekretarisnya, karena saat dia pergi ketoko mainan, kasir itupun mengatakan hal yang sama.
"Hallo anak kecil, apakah kita bisa berkenalan?" Ucap Daven, pada Louisa.
"Tentu bisa Paman, kenalkan nama Louisa, lengkapnya Louisa Davenia Hounston?"
Dave, dan Daven saling menatap, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Dave mensejajarkan tingginya dengan anak peremuan itu, dan bertanya.
"katakan pada Paman, apakah benar nama margamu Hounston?!"
__ADS_1
"iya Paman, itu margaku." Jawab Louisa, dengan wajah polosnya.