
Menghembuskan napas, dan meraih phonsel dari saku celananya. Dan melihat nama Laura, disana.
Percapakan.
Dave: Hallo Laura, ada apa?
Laura: Kenapa kau bertanya, seperti itu?! bukankah aku ini, kekasihmu?! jadi apakah salah, jika aku menghubungimu!" Dengan nada yang terdengar kesal, diseberang sana.
Menghembuskan napas, sebelum melanjutkan telepone mereka.
Dave: Maafkan aku, Sayang? katakan padaku, ada apa?"Bertanya, dengan nada yang terdengar lembut.
Laura: Dave? aku rindu..? aku ingin kau datang, kearpartemenku sekarang.
Dave: Maaf Laura, hari ini aku tidak bisa. Papaku, baru saja datang. Jadi mungkin untuk sementara kita harus menjaga jarak, karena aku tidak mau Papa curiga.
Laura: Bukankah, perusahaanmu dan perusahaan milik keluargaku, sedang menjalin kerjasama?! jadi kaukan, bisa memberi alasan, mengenai pekerjaan. Ataukah, kau sudah mulai ada perasaan pada wanita, itu Dave?" Dengan nada, yang terdengar tinggi.
Dave: Tidak Laura..? tidak..? aku hanya..." Belum selesai Dave menyelesaikan kalimatnya, Laura sudah menyela ucapannya.
Laura: Aku tidak perduli, Dave?! karena aku tau, itu hanya alasanmu saja. Agar dapat bersama dengan Alana terus. Jadi aku minta, kau datang sekarang." Dengan memutuskan sambungan telepone, secara sepihak.
"Hallo...?! halo.., halo, Laura?!" Tapi tidak terdengar, suara diseberang sana.
Sial...?! dia sudah memutuskan, sambungan teleponenya.' Ucap Dave, dengan raut wajah yang terlihat begitu gelisah.
Raut wajah Dave terlihat resah, karena dia begitu mencintai Laura. Dan memutuskan untuk pergi, menemui kekasihnya.
Dave melangkahkan kaki, kearah tangga menuju kamarnya. Dan mendapati ayahnya, dan Louis yang tengah bermain dengan sikembar, dan juga Alana disana. Dan memutuskan untuk kekamar, guna mengambil jacketnya. Alana yang melihat Dave pergi kekamar mereka, segera mengikuti langkah kaki pria itu.
Membuka pintu, dan mendapati Dave tengah memakai jacketnya, dan akan pergi.
"Apakah kau, akan pergi menemui Laura?!" Tanya Alana, yang mengalihkan tatapan mata laki-laki tampan itu.
"Iya, aku akan pergi menemuinya, sekarang.'" Dengan ingin melangkah, tapi Alana langsung mencekal tangannya.
"Aku mohon, jangan pergi Dave?! ingat? disini ada Papa, dan juga sahabatmu yang baru saja datang. Apakah kau tidak bisa satu hari saja, tidak bertemu dengannya?" Dengan tatapan memohon, menatap Dave.
"Aku harus segera pergi menemuinya, Alana?! lagi pula, hanya sebentar saja."
"Tapi, Dave..?" Dengan tatapan, memohon.
"Aku hanya sebentar saja, kau mengerti..?!" Dengan nada penuh penekanan, hingga membuat Alana melepaskan genggaman tangan itu.
Menitikkan airmata, saat Dave lebih memilih pergi menemui kekasihnya.
"Dengan Papamu saja, kau sudah seperti ini. Apalagi aku, Dave..?"
__ADS_1
Dave turun dari tangga, dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Kau mau kemana, Dave?" Tanya Damian, saat melihat putranya yang nampak akan bepergian.
"Ada pekerjaan, yang harus aku bereskan. Jadi mau tidak mau, aku harus pergi sekarang juga, Papa?"
"Apakah tidak bisa ditunda, Dave? kau baru datang, sekarang sudah mau pergi lagi."
"Maaf Pa..? tidak bisa. Lagi pula, aku tidak akan lama. Dan ini pekerjaan, yang sangat penting." Jawabnya, dengan berlalu pergi dari dalam vila.
"Anak ini sangat keterlaluan?! baru juga datang, sudah pergi lagi?!" Ucap Damian, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Papa pasti mau menemui, Bibi genit itu lagi, Kakek?" Ucap Louis kecil.
"Bibi, Genit..?"
"Itu Kakek, Bibi Laura..?" Timpal Louisa, pula.
Alana turun dari tangga, dengan raut wajah yang terlihat sendu. Louis terus menatap wajah wanita itu, yang telah berlalu pergi ketaman belakang vila. Dan diapun memutuskan, untuk mengkutinya.
Tatapan matanya menerawang, melempar jauh kedepan dengan kesedihan disana. Mengingat bagaimana sikap Dave tadi, membuat dirinya sangat begitu kecewa, pada laki-laki itu.
"Alana...?" Panggil Louis, tiba-tiba.
Mengusap airmata, sebelum membalikkan badannya menatap pria itu.
"Kau baik-baik, saja?" Bertanya, dengan menatap intens mata Alana, yang tampak sembab.
"A..aku, baik-baik saja." Jawabnya, dengan mencoba untuk tersenyum.
"Katakan padaku, Alana? jangan menyimpannya, sendirian,"
"Louis....?" Dengan tatapan, menerawang menatap pria itu.
"Ada apa, katakan..?"
"Bisakah kau menemaniku, untuk melewati semua ini...?" Tatapan penuh harap, dengan mata sudah berkaca-kaca.
Menatap wajah cantik itu, dengan tatapan intens, walaupun terselip rasa penasaran disana.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Jadi kau tidak perlu, bersedih."
Tersenyum, dan mengusap airmatanya yang masih terus mengalir.
"Terima kasih, Louis..?"
Louis menghampiri wanita itu, dan membenamkan Alana dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jangan bersedih, apapun itu? aku tidak akan meninggalkanmu."
Alana semakin menumpakan tangisannya, dan menangis dalam pelukan laki-laki itu, karena beban hatinya yang sudah teramat sangat, mengingat sikap Dave padanya.
Disaat sudah merasa lebih tenang, dia melepaskan pelukannya pada pria itu.
"Maafkan aku, karena sudah menangis." Ucapnya, tersenyum.
Melayangkan tangannya padan pipi Alana, mengusap airmata yang masih membasahi pipi.
"Ayo kita masuk kedalam. Lagi pula sedikit lagi, aku harus kembali keLondon."
"Apakah kau akan, pergi Louis?" Tanya Alana, dengan raut wajah yang terlihat resah.
"Kenapa?! apakah kau takut, aku meninggalkanmu?" Dengan senyuman, kecil diwajahnya.
"Ti..tidak." Jawab Alana, dengan wajah merona.
:"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan pergi, jika kau yang memintanya. Dan ayo, kita masuk kedalam."
"Baiklah..?" Jawabnya seraya mengangguk pelan, dan berlalu mengikuti langkah Louis.
Alana terus menatap ayah tirinya, yang tengah bersenda gurau bersama kedua anaknya.
Menghampiri ketiganya, dengan berusaha tersenyum.
"Apakah kalian berdua, senang bermain bersama Kakek?" Tanya Alana, tiba-tiba.
"Tentu, Maa?" Jawab Keduanya, bersamaan.
Terus menatap interaksi kedua anaknya, yang terus tertawa bersama Damian, dan mereka tampak begitu bahagia.
"(Aku tidak mau, kedua anakku merasakan kesedihan yang aku rasakan, dan mengetahui kelakuan papanya, bersama Laura. Akan jauh lebih baik. jika louis, dan Louisa tinggal bersama Kakeknya diAmerika.)" Bathinya, dengan terus menatap kedua anaknya.
"Alana, apakah Dave akan lama?! karena Papa sudah sangat lapar. Tidak mungkinkan, kita menunggunya untuk makan siang."
"Tidak Paa? kita tidak usah menunggunya lagi. Karena bisa saja, dia pulang malam."
"Anak itu, sudah sangat keterlaluan?!
Ayo, cucu-cucuku?! kita makan siang sekarang."
"Baik, Kakek..?" Jawab Kedua bocah itu, dengan mengkuti langkah kaki Damian.
"Louis, ayo..? Karena ini sudah jamnya makan siang" Ajak Alana, dengan senyuman menatap laki-laki itu.
"Baiklah, ayoo?" Dengan mengikuti langkah Alana, menuju ruang makan.
__ADS_1