
Dave terlihat begitu kesal, sebab baginya Alana, merupakan wanita yang sangat keras kepala.
Setelah berganti pakaian, lelaki tampan itu segera berlalu menuju lantai bawa, setelah menutup pintu dengan sangat kasar.
"Dia sangat keras kepala, dan sangat pembangkang, apa dia tidak bisa bersikap manis seperti Laura..?" Gumamnya, dengan menuruni tangga.
Melangkahkan kaki, dan dia mendapati kedua anaknya tenga menikmati makan malam mereka. Terus menatap Louis, dan Louisa yang tampak asik menikmati makan malamnya. Tersenyum sesaat, dan kembali melanjutkan langkanya.
Membuka pintu, dan mendapati Daven, disana.
"Duduklah, Daven..?" Titahnya.
"Baik, Tuan?" Jawabnya, dengan menduduki salasatu kursi.
Dave melangkahkan kaki menuju dinding transparant, seraya menatap keindahan taman dimalam hari.
"Ada apa Tuan, apakah ada yang anda pikirkan?" Tanya Daven, dengan terus menatap pria itu.
"Aku sangat menyayangi Louis, dan Louisa walaupun Alana selalu saja menyangkal, kalau kedua anak itu, bukan anakku."
"Terus, apa yang anda pikirkan, Tuan?" Tanya Daven, penasaran.
"Selama ini, aku mencari Alana, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku, tapi?!" Dengan menjeda kalimatnya, sejenak.
"Tapi apa, Tuan?!" Tanya Daven, yang terlihat semakin penasaran.
"Saat bertemu Laura, aku mulai goya." Jawabnya, dengan napas berat.
"Maksud anda apa, Tuan? apakah anda mencintai Nona Laura, karena bagaimanapun, anda pernah menjalin hubungan dengannya." Pertanyan yang terlihat semakin penasaran, dari bibir sekertaris itu.
"Ntah cinta atau apa, akupun tidak tau. Tapi Laura memberikanku kenyamanan, tidak seperti Alana, yang sangat keras kepala."
"Terus bagaimana sekarang, apa yang akan anda lakukan?"
"Aku akan menikahi Alana, demi status kedua anakku, dan agar Alana tidak membawa pergi mereka, tapi aku juga sangat ingin terus bersama Laura, dia sangat pengertian tidak seperti Alana, yang selalu bersikap kasar."
"Tapi aku yakin, Nona Alana tidak akan mau menikah dengan anda, Nona Alana itu bukan tipe wanita yang muda ditaklukkan Tuan? apalagi, dia sangat membenci anda."
"Jadi apa yang harus, aku lakukan?"
"Biarkan Nona Alana pergi, mencari kebahagiannya sendiri. Dan Tuan bisa menikah dengan Nona Laura."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau. Sampai kapanpun, itu tidak pernah terjadi." Jawabnya, tegas.
"Kenapa Tuan?!"
"Karena aku tidak akan membiarkan, kedua anakku memiliki ayah tiri."
"Jadi anda akan menjalin hubungan dengan Nona Laura, dan menikah dengan Nona Alana demi Louis, dan louisa?!"
"Mungkin seperti itu."
"Aku yakin , Nona Alana tidak akan mau, menyetujui rencana gila anda Tuan. Sekalipun juga anda tidak menjalin hubungan Nona Laura, Nona Alana tidak akan mau menikah dengan anda."
"Kita lihat saja, apa setelah aku mengancamnya dia masih tidak akan mau..?!" Dengan senyuman kecil, diwajahnya.
"Terserah anda saja Tuan? aku hanya mendukung."
****
Saat akan berlalu pergi dari kamar, Alana mendapati Dave baru saja memasuki kamar. Bersikap acuh, dan melemparkan pandangannya, saat berpapasan dengan lelaki tampan itu, hingga membuat Dave tampak geram.
"Dasar perempuan keras kepala..?! dia pikir siapa dia?!" Ucapnya, dengan raut wajah memerah, saat Alana tampak mengabaikannya.
"Louis...Louisa..., buka pintunya...?" Panggilnya, dengan sedikit berteriak.
Kedua anak itu, saling menatap, dan saat Louis, akan menghampiri pintu, Louisa langsung mencekal tangan adiknya.
"Apakah kau lupa, yang tadi Paman Daven, katakan?! kalau kita membiarkan Papa, dan Mama tidur bersama, kita akan cepat mempunyai adik bayi." Ucapnya, dengan berbisik.
"Apakah Papa, dan Mama akan membuat adik bayi, tanpa harus kita ketahui?" Tanya Louis, penasaran.
"Aku tidak tau, besok baru kita tanyakan pada mereka."
"Baiklah..?" Jawabnya, pasrah.
"Louis..? Louisa...?! buka pintunya, Mama akan tidur bersama kalian..?" Panggil Alana lagi, dengan sedikit berteriak.
Keduanya saling menatap, dan dengan langka pelan, Louis, dan Louisa berjalan menghampiri ranjang, dan mengabaikan suara ketukan pintu.
"Kenapa mereka tidak membuka pintu? aku tidak mau, satu kamar bersamanya." Bertanya pada diri sendiri, dan terlihat kegelisahan disana.
"Ayoo, kita kembali kekamar. Karena ada hal penting, yang ingin aku bicarakan denganmu."
__ADS_1
"Besok saja, ini sudah sangat malam, aku ingin istirahat." Jawabnya, dengan mengacuhkan keberadaan Dave.
Terlihat begitu kesal, karena seumur hidupnya dia tidak pernah abaikan seorang wanita. Dan tanpa menunggu, Dave langsung menggendong Alana dengan paksa, dan membawanya kekamar.
"Lepaskan aku, brengsek..?! lepaskan aku..?!" Ucapnya dengan sedikit berteriak, seraya memukul-mukul tubuh pria.
"Kau, bisa diam tidak..?!" Dengan nada, tinggi.
"Aku tidak akan, diam..?!" Dan saat Alana, akan berteriak, Dave langsung membungkam mulutnya dengan ciuman.
Melemparkan Alana keatas ranjang, dan mengunci pintunya saat sudah berada dikamar.
"Apa yang akan kau, lakukan?! awas saja, jika kau berani berbuat macam-macam."
"Apa kau tidak bisa, bersikap lembut sedikit padaku..? agar aku, bisa jatuhcinta padamu!"
"Aku akan jatuhcinta padamu, kalau aku sudah gila."
Meraih tengkuk Alana, dan menciumnya dengan paksa. Napasnya tersenga-enga saat Dave, melepaskan pagutannya.
"Kau selamat malam ini, karena aku sedang lelah, kalau tidak aku akan memaksamu untuk melakukan itu."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Dave?! apakah tidak puas kau membuat aku menderita. Aku mohon, biarkan aku pergi bersama kedua anakku..?" Pintanya, dengan airmata.
"Kalau kau mau pergi, pergilah, tapi tinggalkan Louisa, dengan Louis bersamaku."
"Apaa?! apa aku tidak salah dengar Dave..?! kau ingin memisahkan aku, dengan kedua anakku..?" Tanyanya, seolah tidak percaya.
"Kan kau yang meminta ingin pergi, yaa aku mengijinkan. Tapi tidak dengan Louis, dan Louisa." Jawabnya, tegas.
"Kau jahat..Dave..? kau jahat...?" Ucap Alana, dengan linangan airmata.
"Terserah. Karena ini sudah keputusanku, dan aku ingin kita menikah."
"Apa..?! menikah?? menikah dengamu..? apa kau sudah gila, Dave..? ingat sampai kapanpun, aku tidak mau menikah denganmu."
visual Dave.
__ADS_1