Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kedatangan Laura.


__ADS_3

Dave melepaskan semua helaian benang, yang membalut tubuh kekarnya. Tubuh polos itu melangkah dengan pelan, menghampiri shower.


Dibawah kuncuran airkran, membasahi tubuhnya. Terus terbayang dalam pikirannya, semua perkataan Alana semalam.


"Aku ingin kita, bercerai."


"Aku sudah jatuh cinta, pada sahabatmu."


Kedua kalimat itu, begitu membekas dalam ingatannya. Hingga membuatnya menghembuskan napas yang begitu memburuh, dan dengan kasar lelaki tampan itu, meninju dinding kamar mandi, meluapkan semua emosi dalam dirinya semalam.


"Aku harus menemui Louis, dan meminta dia menjauhi istriku. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikan Alana." Gumamnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.


****


Melangkah menuruni anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya, melewati setiap barisan anak tangga.


Memaksakan diri untuk tersenyum, saat Daven, dan juga Alma menyadari kedatanganya.


"Pagi.." Sapanya dengan senyuman, dengan melangkah menuju meja makan.


"Pagi Nona.." Jawab keduanya, bersamaan.


Alana menduduki kursi, dan tangannya mulai mengambil roti, dan melumurinya dengan selai cokelat. Suasana nampak hening, tidak ada yang saling berbicara antara ketiganya.


"Ini susunya, Nona..?" Seru Alma, dengan meletakkan sebuah susu putih didepan wanita itu.


"Terima kasih, Bibi Alma?" Dengan senyuman kecil, diwajahnya.


Makan dalam keheningan, Daven terus menatap jam tangan yang melingakar ditangannya, seraya tatapan matanya sesekali menatap kearah tangga, untuk melihat kedatangan Tuanmudanya. Dan memutuskan, untuk bertanya.


"Nona..?"


"Ada apa?"


"Tuan Dave, masih melakukan apa? karena kami harus segera berangkat, keperusahaan sekarang. Sebab hari ini, ada pertemuan para pemegang bisnis."


Menghembuskan napas, saat Daven menanyakan suaminya.


"Dia masih mandi, mungkin sedikit lagi turun."

__ADS_1


"Nona..?" Panggil Alma.


"Ada apa, Bibi?"


"Apa yang anda lakukan, sekarang?"


Menghentiikan kegiatan makannya, dan meletakkan kembali roti yang baru saja akan dimasukkan, kedalam mulutnya.


"kenyataan yang aku rasakan sekarang, aku telah jatuhcinta pada Louis. Dan aku tetap akan menjalin hubungan, dengannya. Aku tidak mau lagi, memaksa Dave untuk meengakhiri hubunganya dengan Laura, seperti yang biasa dulu kulakukan. Karena aku tau, hanya ada Laura diahati nya. Dan bukan aku, atau siapapun."


"Kami akan mendukung apapun, keputusan anda Nona? kalau itu bisa membuat, anda bahagia." Seru Daven, dengan tatapan iba menatap Nonamudanya.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam, memasuki rumah mewah itu. Raut wajahnya begitu memerah, dan dengan langkah yang tergesa-gesa, Laura memasuki rumah itu.


Rasa kesalnya begitu membucah, rasa takut kehilangan akan Dave untuk kedua kalinya, dan juga rasa takut, jika Dave akan jatuhcinta pada Alana, selalau menghantui pikiran wanita itu.


"Dave, hanya miliku. Hanya milikku, aku tidak mau kehilangannya, untuk kedua kali lagi."


Saat sudah berada didalam rumah, Laura segera meneriaki nama kekasihnya itu. Hingga membuat Daven, Alma, dan juga Alana begitu terkejut dengan kedatangan wanita itu.


"Dave..., Dave..., Dave....." Suara panggilan, yang begitu menggema dalam rumah itu.


Menghentikan langkahnya, dan tatapan matanya teralih pada arah ruang makan. Dimana dia menjuampai Daven, Alma, dan melihat Alana disana, membuat emosi dalam diri Laura semakin membuncah.


"Apa yang anda lakukan disini, Nona? apakah anda, sudah tidak punya sopan santun, datang berteriak dirumah orang." Dengan raut wajahnya kesalnya, menatap Laura.


Senyuman sinis membingkai diwajahnya. Menatap Daven, dan tanpa menjawab apa yang ditanyakan pria itu, Laura segera menghampiri Alana, yang tengah menikmati sarapan paginya.


"Dimana Dave?!"


"Aku tidak tau." Jawab Alana dengan santainya, dan tetap melanjutkan makannya tanpa memperdulikan keberadaan CEO itu.


"Kau tidak tau??" Denagan senyuman sinis, dan kemarahan semakin bertambah.


Apa kau sudah tidak punya, harga diri lagi. Aku yakin, pasti kau yang membuat Dave semalam, tidak pulang. Kau tau, Dave tidak mencintaimu. Wanita yang dia cintai, hanya aku.. Hanya aku." Seru Laura, dengan sombongnya.


"Nona..!! apakah anda, tidak bisa bersikap sopan santun sedikit? anda datang kerumah orang, dan marah-marah disini." Bentak Alma, menatap penuh kebencian pada Laura.


"Buat apa aku harus sopan santun. Bukankah rumah ini, adalah milik kekasihku. Dan aku sangat kasian padamu Alana, kau itu berstatus sebagai istri, tapi Dave memperlakukan kau seperti simpanan. Tapi aku rasa kau memang layak, diperlakukan sebagai simpanan." Dengan senyuman, mencemooh.

__ADS_1


Raut wajah Alana begitu memerah, dan dia tak sanggup lagi membendung amarahnya. Saat mendengar, setiap kata yang keluar dari mulut CEO itu.


Beranjak dari duduknya, dan seketika tangannya menampar keras pipi Laura.


"PLAAKKK" Sebuah tampan yang cukup keras, hingga membuat wajah Laura seketika berpaling kesamping.


Alma, dan Daven begitu terkejut dengan sikap Alana, yang sudah berani menampar Laura.


Begitupun juga dengan Laura, yang tidak menyangkah Alana akan berani menamparnya.


"Kau sudah sangat berani, menamparku Alana?!" Dengan kemarahan yang teramat sangat, seraya menyentuh pipinya yang memerah.


"Karena wanita murahan sepertimu, memang pantas mendapatkan itu. Kau perempuan tidak punya malu. Sekalipun dia tidak mencintaiku, tetap dia adalah suamiku. Suami sahku. Dan kau yang sudah, merebutnya dariku. Dan kau, sangat murahan..!!"


Raut wajah Laura semakin memerah, dan ketika dia akan menampar balik Alana, seketika Alana mencengkram tanganya.


"Lepskan, tanganku Alana..?!! aku akan mengadukanmu, pada Dave," Dengan berusaha, melepaskan tanganya dari genggaman tangan wanita itu.


"Adukan saja semua padanya, apa yang aku lakukan padamu. Kalau aku sudah mengatakan, kau wanita murahan, dan yang lainnya. Dan jika kau mau menambah bahasa lagi, aku tidak perduli. Dan katakan pada kekasimuh itu, kalau aku ingin beercerai." Dengan nada penuh penekanan, dan menghempaskan tangan Laura dengan kasar.


"Alana.., Laura..., apa yang kalian ributkan...!! Dan kau Laura! apa yang kau lakukan disini?!" Dengan langkah cepat, dia menghampiri kedua wanita itu.


"Tanyakan pada wanita ini, apa yang sudah dia lakukan padaku? dan dia mengatakanku yang tidak-tidak."


"Bukankah benar yang aku katakan padamu, kau itu wanita murahan, dan perebut suami orang."


"Sudah..!! kalian berdua, diam..?!" Teriak Dave.


"Kau marah padaku, dia yang salah Dave..?" Ucap Laura, dengan nada merajuk


"Aku sudah bilang, kau tidak perlu datang kemari laura?" Seru Dave pada kekasihnya, dengan raut wajah frustasi.


Alana hanya tersenyum, melihat perdebatan pasanga kekasih itu. Meraih tasnya yang dia letakkan diatas kursi, dan segera berlalu begitu saja tanpa pamit.


Dave yang melihat perginya Alana, segera mengejar istrinya.


"Alana..., Alana....!" Dengan langsung mencekal tangan wanita itu, saat mereka sudah berada didepan rumah.


"Lepaskan tanganku, Dave..? urus kekasihmu itu!"

__ADS_1


"Jangan bilang, kau akan pergi menemui Louis, Alana??"


"Dan itu, bukan urusanmu!" Dengan nada, penuh penekanan.


__ADS_2