Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Telepone dari Damian.


__ADS_3

Sempat larut dalam lamunannya sesaat, sebelum dia memutuskan kembali kedalam rumah.


"Baiklah kau tidak perlu bersedih lagi. Dan Kakek janji, Kakek sendiri yang akan memberi pelajaran pada Papamu, kalau dia sampai menyakiti Mamamu, dan kita akan menyuruh Mamamu kembali keAmerika, kalau Papamu terus menyakitinya."


"Kau serius, Kakek?" Tanya Louisa dengan bolamata berbinar, menatap Kakeknya.


"Iya. Kakek serius. Jadi sekarang kau bermainlah bersama adikmu, dan jangan bersedih lagi." Dengan jemari, membelai lembut pucuk kepala cucu perempuannya.


"Baik, Kakek.." Jawab Louisa dengan raut wajah sumringah, dan menyambangi adiknya yang sedang bermain bersama anjing kesayangan Papanya.


Damian menghembuskan napas panjang, dan memutuskan untuk kembali kedalam rumah.


Menapaki kakinya, menuju ruang kerja miliknya. Membuka pintu, dan menatap sebuah figura besar yang mengegelantung didinding ruangan itu. Senyuman kecil memmbingkai diwajah tuanya, yang mewakili kehampaan hatinya saat ini.


"Papa tidak tau, ada hal apa yang kau sembunyikan dari Dave? apakah kau menikahi Alana, hanya untuk memenuhi keinginan Papa, dan demi kedua anakmu. Apakah penyesalan yang kau tunjukan pada Papa waktu itu, hanya keebohongan semata." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.


Damian menduduki kursi kebesarannya, seraya meraih telepone yang terletak diatas meja, dan menghubungi seseorang disana.


"Hallo, Jordan?"


"Hallo Tuan, ada apa?"


"Aku minta, kau datang sekarang kekediamanku. Ada tugas penting, yang akan aku berikan padamu."


"Baik Tuan, saya akan kesana sekarang." Dengan memutuskan, sambungan teleponenya.


Meletakkan telepone rumah pada tempatnya, seraya menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan mendongakkan kepala menatap langit-langit ruang kerjanya.


"Apakah, dia kembali menjalin hubungan dengan Laura? karena dulu Dave sangat mencintai wanita itu. " Gumam Damian, dengan berbagai pemikiran dalam dirinya.


30 menit keemudian.


Seorang pria bertubuh tegap, berjalan memasuki perumahan mewah itu, dengan pakaian seba hitam membalut tubuhnya. Saat sudah berada didalam rumah mewah itu, Jordan berpapasan dengan Paula.


"Selamat siang, Bibi Paula,"


"Selamat siang, Jordan. langsung saja keruang kerja, Tuan besar sudah menunggu anda daritadi."


"Baiklah. Kalau begitu saya akan langsung, saja keruang kerja Tuan besar." Jawabnya, dengan berlalu menuju ruang kerja Damian.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerjanya, Damian yang sudah tau kalau itu adalah Jordan, langsung meminta pria itu untuk masuk.


"Masuk.."


Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Jordan, orang kepercayaan dari Damian.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan,"


"Siang Jordan, duduklah." Pintanya, saat laki-laki bertubuh tegap itu, masih setia berdiri.


Menduduki salahsatu Kursi, tepat berhadapan dengan pria paruhbaya itu.


"Apakah ada hal yang penting, hingga Tuan meminta saya untuk datang kemari?" Bertanya, dengan tatapan penasaran menatap Damian.


Menegakkan duduknya, yang sedari tadi bersandar pada kursi kebesarannya.


"Aku minta kau selidiki kehidupan rumahtangga, putraku Dave."


Jordan seketika menyurutkan kedua alisnya, dan laki-laki bertubuh tegap itu, terlihat begitu penasaran dengan apa yang diucapkan Bosnya.


"Apakah anda mencurigai, pernikahan putra anda seperti ada yang janggal Tuan?"


"Yaa. Dan aku minta kau menyelidikinya secepatnya, dan secepat beritahukan hasilnya."


"Baik Tuan, saya akan segera meminta anak buah kita untuk mencari tau, bagaimana kehidupan rumahatangga Tuan Dave di Inggris."


"Dan aku percayakan semua itu, padamu Jordan?"


****


Mentari semakin menenggelamkan cahayanya, hingga rembulanpun mulai menampakan wajahnya, ditemani bintang-bintang dilangit, yang menandakan waktu telah malam.


Kesunyian melanda apartemen mewah itu, hanya suara televisi yang terdengar, menemani sepasang kekasih yang tengah bermesraan diruang tamu.


"Sayang, aku minta malam ini kau menginap diapartemenku lagi. Bukankah kau tau, kalau aku baru saja sembuh dari sakit?" Pinta Laura, dengan nada sedikit merajuk.


Menghembuskan napas yang terasa sesak didadanya, karena malam ini sesungguhnya Dave ingin sekali pulang kerumahnya bersama Alana. Apalagi memikirkan perkataan Alana tadi, membuat laki-laki itu tampak begitu gelisah.


"Sayang, kenapa kau diam saja?" Tanya laura dengan nada manja, saat Dave hanya diam membisu.


"Apakah malam ini, aku bisa menginap dirumahku, Laura? sebab bagaimanapun, Alana adalah istriku." Dengan tatapan penuh harap, menatap kekasihnya.


Langsung beranjak dari duduknya, dan dia terlihat begitu kesal saat mendengar apa yang diinginkan Dave.


"Jangan katakan, kalau kau sudah jatuhcinta pada wanita itu. Apakah kau sengaja mau mempermainkan aku lagi?!" Dengan nada mulai meninggi, dari sebelumnya.


Dave beranjak dari duduknya, seraya menghembuskan napas kasar.


Meraih jemari Laura, dan mengecupnya lembut guna menenangkan amarah kekasihnya.


"Aku hanya mencintaimu, Laura? dan sampai kapanpun aku tudak akan, mengecewakan dirimu."

__ADS_1


Membalikkan badannya, seraya menatap Dave dengan tatapan penuh cinta.


"Aku minta, kau tidak akan mengecewakan aku, seperti dulu yang kau lakukan bersama karin. Dan aku minta, secepatnya kau jujur pada ayahnmu, tentang hubungan kita. Begitu juga, dengan anak-anakmu, Dave?"


"Baiklah.." Jawab Dave, dengan napas yang terasa berat.


Terdengar suara telepone, pada ponsel milik Dave. Meraih dari saku celananya, dan dia begitu terkejut saat melihat nama ayahnya disana. Dan tengah melakukan, panggilan video call.


"Siapa yang menelpone, Dave? apakah wanita itu?!" Dengan tatapan penasaran, menatap kekasihnya.


"Bukan Alana, tapi Papa Laura. Dan maaf, aku harus mengangkatnya, dan aku minta kau jangan bersuara." Ucap Dave, dengan berlalu menuju arah balkon.


Laura menghentakkan kakinya kelantai, dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal.


"Sampai kapan, aku harus bersabar?!"


Menghembuskan napas kasar, dan dengan satu tarikan, dia mengegeserkan icon hijau.


"Selamat malam, Paa?" Sapa Dave, dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup.


Tatapan Damian seketika menatap dengan intens, tempat dimana putranya berada.


"Sepertinya, kau bukan sedang berada dirumah Dave? kau sedang berada dimana?!" Dengan nada, yang terdengar tegas.


"A..aku, sedang berada dirumah teman, Papa?"


"Dirumah, teman?" Dengan, menyerngitkan kedua alisnya.


"Iya, Paa." Jawab Dave, berusaha meyakinkan ayahnya.


"Pasti kau bersama, Alana kan?"


"Tidak, Paa? aku sendirian."


"Kenapa kau tidak mengajak Alana, Dave? karena bagaimanapun, dia adalah istrimu sekarang."


"Maafkan aku, Paa?"


"Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu, darikukan Dave?"


"Ti..tidak, Paa." Jawab Dave, dengan raut wajah yang semakin terlihat pucat.


Membingkai senyuman kecil, seraya menatap sinis putranya.


"Semoga saja, itu benar."

__ADS_1


__ADS_2