
Louis, dan Delina menghabiskan makan siang mereka, disalahsatu restorant yang menyediakan makanan khusus Perancis, yang terletak ditengah kawasan kota London.
"Katakan. Kapan kau akan kembali keAmerika Louis? bukankah kau sudah sangat lama berada diLondon?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Delina, seraya meneguk segelas Citron Presse ditengah panasnya cuaca kota itu.
"Ntahlah, kita liat saja nanti. Sebab aku masih sangat betah, berada dikota ini," Memberi alasan, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Delina menatap dengan intens, pria didepannya. Seketika senyuman mengembang diwajah cantik Delina, saat dirinya menelusuri dengan seksama garis wajah tampan itu.
"Apa karena dia, jadi membuatmu belum punya keinginan untuk meninggalkan kota ini," Sekedar berbasa-basi, dan mengandung makna yang begitu mendalam.
Menautkan kedua alisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Delina padanya.
"Apa maksudmu?"
"Apakah ada seorang wanita yang begitu kau cintai, hingga membuatmu betah berada dikota ini?"
keningnya berkerut, saat mendengar ucapan teman baiknya itu yang hampir sama, dengan situasi yang benar adanya.
"Dari mana kau tau?" Tatapan intens, menatap wanita bekulit eksotis itu.
Tawa kecil membingkai diwajah cantik itu, saat mendengar apa yang dikatakan pria berambut cokelat itu.
"Ayolah Louis, apakah kau lupa kalau aku ini seorang PSIKOLOG?"
Seulas senyuman membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Delina padanya. Hingga membuat merutuki kebodohannya sendiri, saat baru menyadari profesi teman wanitanya itu.
"Kenapa aku bisa melupakan itu?"
Mereka kembali melanjutkan makan siangnya, dan sesekali Louis dibuat tertawa oleh gadis manis itu, saat Delina memberikan guyonan disela aktifitas makan siang mereka. kedua bolamata itu menatap dengan intens, setiap kali sebuah kalimat terlontar dari bibi Delina. Tak disangkah ada rasa simpati dalam Louis, pada teman baiknya itu.
"Mau sampai kapan kau menatapku terus, seperti itu Louis? nanti bisa-bisa makanmu, tidak akan habis karena kau hanya menghabiskan waktumu, hanya untuk melihatku."
Raut wajah gugup, dan sedikit merona membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Delina, sebab dirinya seperti maling yang tengah tertangkap tangan.
'Karena kau terlalu banyak bicara, jadi membuatku tidak bisa makan Delina? jadi kau harus menyalahkan dirimu sendiri?" Louis beralasan, untuk menjawab apa yang dikatakan teman wanitanya itu.
Menikmati makan siang mereka, disuguhi dengan candaan dan tawa dari keduanya. Tiba-tiba saja terdengar suara telepone pada ponsel Louis, mengalihkan tatapan sang pengusaha. Meraih dari saku celananya, dan sedikit kaget saat melihat nama Dave pada layar ponselnya.
"Dave.." Gumamnya.
"Maaf, aku harus mengangkat telepone dari sahabatku." Pamitnya, dengan melangakah sedikit jauh.
PERCAKAPAN
__ADS_1
"Hallo Dave, ada apa?"
"Kau dimana. Aku datang keapartemenmu, tapi kau tidak ada."
"Aku sedang berada diluar Dave? katakan apakah ada sesuatu yang penting, hingga kau datang mencariku?"
"Sebentar malam aku akan mengadakan pesta kecil-kecilan dikediamanku. Jadi aku datang keapartemenmu, khusus untuk mengundangmu. Dan jika kau masih menganggapku sebagai sahabatmu, aku minta kau datang nanti malam ketumahku."
Helaan napas terdengar berat, saat mendengar permintaan dari sahabat baiknya itu. Walaupun belum siap melihat kemesraan Alana, dan Dave tapi bagaimanapun dia harus berbesar hati, karena tidak mungkin dia akan terus menghindar.
"Baiklah, aku akan datang. Dan aku akan datang bersama teman baikku."
"Baiklah, kalau begitu aku menunggu."
Louis kembali menyambangi Delena, yang sedang menikmati makan siangnya.
"Siapa yang menghubungimu?"
"Dave, teman baikku. Dia mengundangku kerumahnya sebentar malam, karena malam ini dia akan mengadakan pesta kecil-kecilan dirumahnya."
'Jadi malam ini kau akan datang kepesta itu?"
"Teentu saja, karena bagaimanapun dia adalah sahabatku. Dan aku akan mengajakmu. Bagaimana."
Senyuman kecil membingkai diwajah Delena, seraya mengangukkan kepala.
Setelah menghabiskan waktu makan siang mereka direstorant Perancis itu, Louis dan Delina memutuskan untuk pulang.
"Apakah kau yakin, akan pulang dengan Taksi saja Delina?" Tanya Louis, saat gadis manis itu menolak ajakannya untuk diantar pulang.
"Iya, aku sangat yakin."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Sebentar malam, aku akan menjemuputmu diapartemen."
"Oke.." Dengan senyuman, saat Louis mulai melajukan kendaraan roda empat itu.
Saat tengah menunggu taksi, tiba-tiba saja terdengar suara telepone diponsel milik Delina. Meraih Hp dalam tas yang menggelantung dipundaknya, dan seketika senyuman mengembang diwajah cantik PISIKOLOG itu, saat melihat nama Carlos pada layar ponselnya.
"Hallo Sayang, kenapa kau baru menghubungiku?" Dengan suara, yang terdengar manja.
"Maafkan aku Delina, aku sedang sibuk. Dan bagaimana. Apakah kau sudah bertemu dengan perancang yang akan merancang gaun pengantinmu, untuk pernikahan kita Sayang?"
"Belum Sayang, mungkin besok. Dan Sayang malam ini, aku akan kepesta bersama teman baikku Louis. Apakah boleh?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh Delina, asalkan hatimu hanya untukku. Bukan pria manapun."
"Terima kasih Sayang, dan aku sangat bersyukur memiliki tunangan yang pengertian seperti dirimu. Dan kau kapan akan datang keInggris, aku ingin mengenalkan teman baikku Louis padamu."
"Sebentar lagi Delina, kalau urusan pekerjaanku sudah beres. Aku pasti akan datang menemuimu diLondon, dan berkenalan dengan teman baikmu itu."
"Baiklah Sayang, kalau begitu aku tutup teleponenya. Dan cepat selesaikan urusan kerjaanmu, agar kau cepat menemuiku disini."
"Tentu."
****
KEDIMAN DAVE, DAN ALANA.
Kedua kaki itu melangkah pelan, menghampiri suaminya yang tengah berada dibalkon kamar.
Kedua tangan itu perlahan menyusup memeluk erat tubuh pria itu, hingga membuat Dave sedikit kaget saat Alana memeluknya tiba-tiba.
Merangkul erat tubuh sang suami, seraya menyandarkan wajahnya pada pundak kokoh itu.
"Tadi siapa yang kau hubungi Sayang? jangan katakan, kalau kau bau saja menghubungi dia." Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Alana, dan terselip rasa cemburu didalamnya.
Senyuman kecil memenuhi raut wajah tampan Dave, saat mendengar apa yang dikatakan Alana. Berbalik, seraya jemarinya memainkan anak rambut, yang menutupi sebagian alis sang istri.
"Aku dan dia sudah benar-benar berakhir Alana, jadi kau tidak perlu khawatir. Dan tadi aku baru saja menghubungi Louis, aku memintanya untuk ikut dalam pesta nanti malam."
Sorot mata itu seketika menatap dengan intens wajah suaminya, berusaha menelusuri kebenaran uacapan dari apa yang dia katakan.
"Apakah kau serius Sayang?"
"Tentu Alana, karena bagaimanapun dia adalah sahabat baikku. Dan bagaimana, kau sendiri tidak masalahkan jika aku mengundang mantan kekasihmu itu?"
Memukul dada bidang itu, hingga membuat Dave seketika meringis kesakitan, dan tertawa kecil saat melihat raut wajah cemberut sang istri.
"Kau sangat menyebalkan Dave..?!"
"Maafkan aku.. maaf.." Dengan terus tertawa, yang membuat Alana semakin bertambah kesal.
****
Raut wajah cantik itu, nampak tidak bersemangat saat kedua tangan itu meletakkan kue-kue muffin diatas meja. Semua penghuni rumah nampak bahagia, saat akan menyambut pesta nanti malam. Tapi tidak dengan gadis manis itu, sepertinya pikirannya tidak sejalan dengan tubuhnya saat ini.
Dan dari kejauhan Daven, dan juga Bibi Alma yang tengah membantu mempersiapkan pesta nanti malam, hanya menatap dengan heran, raut wajah cantik yang nampak tidak bersemangat itu.
__ADS_1
"Nona Rose kenapa, Bibi? raut wajahnya, seperti orang yang baru saja putus cinta."
Almapun menatap dengan intens Rose, dan dalam dirinya timbul berbagai prasangkah, mungkinkah cinta Rose ditolak oleh mantan kekasih Alana itu, hingga membuat raut wajah gadis berlesung pipi itu nampak tidak semangat.