
Rose menatap iba sahabatnya yang terus menangis, membenamkan Alana dalam pelukannya, guna menenangkan waniya itu dari tangisnya.
"Menangislah, kalau itu bisa membuatmu jauh lebih baik. Dan percayalah, akan selalu bersamamu. Karena selamanya kita adalah sahabat, dan kau bisa menceritakan nanti padaku, jika memang kau belum siap." Ucapnya, menenangkan.
Alana semakin menangis menumpakkan semua beban yang ada dihati, sebab dirinya sama sekali tidak menyangkah akan mengandung anak dari saudara tirinya itu.
"Terima kasih Rose? karena selalu ada buatku. Aku tidak tau, jika tidak ada kau?" Dengan membalas, pelukan sahabatnya.
****
Kini Alana, dan Rose sudah kembali kekediaman meraka disalah satu kota kecil, yang terletak dipinggiran kota London.
Duduk dengan pandangan menerawang, menatap jauh kedepan.
Rose menghampiri sahabatnya, tersenyum, dan memberikan segelas airputih.
"Minumlah, dan jangan bersedih lagi. Ini adalah anugerah, dan apa kau lupa tadi Dokter mengatakan, kalau bayi yang kau kandung, adalah bayi kembar."
"Tapi apa yang harus kukatakan, Rose? kalau mereka menanyakan ayahnya?" Dengan airmata, sudah kembali membasahi pipinya.
Menghembuskan napas dalam, seraya menatap sahabatnya dengan senyuman. "Aku tidak tau masalahmu, tapi aku rasa anak-anakmu pasti akan mengerti." Jawabnya, tersenyum.
Menundukkan kepala, dengan airmata yang sudah kembaali membasahi pipinya.
"Ayah dari anak-anakku, adalah laki-laki yang akan menikah besok, Rose? dia adalah saudara tiriku." Jawabnya, dengan mengusap cairan bening, yang masih membasahi pipinya.
Rose begitu terkejut dengan apa yang dia dengar, hingga bolamata itu menatap sahabatnya, dengan pandangan yang begitu intens, sebab tidak percaya dengan apa yang dai dengar.
"Ja..jadi kau dan saudara tirimu itu, menjalin hubungan diam-diam, tanpa sepengatahuan Papa tirimu?" Bertanya, dengan nada penasaran, seolah tidak percaya dengan apa yang diza dengar.
Hanya tersenyum, saat mendengar apa yang ditanyakan sahabatnya itu. "aku begitu menyayanginya, yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengannya, Rose?"
"Terus kalau kalian tidak menjalin hubungan, terus bagaimana kamu bisa hamil? apakah kalian melakukan itu, dalam keadaan mabuk?" Bertanya dengan semakin penasaran, yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Kembali tertawa kecil, saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Rose.
"Aku diperkosa, Rose? aku diperkosa."Jawabnya menunduk, karena merasa sangat malu.
Rose mengusap kasar wajahnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alana.
__ADS_1
"Kamu serius, Alana?! Kamu sedang tidak berbohong, padakukan?!" Dengan bolamata, menatap dalam wanita itu.
"Buat apa aku berbohong, dia melakukan ini karena dendamnya padaku, dan Ibuku."
Menghembuskan napas dalam, seraya menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, karena sebab begitu syok dengan apa yang menimpa Alana.
"Dia akan menikah dua hari lagi, dan kamu bisa kembali keNewyoark, dan meminta dia mempertangggung jawabkan perbuatannya."
"Tidak,?! aku tidak mau. Buat apa aku hidup bersama dengan laki-laki yang tidak mencintaiku, dan begitu membenciku."
"Tapi Alana? bagaimanapun kamu harus memikirkan sikembar, mereka butuh sosok seorang ayah?" Tatapan memohon, menatap wanita berambut panjang itu.
Tersenyum, seraya menatap sahabatnya itu.
"Aku akan menjadi ayah, dan ibu bagi sekaligus buat mereka. Aku akan membesarkan anak-anakku sendirian, lagi pula dia begitu membenciku, dan aku yakin tidak mungkin dia mau mengakui anak-anak ini, sebagai dara dagingnya."
Rose bangun dari duduknya, dan langsung memeluk erat Alana, dari belakang.
"Kamu wanita yang kuat Alana? aku saja tidak mungkin sanggup melewati ini semua. Dan kita berdua, akan sama-sama membesarkan anak-anakmu, dan aku akan menjadi Bibi, yang baik buat mereka." Jawabnya, dengan mendekap tubuh Alana.
"Terima kasih Rose, kamu memang sahabat terbaikku." Dengan memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun hatinya tengah gundah.
****
Terus menampilkan senyumannya, saat melihat orang-orang yang tampak begitu sibuk mempersiapkan persiapan perniakahannya, dan Karin yang akan diadakan besok.
"Sejauhmana persiapannya, apakah semuanya sudah beres?" Bertanya, pada salahsatu karyawan hotel.
"Sudah Tuan, persiapannya sudah sampai sembilan puluh sembilan persen."
"Terima kasih." Jawabnya, tersenyum.
Tatapan lelaki tampan itu beralih menatap jam tangan yang melekat pada pergelangan tangannya, dan sesekali tatapan matanya beralih menatap keluar hotel, dan dia terliahat begitu resah.
"Kenapa dia lama sekali? bahkan sampai jam begini dia belum datang juga. Katanya sebentar lagi dia sudah sampe, tapi sampai sekarang belum datang juga."
Terus menatap jam tangannya, dan sesekali tatapan matannya menatap keluar hotel dengan perasaan yang begitu gelisah, hingga suara telepone mengalihkan tatapan matanya, pada saku celananya. Meraih phonsel, dan melihat nama Endrow salahsatu sahabatnya.
"Endrow" Dengan tatapan heran, menatap layar phoselnya.
__ADS_1
Untuk apa, dia menghubungiku?" Bertanya pada diri sendiri, dan dia terlIhat begitu penasaran hingga memutuskan untuk, menerimanya.
Dave: Hallo Endrow? ada apa?
Endrow:Maafkan aku, sebenarnya aku tidak mau memberiathukan ini padamu, tapi bagamanapun kau adalah sahabatku. Apalagi besok, adalah hari pernikahan kalian.
Raut wajahnya seketika terlihat begitu penasaran, dan memutuskan langsung bertanya.
Dave:Jangan berbelit-belit, katakan langsung ada apa? jangan buat aku penasaran?!
Endrow:Awalnya aku mengirah aku yang salah lihat, setelah kupastikan ternyata tidak. Beberapa hari ini, Karin calon istrimu selalu menemui seorang pria dihotel milikku, dan aku rasa dia sama sekali tidak mengetahui, kalau hotel ini adalah milikku, Dave.
Raut wajahnya seketika berubah pucat, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Dave: Kau jangan berbohong, padaku Endrow? apakah kau lupa, kalau besok adalah hari pernikahan aku, dan Karin?!
Endrow: Aku tidak memaksamu untuk percaya Dave? terserah kau saja, tapi lebih baiknya jika sekarang kau datang, kehotelku, kekamar 405 untuk memastikan.
Menghembuskan napas kasar, seraya mengusap kasar wajahnya.
Dave: Baiklah, aku akan kesana sekarang. Dan awas saja jika kau, berbohong.Dengan langsung mematikan, sambungan teleponenya.
*****
GRAND HOTEL.
Setelah membersikan diri, Karin langsung berpakaian sebab dia akan menemui Dave, yang sudah menunggunya daritadi.
"Apakah kau akan pergi menemui, calon suamimu itu?"
"Aku harus pergi menemuinya sekarang, Jack? aku kan sudah bilang padamu, jangan datang menemuiku, biar aku yang pergi menemuimu di Itali, tapi kau masih saja keras kepala." Jawabnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal.
Tersenyum kecil, saat mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
"Itu semua karena salahmu, karena kau jarang menghubungiku, dan saat aku menghubungimu, justru kau mematikannya." Dengan senyuman, disudut bibirnya.
Mendengus kesal, saat mendengar apa yang dkatakan oleh lelaki itu.
"Karena aku sibuk, mempersiapikan pernikahan kami."
__ADS_1