Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Dilema, seorang Alana.


__ADS_3

kedua bocah kecil itu terlihat penasaran, dan terus menatap wajah Kakeknya, dengan penuh tanda tanya.


"Tapi kenapa wajah Kakek, terlihat pucat? apakah ada sesuatu, yang kau sembunyikan?" Tanya bocah perempuan itu, dengan raut wajah penasarannya.


"Tidak ada apa-apa. Mungkin karena terlalu senang mendapatkan pekerjaan, yang menuntut Kakek harus keInggris, membuat Kakek senang. Karena sekaligus, bisa menjenguk orangtua kalian." Jawab Damian, meyakinkan cucu perempuannya.


"Baiklah, kalau itu yang membuat penyakit Kakek kambuh. Dan ingat jaga kesehatan Kakek, jangan buat aku, dan Louis khawatr," Dengan raut wajah sendunya, menatap harap pada Kakek Damian.


Senyuman kecil membingkai diwajah Damian, saat mendengar ucapan perhatian cucu perempuannya.


"Kakek janji, tidak akan membuat kau, dan Louis khawatir lagi,"


Pintu Ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Paula, sang pelayan rumah. Tatapannya tertuju pada Louis dan Louisa, yang sedang duduk disofa panjang.


"Louis, Louisa, ayo kita kekamar. Bukankah, besok kalian harus sekolah?" Ajak Paula, pada kedua bocah itu.


"Kami masih ingin bersama Kakek, Oma Paula?" Dengan mimik cemberut, Louisa menjawab ajakan pelayan rumah itu.


"Iya Oma Paula, kami masih ingin bermain bersama Kakek." Timpal Louis kecll, pula.


"Pergilah kekamar, jangan membantah Oma Paula!" TItah Damian pada keduanya, dengan nada yang terdengar tegas.


Kedua bocah itu hanya memelas, dengan raut wajah cemberut menatap kakek mereka.


Beranjak dari kursi panjang, dan berlalu pergi dari ruang kerja kakeknya, setelah menyapa Jordan, dan juga Kakek mereka.


"Selamat malam Kakek, selamat malam Paman Jordan,"


Setelah perginya kedua cucunya, Damian segera menghembuskan napas legahnya, dengan menyandaran pundaknya pada sandaran kursi kebesaran.


Menurunkan kacamata minus yang sedari tadi bertengger diatas hidung mancungnya, dan mengusap airamata yang sedari tadi dia bendung.


"Katakan, ada apa Tuan? sepertinya, Tuan Louis bukan memberitahu kabar yang baik,"


Mengusap airmata, sebelum menjawab apa yang ditanyakan Jordan padanya.


"Anakku Dave mengalami kecelakaan, dan sekarang dia sedang terbaring koma dirumah sakit."

__ADS_1


Jordan hanya menghembuskan napas, saat mendengar jawaban dari Bosnya itu. Dan sekarang dia tau, kenapa penyakit jantung Bosnya, tiba-tiba kambuh.


"Mungkinkah, ini ada kaitannya dengan masalah rumahtangga yang tengah mereka hadapi?" Tanya Jordan, mencoba untuk menebak.


"Bisa saja seperti itu. Bukankah menurut informasi yang kau dapat dari orang suruhan kita, kalau rumahtangga Dave, dan Alana semakin saja memanas,"


Jordan memandang iba pada pria parubaya itu, dan dia sangat tau, apa yang tengah dirasakan oleh Damian. Apalagi Dave, merupakan anak satu-satunya.


"Saya sudah mengirimkan pesan, dan kita akan baru melakukan penerbangan keInggris besok pagi Tuan?"


"Baiklah. Tapi berita ini, jangan bocorkan kesiapapun, sebab aku tidak mau kedua cucuku mengetahuinya."


"Tentu, Tuan,"


****


Sinar mentari pagi, telah menampilkan senyumannya, menyapa semesta alam secara sempurna. Mereka terlihat bersemangat, saat menuruni tangga dengan menggenggam sehelai kertas, ditangan masing-masing. Langkah itu semakin dipercepat, saat sudah berada dilantai bawa, karena tidak mau melewatkan kakeknya yang akan berangkat keInggris pagi ini.


"Kakek.." Panggil keduanya, dengan berlarian menghampiri pria paruhbaya itu, yang masih berbincang dengan Jordan, sebelum masuk kedalam mobil.


"Kalian berdua, tidak masuk sekolah hari ini?" Tanya Damian pada kedua cucunya, saat melihat kedua bocah itu masih mengenakan pyamanya.


Damian meraih lembaran kertas itu, dari tangan cucu laki-lakinya, dan terlihat sebuah goresan tangan cucunya, yang menggambar sepasang suami istri bersama kedua anak mereka, yakni laki-laki, dan perempuan, dan istrinya dengan posisi menggendong bayi.


"Dan ini punyaku, Kakek," Ucap louisa, dengan memberikan lembaran kertas itu, pada Damian. Dan dia mendapati gambar yang sama, seperti gambar yang diberikan cucu laki-lakinya.


Kedua bocah itu seketika tertawa lebar, saat melihat raut wajah bingung Kakeknya.


"Kalau kedua anak ini, Kalian? dan siapa bayi yang digendong Ibumu ini?" Bertanya, dengan tatapan penasaran menatap kedua cucunya.


"Mama sudah janji pada kami, jika dia, dan Papa pulang nanti keAmerika, mereka akan membawa adik bayi buat kami. Dan katakan pada Papa, dan Mama kami menagih janji mereka. Jadi Kakek, harus memberikan ini pada Papa, dan juga Mama," Jelas, Louisa.


Mendengar apa yang disampaikan kedua cucunya, membuat hati Damian sedikit mencoles.


Dengan raut wajah sendu, dan senyuman yang sedikit memaksa, lelaki paruhbaya itu mensejajarkan tingginya dengan kedua cucunya, dan menatap dengan penuh kasihsayang.


"Kakek, sangat menyayangi kalian. Dan Kakek akan memberikan surat ini, Pada kedua oratua kalian, dan semoga saja, mereka mau mendengarkan apa yang kedua cucuku ini inginkan. "

__ADS_1


****


London Inggris.


Menempuh jarak perjalanan dari Amerika, ke London Inggris memakan waktu kurang lebih, 9 jam, 46 menit.


Jet pribadi yang mereka tumpangi, telah mendarat dibandara internasional Inggris dengan sempuna. Saat tiba didepan bandara, Damian dan Jordan sudah ditunggu, oleh jemputannya.


Dan waktu dilondon saat mereka menginjakkan kaki dinegara ratu Elisabet itu, menunjukkan waktu siang hari.


Raut wajahnya semakin terlihat resah, sebab sudah tidak sabaran ingin melihat kondisi anak tungalnya, yang sedang berjuang untuk hidup.


****


Duduk disamping kursi, yang dia letakkan samping bed hospital, dengan raut wajahnya terlihat sendu, dan menyimpan kesedihan yang mendalam disana. Sesekali tangannya membenahi rambut, yang menutupi sebagian alis suaminya dengan senyuman kecil diwajahnya. Menghembuskan napas, dan matanya menatap jemari yang hanya diam, tanpa pergerakan.


"Aku mohon, bangunlah? kau tau, Papa akan datang. Akan datang, menjengukmu. Apakah kau tidak mau, menyambutnya Dave?" Dengan mata, berkaca-kaca.


Senyuman kecil membingkai diwajah pria itu, saat melihat pemandangan didepan matanya. Hatinya sedikt tergores, bagaimana perhatian Alana, pada sahabatnya itu. Tapi bagaimanapun dia harus menyadari kenyataan, kalau mereka adalah pasangan suami istri.


"Alana..." Panggilnya pelan, dengan tatapan lembut menatap wanita bermanik abu itu.


'Louis..." Jawab Alana, dengan langsung mengusap airamatanya yang sudah terlanjur membasahi pipi.


"Kau kurang tidur dari kemarin, pulanglah untuk beristirahat, biar aku saja, dan Daven yang menjaga Dave."


Alana yang masih duduk dikursi, mendongakkan kepala menatap dengan intens, wajah pria didepannya.


"Apa yang harus aku lakukan. Dia begitu baik, dan sangat perhatian padaku. Apakah aku berdosa, jika aku memikirkan diriku sendiri? tapi dilain hal, ada seorang pria yang sedang berjuang untuk hidup, dan apa yang menimpa dirinya, itu karena diriku. Kenapa engkau membuat aku semakin sulit, dan dilema dengan posisi ini Tuhan? apa yang harus aku lakukan, aku bingung?" Bathinnya, dengan keresahan yang semakin bertambah dalam dirinya.


"Alana..." Panggi Louis sekali lagi, dengan senyuman kecil diwajahnya, saat mendapati Alana nampak melamun.


"I..iya Louis.." Menjawab, dengan gelagapan.


"Pulanglah, dan istirahat sebentar aku tidak mau kau sakit,"


"Tidak Louis, aku akan menunggu disini. Sebab sedikit lagi, Papa pasti sudah sampai,"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kau tunggu disini aku akan membelikan sesuatu untukmu." Jawabnya, dengan berlalu keluar dari ruangan itu.


Menghembuskan napas, dengan raut wajah sendu menatap Louis yang sudah berlalu pergi, dan kembali menatap Dave.


__ADS_2