
Raut wajah Dave seketika memerah, dan terselip rasa cemburu yang teramat sangat.
"Katakan, kau pergi kemana? dan apa yang kalian berdua lakukan..?!" Dengan nada, mulai meninggi dari dari sebelumnya.
"Ntahlah..? mungkin saja, melakukan seperti yang tadi kau lakukan, bersama Laura." Jawabnya santai, dengan senyuman mencemooh menatap Dave.
Dave terlihat begitu geram. Saat mendengar apa yang dikatakan Alana, padanya.
Menarik kasar tangan Alana, dan menghempaskan tubuh wanita itu keatas ranjang, dan menindinya.
"Apa yang akan kau lakukan, Dave..?!" Tanya Alana, saat Dave mulai merangkak naik keatas ranjang, dan menindihnya.
"Kenapa?? bukankah, sekarang kau adalah istriku?"
"Tidak, aku tidak mau melakukan itu denganmu. Kau tidak mencintaiku, kau mencintai wanita lain. Jadi aku tidak ingin kita melakukan, hubungan suami istri."
"Cinta, atau tidaknya aku pada dirimu, Alana?!
kenyataannya sekarang, kau adalah istriku." Ucap Dave, dengan langsung menarik kasar gaun yang dipakai Alana, hingga menampakkan buahdadanya seketika.
"Lepaskan, aku Dave...? lepaskan...?" Teriak Alana, dengan berusaha melepaskan diri dari suaminya, dan dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tidak memperdulikan permintaan Alana, dan dengan paksa Dave berusaha mencium bibir wanita itu. Alana terus memiringkan wajahnya, mengingat tadi Dave baru saja berciuman dengan laura, membuatnya merasa jijik dengan pria itu.
"Jangan menolakku, Alana...?" Teriaknya, saat Alana terus berusaha menghindari ciuman darinya.
"Aku tidak mau, melakukan itu denganmu."
"Aku suamimu, dan aku berhak atas tubuhmu, Alana..?!!" Dengan ingin mencium paksa Alana lagi, tapi lagi-lagi wanita itu menghindar.
Alana terlihat begitu gugup, apalagi saat Dave terlihat semakin dikuasai oleh gairahnya. Mendorong kuat tubuh pria itu, dan menendang kuat tepat dimiliknya.
"BUUGGG..." Dave seketika merintih kesakitan dengan posisi bersimpuh dilantai, seraya memegang miliknya.
"Dasar brengsek kau, Alana..?" Teriak Dave dengan menyentuh miliknya, yang masih berada didalam celana.
Alana segera menghampiri pintu, dan saat membukanya, dia begitu terkejut ketika mendapati Daven, dan juga ayah mertuanya Damian, yang tengah menatap kearah mereka.
Damian, dan Daven menatap bingung Alana, dan Dave. Dengan Alana memegang baju bagian atasnya yang sudah terkoyak, dan Dave yang tengah bersimpuh dilantai seraya meringis kesakitan, dengan menyentuh miliknya.
Daven yang sudah menyimpulkan apa yang tengah terjadi pada pasangan suami istri itu, langsung terbahak-bahak, melihat Tuanmudanya meringis seraya menyentuh miliknya, yang masih didalam celana.
"Apakah milik anda, baru saja ditendang oleh Nona Alana, Tuan?" Dengan tertawa kecil, menatap Dave.
__ADS_1
"Kau mau kemana Alana? dan kenapa Dave?" Tanya Damian, saat melihat anaknya meringis kesakitan.
"A..aku akan tidur dikamar anak-anak Papa, dan Dave.." Dengan tidak melanjutkan, kalimatnya.
"Tidur, dikamar anak-anak?" Tanya Damian, dengan tatapan bingung.
"Iya."
"Louis, dan Louisa sudah tidur. Dan mereka tidur dikamar Papa. Dan lagi pula, ini malam pertama kalian, dan kau sudah jadi istri dari Dave, jadi bagaimanapun kau harus tidur bersamanya."
"Tapi Paa, aku.." Jawab Alana, yang ingin menolak.
"Tidak baik menolak suamimu, Alana? itu sudah menjadi kewajibanmu, sebagai istrinya."
Raut wajah Dave terlihat begitu bahagia, saat mendapat dukungan dari Ayahnya, dan melemparkan senyuman penuh kemenangan pada Alana.
"Maafkan aku, Paa?" Dengan menutup kembali, pintunya.
Berbalik, dan menatap Dave yang baru saja bangun dari lantai.
"Kenapa kau tidak melakukan dengan Nona Laura saja, kenapa mesti denganku?!" Dengan tatapan nanar menatap Dave, dan tersimpan kesedihan disana.
"Dia kekasihku, dan kau adalah istriku. Jadi tentu saja, aku hanya melakukan itu denganmu."
"Tapi kau tidak mencintaku, Dave..? kau mencintai wanita lain.."
"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Louis, kami hanya pergi berjalan-jalan."
"Kau berbohong. Bukankah Louis, sangat mencintaimu..?"
"Aku bukan wanita murahan, Dave...? dan apa yang tadi kau lakukan dengan Laura. Bahkan kalian, berdua berciuman. Padahal hari ini, adalah hari pernikahan kita. Itu sungguh memalukan."
"Jangan bawa laura dalam masalah ini, Alana?! bukankah sebelumnya kau sudah tau, kalau aku menjalin hubungan dengannya."
"Kau sangat egois, Dave..?! Kau hanya memikirkan perasaanmu, dan tapi tidak memikirkan perasaan orang lain. Kau memintah aku jangan melibatkan Luara, jadi aku minta kau juga jangan melibatkan Louis dalam hal ini. Karena dia sama sekali tidak tau apa-apa."
Tersenyum, dengan senyuman sinis diwajahnya menatap Alana.
"Kau sudah seperti wanita yang tidak punya malu Alana? apakah kau sudah lupa, kalau kau sudah berstatus istriku."
"Aku tidak lupa, karena aku akan tetap menjalani kewajibanku sebagai seoarang istri yang baik untukmu. Tapi untuk melakukan itu, maaf aku tidak bisa." Jawabnya, tegas.
"Dan bagaimana, kalau aku hanya mau melakukan itu denganmu saja. Karena bagaimanapun aku punya hak, atas hidupmu Alana." Gumamnya dengan berlalu dari kamar itu, dan membanting pintu dengan kasar.
__ADS_1
Menghembuskan napas kasar, dengan menatap nanar Dave yang telah berlalu pergi.
"Neraka kehidupanku baru saja dimulai, dan semoga saja aku bisa melewati semua ini. Setidaknya aku melewati semuanya sendiri, dan tidak bersama kedua anakku. Sebab aku tidak mau mereka terluka, dengan perbuatan ayahnya."
****
Pagi telah menyambut kota London, dan terlihat dibandara international Inggris, Alana dan Dave tengah mengantar ayahnya, dan juga sikembar.
"Kalian berdua ingat jangan nakal, dan jangan membuat menbantah omongan Kakek." Pesan Alana, dengan senyuman menatap kedua buahatinya.
"Tentu, Maa?" Jawab Louis, dengan sebuah anggukan.
"Maa...?" Panggil Louisa pelan, seraya menatap nanar Ibunya.
"Ada apa, Sayang?'
"Apakah kau yakin, untuk tidak ikut ke Amerika?"
"Tidak Sayang? bagaimanapun, Mama harus menemani Papamu."
"Maa, jika Papa menyakitimu terus, pulanglah keAmerika, tinggalah bersama kami, dan Kakek."
Alana hanya tersenyum, seraya memeluk putrinya. Dan dia tahu, putrinya itu seperti mengetahui apa yang telah terjadi, antara dia dan Dave.
"Tentu Sayang, pasti Mama akan pulang keAmerika."
"Maaf, aku terlambat." Ucap Louis, yang baru saja datang, dengan napas yang sedikit terengah-engah.
"Tidak masalah. Dan apakah kau tidak akan pulang bersama paman keAmerika, Louis?!"
"Tidak Paman, untuk sementara waktu aku akan menetap diInggris." Jawabnya, yang membuat Dave terlihat begitu kesal.
"Paman..?" Panggil Louisa, pada pria tampan itu.
"Ada apa, cantik?" Dengan mencubit gemas, pipi gadis kecil itu.
"Kau sangat tampan, Paman? iya kan, Maa?" Dengan menatap Alana, guna meminta pendapatnya.
"I..iya." Jawab Alana, gugup.
Tak bisa dibayangkan bagaiaman raut wajah Dave saat ini, ketika mendengar jawaban Alana. Hingga dengan kasar dia menarik tangan Alana, agar lebih dekat dengannya.
"Kau kenapa Dave..? ingat disini ada Papa?" Bertanya, dengan berbisik pelan ditelinga suaminya.
__ADS_1
"Memangnya salah? bukankah kau, adalah istriku?" Dengan nada penuh, penekanan.
"Ya..ya, aku adalah istrimu. Dan istri yang tidak pernah dianggap."Jawabnya asal, yang membuat Dave terlihat begitu geram.