
Dave berbaring disamping istrinya, setelah pergulatan panas meraka disiang itu. Senyuman mengembang diwajahnya, saat melihat raut wajah Alana dengan keringat yang sedikit membasahi dahinya, disertai wajah lelah yang nampak begitu lelah.
"Kau lelah?" Sebuah pertanyaan, yang mengalihkan tatapan Alana seketika pada suaminya.
"Tentu saja, Dave? kau terlihat sangat menakutkan, dan seperti binatang buas yang sudah lama tidak diberi makan." Jawabnya, dengan mimik cemberut.
"Memang aku sudah lama tidak diberi makan. Jadi kau mengerti saja," Jawab Dave, dengan tawa kecilnya.
Tatapan Alana seketika intens menatap suaminya, saat mendengar apa yang dikatakan Dave.
"Jadi kau benar-benar tidak pernah melakukan hal itu, dengannya Dave?" Dengan bolamata menatap lekat, pemilik tatapan tajam itu.
Senyumam membingkai diwajahnya, menatap Alana dengan begitu dalam.
"Karena milikku ini, hanya kau saja yang dapat membangunkannya Alana?" Jawab Dave, dengan masih terus tertawa.
"Dave, aku sedang serius??" Dengan raut wajah, yang terlihat kesal.
Tangannya perlahan membelai wajah istrinya, dengan tatapan penuh cinta didalamnya.
"Aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan wanita manapun, selain dengan istriku sendiri,"
Alana nampak begitu bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan Dave padanya. Perlahan jemari itu membelai lembut wajah yang ditumbuhi kumis tipis itu, dan melabukan kecupan sesaat pada bibir suaminya.
"Aku mencintaimu, Dave? sangat mencintaimu,"
Dave tersenyum, saat mendengar sekali lagi kalimat cinta, yang keluar dari mulut Alana.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu Alana?" Dengan melabukan sebuah ciuman panjang, pada bibir merona itu.
Keduanya terlibat kembali ciuman panjang, hingga membuat gairah dalam diri Dave, bangkit seketika. Perlahan dia membalikkan badan, dan menindih kembali tubuh Alana yang masih polos. Melihat itu Alana segera mengakhiri ciuman mereka, sebab dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keningnya berkerut, dengan penolakan itu yang membuatnya segera beranjak dari atas tubuh Alana.
"Kenapa?"
"Aku lelah Dave? aku lelah? apakah kau tidak akan membiarkan, istrimu untuk istirahat sebentar? kIta baru saja selesai, dan sekarang kau menginkan lagi,"
Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikeluhkan Alana padanya.
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat untuk membuatkan adikbayi untuk kedua anakkita. Bukankah kaupun tau, mereka menginginkan kita membawanya, kalau kita kembali keAmerika<"
__ADS_1
"Kau sangat menyebalkan," Ucap Alana, dengan memukul pelan dada suaminya.
Dave terus tertawa, dengan sikap istrinya. Hingga membuat Alana semakin bertambah kesal.
"Kenapa kau menertawakanku, Dave? apakah kau pikir ini lucu?"
"Maaf, maafkan aku." Dengan berusaha, meredam tawa yang masih membingkai diwajahnya.
Tidurlah, sebab malam hari kita harus bekerja lagi," Sebuah kalimat yang terucap, disertai tatapan mesumnya pada Alana.
"Baiklah-baiklah, demi adik bayi untuk Louisa, dan Louis." Jawab Alana dengan merangkul tubuh suaminya, dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang itu.
****
Dilantai bawa Daven duduk seorang diri, dan jemarinya sibuk menari-nari diatas layar ponselnya. Dan sesekali pria itu, melemparkan tatapannya pada lantai atas.
"Berapa jam yang mereka butuhkan untuk membuat bayi. Dan apakah mereka, sudah melupakan kalau aku ada disini?" Dengan raut wajah, yang terlihat kesal.
Tatapannya teralihkan kembali pada ponselnya yang berada digenggaman, dan kembali bergerak diatasnya. Digroup yang beranggotakan Alana, Jordan, Ross, dan juga dirinya.
Pesan masuk datang dari Jordan, dengan emoji kaget saat melihat video ciuman itu.
"Jadi Tuanmuda, dan Nona Alana sudah kembali bersama?" Jordan.
"Aku akan menyampaikan berita ini, pada Tuanbesar. Pasti dia adalah orang yang paling bahagia, dengan berita ini." Jordan.
"Nona, dan Tuan sudah kembali bersama?" Bibi Alma.
"Ia Bibi Alma, dan sekarang mereka seedang membuat adik bayi. Dan ntah sudah beberapa jam, dan melupakan kalau ada aku disini."
"Segeralah kau mencari pacar Daven? dan aku juga turut bahagia, untuk kebahagian mereka." Alma.
****
Setelah mengusap keringat yang sedikt membasahi dahinya, Ross bersandar pada dinding ruang kerjanya, setelah selesai membawa pesanan pada salahsatu pelanggan.
"Kau lelah Ross?" Tanya Jack, pada teman kerja wanitanya itu.
Senyuman kecil terlukis diwajah cantik itu, sebelum menjawab pertanyaan Jack rekan kerjanya ditoko kue.
"Hari ini pelanggan sangat banyak, hingga dari tadi aku tidak sempat beristirahat barang sebentar Jack?" Dengan merenggut kesal, pada wajahnya.
__ADS_1
Jack memandang sahabatnya itu, dengan tatapan intens. Dia kembali penasaran, atas curhatan Ross yang mengatakan padanya, kalau dia menaruh perasaan pada seorang pria, tapi sayang lelaki itu adalah kekasih sahabat baiknya.
"Bagaimana dengan kabar pria itu, apakah dia baik- baik saja?"
"Ohhh.." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, disertai senyuman kecil diwajah cantiknya.
Tentu saja, dia baik-baik saja."
"Kenapa kamu bisa menyukai dia? apa kelebihan pria itu, apakah dia kaya, ataukah tampan?"
"Dia memiliki kedua, yang tadi kau katakan. Tapi ada satu hal yang membuatku hingga menaruh hatinya padanya. Dia itu sangat baik, dan juga bijaksana. Sangat sulit mendapatkan lelaki sepertinya, dan aku rasa sahabatku itu sangat beruntung."
"Sangat disayangkan sekali Ross? karena dia sangat mencintai sahabatmu, dan diam-diam kau menaruh hati padanya."
"Itulah yang aku sesalkan, kenapa aku harus menyukainya?" Dengan nada memelas, dan berpura-pura sedih.
"Itu sudah takdirmu, Ross?" Dengan tawa kecilnya, hingga membuat Ross nampak kesal.
Dentingan pesan beruntun masuk kedalam ponselnya, dan membuat Ross segera meraih ponsel, yang dia simpan dalam saku celananya."
"Wah, mereka digroup sedang rame nih!"
"Aku jadi penasaran," Timpal Jack pula, dengan tatapan menatap layar ponsel milik Ross.
"Video apa ini?"
"Sepertinya video Alana berciuman. Tapi ini bukan..?" Dengan menjeda kalimatnya sejenak.
Membekap mulutnya seolah tidak percaya, saat menonton video ciuman itu.
"Alana, dan Dave sudah kembali bersama?" Ucapnya, yang seolah tidak percaya. Dan dia mulai menelusuri semua pesan dalam group itu, dan membacanya dengan teliti.
"Ada apa? kenapa?" Tanya Jack, yang terlihat semakin penasaran.
"Sahabatku sudah kembali bersama suaminya, dan disini Daven mengatakan bahkan mereka sedang membuat adikbayi."
"Berarti kau punya kesempatan, untuk bisa mendekatinya Ross?" Ucap Jack, dengan bola mata berbinar.
"Tapi dia begitu mencintai sahabatku, apakah menurutmu aku bisa menakklukkan hatinya?" Dengan nada memelas, dan terselip rasa putus asa disana.
Menggenggam kedua tangan Ross, dan menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Tidak ada salahnya, kalau kau mencobanya."