Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Bimbang.


__ADS_3

Dave hanya tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan Alana padanya.


"Kau belum menjawab apa yang kutanyakan tadi. Katakan padaku, siapa yang menghubungimu, dan aku melihat kau terlihat sangat bahagia." Bertanya sekali lagi, dengan tatapan penuh selidik menatap Alana.


"Itu bukan, urusanmu Dave?!" Jawab Alana dengan akan berlalu dari balkon kamar, tapi seketika tangannnya dicekal oleh Dave.


"Katakan padaku, siapa yang menghubungimu." Bertanya lagi, dengan nada yang terdengar lebih tegas.


Membingkai senyuman sinis diwajahnya, saat mendengar apa yang pertanyaan Dave.


"Apakah aku pernah mencampuri urusanmu, saat kau bersama dengan Laura? bahkan kau menginap dirumahnya, dan tidak pulang aku sama sekali tidak perduli. Bahkan kau membawa wanita itu, datang kerumah saja aku sama sekali tidak ikut campur. Dan semenjak perginya Louisa, dan Louis ke Amerika kau semakin jarang berada dirumah. Dan aku sama sekali, tidak mencampuri urusan pribadimu."


"Aku bertanya sekali lagi. Siapa yang menghubungimu, Alana? apakah dia pria yang sudah membeli barang-barang mewah itu, padamu?"


"Yaa." Jawab Alana, tegas.


Seketika raut wajah Dave terlihat begitu memerah, dan tersimpan amarah disana.


"Katakan padaku, apakah dia kekasihmu?"


"Bukankah kau tidak mencintaiku? jadi apakah salah, jika aku mencari pria yang tulus mencintaiku? jadi buat apa kau bertanya Dave?"


"Ingat Alana, kau adalah istriku."


"Istri..?" Dengan senyuman sinis, menatap Dave.


Kalau kau menganggap aku istrimu, aku minta sekali lagi akhiri hubunganmu dengan Laura sekarang juga, dan aku ingin kita kembali keAmerika."


"Maaf, aku tidak bisa."


"Kalau begitu, ceraikan aku."


Tatapan Dave seketika menatap Alana, yang sudah meneteskan airmata.


"Maaf Alana, aku tidak bisa. Dan apakah kau lupa, ada Louisa, dan Louis diantara kita."


"Tapi aku ingin kita berpisah, Dave?! kau tidak mencintaiku, kau mencintai wanita lain. Terus mau sampai kapan kau mengikatku, dengan pernikahan seperti ini. Aku menyesal Dave, menyetujui pernikahan ini."


"Tapi aku tidak bisa berpisah denganmu Alana, aku mohon mengertilah..?"


"Jadi maksudmu, kau akan menjalani hubungan dengan kedua wanita sekaligus. Yaitu aku, dan juga Laura?" Tanya Alana, dengan mencoba untuk menebak.


"Iya. Karena bagaimanapun, kau adalah ibu dari kedua anakku."


"Kau sangat egois, Dave?! kau egois, aku sangat membencimu!!" Ucap Alana, dengan linangan airmata.


Dave meraih tubuh Alana, dan membenamkan wanita itu dalam pelukannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku Dave!! lepaskan aku..? aku sangat membencimu..? Sangat membencimu..?" Ucap Alana dengan berusaha melepaskan pelukan suaminya, saat pria itu terus memeluknya.


"Maafkan aku Alana, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa berpisah denganmu. Kau adalah wanita yang baik. Walaupun kau sedikit keras kepala, tapi aku merasa sangat nyaman berada bersamamu Alana. Tapi disatu posisi, aku juga mencintai Laura. Aku bingung, Alana?"


Alana hanya menangis, saat Dave terus mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Maafkan aku Alana, maafkan aku. Tapi aku akan berusaha untuk adil. Dan percayalah padaku, aku tidak pernah melakukan itu dengan Laura. Dan aku hanya ingin, melakukan hal itu denganmu saja."


"Dan kau pikir aku percaya, dengan apa yang kau bicarakan?" Dengan melepaskan pelukannya, dan menatap Dave dengan tatapan sinisnya.


Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi kenyataannya aku tidak pernah melakukan hal itu, dengan wanita manapun selain dirimu Alana?"


Terdengar suara telepone pada ponsel milik Dave, yang mengalihkan perhartian keduanya. Dan Dave tahu, pasti ayahnya yang menelpone.


"Hapuslah airmatamu, Papa menelpone."


Alana mengusap kasar airmata, saat mendengar apa yang dikatakan Dave padanya, dengan raut wajah yang terlihat kesal menatap Dave.


"Kau tidak perlu khawartir. Aku tidak mungkin mengatakan pada Papa, tentang hubunganmu dengan Laura."


Dave menggeser icon hijau, dan menyapa ayahnya yang berada diseberang sana.


"Hallo, Paa?"


"Kau sudah berada, dirumah?"


"Hallo, Paa?"


"Bagaimana kabarmu, Alana? kau baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja, Paa?" Jawab Alana, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Alana..?"


"Ada apa, Paa?"


"Bagaimana pernikahanmu bersama, Dave? apakah kau bahagia bersama, putraku?"


Alana tidak langsung menjawab dengan apa yang ditanyakan ayahnya, angkatnya. Tatapan matanya teralihkan menatap Dave sesaat , yang raut wajah sudah berubah pucat karena takut Alana akan mengatakan yang sebenarnya.


"Alana, kenapa kau diam saja? katakan pada Papa, apakah kau bahagia hidup bersama Dave?"


"Aku bahagia Paa. Dave sangat menyayangiku."


"Kau sedang tidak berbohong padaku, kan?"


"Tidak Paa, aku sama sekali tidak berbohong." Jawab Alana, berusaha meyakinkan Damian.

__ADS_1


Dave menghembuskan napas leganya, saat Alana tidak mengatakan pada Damian, tentang hubungannya dengan Laura.


"Bagaimana kabar anak-anakku, Paa?"


"Mereka baik-baik saja."


"Baiklah Papa, kalau begitu Papa lanjutkan obrolannya dengan Dave." Dengan memberikan ponsel tersebut, pada suaminya.


"Papa sekarang sudah percaya padakukan, kalau aku tidak mungkin menyakiti Alana."


"Yaa, semoga saja semua itu benar. Karena Papa akan sangat kecewa padamu, kalau kau sampai menyakiti Alana."


"Tentu tidak, Paa?"


"Baiklah kalau begitu, Papa tutup teleponenya. Dan ingat pesanku."


"Baiklah, Paa?" Dengan mengakhiri, percakapan teleponenya.


Dave menghembuskan napas, seraya mengusap kasar wajahnya. Mendapat ultimatum dari ayahnya, membuat pria itu semakin bertambah gundah.


"Apa yang harus aku lakukan? aku begitu mencintai Laura, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Alana. Sebenarnya ada apa, dengan diriku." Guamam Dave, dengan keresahan yang teramat sangat dalam dirinya.


Dave melempar jauh tatapannya kedepan, dengan tatapan kosongnya. Pria itu seperti dihadapkan dengan pilihan yang sulit. larut dalam lamunannya, hingga dia tidak menyadari waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam, dan memutuskan untuk kembali kekamar.


Membuka pintu, dan mendapati Alana sudah tidur, dengan posisi menyamping memeluk sebuah guling.


Tatapan matanya menatap Alana dengan begitu intens, duduk disamping ranjang dengan terus menatap wajah cantik yang tidur dengan begitu damai. Tatapannya terus menatap Alana, dan tanpa dia sadar bibirnya sudah berada dengan jarak yang begitu dekat. Dan ketika dia akan mengecup, Alana menggeliatkan badanya, hingga Dave mengurungkan niatnya, untuk mengecup bibir wanita itu.


Dan diapun memutuskan untuk berbaring disamping Alana, dengan memeluk tubuh wanita itu, dan ikut memejamkan mata.


Hembusan napasnya terasa oleh Alana, dan saat kedua bolamatanya terbuka, Alana sedikit kaget saat mendapati sebuah tangan kekar tengah memeluknya, dengan begitu erat.


"Dave, apa yang kau lakukan? lepaskan aku?!" Dengan berusaha melepaskan tangannya, dari pelukan pria tampan itu.


"Biarkan aku memelukmu Alana, aku mohon?"


"Lepaskan aku Dave?! aku tidak sudi dipeluk olehmu!"


"Apakah malam ini, kita bisa melakukan itu?" Suara yang terdengar pelan, hingga hembusan napas itu bisa terasa oleh Alana.


"Melakukan apa, Dave? apa maksudmu?!"


"Melakukan hubungan suami istri."


"Aku tidak mau, dan aku minta lepaskan tanganmu."


"Kalau kau tidak mau, biarkan aku memelukmu. Dan jangan berdebat lagi, apakah kau tidak cape ribut terus denganku?"

__ADS_1


__ADS_2