
Dave menatap dengan intens saat mendengar apa yang diinginkan Alana, dan ada rasa kaget dalam diri pria itu, karena tidak biasanya Alana bersikap seperti itu.
Dengan langkah pelan, Alana menghampirii suaminya. Menggenggam jemari laki-laki tampan itu, dengan tatapan memohon, dan dalam.
"Aku mohon, padamu Dave? lakukan ini demi kedua anak kita."
"Katakan padaku, apakah kau menginginkan aku mengakhiri hubunganku dengan Laura?" Dengan nada penuh selidik, dan tatapan penuh tanda tanya disana.
Menelan saliva yang terasa berat ditenggorokan, dan dengan keberanian dia mengutarakan apa yang menjadi keinginannya.
"Iya, aku menginkan kau mengakhiri hubunganmu dengan Laura. Aku tau Dave, kau sangat mencintainya. Tapi kau harus ingat sudah ada Louisa, dan Louis diantara kita. Aku memang egois, jika memintamu mengakhiri hubunganmu dengannya, sementara kau begitu mencintainya. Tapi tolong lakukan ini demi Louis, dan Louisa, Dave? karena aku tidak mau, kedua anakmu membencimu, Dave?? banyak pasangan diluar sana yang menikah karena kesalahan, ataupun karena perjodohan. Tapi mereka bisa belajar saling mencintai, dan akupun menginginkan kita seperti itu. kita berdua tidak saling mencintai, tapi lakukan ini demi kedua anakkita. Aku ingin Louis, dan Louisa besar, diantara kedua orangtua yang saling mencintai, dan sempurna seperti keluarga lainnya. Tinggalkan dia Dave, lakukan ini demi kedua anakmu, dan aku ingin kita kenbali keAmerika, memulai kehidupan yang baru bersama Papa, Louisa, Louis. Aku janji akan menjadi istri, dan Ibu yang baik." Tatapan penuh harap, dengan mata sudah berkaca-kaca.
Membingkai senyuman kecil diwajahnya, saat mendengar apa yang diinginkan oleh Alana, seraya dengan pelan dia melepaskan genggaman tangan itu.
"Ada apa denganmu, Alana? bukankah pertama kau sangat tidak menginginkan pernikahan ini, bahkan sekarang kau memintaku untuk mengakhiri hubunganku dengan Laura? bukankah sudah kubilang padamu, kalau wanita aku cintai hanya Laura. Apa kau sudah tidak punya harga diri lagi, memohon cinta padaku."
"Karena aku sangat mencintai kedua anakku, bahkan aku mau belajar mencintai pria yang sangat aku benci, hanya demi Louis, dan Louisa." Jawab Alana, dengan suara lantang.
"Jangan memaksa aku , Alana? karena aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Laura. Aku sudah pernah mengecewakannya, dan aku tidak mau melakukan hal itu lagi. Jadi aku minta, jangan paksa aku."
"Terus bagaimana dengan diriku, Dave? aku istrimu?"
"Kau istriku, dan akan aku tetap bertanggung jawab atas dirimu. Bahkan rumah yang aku beli ini, itu atas nama Alana? tapi aku mohon, jangan paksa aku untuk mengakhiri hubunganku dengan laura, karena aku sama sekali tidak bisa. Jadi maaf." Jawabnya, dan berlalu begitu saja dari kamar itu.
Alana hanya menangis, dan dengan segera dia mengkuti langkah kaki Dave, yang sudah berlalu menuruni anak tangga menuju lantai bawa.
"Dave....?"
"Dave.....?" Panggilnya dengan sedikit mempercepat langkah kakinya, saat menuruni anak tangga.
"Dave...? aku mohon, Dave? pikirkan Louisa, dan Louis lakukan ini demi kedua anakmu." Pintanya, tapi tidak dihiraukan laki-laki tampan itu, yang tetap melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
Dilantai bawa, Alma, dan Daven, hanya menatap perdebatan pasangan suami istri itu, dari kejauhan. Karena bagaimanapun, mereka tidak mempunyai hak untuk mencampuri urusan mereka.
Alana terus memanggil suaminya, tapi tidak dihiraukan sama sekali. Dan tinggal ketiga barisan anak tangga dia sudah hampir menyentuh lantai bawa, tapi seketika kakinya terkilir hingga membuatnya terjatuh.
"Nona..?" Teriak Daven, dan Alma bersamaan, dan segera meng hampiri wanita itu, untuk membantunya bangun.
Dave hanya menghentikan langkah kakinya, tanpa sedikit niat untuk menghampiri istrinya yang terjatuh. Ada rasa bersalah dalam dirinya, tapi disatu posisi dia begitu mencintai Laura, apalagi wanita itu sedang sakit.
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Daven, dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja?" Dengan berusaha menahan rasa sakit, yang teramat sangat.
"Nona, ayo bangun..?" Ucap Alma, yang sangat iba dengan keadaan Alana.
Daven menghampiri Dave, yang sudah berlalu dari dalam vila. Dan saat Tuanmudanya akan membuka pintu mobil, Daven langsung mencekal tangannya.
"Aku mohon, Tuan? jangan pergi. Bagaimanapun sekarang, Nona Alana adalah istri anda."
"Tapi Laura sedang sakit, Daven? dan dia juga membutuhkan aku?!!"
"Tapi Tuan, kasian Nona Alana?"
"Masih ada kau, dan juga Alma yang dapat mengurusnya, jadi aku pergi dulu." Jawabnya, dengan masuk kedalam mobilnya, seraya menghidupkan mesin mobilnya, dan saat akan melaju, Dave kembali berbicara.
" Kemasi barang-barang dari sekarang, karena besok pagi kita sudah harus pinda dari vila ini. Dan kau urus semuanya, pastikan tidak ada yang tertinggal." Dengan melajukan kendaraan roda empatnya, meninggalkan vila itu.
Daven menghembuskan napas dalam, dan kembali berjalan masuk kedalam vila.
Menatap iba keadaan Alana, yang tengah menangis.
"Nona, anda baik-baik saja?"
"Setidaknya semua ini tidak disaksikan oleh kedua anakku, Daven?"
"Tapi sampai kapan, Daven? karena aku tidak mau kedua anakku, mengetahui kelakuan Papanya, aku tidak mau mereka terluka."
"Aku tau, Nona? aku tau, tapi bagaimanapun kita tidak bisa memaksakan hati Tuan Dave?"
"Apakah dia begitu mencintai wanita itu, Daven?"
Menghembuskan napas yang terasa berat, didadanya. Sebelum dia menjawab pertanyaan itu. "Iya, Tuan sangat mencintai Nona Laura."
Memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah rasa kecewanya yang teramat sangat, saat mendengar jawaban yang keluar dari bibir Daven.
"Bibi Alma..?"
"Ada apa, Nona?"
"Bantu aku, untuk mengemasi barang-barang."
"Biar aku saja, Nona? kaki anda masih sakit,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ayo?" Dengan memaksakan diri untuk bangun, dibantu oleh Alma.
Daven terus menatap Alana, yang telah berlalu kelantai dua, dengan tatapan nanar.
"Suatu saat nanti akan akan menyesal, Tuan? karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Nona Alana."
****
Pagi telah menyambut kota Cambrigge, diluar tampak Daven, Alana, dan Alma, yang sudah akan berangkat keLondon, dengan sebuah mobil mewah.
Saat mobil akan melaju, tiba-tiba saja terdengar suara Ross yang memanggil, yang datang bersama Jhon.
"Hentikan mobilnya, Daven?"
Mobil seketika berhenti, dan Alana segera berlalu keluar menghampiri kedua sahabatnya.
"Maaf kami, datang terlambat?" Ucap Ross, dengan raut wajah bersalahnya.
"Tidak masalah, dan ini alamat rumahku yang berada diLondon." Dengan memberikan sebuah kartu, pada Ross.
"Alana..?"
"Ada apa, Jhon?"
"Dimana, suamimu? karena sepertinya yang mengendarai mobil itu bukan dia,"
Membingkai senyuman kecil diwajahnya, yang mewaklili suasana hatinya yang tengah gunda.
"Dia sedang bersama wanita itu, Jhon?"
Menghembuskan napas kasar, dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa.
"Mau sampai kapan, kau bertahan dengaan laki-laki seperti dia Alana? apa kau mau mati perlahan-lahan, hanya karena laki-laki brengsek sepertinya?!"
Memukul pundak Jhon dengan kuat, saat melihat raut wajah Alana yang kembali sendu.
"Kenapa kau memukulku, Ross?" Dengan menyentuh pundaknya, yang terasa sakit.
"Kenapa mulutmu cerewet sekali, Jhon?? kau membuatnya semakin bersedih?!'
Memegang kedua pipi Alana, dan mengusap airmatanya yang sudah menetes.
__ADS_1
"sudahlah jangan bersedih, ingat masih ada aku, dan Jhon yang selalu bersamamu, dan buat apa kau bersedih, bukankah kau semakin dekat dengan pangeran Louismu? jadi, kau tidak perlu menangis. Dan aku yakin, kau akan semakin sering bertemu dengannya."