
Mendengar apa yang dikatakan lelaki tampan itu, membuat raut wajah Rose terlihat kesal. Kedua bolamatanya sudah berkaca-kaca, bagaimana bisa Louis menciumnya, sementara cintanya sudah ditolak mentah-mentah.
"Kau sangat menyebalkan. Kenapa kau menciumku, kalau kau tidak mencintaiku..?" Dengan volume suara mulai meninggi, meluapkan rasa kecewa dalam diri.
Senyuman membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Rose padanya.
"Aku hanya ingin membuat kenangan diantara kita, dan aku yakin kau pasti akan semakin sulit melupakan aku, walaupun kau menjalin hubungan dengan pria lain. Benarkan?" Menjawab, dan berlalu pergi meninggalkan Rose begitu saja.
Mengusap airmata yang masih mengalir, dengan menatap punggung kokoh yang telah berlalu pergi.
Dasar laki-laki brengsek!! tidak punya hati?! dia pikir siapa dirinya. Aku pasti bisa melupakanmu, sekalipun kau telah mencuri ciuman pertamaku." Raut wajah kesal, yang membingkai penuh diwajah cantiknya.
****
Kedua kaki itu kembali membawa Louis, menghampiri ketiga orang dewasa Delena, Dave, dan juga Alana yang masih berbincang-bincang. Dari jauh tatapan Dave, terus menatap sahabatnya yang tengah melangkahkan kaki menghampiri mereka.
"Kau darimana saja Louis?" Tatapan penuh selidik, dan terselip rasa penasaran didalamnya.
"Aku baru saja dari kamar mandi. Bukankah tadi, aku sudah mengatakan pada kalian," Berusaha meyakinkan, dibalik kebohongan yangg terucap dari bibirnya.
"Benarkah?" Dengan tatapan semakin intens, berusaha mencari kebenaran disana.
"Tentu saja Dave? dan kenapa kau bertanya seperti seorang Polisi, yang tengah mengintoregasi penjahat saja." Menautkan kedua alisnya, menatap intens Dave.
"Bukan begitu teman, soalnya kalau kau kekamar mandi, kau harus berjalan lewat samping kiri rumahku, tapi tadi aku heran saja karena kau melewati samping kanan rumahku."
Raut wajahnya seketika pucat pasih, dan kegugupan menyelimuti diri, saat mendengar apa yang dikatakan Dave padanya.
"Ohh.. itu? tapi aku memang benar-benar dari kamar mandi. Tadi saat dibelakang, aku berbelok arah kearah kanan rumahmu. Mungkin karena sudah lama aku tidak menginjakkan kaki kerumah ini, jadi aku lupa." Berusaha meyakinkan, akan jawaban yang keluar dari bibirnya.
"Ohh begitu..?" Menjawab, saat mendengar jawaban yang masuk akal.
****
TIGA bulan KEMUDIAN
Detik terus melangkah menuju penambahan waktu kearah jam, hari, minggu, hingga tidak terasa tiga bulan telah terlewati.
__ADS_1
Sejak insiden ciuman itu, Rose semakin memantapkan hatinya untuk tetap berusaha melupakan Louis walaupun nyatanya itu sulit, karena dia tahu pria itu hanya mempermainkan dirinya. Tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, dan berusaha menghindar dari CEO tampan itu, jika Louis bertandang kerumah Alana, dan Dave hanya sekedar mengunjungi pasangan suami istri itu.
Dan bagaimana dengan Louis, dalam tiga bulan terakhir ini? pria tampan itu nampak tidak memperdulikan ciuman itu, karena menurutnya itu hanya ciuman biasa. Walaupun dirinya menyadari, kalau Rose tengah menghindar darinya. Dan bagaimana dengan kedekatannya dengan Delena? tentu saja mereka semakin lebih dekat, sebab Louis sudah memantapkan hati untuk mengatakan perasaan cintanya pada Psikolog itu. Louis sering mengunjungi gadis itu, ataupun sesekali mengajaknya makan diluar. Dan tentu saja dia belum mengetahui, kalau Delena sebentar lagi akan menikah.
Pagi itu dikediaman Dave, dan Alana.
Mata yang masih terpejam perlahan terbuka, saat sang surya memberikan sedikit cahayanya mengenai wajah cantik, yang masih terbaring malas diatas bantal kepala.
Melemparkan pandangannya kesisi sebelahnya, dan mendapati sudah kosong. Alana menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, dan dengan rasa malas yang masih sangat mendera kedua kaki itu membawanya menghampiri meja rias.
Meraih gagang laci kecil, seraya jemarinya meraih sebuah benda pipi didalamnya.
"Sudah tiga bulan aku tidak kedatangan tamu bulanan. Dan semoga saja hasilnya positif, agar aku bisa segera mewujudkan keinginan kedua anakku." Tatapan intens, dengan raut wajah penuh harap yang membingkai penuh.
Kedua kaki membawa Alana menuju kamar mandi. Dan setelah menampung airseninya didalam sebuah wadah kecil, Alana segera mencelupkan benda pipi itu didalamnya, dan berlalu dari kamar mandi dengan perasaan tak menentu.
Duduk diatas ranjang, dengan kedua bolamata terus tertuju pada jam dinding yang tertancap pada dinding kamarnya.
"Semoga saja aku hamil. Karena ini sudah lebih dari tiga bulan, aku tidak menstruasi." Gumanya, dengan kecemasan yang kembali menyelimuti.
Gelisah semakin melanda, karena dirinya sangat berharap dia tengah hamil, mengingat Louis, dan Louisa yang sangat menginginkan seorang adik bayi dari kedua orang tua mereka.
"Ya Tuhan.. aku mohon... ini keinginan kedua anakku... bahkan suamiku sampai mengeluhkan pinggangnya sakit, karena kami selalu bercinta agar membuatku cepat hamil." Gumamnya, selipi doa dalam dirinya.
Perlahan jemarinya meraih benda pipih itu, dengan mata yang enggan menatap kearah alat tes kehamilan, sebab takut jika hasilnya akan membuatnya kecewa, setelah dia berharap penuh.
Hembusan napas terdengar berat, dan memberanikan diri Alana memalingkan wajahnya kearah alat tes kehamilan dengan mata masih terpejam.
Dengan menghitungkan angka 1, 2, 3 kedua bolamata itu terbuka, berani mentatap benda pipi dalam genggamannya.
Matanya membulat sempurna, seraya membekap mulutnya. Tubuhnya membeku seketika, saat melihat dua garis merah yang menandakan dirinya tengah hamil.
"A..aku, aku hamil..., aku hamil..."
Kedua bolamata yang berkaca-kaca, telah mengeluarkan cairan bening dari kedua sudut matanya, setelah memastikan ini semua bukan mimpi.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih. Terima kasih, karena sudah mempercayakan aku untuk mengandung lagi, karena aku sangat mengaharapkannya. Dan aku harus segera memberitahukan, berita bahagia ini pada Dave." Dengan berlalu, dari kamar itu.
__ADS_1
Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, akibat rasa bahagia yang teramat sangat dalam diri. Saat akan menuruni tangga, Alana segera memelankan langkah kaki itu, saat mengingat dirinya yang sedang mengandung. Melewati setiap barisan anak tangga dengan begitu berhati-hati, untuk menuju lantai bawa.
Saat kedua kakinya berpijak pada lantai bawa, suara panggilan yang keluar dari bibir mungilnya terdengar begitu menggema saat memanggil suaminya.
"Sayang.... Sayang...." Panggilnya dengan kedua kaki terus melangkah, seraya mengedarkan pandangan kesegalah arah mencari keberadaan Dave.
"Bibi Alma.. dimana suamiku? dimana Dave,"
"Tuan Dave sedang berjalan-jalan ketaman, bersama Daven, Nona?"
Raut wajah kecewa membingkai penuh diwajah cantik Alana, saat mendengar apa yang dikatakan Alma pada padanya.
"Ada apa Nona? apakah ada masalah?" Tatapan intens, dan terselip rasa penasaran saat pertanyaan itu terucap menatap raut wajah yang tengah kecewa.
Memaksakan diri untuk tersenyum, dibalik rasa kecewa yang melanda diri.
"Tidak Bibi, semuanya baik-baik saja. Dan kalau begitu, aku akan kekamar ."Pamit Alana, dengan kembali melangkah kearah tangga.
Alma hanya terdiam, dan rasa penasaran menyelimuti diri menatap Nonamudanya yang telah berlalu pergi.
Seketika terdengar suara pria, dengan langkah kaki berjalan menuju kearah mereka. Dan Alma mendapati Tuanmudanya, dan Daven yang baru saja pulang dari jalan-jalan pagi mereka.
"Nona..." Panggilnya, saat Alana baru saja menginjakkan kaki dibarisan yang kelima anak tangga.
Membalikkan badanya, menatap wanita paruhbaya itu.
"Ada apa Bibi?"
"Tuan sudah datang Nona..?" Dengan memalingkan wajahnya kearah Dave, dan Daven .
Senyum bahagia mengembang seketika diwajah Alana, dan dengan melangkah sedikit cepat, Alana menuruni tangga. Saat berpijak dilantai dasar, Alana segera berlari kecil menghampiri suaminya yang menatapnya bingung, dan ketika mendekat tubuh mungil itu membenamkan diri, dengan langsung mendekap erat Dave.
"Dave...." Gumamnya, dengan kedua bolamata yang sudah berkaca-kaca akibat rasa bahagia.
Membelai lembut rambut istrinya, seraya membalas pelukan itu.
"Maafkan aku, karena tidak memberitahumu saat mau ketaman tadi. Sebab aku melihat, kau tidurnya sangat nyenyak Alana, jadi aku tidak tega membangunkanmu."
__ADS_1