
" Terlihat begitu frustasi, itulah penampakan dari Dave saat ini. Pengusaha tampan itu, seolah tidak bisa menerima kenyataan kalau istrinya tengah menjalin cinta dengan sahabatnya sendiri.
Alana selalu menangis karena dirinya, dan meminta agar dia memutuskan hubungan dengan Laura, dan mereka kembali ke Amerika, tapi dia selalu mengacuhkannya, dengan mengatakan, Kalau dia sangat mencintai Laura.
Tapi sekarang, semuanya berbalik. Alana sudah tidak perduli padanya, maupun dengan hubungan cintanya dan Laura.
Terdengar suara gaduh didalam ruang kerja Tuanmudanya, membuat Daven segera menghampiri, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
Membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia, saat mendapati ruang kerja Bosnya, dalam keadaan kacau.
Segera menghampiri, dengan raut wajah yang terlihat resah.
"Tuan, ada apa? apakah ada, sesuatu yang terjadi?"
Senyuman membingkai diwajahnya, dengan mata berkaca-kaca, dia menatap sekretarisnya.
"Aku terlihat, sangat menyedihkan bukan?" Dengan tawa sesaat, dan kembali melanjutkan ucapannya. Ya, sangat menyedihkan. Aku menangis memikirkan dia, dan berharap dia dapat kembali padaku."
Menghembuskan napas berat, saat mendengarkan keluhkesah, Tuanmudanya itu.
"Maafkan saya Tuan, tapi untuk hal ini saya tidak dapat membantu anda. Apalagi, semua ini terjadi karena anda sendiri yang mengawalinya."
Dave membingkai senyuman kecil diwajahnya, dan kembali menduduki kursi kebesarannya, dengan penampilan yang terlihat acak-acakkan. Tatapan matanya menerawang, melempar jauh kedepan, yang mewakili kekosongan hatinya saat ini.
"Mereka sangat saling mencintai Daven, bahkan Louispun dengan tegasnya menolak, saat aku memintanya meninggalkan Alana."
Saat mendengar apa yang dikatakan Tuanmudanya, membuat Daven, hanya bisa menghela napas berat. Dan dia begitu iba, dengan keadaan Tuannya saat ini. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi.
"Terus apa yang akan anda lakukan sekarang, Tuan?" Dengan sekilas menatap Tuanmudanya, dan memungut serpihan-serpihan yang berserakan dilantai.
"Yang kulakukan saat ini, hanya bisa menunggu agar Alana kembali padaku. Dan aku akan menemui Louis lagi, dan memintanya agar dia meninggalkan Alana."
"Aku sangat iba dengan anda Tuan, tapi ini semua karena kesalahan anda sendiri, yang sudah melukai Nona Alana. Hingga membuat, semuanya jadi begini." Bathin Daven.
"Tuan, apakah anda ingin saya membawakan sesuatu?" Tanya Daven, setelah selesai merapikan barang-barang yang berceceran dilantai.
__ADS_1
"Tidak perlu Daven. Keluarlah, aku ingin sendiri." Jawab Dave, tanpa menoleh menatap sekretarisnya.
Terdengar suara ponsel pada milik Dave, yang terletak diatas meja. Daven hanya bisa menghela napas berat, saat Tuanmudanya nampak mengacukan telepone pada ponselnya. Menghampiri ponsel itu, dan melihat nama Laura disana.
"Tuan, Nona Laura menelpone."
Tidak menjawab apa yang dikatakan sekretarisnya, justru yang diucapkan tidak sesuai, dengan yang Daven sampaikan.
"Keluarlah. Aku ingin sendiri."
"Baiklah. Kalau ada apa-apa, panggil saya."
Daven melangkah keluar dari ruang kerja Tuanmudanya, dengan menutup pintu secara perlahan.
"Apakah dia sudah menyadari, atau belum kalau dia begitu mencintai Nona Alana. Bahkan telepone dari kekasihnya saja, dia hiraukan." Gumam Daven, dengan melangkah menuju ruang kerjanya.
Detik terus melangkah, hingga malampun telah menyambut kota London. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Daven segera merapikan berkas-berkas penting yang berada diatas meja. Dan memutuskan, untuk menghampiri Tuanmudanya.
Mengetuk pintu terlebih dahulu, dan tanpa menunggu titah dari dalam. Daven segera membukanya, dan mendapati Bosnya, tengah menatap keindahan kota London, dari dinding transparant perusahaannya.
"Tuan apakah anda tidak pulang? sekarang sudah jam tujuh malam."
"Apakah anda akan menginap diapartemen, Nona Laura?"
"Tidak. Aku ingin menenangkan diriku, dan kau pulanglah."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Dan jaga, diri anda." Pamit Daven, dengan berlalu dari ruang keja.
Tatapan matanya menatap keindahan malam, dari gedung pencakar langit miliknya. Tatapannya terlihat sendu, dan tersirat kesedihan yang mendalam diwajah tampan itu.
Hingga berjalannya waktu, membuatnya tidak menyadarinya. Tatapan matanya menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, dan melihat jarum pendek pada angka 9. Menyambar jasnya yang menggelantung dikursi, dan berlalu dari ruanga kerja itu.
****
Saat tiba dihalaman parkir, dari jauh Dave segera menyalahkan mesin mobilnya, lewat kunci mobil. Membuka pintu, dan dengan kecepatan tinggi, dia melajukan kendaraan beroda empat itu.
__ADS_1
Mobil melaju ditengah keramain lalulintas dimalam hari, tanpa memperdulikan keselamatannya, Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah menempuh perjalanan selama belasan menit, tibahlah dia disebuah gedung yang menjulang tinggi.
"Aku harus memintanya, meninggalkan Alana." Ucapnya, dengan melangkah masuk kedalam gedung itu.
Menikmati kesendiriannya dengan menonton televisi, dan sesekali lelaki berambut cokelat itu, meneguk segelas kopi susu untuk menghangatkan dirinya, ditengah dinginnya udara malam.
Teerdengar suara bel pintu berbunyi, hingga membuat Louis dilanda rasa penasaran, siapakah yang bertandang kerumahnya.
"Mungkinkah itu Alana?" Sebuah kaliamat untuk menghibur diri sendiri, dengan senyuman diwajahnya melangkah menghampri pintu.
Pintu terbuka, dan betapa terkejutnya Louis, saat melihat keberadaan sahabatnya.
"Masuklah..!!"
Dave melangkah kedalam apartemen, dan tatapan matanya mengedar kesegalah arah, saat sudah berada didalam.
Louis hanya tersenyum, saat melihat itu semua. Dan dia tahu, kalau Dave mengirah Alana sedang berada diapartemennya.
"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak berada disini. Dan katakan, ada apa kau datang kemari?!"
"Aku tidak ingin berlama-lama disini, dan aku langsung saja ketujuanku. Tinggalkan Alana, karena dia adalah istriku." Titahnya, dengan nada tegas.
"Apakah kau sadar, dengan apa yang kau katakan padaku Dave? Saat ini kau menjalin hubungan, dengan Laura. Bahkan demi wanita itu, kau sampai mendirikan cabang perusahaan agar bisa terus bersamanya. Dan kau memakai pernikahanmu dengan Alana, untuk menutup perselingkuhanmu dengan wanita itu dari Ayahmu. Sudah cukup, kau menyakiti Alana, Dave..?! kau sudah sangat terlalu menyakiti perasaannya. Aku minta jangan egois. Kau sangat mencintai Laura, jadi biarkan Alana bahagia bersamaku. Karena aku, sangat mencintainya." Ucap Louis, yang sudah mulai tersulut emosi.
"Aku minta sekali lagi padamu Louis, tinggalkan Alana..!!" Dengan, sedikit berteriak.
Tertawa kecil, saat mendengar ultimatum sahabatnya.
"Kenapa? bukankah kau tidak mencintainya?" Dengan tawa kecilnya, dan menjeda kalimatnya sejenak.
Tapi aku rasa tidak, dan aku baru bisa melihatnya sekarang. Dan aku mencabut, apa yang kutakan tadi. Kenyataannya, kau terlalu mencintai Alana. Dan sayangnya, kau tidak pernah menyadari akan hal itu. Kau telah dibutakan oleh cinta dimasalalumu, tanpa menelusuri sesungguhnya pada siapa hatimu itu, sebenarnya.
Tapi semuanya sudah terlambat, dia sudah begitu terluka. Bahkan sangat terluka, dengan apa yang kau lakukan selama ini."
__ADS_1
Dave hanya diam, dengan tatapan mata sudah berkaca-kaca. Dan ini kedua kalinya, ada yang mengatakan kalau wanita yang sesungguhnya dia cintai, adalah Alana.
Tanpa mengucapkan kata pamit, Dave segera berlalu dari apartemen sahabatnya itu.