
Walaupun rasa gugup, takut, gelisah menyatuh jadi satu dalam dirinya, tapi dengan memberanikan diri gadis berambut pirang itu, mengirimkan pesan buat Louis hanya dengan mengucapkan sepenggal kalimat. SELAMAT MALAM.
Saat pesan itu sudah terkirim, gadis beranik abu itu segera melepaskan ponselnya diatas ranjang, seolah takut menatap ponselnya sendiri, karena sudah berani megirimkan pesan pada lelaki tampan itu.
Duduk disisi ranjang, dan tatapan mata sesekali terlempar pada ponselnya, yang terletak sedikit jauh darinya.
"Apakah dia akan membalasnya, atau mengabaikan pesanku yaa?" Bergumam sendiri, dengan rasa penasaran yang tengah membelengguh diri.
Tiba-tiba saja tatapan matanya itu teralih penuh pada ponselnya, dan segera mengampiri. Dan begitu kaget, saat melihat pada layar ponsel tertera nama PRIA IDAMAN, yaitu Louis.
"Dia menghubungiku?" Dengan raut wajah yang sudah berubah pucat. Seketika Rose nampak gelisah. Mau menjangkau ponselnya, tapi rasa takut seketika menyelimuti diri sebab alasan apa, yang harus dia katakan pada lelaki itu. Dan tujuan apa dia menyapa pria itu dimalam hari, bukankah mereka sama sekali tidak akrab. Dan seketika Rose berperang dengan kata hati sendiri, antara mengangkat teleponenya, atau tidak. Tapi setelah berpikir keras, diapun memutuskan untuk menerima teleponenya.
PERCAKAPAN
"Hallo ini dengan siapa ini?" Terdengar suara menyapa, dengan nada pelan.
Gadis berambut pirang itu tidak langsung menjawab. Masih berdiam sesaat, berperang dengan rasa gelisah, gugup, yang kembali membelengguh diri,
"Hallo ini siapa?" Terdengar lagi sebuah pertanyaan, diseberang sana.
Hembusan napas terdengar berat, sebelum dengan suara berat dia bersuara.
"Ha.. hallo...?" Dengan nada gugup, dan terdengar begitu pelan.
"Hallo, bolehkan aku tau ini dengan siapa?"
"Malam Tuan Louis, ini dengan aku Rose." Jawabnya, dengan nada pelan karena gugup.
"Rose, sahabatnya Alana??"
"I..iya." Terbata, saat menjawab lagi.
"Ada apa Rose, kau menghubungiku. Apakah ada sesuatu yang penting?"
Menghembuskan napas dalam, dan dengan berani dia mengutarakan keinginannya, untuk mengajak pria itu bertemu.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Dan apakah bisa kalau kita bertemu besok, Tuan Louis?" Raut wajah penuh harap, saat kalimat itu terlontar dari bibirnya.
"Membicarakan sesuatu yang penting, bolehkah aku tau hal penting apa. Kenapa tidak berbicara, lewat telepone saja."
"Soalnya aku..., aku..." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, sebab tidak mungkin dia mengutarakan perasasaannya lewat telepone.
"Baiklah, kalau kau ingin bertemu denganku. Besok kita bertemu ditaman jam 10, aku menunggumu disana."
__ADS_1
Senyuman mengembang diwajah cantik Roes, saat mendengar ucapan Louis, yang menyetujui keinginannya untuk bertemu.
"Iya Tuan Louis, besok kita bertemu ditaman XXX jam 10 pagi. Dan kalau begitu aku tutup teleponenya, dan sampai besok." Dengan langsung, mematikan ponselnya.
Setelah panggilan telepone itu berakhir, Rose melonjak kegirangan dan senyum-senyum sendiri. Berusaha menenangakan detakan jantungnya yang sedari tadi berpacu lebih cepat, saat dia menjawab panggilan teleponenya.
"Belum juga bertemu, tapi kenapa aku jadi gugup begini?" Bergumam, seraya memegang dadanya.
****
Mentari pagi telah menampilkan senyumnya menyapa Bumi, saat kegelapan telah menghilang secara sempurna dari muka bumi ini. Cukup menghabiskan waktu yang lama bagi seorang Rose, untuk dapat menemukan pakaian yang cocok untuknya, yang akan dia pakai untuk bertemu Louis. Walaupun mereka belum berkencan, tapi keinginan Rose ingin membuat pria itu terpesona dengan dirinya.
Suasana nampak ramai pagi itu. Dave, Alana, Daven, dan juga Bibi Alma, sedang menikmati sarapan pagi mereka. Suara dentingan piring, dan sendok terdengar diruang makan itu, ditambah lagi suasana bahagia, yang mewarnai rumah itu.
Pasangan suami istri Alana, dan Dave nampak bahagia. Dan tak henti-hentinya menunjukkan kemesraan mereka.
"Hari ini, apakah kau akan bepergian Sayang?" Tanya Alana, disela makan sarapan pagi mereka.
"Aku tidak kemana-mana Alana, bukankah sudah kubilang padamu, kalau aku tidak mempunyai aktifitas kantoran lagi selama berada diLOndon. Dan kalaupun ada, aku akan bekerja dirumah saja. Agar lebih banyak menghabiskan waktu denganmu, agar keinginan kedua anak kita cepat terpenuhi."
Daven terlihat kesal, dengan pasangan suami istri itu. Yang selalu saja , menunjukkan kemesraan mereka sejak mereka rujuk kembali.
"Apakah mereka tidak bosan bermesraan terus? dari kemarin kerjanya mereka hanya dikamar. Dan itu hanya untuk bermesraan, bercinta. Dan sekarang mau makan saja, harus menunjukkan kemeraan mereka. Apa mereka tidak lelah? aku saja yang melihatnya jadi lelah sendiri?" Daven membathin, karena kesal dengan Tuan, dan Nona mudanya.
Dave mengedarkan pandangannya kesegalah arah, sebab dari tadi dia tidak mendapati keberdaan sahabat dari istrinya, Rose. Karena yang dia tahu, kalau gadis itu semalam menginap dirumahnya.
Alana yang baru saja menyadari ketidakberadaan Rose, jadi bingung sendiri, saat tidak mendapati sahabatnya saat acara sarapan pagi mereka.
"Aku tidak tau, dimana dia. Tapi tadi pagi-pagi sekali, dia mengantarkan ponsel kekamar kita."
"Nona Rose masih berada didalam kamarnya?" Celah Alma, menjawab rasa penasaran Nonamudanya.
"Kenapa dia tidak ikut makan bersama kita?"
"Tadi Bibi sudah memanggilnya, tapi dia bilang sebentar lagi."
Seketika saja pandangan mereka beralih ke asal suara langkah kaki yang tengah menghampiri, dan mereka sedikit kaget dengan penampilan Rose yang terlihat begitu centik, dan sangat jauh berdeda dengan penampilannya setiap hari.
"Kau mau kemana Rose? dan kau terlihat sangat cantik hari ini." Tatapan intens, disuguhi rasa penasaran saat Alana bertanya pada sahabat baiknya itu.
"A..aku mau menghadiri acara ulang tahun teman kerjaku."
"Ulang tahun temanmu?"
__ADS_1
"Iya Alana, ulang tahun temanku." Dengan kegugupan, yang melanda diri.
Tatapan itu seketika intens menatap Rose, dan tersirat rasa penasaran disana.
"Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu darikukan Rose?"
"Te..tentu saja tidak Alana? mana pernah aku menyembunyikan sesuatu darimu."
"Tapi kenapa wajahmu jadi gugup begitu Nona Rose, dan apakah kau tidak sarapan dulu?"
"Aku sudah terlambat Tuan Dave, sebab aku harus mencari kado terlebih dahulu, sebelum pergi keacara ulangtahun."
"Kalau begitu, biar aku yang mengantarmu Nona Rose." Pinta Daven tiba-tiba, pada gadis berambut madu itu.
"Tidak usah Daven?!" Tolaknya, cepat.
"Baiklah, kalau begitu hati-hatilah dijalan. Dan aku minta kau kembali kesini, dan menginap dirumah ini lagi karena kita akan menyiapkan apa-apa saja untuk pesta nanti, sebab aku dan Dave akan mengadakan pesta kecil-kecilan dirumah ini."
"Tentu, dan aku akan pulang lebih cepat. Dan kalau begitu, aku pergi dulu." Pamit Rose, dengan segera melangkah cepat keluar dari rumah itu.
Dave terus memperhatikan sahabat istrinya yang telah berlalu pergi, dan dalam dirinya meyakini kalau Rose tengah menyembunyikan sesuatu.
"Apakah Rose memiliki kekasih Alana?" Dave bertanya tiba-tiba, disela aktifitas sarapan pagi mereka.
"TIdak. Kalau dia memiliki kekasih, pasti aku tau."
"Nona Rose memang tidak memilik kekasih Nona Alana, tapi dia sebentar lagi dia akan memiliki kekasih."
Alana segera menghentikan kegiatan makannya, saat mendengar apa yang dikatakan Daven barusan.
"Siapa pia itu Daven?" Tatapan penasaran, saat mengajukan pertanyaan itu.
Tatapan Daven teralihkan pada Alma, yang hanya makan dalam diam, seolah tidak mendengar pembicaraan kedua orang dewasa itu sama sekali.
"Alangkah jauh lebih baiknya, kalau Nonaa menanyakan saja langsung saja pada Bibi Alma, karena dia yang mengetahuinya."
Seketika tersedak makanan, saat mendengar apa yang dikatakan Daven barusan. HIngga membuatnya langsung menatap Alana, saat wanita berambut panjang itu memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya disana.
"Bibi tidak tau apa-apa Nona! Nona Rose hanya mengatakan, kalau dia menyukai seseorang. Dan kalau begitu Bibi permisi kebelakang dulu, karena masih ada pekerjaan yang harus Bibi kerjakan." Dengan melangkah cepat, berlalu kearah dapur.
****
Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat kedua kakinya berpijak pada sebuah taman, yang terletak ditengah kota London. Dia menghentikan langkah itu sejenak, dan berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa gugup yang mendera, saat dari kejauhan Rose mendapati sosok tampan yang tengah membelakanginya, dan itu adalah Louis. Tatapan matanya teralihkan pada sekuntum mawar berwarna merah yang berada dalam genggamannya.
__ADS_1
Dan tekadnya sudah bulat dia akan mengutarakan cintanya pada pria itu, dengan memberikan mawar merah itu,
"Ayo Rose, semangat..!" Dengan memantapkan hati, melangkah menghampiri pengusaha tampan itu.