
Alana tampak gugup saat Louis kembali menghampirinya, dan duduk disebelahnya.
"Kau baik-baik saja, Alana?" Bertanya dengan senyuman kecil, yang membuatnya semakin menawan.
"A..aku baik-baik saja, Louis?" Dengan berusaha, menghilangkan rasa gugupnya.
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan tidak ada yang berbicara diantara mereka, selama beberapa menit.
"Alana..?" Panggil Louis tiba-tiba, yang memecahkan keheningan yang terjadi.
Menghembuskan napas kasar, dan perlahan tangannya menggenggam tangan wanita itu.
"Kau marah, padaku?"
"Tidak."
"Maafkan aku. Karena tidak semestinya, aku melakukan itu padamu. Karena bagaimanapun, kau adalah istri dari sahabatku."
Berbalik arah, dan menatap Louis dengan senyuman diwajahnya.
"Kenapa mesti minta maaf? kau tidak bersalah sama sekali. Bukankah, tadi akupun membalas ciumanmu? aku hanya malu, jika kau berpikir yang tidak-tidak tentangku, sebab bagaimanapun aku berstatus istri dari Dave?"
"Aku tidak berpikir seperti itu. Yang aku tau, aku saat ini aku mencintamu."
Alana hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Louis padanya. Dan dalam dirinya semakin takut, jika suatu saat dia akan benar-benar, terjebak dengan cinta yang Louis tawarkan.
"Kau sangat baik, Louis? dan terima kasih, karena masih mau berada disini menemaniku, melewati semua ini."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang."
"Maksudmu?" Dengan tatapan penasaran, menatap pria bermanik abu itu
"Maksudku, kau akan pulang atau akan tidur diapartemenku. Karena aku yakin, Dave pasti tidak akan pulang malam ini."
Seketika raut wajah Alana berubah sendu, saat mendengar apa yang disampaikan Louis padanya.
"Alana..?" Panggil Louis, yang mengejutkan lamunan wanita berambut cokelat.
"Apakah malam ini, dia akan menginap ditempat tinggal Laaura, Louis?"
Menghembuskan napas kasar, dengan memaksakan diri untuk tersenyum dibalik rasa ibanya pada wanita itu.
"Laura tinggal srorang diri. Dia tidak tinggal bersama kedua orangtuanya. Apalagi dia sedang sakit, aku yakin pasti malam ini, Dave akan menginap diapartemennya."
"Louis...?"
"Ada apa?"
"Menurutmu apakah mungkin?!! suatu saat Dave bisa mencintaiku, seperti dia mencintai Laura." Dengan menjeda, kalimatnya sejenak. Maaf, jika aku bertanya ini padamu." Dengan raut wajah yang merasa bersalah, karena khawatir akan menyakiti hati pria itu.
Berusaha tersenyum, walaupun ada rasa kecewa dalam dirinya saat mendengar apa yang ditanyakanoleh Alana.
"Katakan padaku, apakah kau mencintai Dave?"
__ADS_1
Tertawa kecil, saat mendengar pertanyaan yang diajukan Louis padanya.
"Aku takut mencintainya, Louis? karena aku tau, perasaannya hanya untuk Laura."
"Pertanyaan yang sulit untuk kujawab, Alana? karena kita tidak akan pernah tau, apa yang terjadi suatu saat nanti." Dengan nada, yang terdengar berat.
"Louis...?"
"Ada apa?
"Apakah malam ini, aku boleh menginap diapartemenmu? karena buat apa aku pulang, toh, dia juga tidak ada."
"Tidurlah, besok pagi-pagi aku akan mengantarmu."
"Terima kasih Louis?"
****
Dave terlihat begitu gelisah, saat tengah berbaring diatas ranjang, bersama Laura kekasihnya. Laura terus memeluk dirinya, dan tidak ingin laki-laki tampan itu, meninggalkannya sedikt saja.
Laura mendongakkan kepalanya, menatap kekasihnya yang masih saja belum memejamkan mata.
"Kau belum tidur, Sayang?"
"Aku belum mengantuk, Laura?"
"Apakah kau memikirkan, wanita itu?" Dengan raut wajah, yang terlihat kesal.
Laura seketika terlihat kesal, saat mendapat jawaban yang membuatnya cemburu, dan dengan segera dia meraih bantal yang menjadi alas kepalanya, dan memukul tepat diwajah Dave.
"Apa yang kau lakukan, Laura?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
"Katakan. Apakah kau sudah jatuhcinta pada wanita itu??"
"Apa yang kau bicarakan, aku sama sekali tidak mencintainya, Laura? aku hanya mencintamu? dan pasti saja aku memikirkan dia, karena bagaimanapun, dia adalah Ibu dari kedua anakku."
Mendecak kesal, saat mendengar jawaban dari Dave, yang tampak membela Alana.
"Kau bahkan, membelanya. Dan buat apa sekarang kau perduli padanya. Biarkan saja dia sendiri divila, bukankah disana kau sudah menyediakan pembantu, dan apa yang dia butuhkn semuanya sudah ada. Tidak mungkinkan, dia mati kelaparan. lagi pula sekarang kedua anakmu akan tinggal bersama Papamu, diAmerika. Jadi tidak ada alasan bagimu, untuk lebih menghabiskan banyak waktu dengannya. Jadi aku minta mulai sekarang, kau harus lebih banyak menghabiskan waktu denganku, dibandingkan wanita itu." Pinta Laura, yang terdengar menuntut.
"Tapi, Laura..? bagaimanapun, Alana ada.." Belum selesai Dave, menyelesaikan kalimatnya, Laura sudah menyela ucapannya.
"Aku tidak perduli. Yang aku tau, mulai saat ini kau harus lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Karena sekarang kedua anakmu, sudah tidak berada diInggris lagi. Jadi tidak ada alasan bagimu, untuk menghabiskan banyak waktu dengannya, sekalipun dia adalah istrimu." Dengan sorot mata menatap tajam Dave, dan berlalu begitu saja dari kamar.
Dave menjambak rambutnya frustasi, saat mendengar permintaan Laura. Dan dia sangat tau, bagaimana keinginan kekasihnya, yang tidak bisa terbantahkan.
****
Sinar matahari pagi, telah menyambut kota Cambrigge. Setelah gelap menghilang, dengan munculnya sang surya yang menyiinari semesta alam.
"Terima kasih Louis, karena sudah mengantarku pulang." Ucap Alana, saat sudah berada diluar mobil.
"Sama-sama. Dan ingat ada apa-apa, kabari aku."
__ADS_1
"Tentu." Jawab Alana dengan membingkai senyuman kecil, menatap laki-laki tampan itu.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Louis, dengan melajukan kembali kendaraan roda empatnya.
"Hati-hati Louis..?" Seru Alana, dengan sedikit berteriak.
Alana melangkahkan kaki menuju arah vila, tempat tinggalnya, dan Dave. Membuka pintu gerbang, dengan senyuman kehampaan membingkai diwajahnya, saat tidak mendapati mobil Dave dihalaman depan.
"Ternyata benar, apa yang dikatakan Louis padaku. Kalau Dave, pasti akan tidur diapartemen laura." ' Gumamnya dengan melanjutkan langkahnya, masuk kedalam vila.
Suasana tampak begitu sepi, saat dia sudah berada didalam vila mewah itu. Hingga suara sapaan Alma, mengejutkan Alana.
"Selamat pagi, Nona?"
"Pagi, Alma?"
Apakah semalam, Tuan Dave pulang?"
"Tidak Nona."
"Baiklah, kalau begitu aku akan kekamar dulu." Jawab Alana, dengan berlalu begitu saja.
Melangkahkan kaki, dengan langkah yang terasa begitu berat. Walaupun tidak mencintai, tapi ada rasa kecewa dalam dirinya saat tidak mendapati keberadaan Dave.
"Kau begitu mencintainya, Dave? hingga kau dapat melupakan, statusmu yang sudah beristri." Senyuman kecil, dan berlalu menuju kamar mandi, guna membersikan diri.
Setelah sudah terlihat cantik, Alana memutuskan untuk pergi kedapur. Dan dia berniat memasak untuk suaminya.
Alana terlihat lihai saat memasak didapur, dengan dibantu oleh Alma sang pelayan.
"Anda sangat pintar memasak, Nona? aku yakin, Tuan Dave pasti akan sangat suka dengan masakanmu."
"Semoga saja, Bibi? karena aku akan mencoba, jadi istri yang baik."
Saat tengah menyajikan makanan dimeja makan, terdengar suara mobil yang memasuki halaman vila, dan Alana meyakini kalau itu Dave, suaminya.
Alana mendongakan kepala, saat melihat Dave baru saja masuk, dan dengan segera dia menghampiri pria itu, setelah meminta Alma, yang melanjutkan kegiatannya.
"Kau sudah datang, Dave..?" Bertanya, dengan senyuman diwajahnya.
Tapi malah Dave hanya menjawabnya singkat, dan segera berlalu menuju kamarnya.
"Yaa."
Alana mengikuti langkah kaki suamianya, menuju kamar mereka yang berada dilantai dua. Membuka pintu kamar, dan mendapati Dave tengah memasukkan, beberapa lembar pakaiannya kedalam tas.
"Dave, aku baru saja selesai masak. Dan aku memasak yang enak buatmu. Dan kau mau kemana Dave? apakah kau ada pekerjaan, diluar kota?"
Dave menghentikan kegiatannya, dan dengan tatapan intens dia menatap Alana.
"Beberapa hari ini, aku akan menginap diapartemen Laura. Dia sedang sakit, jadi bagaimanapun aku harus menemaninya. Dan aku sudah membeli rumah diLondon, jadi segera mengemasi barang-barangmu, karena besok pagi kita akan pindah dari vila ini. Tapi maaf aku tidak bisa menemanimu, karena aku harus kembali keapartemen Laura. Karena ada pula pekerjaan, yang harus aku bahas denganya."
"Tidak. Aku tidak mengijinkan kau pergi, karena bagaimanapun kau adalah suamiku." Ucap Alana, tegas.
__ADS_1