
Alana menumpakan semua tangisnya, setelah mengakhiri panggilan video call, dengan kedua buahatinya.
"Apa yang harus, aku lakukan? haruskah aku egois memikirkan perasaanku? aku begitu mencintai Louis, dia begitu baik padaku, dan selalu ada disaat aku bersedih. Tapi dilain hal, aku sangat mencintai kedua anakku. Karena bagaimanapun, mereka adalah bagian dari diriku." Gumam Alana, dengan airamata terus mengalir.
Alana mendongakkan kepala, menatap awan yang perlahan mulai memancarkan cahaya matahari pagi. Teriknya mengenai wajahnya, yang terlihat sendu.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? apakah aku harus kembali padanya? tapi perasaan takut selalu saja menghantui, karena dia selalu saja membuatku menangis." Gumamnya, dengan mengusap airmata.
Alma yang sedari tadi berada dibelakang Nonamudanya, hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikeluhkesahkan wanita bermata abu itu.
"Nona.." Panggilnya, pelan.
Alana melemparkan pandangannya kearah belakang, dan seketika dia mengusap airamatanya, saat melihat keberadaan pelayan rumahnya Alma, yang sudah dianggap keluarga sendiri.
"Bibi Alma.."
Alma melangkah pelan, menghampiri Nonamudanya, dan duduk disamping wanita muda itu.
"Anda baik- baik saja, Nona? maaf, karena tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Nona, dan anak-anak,"
Alana kembali meneteskan airmatanya, wanita cantik itu begitu dilema saat ini.
"Aku harus bagaimana Bibi, aku sangat mencintai Louis. Itulah kenyataan, yang akurasakan saat ini. Tapi bagaimana, dengan kedua anakku?"
Alma menghembuskan napas, dan dia tahu Alana begitu dilema saat ini. Dia begitu mencintai Louis, tapi kedua anaknya pasti mengharapkan kebersamaan dia, dan Dave.
"Bibi tidak bisa berkata apa-apa, tapi apapun keputusan Nona, semoga itu adalah kebahagian, yang Tuhan berikan. Karena selama ini, Nona sudah banyak menangis,"
"Terima kasih, Bibi? terima kasih,"
"Kalau begitu ayo kita masuk kembali kedalam, sepertinya Tuan Louis sudah selesai mendonorkan daranya."
"Baiklah.." Jawab Alana dengan senyuman kecil, dan berlalu dari taman itu bersama Alma.
****
Louis, Daven, dan Erik tengah berbincang-bincang, saat Louis selesai mendonorkan daranya.
"Jadi kau, yang menolong Dave?" Tanya Louis, pada pria muda itu.
"Iya Tuan."
"Apakah saat kejadian, kau sedang berada disana?"
"Tidak Tuan. Tapi para saksi mata mengatakan, sebelumnya Tuan Dave hampir saja menabrak sebuah truk besar, tapi beliau berhasil menghindarinya. Dan saat itu, didepannya ada pembatas jalan, dan dia terlambat memutar haluan setir, hingga kecelakaan tak bisa dihindari."
"Jadi seperti itu..?" Bathin, Louis.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, mereka dikejutkan dengan kedatangan Alana, dan juga Alma. Louis terus menatap wajah kekasihnya dengan intens, dimana mata wanita itu nampak sembab. Dan dia meyakini, Alana baru saja menangis.
Louis hanya tersenyum, dan hanya dia saja yang tau, arti dari senyuman itu.
__ADS_1
"Nona Alana, ini ponsel suami anda. Maaf saya sempat mempergunakannya. Dan aku rasa Tuan Dave sangat mencintai keluarganya, sebab dilayar ponselnya dia memakai foto anda, dan kedua anak kalian."
Alana tersenyum kikuk, saat mendengar apa yang dikatakan Erik padanya.
Erik menatap jam, yang melingkar pada pergelangan tangannyaa, dan memutuskan untuk pulang.
"Maaf sepertinya saya harus pulang sekarang, karena sebentar lagi saya harus masuk kerja."
"Baiklah. Dan aku mengucapkan terima kasih, karena kau sudah menolong suamiku, Erik?"
"Sama-sama, Nona? dan kalau begitu saya pergi dulu," Jawabnya, dengan berlalu pergi.
Suasana kembali hening, setelah perginya Erik. Berada disituasi seperti saat ini, membuat Alana, dan Louis nampak canggung.
"Alana, kau sudah makan?" Tanya Louis tiba-tiba, yang memecahkan keheningan diantara mereka.
"Belum. Karena aku, sama sekali tidak merasa lapar."
Mendengar jawaban Alana, Louis hanya tersenyum. Dan dia tahu, Alana tengah memikirkan sahabatnya, yang dalam kondisi koma saat ini.
"Daven.." Panggil Louis, tiba-tiba.
"Ada apa, Tuan?"
"Apakah kau sudah memberi kabar, pada Paman Damian?"
Daven memukul kepalanya, karena merasa sangatlah bodoh, karena sudah lupa memberi kabar, pada pria paruhbaya itu.
"Maaf Tuan, saya benar-benar lupa, karena terlalu panik memikirkan keadaan Tuan Dave." Jawabnya, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
Louis meraih ponsel dari saku jecketnya, dan mulai mencari nomor Damian disana.
"Disana, sudah malam. Dan kalau tidak salah, sekitar jam 8 malam sekarang." Dengan langsung, menghubungi Damian.
****
Laki-laki parubaya itu nampak sedang berbincang-bincang dengan Jordan, orang kepercayaannya diruang kerja.
Tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kedatangan kedua cucunya, yang memasuki ruang kerjanya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bisakah kalian bermain diluar! sebab kalau kalian sudah berada didalam ruang kerja ini, membuat Kakek tidak bisa fokus berkerja."
"Kami baru saja, menghubungi Mama, Kakek?" Ucap Louis dengan menduduki sebuah kursi panjang diruang itu, diikuti oleh kakak perempuannya Louisa."
"Benarkah?"
"Iya kakek. Dan saat kami ingin bicara dengan Papa, mama mengatakan kalau Papa masih tidur."
"Ya.., ya. Mungkin saja itu benar, bukankah disana masih pagi?"
'Tapi aku sangat merindukan dia, Kakek? walaupun kadang-kadang dia suka membuat Mama menangis. karena bagaimanapun, dia adalah Papaku," Celah Louisa, dengan mimik cemberut.
__ADS_1
"Apakah kalian merindukan, Papa kalian?"
"Tentu saja, Kakek.." Jawab keduanya, bersamaan.
Damian menghembuskan napas berat, dengan sekilas menatap Jordan. Dan dalam dirinya begitu merasa iba, dengan kedua cucunya yang tidak mengetahui prahara rumahtangga kedua orangtuanya saat ini.
"Kasian cucu-cucuku. Mereka sama sekali, belum mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan rumahtangga, keedua orangtuanya." Bathin Damian, dengan tatapan iba pada Louisa, dan louis kecil.
Damian, dan Jordan kembali melanjutkan kegiatannya. Dan saat tatapan keduanya sedang fokus pada sebuah berkas, tiba-tiba saja ponsel milik Damian berbunyi.
Meraih ponsel dari saku celananya, dan melihat nama Louis disana.
Kedua alisnya menyurut seketika, dengan tatapan penasaran, dan bertanya dalam hati. Untuk apa, Louis menghubunginya.
"Untuk apa, dia menghubungiku. Apakah, dia mau melamar Alana?" Bathinnya, dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Dan memutuskan, untuk mengangkatnya.
PERCAKAPAN.
"Hallo Louis, untuk apa kau menghubungi Paman?"
"Hallo Paman, bisakah Paman datang keInggris?"
"Datang keInggris, untuk apa?" Bertanya, dengan langsung menyela ucapan Louis.
"Aku belum selesai bicara, Paman sudah menyela apa yang kukatakan. Dave mengalami kecelakaan tunggal, dan sekarang dia sedang dalam keadaan koma."
Raut wajahnya memucat, dan merasa dadanya begitu sakit.
"Hallo Paman, hallo.." Dengan nada, yang terdengar panik.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Jordan, dengan raut wajah begitu khawatir.
'Kakek.., kakek..! kakek kenapa? apakah Kakek sakit?" Tanya Louisa, dengan raut wajah paniknya.
"Kakek.., jangan mati, jangan tinggalin aku, dan Louisa," Ucap Louis kecil, dengan airamata sudah menetes.
"Ini minumnya, Tuan?" Ucap Jordan, dengan memberi airputih pada Damian.
"Kalian jangan menangis, Kakek tidak akan mati." Ucap Damian, dengan memeluk kedua cucunya.
"Kau jangan mati Kakek..! kalau kau mati, siapa yang akan menjaga kami. Sementara Papa, dan Mama berada diInggris, dan belum kembali keAmertika," Ucap Louis kecil, dengan airamata masih menetes.
"Paman, apakah Paman baik-baik saja?" Terdengar suara Louis, yang terdengar panik diseberang sana.
'Paman baik-baik saja, dan malam ini Paman akan berangkat keInggris."
'Baiklah Paman, kalau begitu saya tutup teleponenya." Jawab Louis, dengan mengakhiri panggilan teleponenya.
"Jordan, siapakan pesawatnya. Malam ini, kita akan berangkat keInggris."
"Maaf Tuan, cuaca sedang buruk. Jadi untuk melakukan penerbangan malam ini, sangat tidak mungkin."
__ADS_1
"Kakek, apakah kau akan pergi mengunjungi Papa, dan Mama?"
"Iya Louis, dan Kakek juga ada urusan kerjaan disana." Jawabnya, berbohong.