Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Terkejutnya, Dave.


__ADS_3

Daven, dan Alma nampak begitu terkejut dengan apa yang mereka dengar. Saling menatap dalam kebingungan, seolah belum percaya dengan apa yang mereka dengar, dengan apa yang baru saja dikatakan Alana.


"Anda serius Nona,?anda menjalin hubungan dengan Tuan Louis??" Tanya Daven memastikan, kalau apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Iya, aku serius. Aku menjalin hubungan dengan Louis, sahabat dari Dave. Dan yang tadi menelpone, adalah dia."


Suasana hening seketika, dan tidak ada yang berbicara diantara mereka. Hening sesaat, hingga Alana kembali berbicara.


"Maafkan aku. Tapi sampai kapan, aku harus berharap pada laki-laki yang tidak mencintaiku, dan hanya mencintai wanita lain." Ucap Alana, dengan menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya Nona, saya hanya terkejut dengan apa yang anda katakan. Memang anda adalah istri dari Tuanmuda saya, tapi selama ini perlakuan Tuan Dave pada anda, bukan selayaknya seorang istri, dan dia dengan terang-terangnya, menjalin hubungan dengan wanita lain."


"Iya, Nona. Bagaimanapun juga, anda berhak bahagia. Apalagi Tuan Louis, adalah pria yang baik." Timpal Alma, pula.


Alana menengadakan kepalanya, menatap dengan intens Alma, dan juga Daven, saat mendengar apa yang mereka katakan. Dan dalam dirinya, ada kelegaan saat mendengar perkataan keduanya.


"Jadi kalian tidak membenci, ataupun marah padaku?"


"Tidak Nona." Jawab keduanya, bersamaan.


"Tadi dia, mengubungiku. Dia akan mengajakku jalan-jalan, dan makan siang diluar hari ini."


"Pergilah, Nona?" Seru Alma, dengan senyuman kecil diewajahnya.


Terdengar suara telepone masuk pada ponsel milik Alana, seketika senyuman mengembang diwajah cantik itu, saat melihat yang menghubunginya adalah kekasihnya, Louis.


Beranjak dari duduknya, dengan meraih sebuah tas yang dia letakkan dikursi sampingnya.


"Hallo, Louis?"


"Aku sudah berada, didepan rumahmu."


"Baiklah, aku akan keluar sekarang."


"Aku pergi dulu Daven, Bibi Alma, dia sudah menungguku diluar."


"Ayo Nona, aku akan mengantarmu kedepan." Ucap Alma yang terlihat antusias, seraya berjalan beriringan bersama Alana, keluar dari rumah mewah itu.


Daven menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan raut wajah yang terlihat begitu syok, akan kenyataan yang baru saja dia tahu.


"Apa yang akan terjadi, jika Tuan Dave mengetahuinya. Dan aku yakin, pasti akan ada pertengkaran yang hebat, antara dia, sahabatnya, Tuan Louis."


****


Alana melangkah bersama Alma, dengan raut wajah sumringah, menuju pintu gerbang.


"Selamat pagi Tuan, Louis?"


"Pagi Bibi, Alma?"

__ADS_1


"Aku minta, kau jaga Nona Alanaku dengan baik." Dengan senyuman, menatap laki-laki tampan itu.


,


Louis sekilas menatap Alana, dengan mengisyaratkan meminta penjelasan, pada wanita itu. Sebab selama ini, Alana berusaha menyembunyikan hubungan mereka, dari siapa pun.


"Nona Alana sudah mengatakan pada kami Tuan, kalau kalian tengah menjalin hubungan. Dan aku minta, jangan kecewakan Nonamudaku." Seru Alma, lagi.


Senyuman mengembang diwajah tampan itu, dan dia terlihat bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan wanita paruhbaya itu.


"Aku sangat mencintai, Nona mudamu. Dan aku pastikan, tidak akan menyakiti perasaannya."


"Ayo Nona Alana! ayo masuklah, kedalam mobil. Kasian Tuan Louis, sudah terlalu lama menunggu."


Alana membingkai senyuman kecil diwajahnya, dan dengan segera dia masuk kedalam mobil mewah itu.


"Aku pergi dulu, Bibi?"


"Iya, Nona? dan hati-hati dijalan."


Menghembuskan napas berat, dan dia kembali memasuki rumah mewah itu, saat mobil yang dikendarai Louis telah berlalu pergi.


Ketika sudah berada didalam, Alma mendapati raut wajah Daven, yang terlihat tidak bersemangat.


"Kau baik-baik saja, Daven?"


"Nona Alana, pasti sudah merasa lelah. Karena selama ini, Tuan Dave sama sekali tidak memperlakukan dirinya, sebagai seorang istri. Dan menganggapnya, seolah tidak ada."


"Aku rasa juga, seperti itu Bibi?"


Terdengar telepone masuk pada ponsel milik Daven, dan melihat nama Tuanmudanya disana. Dan dengan segera, pria itu mengangkatnya.


"Hallo, Tuan?"


"Kau dimana, Daven?"


"Saya masih berada dirumah, Tuan?"


"Kita akan menemui klien hari ini, untuk membahas masalah proyek besar kita. Dan kita akan membahasnya, sekalian makan siang bersama dengan klien kita, Tuan Hideyoshi. Dan aku akan mengirimkan alamatnya padamu, karena kita akan langsung bertemu disana."


"Baik,Tuan." Ucap Daven, dengan memutuskan sambungan teleponenya.


"Maaf Bibi, aku harus segera pergi. Aku, dan Tuan Dave akan menemui klien hari ini." Dengan beranjak dari duduknya, dan segera berlalu dari runag makan itu, setelah meraih jasnya yang menggelantung diatas kursi.


"Dan semoga saja, berhasil, Daven..?" Seru Alma dengan sedikit berteriak, pada Daven yang telah berlalu pergi.


****


Detik terus berjalan, hingga waktu telah menunjukan pukul 11.30, waktu London.

__ADS_1


Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir, didepan restorang mewah itu, diantara jejeran mobil para pengunjung yang lain.


Menurunkan kedua kakinya, dan dia tampak terperangah, saat Louis membawanya kesebuah restorant, yang sangat terkenal dikota London.


"Ayo masuk, kenapa diam saja?" Ajak Louis, saat Alana masih berpijak pada tempatnya.


"Kau serius, akan kita akan makan direstorant ini, Louis?"


"Tentu, Alana? ayo masuk!"


"Baiklah.." Jawab Alana dengan senyuman, seraya menggandeng lengan kekasihnya, memasuki restorang mewah itu.


Dave terlihat begitu serius saat membahas, masalah proyek yang akan dia tangani bersama rekan bisnisnya, yang berkewarga negaraan Jepang.


"Aku sangat senang berkerja sama dengan Anda, Tuan Dave? dan aku yakin proyek kita ini, pasti akan berhasil. Seperti pembangunan hotel anda, yang terletak dipinggiran kota itu."


"Anda terlalu memuji Tuan, aku juga sangat senang bekerja sama dengan anda."


Daven! kau tuang minumannya lagi." TItah Dave, pada sekretarisnya iru, saat minumannya, dan Hideyoshi sudah kosong pada gelas mereka.


"Baik, Tuan." Jawabnya, dengan menuangkan minuman beralkohol rendah pada gelas milik Dave, dan Hideyoshi.


Saat Daven kembali duduk pada kursinya, tak sengaja pria itu melemparkan tatapan matanya pada lain arah, dan betapa tkagetnya dia, saat melihat kebersamaan Nonamudanya, dan kekasihnya Louis. Dan mereka, terlihat begitu mesrah.


"Nona, Alana..?" Ucapnya tanpa dia sadari, dan terdengar oleh Dave.


Dave memalingkan pandanganya, mengikuti arah pandang sekretarisnya itu.


Dan betapa terkejutnya pria itu, bahkan sangat terkejut. Saat melihat kebersamaan istrinya, dan juga sahabatnya Louis, dan mereka terlihat begitu mesrah.


"Alana! Louis!" Dengan kepalan tangan yang begitu membungkus, dan raut wajah yang begitu memerah.


"Anda kenapa, Tuan Dave? apakah anda baik-baik saja?" Tanya Hideyoshi saat melihat raut wajah Dave yang nampak frustasi, dan memerah.


Dave tidak menjawab, karena tatapan matanya terus menatap kearah Alana, dan Louis yang telah berlalu menuju meja mereka, karena restorant itu cukup luas.


Beranjak dari duduknya, karena tak sanggup lagi membendung amarahnya.


Dan ketika dia akan melangkah, Daven langsung mencekal tangannya.


"Ingat Tuan, proyek ini sangat penting. Jaga sikap anda, dan ingat kita sedang berada dtempat umum." Ucap Daven, dengan berbisik pada telingah Tuanmudanya.


Menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosinya yang sudah tak sanggup dibendungnya lagi. Dan kembali duduk, ditempatnya, walaupun sebenarnya dia terlihat begitu gelisah.


"Apakah anda baik-baik saja, Tuan Dave?" Tanya, Hideyoshi lagi.


Berusaha tersenyum, seraya menghembuskan napas dalam.


"Aku baik-baik, saja. Ayo kita lanjutkan, membahas soal proyek tadi."

__ADS_1


__ADS_2