
Kedua bocah kecil itu terlihat begitu bahagia, saat menghabiskan sarapan pagi mereka. Louis, dan Louisa tak hentinya berceloteh bersama ayahnya, hingga keberdaan Alana pun diabaikan kedua anak itu.
"Papa, apakah setelah sarapan pagi ini, kau akan mengajak kami ketoko mainan?!" Tanya Louisa, yang terlihat begitu bersemangat.
"Tentu, jadi cepatkan habiskan susumu, setelah ini Papa, akan mengajak kau, dan Louis ketoko mainan."
"Apakah kau serius, Papa? kau akan mengajak aku, dan Kakak ketoko mainan?" Tanya Louis, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tentu, bukankah semalam Papa sudah janji pada kalian, kalau hari ini kita akan pergi, ketoko mainan." Dengan senyuman kecil, diwajahnya.
Alanan hanya mengehembuskan napas, saat melihat Dave yang begitu memanjakan kedua anak mereka.
" Jangan terlalu memanjakan mereka?! aku tidak menyukainya, nanti mereka akan jadi terbiasa," Ucapnya, dengan nada ketus.
"Tidak masalah bagiku menghabiskan uang berapapun buat kedua anakku, asalkan itu bisa membuat mereka berdua bahagia." Dengan senyuman kecil menatap Alana, yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal.
"Kau sangat, menyebalkan?!"
Walaupun masih membenci Dave, tapi melihat rona bahagia diwajahnya kedua anaknya, membuat sekali lagi Alana harus menurunkan egonya, hanya demi Louis, dan Louisa.
Tengah menikmati sarapan pagi mereka, hingga suara ketukan pintu, mengalihkan tatapan Dave, dan Alana.
"Siapa, yang datang-datang pagi-pagi begini?!" Tanya Alana pada diri sendiri, dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.
"Biar, aku yang membukanya." Ucap Dave, dengan ingin beranjak dari duduknya, tapi langsung ditahan oleh Alana.
"Biar saja, aku yang membukanya." Timpal ALana, dengan beranjak dari duduknya.
Menghampiri pintu, dan membukanya. Sedikit kaget, saat mendapati sosok wanita cantik, yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Selamat, pagi." Sapa, Laura.
"Pagi, boleh aku tau anda sedang mencari siapa, Nona?!"
"Aku Laura, apakah Tuan Dave sedang berada disini?"
"Dave..?"
"Iya Dave, aku ingin bertemu dengannya."
"Iya, dia sedang berada disini. Tunggulah sebentar, aku akan memanggilnya." Jawabnya, dengan berlalu begitu saja.
Alana terlihat begitu pensaran, dan dalam dirinya timbul tanda tanya, siapakah wanita cantik itu.
__ADS_1
"Siapa wanita itu, apakah dia rekan bisnisnya, ataukah kekasihnya?!" Bertanya pada diri sendiri, dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.
"Dava...?" Panggil Alana, saat lelaki tampan itu sedang bercanda dengan kedua buahati mereka.
"Ada apa?" Dengan mendongakkan kepala, menatap Alana.
"Ada seorang wanita, yang mencarimu."
"Seorang wanita? siapa?!" Dengan nada, penasaran.
"Aku tidak tau, dia siapamu? dia hanya mengatakan kalau, namanya Laura."
"Laura..?" Dengan segera beranjak dari duduknya, menghampiri wanita itu.
"Kau akan kemana, Papa?!" Tanya Louisa, saat melihat ayahnya beranjak dari duduknya.
'Papa akan menemui, teman Papa." Jawabnya, dengan kembali melanjutkan langkahnya
Ada rasa kecewa dalam dirinya, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya didepan kedua anaknya, dan Dave. Saat memastikan Dave sudah berada diluar, Alana segera menyusulnya, sebab rasa ingin taunya begitu tinggi tentang wanita itu, dan Dave.
Menatap dari balik kaca jendela, dengan terus menatap kearah luar.
"Dave...?" Ucap Laura, dengan segera menghampiri pria itu, dan mengecup sekilas bibirnya.
Terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Laura, padanya.
"Apa perduliku, dan katakan apa yang kau lakukan disini, Dave?! kenapa kau tidak menginap divila?" Dengan mimik cemberut, menatap pria itu.
Menghembuskan napas kasar, saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Laura, padanya.
"Ada banyak hal, yang tidak kau ketahui tentang diriku Laura?"
Seketika tatapan menatap intens lelaki tampan itu, dengan tatapan penasaran.
"Memang hal apa yang tidak aku kekatahui, tentang kau Dave?"
dan apakah toko kue ini, milik keluargamu?"
"Sudahlahn nanti aku akan jelaskan saat kita berada di proyek, dan aku akan pamit pada mereka."
"Baiklah, yang jelas kau masih berhutang penjelasan padaku."
"Tentu." Ucapnya dengan kembali menyambangi Alana, dan kedua anakanya.
__ADS_1
Walaupun penasaran, tapi Laura mencoba untuk bersabar. Saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dave tadi, membuat dia yakin ada hal lain tentang pria ini yang tidak dia ketahui.
Terus menatap dari kejauhan, dengan tatapan tidak suka. Rasa keceewa terlihat begitu jelas, diwajah pria itu saat melihat keberadaan Dave dirumah wanita pujaannya.
"Ternyata Alana sudah menerima kembali, pria itu?!" Gumam Jhon, dengan berlalu begitu saja.
Saat melihat Dave masuk kedalam rumah, dengan cepat Alana kembali keruang makan.
Dave kembali melangkah menghampiri Alana, dan kedua anaknya dengan sikap normalnya.
"Aku akan pergi, keproyek sekarang juga. Sebentar, aku akan kembali lagi kesini."
"Apakah kau akan pergi, ketempat proyek itu Papa?!" Tanya Louis, saat melihat ayahnya akan bepergian.
"Iya, Papa harus pergi sekarang, Papa janji, sebentar akan kembali."
"Dave...?" Panggil Alana, tiba-tiba.
"Ada apa?!"
"Aku minta, kau tidak usah kembali lagi menemui mereka, aku tidak mau kalau nanti kedua anakku akan kecewa nantinya."Ucapnya, dengan suara yang terdengar berat.
"Siapa yang akan mengecewakan siapa, aku akan tetap kembali kemari untuk menemui mereka." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.
Louis, dan Louisa segera berlari keluar melihat kepergian ayahnya, yang telah berlalu pergi bersama Laura, dan dengan segera mereka kembali menyambangi Ibunya.
"Mama, kau kenapa menangis? apakah kau baik-baik saja? dan siapa Bibi, yang tadi pergi bersama Papa tadi?!" Tanya Louisa, yang terliahat begitu penasaran.
Mencoba untuk tersenyum, dibalik rasa sedihnya.
"Louis, Louisa, seandainya Paman tampan pergi tidak kembali lagi bagaimana?"
"Maksud Mama, apa? apakah Papa akan pergi bersama Bibi tadi?!"
"Bisa saja, karena Paman tampan juga mempunyai kehidupannya sendiri anakku?!"
"Paman tampan tidak boleh pergi Mama?! karena dia adalah Papa kami. Lagi pula, dia sudah janji pada aku, dan Kakak akan selalu bersama kami. Dan berjanji akan mempertemukan, kami dengan Kakek." Ucap louis, dengan airmata sudah menetes.
Memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah kegundahan yang teramat sangat.
"Kemarilah anak-anakku, yang jelas sampai kapanpun Mama akan selalu bersama kalian." Ucapnya, dengan memeluk kedua buahatinya.
Visual dari Laura, yang merupakan mantan kekasih dari Dave, saat masih berkuliah dulu. Dan merupakan seorang CEO.
__ADS_1