Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kesedihan Alana.


__ADS_3

Berusaha untuk tetap tenang, dibalik rasa terkejutnya. Dan membuang semua pikirannya, yang memikirkan Alana.


"(Kenapa aku harus memikirkannya? karena itu sama sekali tidak penting bagiku. Dan bagus, kalau dia sudah pergi dari rumah ini, jadi rumah ini akan kembali seperti dulu, hanya ada aku, dan papa. Tanpa ada kedua, wanita itu!)" Bathinnya, yang berusaha menghilangkan pikirannya, tentang adik tirinya.


"Baiklah, kalau begitu kalian silahkan lanjutkan kegiatan kalian." Dengan kembali melanjutkan langkahnya, menuju lantai bawah.


Saat baru beberapa barisan tangga Dave menapaki kakinya, tiba-tiba saja, Paula memanggilnya.


"Tuan..?" Panggilnya.


Menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap wanita paruhbaya itu.


"Kenapa?" Dengan tatapan penasaran, menatap Paula.


Menatap wajah lelaki tampan itu, yang terlihat biasa saja, tanpa ada rasa sedikit penyesalan dalam dirinya, membuat hati Paula begitu kecewa.


"Tidak Tuanmuda, aku hanya ingin mengatakan, hati-hati dijalan," Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Menyernyitkan dahinya, menatap penasaran pelayan rumahnya itu. " Terima kasih, karena kau begitu perduli padaku." Dengan senyuman yang nyaris tak terlihat, dan kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah.


Paula menatap nanar kepergian Dave, dengan rasa kecewa yang teramat sangat, pada lelaki muda itu, yang tampak tidak menyesali dengan perbuatannya.


"( Apakah dalam dirimu, sudah tidak ada rasa belas kasih lagi Tuan? kau dengan tega menodai gadis itu, dimana hati nuranimu. Dia hanya sebatang kara, hanya keluarga ini saja yang dia miliki.)" Bathinnya, dengan kesedihan yang teramat sangat.


"Bibi, anda baik-baik saja?" Tanya seorang pelayan, saat melihat Paula yang tampak begitu melamun.


Terkejut, dan tersenyum seraya mengangguk.


"Aku baik-baik saja, ayo kita turun."


Saat tiba dilantai bawah, Dave berpapasan dengan Damian ayahnya. Raut wajah ayahnya terlihat begitu sendu, hingga saat berlalu melewati Davepun, laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan putranya.


"Papa..?" Panggil Dave, tapi laki-laki paruhbaya itu, terus melangkah.


"Papa..?!" Dengan sedikit berteriak, hingga membuat langkah Damian terhenti, saat melewati dua barisan anak tangga.


"Ada apa, Dave?" Jawabnya, dengan tetap mempunggungi putranya.


"Ini, aku putramu," Jawabnya, tegas.


"Ada kau putraku, dan putriku telah pergi meninggalkan aku Dave?! kau senang bukan? karena Alana sudah pergi, meninggalkan rumah ini, karena selama ini kau sangat mengharapkannya."

__ADS_1


"Memang sudah seharusnya begitu, tidak ada alasan lagi dia untuk tetap tinggal dirumah ini. Karena Ibunyapun sudah tiada."


Berbalik menatap putranya, dengan seringai diwajahnya, yang mewakili rasa kecewa yang teramat sangat pada putra tunggalnya itu.


"Kau akan menikah Dave? dan apa kau lupa?! kalau Karin sama sekali tidak mau menetap dirumah ini. Kau akan pergi, meninggalkanku sendiri dirumah ini. Dan dengan hadirnya Alana, dirumah ini membuat Papa bahagia, karena putriku yang akan menemaniku, dan menjagaku dirumah ini, tapi sekarang dia sudah pergi,"


Dave hanya terdiam, saat mendengar apa yang akan dikatakan oleh Ayahnya. Dan dia tak mampu menjawab, karena dia membenarkan itu semua.


"Pergilah, nanti kau terlambat.Dan Papa ingin istirahat." Ucapnya, dengan kembali melanjutkan langkahnya.


Kepalan tangan yang begitu erat, hingga uratpun terlihat begitu nyata, pada tangannya yang menyalurkan semua emosi dalam dirinya.


"Alana...!! Alana.!!.selalu saja Alana!!" Dengan nada kasar, dan kembali melanjutkan langkahnya.


****


HOUNSTON GROUP.


Terlihat begitu mesrah, itulah penampakan dari pasangan yang telah bertunangan Dave, dan juga Karin.


"Karin.." Seru Dave, tiba-tiba.


"Dua bulan lagi, kita akan menikah. Tapi aku ingin, kita tetap tinggal dirumahku. Aku tidak mau, membiarkan Papaku sendiri. Kaupun tau, Alana sudah pergi. Jadi aku ingin, kita tetap tinggal bersama Papaku. Bagaimana?!" Bertanya, dengan menatap intens calon istrinya.


Mendengus kesal, saat mendengar apa yang diinginkan oleh tunangannya itu.


"Tapi Sayang? aku ingin kita menetap sendiri. Bukankah dirumah sudah ada pelayan, yang menemani Papamu?!"


"Tapi Karin, kau tau Papaku sudah tua. Aku adalah anak tunggal, aku tidak bisa membiarkan dia hidup sendiri, sekalipun itu bersama para pelayan."


"Terserah?! Yang jelas, aku ingin kita menetap dirumah sendiri. Dan aku pergi dulu'" Dengan bangun dari duduknya, meninggalkan ruang kerja itu.


"Kau mau kemana?!"


"Aku ingin pulang, besok jemput aku karena kita akan melakukan photo preweding." Jawabnya, dengan kembali melanjutkan langkahnya, berlalu begtu saja dari ruang kerja.


"Sial..?! kenapa dia begitu keras, kepala?!"Dengan melemparkan sebuah berkas, yang terletak diatas meja.


****


LONDON, INGGRIS.

__ADS_1


DUA BULAN BERLALU


Tinggal disebuah kota kecil Canterburry, yang terletak dipinggiran kota London inggris, disebuah hunian yang begitu sederhana.


Membuat kue-kue dengan alat seadanya, itulah yang terlihat dari kehidupan seorang Alana selama dua bulan terakhir ini. Dengan gigih dia membuat kue-kue, dan roti yang dia titipkan pada toko-toko kecil.


"Kau sudah datang, ALana?!" Tanya Rose, saat melihat kedatangan sahabatnya.


"Tentu, hari ini lebih cepat haabis. Dan aku ingin, membuat kue-kue lagi."


Rose menatap wajah Alana yang terlihat pucat, hingga membuatnya memutuskan untuk bertanya.


"Alana, kau sakit? kenapa wajahmu pucat?" Saat melihat Alana, memegang kepala karena merasa pusing.


"Aku...Aku..." Tak mampu menyelesaikan kalimatnya, dan akhirnya diapun pingsan.


"Alana..?!" Teriak Rose yang terlihat begitu panik, seraya menahan tubuh sahabatnya saat akan jatuh kelantai.


****


Alana membuka mata perlahan, dan mendapati dirinya berada ditempat yang asing.


"Rose..?" Ucapnya pelan, dengan mengalihkan tatapan menatap sahabatnya, yang tengah menungguhnya.


"Alana, kau sudah sadar?" Dengan bangun dari duduknya, menghampiri wanita berambut cokelat itu.


"Maafkan aku, karena sudah membuatmu khawatir." Dengan senyuman, kecil diwajahnya.


"Alana?!"Panggilnya, pelan.


"Ada apa, Rose?" Jawabnya, dengan suara parau.


"Katakan siapa, ayah bayi itu?"


"Ayah? bayi? apa maksudmu Rose? jangan buat aku penasaran?" Dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran, saat mendapati pertanyaan dari sahabatnya.


"Apakah, kau tidak tau Alana?! kalau kau sedang hamil. Dan kandunganmu, kini sudah berusia tiga bulan."


Alana begitu terkejut, dengan apa yang dia dengar. Bagaimana dia sama sekali tidak menyadari, kalau dirinya tengah hamil. Dan dia memutar kembali memorynya tentang peristiwa malam itu, dan baru menyadari dirinya sudah tidak datang bulan, selama tiga bulan terakhir ini.


Seketika Alana hanya menangis, dan menangis. Apalagi dua hari lagi, adalah hari pernikahan antara Dave, dan juga Karin.

__ADS_1


__ADS_2