
Tersenyum getir, dengan tangan terangkat pelan dia meraih kartu undangan, dari tangan Psikolog cantik itu.
Mereka kembali duduk, walapun ada rasa canggung dalam diri Louis, dan Delena tapi sebisa mungkin keduanya menyembunyikannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
kedua bolamata Carlos teralih pada jam yang melekat sempurna pada pergelangan tangannya ditengah perbincangan mereka, dengan Louis. Dan memutuskan untuk pamit, sebab harus menyambangi hotel, untuk melihat sejauh mana persiapannya.
"Sayang, sepertinya kita harus menyudahi obrolan kita dengan sahabatmu, karena kita harus kehotel sekarang juga."
Tatapan Delena teralih pada Louis, dan berpamitan pada lelaki tampan itu.
"Louis, maaf aku dan Carlos harus segera pergi. Karena kami harus melihat sejauh mana, persiapan pihak hotel mempersiapkan resepsi pernikahan kami. " Dengan beranjak dari duduknya, seraya tangannya meraih tas tangan yang tersimpan diatas meja.
"TIdak masalah, masih ada lain waktu untuk kita dapat berbincang lagi. Dan kudoakan semoga semuanya lancar, sampai hari H nya." Senyuman palsu yang membingkai penuh diwajah tampan itu, berusaha menyembunyikan gundah yang tengah melanda diri.
"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan Louis, dan senang bisa berkenalan dengan anda."
"Saya juga, senang berkenalan dengan anda Tuan Carlos," Jawabnya, mencoba untuk tersenyum.
"Louis, aku minta maaf karena selama ini tidak jujur padamu tentang semua ini. Dan aku harap kita masih bisa tetap berteman, setelah semua ini. Dan aku yakin, Tuhan sudah mempersiapkan gadis yang baik, untuk pria baik sepertimu Louis, dan sekali lagi maafkan aku." Delena mengatakan rasa bersalah pada Louis, berharap pria itu tidak membenci dirinya. Dan melangkah meninggalkan ruangan itu, mengikuti calon suamimnya yang sudah terlebih dahulu pergi.
Tersenyum getir mewakili kekecewaan yang melanda diri. Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, memikirkam kekecewaan yang baru saja dia rasakan. Kedua kalinya pria itu mencintai seorang wanita, tapi sayangnya lagi-lagi pil pahit harus dia rasakan, karena ternyata wanita yang dia cintai sudah dimiliki pria lain.
"Kenapa aku begitu bodoh! bagaimana bisa, aku tidak menyadari kalau dia sudah memiliki tunangan. Bahkan..."
Bahkan mereka akan menikah dalam dua hari ini, dan itu sungguh memalukan buatku, karena menyatakan perasaan pada wanita yang akan menikah. " Gumamnya.
Hembusan napas berat, merasakan seketika tubuhnya begitu lelah saat ini, terutama pada hatinya. Disaat sudah memantapkan hatinya pada Delena, justru kenyatan pahit yang harus dia terima.
"Takdir selalu saja mempermainkan aku. Pertama Alana, dan sekarang Delena. Apakah sudah tidak ada cinta untukku lagi, karena selalu rasa kecewa yang aku raskan."
****
Membela jalan ditengah keramaian kota disiang hari, hingga lampu merah menghentikan lajuan kendaran roda empatnya. Tatapan terlempar pada sebuah toko kue, dan memutuskan untuk mampir dikedai itu menikmati sajian kue dikedai kecil itu.
Saat sudah berada didalam, CEO tampan itu langsung memesan minuman hangat, dan beberapa kue muffin. Seorang karyawan pria mengantarkan pesanan Louis, dan dia adalah Jack teman baik dari Rose.
"Ini pesanan anda, Tuan?" Ucapnya ramah, setelah meletakan secangkir Coffe, dan beberapa potong kue diatas meja.
Saat sudah berlalu pergi, langkah kaki Jack tiba-tiba saja berhenti, saat Louis bersuara. Dan membuatnya kembali menyambangi lelaki tampan itu.
"Bukankah Rose berkerja disini? dimana dia. Dari tadi aku tidak melihatnya." Bertanya, seraya mengedarkan pandangannya kese;uruh penjuru arah.
Terselip rasa kesal dalam diri Jack, saat mengingat kembali cerita dari Rose, kalau cintanya telah ditolak pria yang diam-diiam dikaguminya selama ini. Tapi bagaimanapun Jack tidak berhak membenci lelaki ini, toh kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang.
"Apakah anda tidak tau, kalau Rose sudah tidak berkerja disini lagi Tuan,"
__ADS_1
Keningnya berkerut, tatapannya seketika menatap intens pada Jack yang masih berada didepannya.
"Tidak berkerja disini lagi, memangnya kemana dia."
"Rose sudah berada diAmerika."
"Berada diAmerika?" Kedua bolamata yang semakin melebar, saat mendengar jawaban dari pelayan pria itu.
Tersenyum getir, saat melihat ekspresi terkejut dari Louis, dan itu membuatmya kesal.
"Bagaimana mungkin anda tidak tau Tuan, bukankah anda adalah sahabat baik dari Tuan Dave? saat pindah keAmerika Nona Alana mengajak serta Rose untuk ikut ikut bersamanya."
Hanya diam, saat mendengar apa yang dikatakan Jack padanya. Dirinya memang mengetahui kalau Alana, dan Dave telah kembali keAmerika, tapi dia sama sekali tidak tau, kalau Rose akan ikut bersama Dave, dan Alana.
"Kalau tidak ada yang perlu anda tanyakan lagi, saya permisi dulu Tuan?" Pamit Jack dengan berlalu begitu saja, saat Louis hanya diam saja usai mengetahui kalau Rose sudah berada diAmerika.
Tatapannya menatap kerah luar, dimana kaca bening menjadi dinding dari kedai itu. Teringat kembali dirinya yang menolak cinta seorang gadis, padahal saat cinta yang dia tawarkannya adalah cinta yang benar-benar tulus padanya.
"Bagaimana bisa aku tidak mengetahui, kalau Rose ternyata sudah berada diAmerika."
****
Hari terus melangkah menuju pekan, pekanpun tergantikan dengan bulan yang terus berganti. Tidak terasa lima bukan telah terlewati, sejak saat itu.
"Kau harus berhati-hati Maa? nanti adik bayi kami kenapa-kenapa." Suara peringatan dari seorang anak laki-laki, yang tak lain adalah Louis kecil.
"Kau tidak perlu khawatir Louis, ada aku dan Papa yang akan menjaga Mama." Jawab Louisa, dengan penuh percaya diri pada adik laki-lakinya.
Alana dan Dave sekilas saling menatap, saat mendengar perdebatan sikembar Louis, dan Louisa.
Dan dengan langkah kaki yang sedikit pelan, akibat perut yang sudah membesar, Alana berjalan masuk kedalam toko kue miliknya, dengan mengandeng tangan suaminya dan Louisa yang menggenggam tangan yang satunya. Gadis kecil itu, seolah tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan Ibunya, mengingat didalam perut Mamanya, ada adikbayi yang selama ini mereka harapkan.
Saat berada didalam, kedua bocah itu segera berlari menghampri Rose, saat melihat keberadaan gadis bermanik abu itu.
"Bibi Rose...."
Rose melebarkan kedua tangannya, menyambut tubuh kedua bocah itu seraya mensejajarkan tingginya, saat melihat kedatangan sikembar.
"Hallo anak-anak Bibi?"
"Kami merindukan kau Bibi?" Ucapnya keduanya, dengan nada manja pada gadis berambut pirang itu.
"Bibi juga merindukan kalian." Tersenyum simpul, pada wajah cantiknya.
Dave menggeleng pelan kepalanya, bagaimana melihat kedekatan kedua anaknya, dan sahabat istrinya itu.
__ADS_1
"Kalau sudah bersama Rose, mereka berdua pasti akan melupakan kita berdua Alana? seolah kita berdua ini, hanya pengasuh mereka saja."
Alana membingkai senyuman kecil pada wajah cantiknya, mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"Kau harus mengerti Sayang, bagaimanapun Rose turut mengasuh mereka saat masih bayi, dan aku menitipkan mereka padanya jika aku harus mengantar kue. Jadi kita harus memaklumi, jika anak kita sangat dekat dengannya."
Rose meminta kedua bocah itu untuk duduk, dan memberikan mereka beberapa kue yang masih hangat.
Louis kecil, dan Louisa nampak bahagia saat Rose memberikan kue-kue enak itu pada mereka, dan tanpa menunggu lama keduanya langsung melahap kue-kue itu dengan berbagai macam jenis.
"Makannya pelan-pelan Louis, didalam masih banyak jadi kau jangan taku, jika Kakakmu menghabisinya."
"Aku sangat menyukai kue-kue ini Bibi? kue-kue buatanmu sangat enak."
"Aku juga." Celah Louisa.
Bibi..." Panggilnya kemudian.
"Ada apa gadis manis?" Dengan mencubit gemas, pipi gembul Louisa.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tapi kau harus membayarkanku, dengan kue lagi." Penawaran dari Louisa, dengan nada berapi-api.
menautkan kedua alisnya, saat mendengar apa yang dikatakan gadis kecil itu.
"Baiklah Bibi janji, tapi apakah informasinya sangat penting gadis cantik? jadi Bibi harus membayarmu dengan kue lagi."
"Tentu saja Bibi, dan ini merupakan rahasia kita berdua." Jawabnya dengan bangga.
Tersenyum, saat melihat ekspresi Louisa yang begitu berapi-api padanya.
"Kalau begitu, katakan pada Bibi, agar tidak mati penasaran."
Louisa segera beranjak dari duduknya, dan menghampiri Bibinya Rose.
Rose sedikit membungkukkan badannya, saat gadis kecil itu akan menjangkau telinganya.
"Bibi, Paman Louis sering menanyakan kau padaku. Dan dia memintaku menyampaikan salam buatmu." Ucapnya berbisik pelan.
"Kau serius?" Tatapan intens menatap penasaran Louisa.
"Tentu saja Bibi, buat apa aku berbohong. Paman Louis sering datang kerumah kami, untuk bertemu dengan Papa. Apakah kau lupa, kalau dia sahabat baik Papaku. Dan dia menyogokku dengan boneka besar, agar aku mau menyampaikan salamnya padamu."
"Dia menyogokmu?"
"Tentu saja Bibi? karena aku bilang, jika Paman tidak memberikan sesuatu padaku, maka aku tidak akan menyampaian pesan Paman. Jadi dia membelikan aku boneka beruang yang besar." Dengan bolamata berbinar, saat mengingat boneka besar miliknya yang diberikan sahabat Papanya.
__ADS_1