Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Mendapatkan pesan dari nomor baru.


__ADS_3

Dave terlihat kesal, setelah kembali menutup pintu kamar. Raut wajahnya terlihat jelas, kalau dia tengah menahan amarah.


"Kau kenapa Sayang..." Dengan tatapan penuh tanda tanya, saat mendapati raut wajah suaminya yang tidak seperti sebelumnya.


Membuka kembali celanya, dan kembali membenamkan tubuhnya dalam selimut yang telah terlebihh dahulu membalut tubuh istrinya.


"Sahabatmu itu betul-betul sangat menggangu Alana! kalau tidak kuingat jasanya yang sudah membantumu merawat kedua anak kita, mungkin sudah kumarahi dia tadi?!"


Senyuman kecil membingaki diwajahnya, seraya mendongakkan kepala dia menatap wajah Dave, dan memberi kecupan singkat berharap amarah itu dapat reda.


"Kau tau Sayang. Saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di Inggris, tapatnya diCambrigge, Rose lah orang yang selalu menolongku disaat aku sedang kesusahan, sebab saat itu aku belum mengenal siapapun, hanya bermodal nekat agar bisa lari darimu. Disaat aku bekerja mencari nafka buat kedua anak kita, Rose yang selalu menjaga Louis, dan Louisa karena hanya dia saja yang aku percaya, karena dia adalah sahabatku satu-satunya yang begitu tulus padaku. Jadi kau bayangkan saja bagaiamana baiknya Rose padaku, dia benar-benar sahabat terbaikku Dave?" Tatapan mata menerawang, saat memorynya mengingat kembali masa-masa sulitnya yang dia hadapi di Cambrigge dulu.


Kedua tanggan itu semakin mempererat pelukannya, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya. Hingga kehangatan bisa terasa, saat kulit mereka saling menempel.


"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuatmu banyak menderita Alana? dan melewati semuanya itu sendirian." Tatapan mata menerawang, saat tatapan itu bertemu dengan tatapan Alana yang tengah mendongakkan kepala menatap dalam dirinya.


Senyuman kecil, dengan jemari membenahi helaian rambut yang menutup sebagian alis suaminya.


"Dave.." Panggilnya, pelan.


"Ada apa Alana?"


"Jika kita pulang keAmerika nanti, aku ingiin Bibi Alma, dan juga Rose ikut juga pulang bersama kita. Dan aku ingin meminta sesuatu, padamu."


Tatapan seketika intens, dan dia nampak penasaran apa yang diingiinkan istrinya.


"Ingin meminta sesuatu padaku. Katakan apa itu. Aku akan memenuhinya, selama aku sanggup. Dan aku sama sekali tidak keberatan, jika kita pulang keAmerika Rose, dan Bibi Alma juga ikut."


"Aku ingin kau membangun sebuah toko kue buatku, dan aku akan mengelolanya bersama Rose, dan juga Bibi Alma. Dan aku ingin kau membangun toko itu dua lantai. Agar dilantai atasnya, untuk dijadikan tempat tinggaal mereka. Seperti yang kita tau, Bibi Alma hidup sebatang kara sejak kepergian suaminya, dan Rose adalah anak yatim piatu. Bagaimana Dave, apakah kau mau memenuhi keinginanku?" Tatapan penuh harap, dan berharap Dave memenuhi keinginannya.


"Tentu Alana, kenapa tidak."

__ADS_1


Alana nampak sangat bahagia, saat mendengar jawaban sesuai yang dia harapkan. Memberi kecupan singkat pada bibir suaminya, dan semakin membenamkan dirinya dalam pelukan itu.


"Aku mencintaimu Dave, dan terima kasih suamiku,"


Miliknya yang tadi sudah tertidur akibat rasa kesalnya pada Rose, seketika bangkit kembali, saat benda kenyal milik Alana tergeser-geser didada bidang itu.


"Aku rasa kita harus melanjutkan kembali, kegiatan tadi Alana? angap saja, itu sebagai rasa terima kasihmu padaku,"


Tawa kecil seketika keluar dari bibir Alana, saat mendengar keinginan sang suami.


"Baiklah Sayang, berapapun yang kau mau. Aku akan menyicilnya setiap malam. Sampai perut aku membuncit."


"Benarkah..?"


'Tentu Sayang...?" Dengan nada manja, dan sengaja kembali menggesekkan dadanya pada dada bidang itu, yang membuat Dave semakin memejamkan kedua matanya, menikmati kenikmatan yang Alana berikan.


"Dave, kenapa kau diam saja? kapan kita memulainya," Mendongakkan kepala menatap suaminya, saat Dave tak kunjung merespon apa yang sudah dia lakukan.


"Kau mau kita memulainya sekarang Alana?!"


"Tentu sayang, bukankah aku sudah memberi sinyal padamu tadi?" Dengan mimik cemberut, dia menatap suaminya.


Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.


"Baiklah. Ayo kita memulainya sekarang, Nyonya Haounston?" Dengan langsung membalikkan membalikkan tubuh Alana, dan melanjutkan kegiatan bercinta mereka.


****


Rose segera menutup pintu kamar, dan berjalan menuju arah ranjang. Duduk disisi ranjang, dan jemarinya mulai menari-nari diatas ponsel milik sahabatnya.


Tatapannya begitu intens, saat kedua bolamata menyusuri daftar kontak.

__ADS_1


"Saat Tuan Louis masih menjadi kekasihnya, dia menulis nama pria itu pada HPnya dengan nama KEKASIHKU." Dan Rose mulai mengetik huruf K, agar dapat menemukan kontak milik pengusaha tampan itu.


Raut wajahnya seketika frustasi, dan terselip rasa kecewa yang teramat sangat disana, saat nama pada ponsel dengan nama kekasihku sudah tidak tersimpan disana.


"Apakah Alana sudah menghapus nomor milik Tuan Louis, karena mereka sudah tidak menjalin hubungan lagi?""


Rose menghembuskan napas kasarnya, dan menghempaskan HP itu keatas ranjang, saat tidak mendapati nomor HP pria yang tengah diincarnya. Tatapan matanya menerawang, dengan raut wajah putus asanya.


"Aku sampai harus menahan malu, agar bisa mendapatkan nomor HPnya. Padahal saat aku kekamar Alana, dia tengah bercinta dengan suaminya. Dan aku yakin, Tuan Dave pasti menahan kesal padaku, karena sudah mengganggu kesenangan mereka."


Rose membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dengan tatapan mata menatap langit-langit kamar. Gadis berambut pirang itu, nampak sedang berpikir keras agar dapat memiliki nomor HP milik pengusaha tampan itu. Larut dalam lamunannya, dan seketika beranjak dari tidurnya, setelah tangannya kembali menjangkau ponsel milik Alana.


"Mungkinkah, dia menggantinya dengan nama Tuan Louis?" Tebaknya, dan mulai mencari nama itu didalam daftar kontak. Dan seketika senyum mengembang diwajah cantik Rose, saat menemukan nomor HP milik lelaki pujaannya.


Dan segera menyalin nomor Hp itu ada Ponselnya. Tiba-tiba kegelisahan kembali melanda diri, saat mulai berperang dengan kata hatinya sendiri, untuk menghubungi pria itu atau tidak.


****


Membuka pintu kamarnya, menuju arah balkon. Kedua kaki itu melangkah pelan menghampiri pinggiran balkon, memandang keindahan yang disajikan kota London dimalam hari.


Tatapan itu terlempar jauh kedepan, dengan tatapan menerawang. Dan sepertinya, ada yang tengah dipikirkan oleh pria itu.


"Ingat Louis, cinta tidak selamanya harus memiliki. Melihat dia bahagia saja, sudah membuat kau bahagia." Memperingati diri sendiri, saat bayangan wajah Alana terlintas kembali dalam pikirannnya.


Louis terus menatap keindahan malam kota itu, hingga suara dentingan pesan pendek pada ponselnya, membuyarkan lamunan sang pengusaha.


"Malam.." Itulah sepenggegal pesan pendek, yang dia dapat dari nomor baru itu.


Keningnya berkerut, dan raut wajah penasaran yang dipenuhi tanda tanya membingkai jelas diwajah tampan itu, saat mendapati pesan dari orang yang tidak ada nama dalam daftar kontaknya.


"Nomor siapa ini?" Gumamnya, bertanya pada diri sendiri. Dan karena rasa penasaran yang teramat sangat, membuatnya memutuskan untuk menghubungi nomor itu.

__ADS_1


__ADS_2