
Tatapan keduanya seketika beralih keasal suara, dan betapa terkejutnya mereka, saat mendapati seorang pelayan vila yang tidak lain aadalah Alma, tengah berada dididepan pintu. Alma langsung membalikkan tubuhnya, saat melihat pemandangan yang membuat dia malu setengah mati.
Seketika Alana menarik selimut, dan menutup sedikit bagian tubuhnya yang setengah telanjang, dan berlari kekamar mandi.
Dave mengait celananya yang sudah terbuka, dan berbalik menatap geram pelayan vila, yang sedang membelakanginya.
"Alma..?!" Dengan sedikit, berteriak.
Berbalik dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah, dan menunduk takut.
"Maaf.., Tuan?"
"Maaf, maaf, maaf, apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum kau masuk?" Dengan tatapan kesal, menatap wanita paraubaya itu.
Berani mendongakkan kepala, menatap laki-laki tampan didepannya.
"Maafkan saya Tuan? maafkan saya sebelumnya. Saya sudah mengetuk pintu, dan kenapa anda tidak mengunci pintu terlebih dahulu, Tuan? seandainya kalau anak-anak anda yang melihatnya, bagaimana?"
Menghembuskan napas kasar, dan diapun merutuki kebodohannya sendiri.
"kalau begitu, apa yang kau bawa itu?" Bertanya, dengan menatap sebuah map, yang sedang digenggam oleh Alma.
"Sekretaris Daven, meminta saya untuk mengantarkan ini, Tuan?" Dengan menyerahkan map, dalam genggaman tangannya.
Terdengan suara lari kedua anak kecil, yang berlari kekamar itu. Louis, dan Louisa terklihat panik, dengan wajah polos mereka.
"Oma Alma, kenapa kau berteriak? apakah kau melihat ular?" Tanya Louis, dengan wajah polosnya.
"Iya Oma Alma, apakah kau melihat ular, jadi kau berteriak seperti itu?" Timpal Louisa, dengan clengak-clenguk mencari hewan itu.
Dave mengusap kasar wajahnya, saat mendapati pertanyaan kedua anaknya itu.
"Kalian berdua, kembalilah kemar. Iya tadi ada ular, tapi Papa sudah mengusirnya."
"Benarkah Papa, dimana kau mengusirnya? kami ingin melihatnya." Tanya Louis, dengan raut wajah yang terlihat antusias.
Mensejajarkan dengan tinggi anaknya, seraya tersenyum.
"Papa sudah membuangnya sangat jauh Louis, nanti baru Papa akan mengajak kau, dan kakak pergi kekebun binatang."
"Benarkah Papa?! Kau akan mengajak kami, pergi kekebun binatang?" Tanya Louisa, dengan bola mata berbinar.
"Iya, Papa akan mengajak kalian kesana." Jawabnya, dengan menghembuskan napas dalam.
__ADS_1
Alma hanya tersenyum, saat mendapati Dave yang tengah berbohong pada kedua anaknya, hingga membuat laki-laki itu tampak geram.
"Tuan, ada apa?" apakah ada sesuatu?" Tanya Daven yang baru saja datang, dengan raut wajah yang terlihat panik.
"Ada ular, Paman? tapi Papa sudah membuangnya." Ucap Louisa, menjawab pertanyaan sekretaris itu.
"Ular, dimana ularnya?" Tanya Daven, dengan mengedarkan pandangannya dalam kamar tersebut.
Alma seketika menghampiri sekretaris tampan itu, dan berbisik pelan ditelinganya. Hingga membuat Dave menatap geram meraka, yang tenga menertawakannya.
"Papa, dimana Mama?" Tanya Louisa, tiba-tiba.
Dave mengedarkan pandanganya, dalam kamar tersebut, dan dia baru menyadari kalau daritadi, Alana tidak ada diantara mereka.
"Papa tidak tau, Mama kalian dimana. Mungkin dia dikamar, mandi."
"Baiklah, kalau begitu aku, dan Louis akan kembali kekamar. Dan malam ini, Mama akan tidur disini." Ucap bocah perempuan itu.
"Siapa, yang mengatakan itu padamu?" Tanya Dave penasaran, seraya menatap putrinya.
"Paman Daven, Papa? dia mengatakan jika kami membiarkan kau tidur bersama, Mama? kami akan cepat mempunyai adik bayi." Jawab Louisa, dengan wajah polosnya.
Mentpa sekretarisnya, yang tengah tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau begitu kalian keluarlah, dan kalian berdua juga istirahatlah. Ini sudah malam."
"Ini belum terlalu malam, Papa? bahkan ini baru jam delapan."
"Apakah kalian, sudah makan belum?"
"Belum, kami masih menunggu Mama." Jawab Louis.
"Malam ini, Oma Alma yang akan menemani kalian makan."
"Baiklah, Papa..?" Jawab keduanya, dengan berlalu bersama Alma.
"Daven...?" Panggil Dave tiba-tiba, saat sekretaris tampan itu, akan melangka.
"Ada apa, Tuan?"
"Kau tunggu aku dirung kerja, sedikit lagi aku akan turun."
"Baik, Tuan?" Jawabnya, dengan kembali melangka.
__ADS_1
****
ALana melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, dan membasahi tubuhnya dibawa guyuran air. Wanita itu merasa risi dengan sentuhan, yang baru saja diberikan Dave padanya.
"Dasar laki-laki brengsek?! kenapa dia tidak melakukan itu dengan Laura saja, kenapa mesti denganku? apa dia mengirah semua wanita akan tergila-gila dengannya?" Gumamnya, dengan raut wajah yang terliahat kesal, seraya menggosok-gosok tubuhnya bekas sentuhan tadi.
"Benarkah, kau tidak menyukai sentuhanku, Alana? bahkan, kau sengaja tidak mengunci pintu kamar mandi, agar aku bisa melihat tubuhmu yang polos itu." Ucapnya dengan langsung masuk kedalam kamar mandi, setelah mengunci pintu.
"Dave...?" Dengan raut wajah yang begitu terkejut, dan langsung menarik handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
"Buat apa kau menutupnya lagi, bahkan aku sudah melihatnya." Jawabnya, tersenyum.
"Aku akan, keluar." Ucapnya dengan ingin membuka pintu kamar mandi, tapi Dave langsung mencekal tangannya.
"Dave, apa yang akan kau lakukan?" Dengan nada, sedikit tinggi.
"Kita akan mandi bersama. Dan melanjutkan yang tadi."
"Apa kau sudah gila, kenapa kau tidak melakuakan dengan Nona Lauramu, saja?" Dengan tetap memaksa ingin keluar, tapi lagi-lagi, Dave mencekalnya, menarik handuk, dan mebungkam bibir Alana dengan sebuah ciuman.
"Lepaskan aku Dave..? lepaskan...?" Ucap Alana dengan sedikit berteriak, seraya memukul-mukul dada pria itu.
Tersenyum puas, saat melepaskan pagutannya, hingga bibir Alana sedikit terluka.
"Kau sangat keras kepala, dan pembangkang. Mana bisa aku jatuhcinta padamu, kalau kau seperti ini."
"Karena aku, sangat membencimu? Sangat membencimu?!" Jawab Alana, dengan raut wajah yang begitu memerah.
Kembali menarik tubuhnya, menggerayangi, dan memberikan tanda merah disana.
"Kau sangat brengsek, Dave...?!" Seru Alana dengan kemarahan yang teramat sangat, seraya melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras, pada pipi pria itu.
"PLAAAKKK....?"
Memegang pipinya yang memerah, dengan senyuman kecil disudut.
"Tidak pernah ada wanita yang melakukan ini padaku, Alana? baru kau?! kalau saja kau bukan, Ibu dari kedua anakku, mungkin sekarang, aku sudah membunuhmu." Ucapnya dengan kemarahan yang teramat sangat, dan berlalu begitu saja.
Alana menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi, dan menangis tersedu-sedu.
"Kenapa kau mempertemukan aku dengan pria brengsek seperti dia lagi, Tuhan?! haruskah aku bertahan demi kedua anakku..?" Ucapnya, dengan airmata terus mengalir.
Visual Alana. Seorang Ibu muda, yang begitu menyayangi kedua anaknya.
__ADS_1