Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Menunggu Alana.


__ADS_3

Raut wajahnya berubah pucat, dan dia terlihat begitu syok saat mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya.


Hening sesaat, dan tidak berkata-kata lagi.


Ntah kenapa hatinya begitu teramat sakit, saat mendengar kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau istrinya Alana tengah menjalin hubungan dengan seorang pria, dan itu adalah sahabat baiknya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan, saat ini? Ibu dari kedua anakku, menjalin hubungan dengan sahabat baikku." Bathin Dave, dengan kegundahan yang teramat sangat.


"Tuan..?" Panggil Daven, yang menyadarkan lamunan Tuanmudanya.


"Mungkinkah, mereka menjalin hubungan sudah lama Daven?"


"Ntahlah Tuan, aku tidak tau. Tapi kenapa anda harus marah Tuan, bukankah anda sekarang tengah menjalin hubungan, dengan Nona Laura??"


Raut wajah Dave seketiki memerah, saat mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya.


"Jadi sekarang kau menyalahkan aku, dan mendukung istriku menjalin hubungan dengan Louis??"


"Ti..tidak Tuan, saya tidak bilang seperti itu. Saya hanya.." Jawabnya terhenti, saat Dave menyela apa yang dia katakan.


"Sudahlah Daven!! kau terlalu banyak bicara. Kau tidak tau, bagaimana perasaanku saat ini. Walaupun aku tidak mencintainya, tapi tetap saja aku sangat kecewa karena dia sudah berselingkuh dariku. Dan itu, dengan sahabatku sendiri."


Daven hanya terdiam, dan dia larut dalam lamunannya sesaat. Melihat apa yang terjadi hari ini, membuat pria itu menyimpulkan kalau sebenarnya tanpa Tuanmudanya sadari, dia telah jatuhcinta pada istrinya.


"Anda sudah jatuhcinta pada Nona Alana, Tuan? tapi kenapa anda, tidak menyadarinya akan hal itu." Bathin Daven.


Dave meraih jasnya yang terletak diatas kursi kebesarannya, dan membalutkan ketubuhnya.


"Ayo kita pulang, sekarang!"


"Pulang? untuk apa, Tuan? bukankah ini belum jam, untuk pulang kantor? dan lagi pula, sedikit lagi kita ada rapat dengan para pemegang saham."


"Batalkan rapatnya. Karena hari ini, aku harus bertemu dengan Alana, dan memintanya menjelaskan semua ini."


"Tapi bagaimana dengan rapatnya, Tuan?"


"Aku sudah bilang, batalkan bodoh?!" Dengan raut wajah yang terlihat kesal, dan berlalu dari ruang kerjanya diikuti oleh Daven, dengan langkah yang sedikit berlari.


****


Saat ini mereka sudah tiba dihalaman parkir. Dan ketika Daven ingin membuka pintu mobil, yang terhubung dengan kursi kemudi, Dave langsung mencekal tangannya.


"Biar aku, yang menyetir mobilnyaa."

__ADS_1


"Tapi, Tuan?"


"Aku sudah bilang, biar aku yang menyetirnya bodoh!!" Dengan nada tinggi, dan raut wajah yang terlhat begitu kesal.


"I..iya Tuan, ba..baiklah. Dan maafkan saya." Jawab Daven, dengan duduk dikursi samping kemudi.


Daven begitu terkejut, saat Dave menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan kendaraan roda empat itu, dengan kecepatan tinggi.


Rajut wajahnya berubah pucat, dengan keringat yang sudah membasahi dahinya, karena rasatakut yang teramat sangat.


Menyalip mobil-mobil yang melaju didepannya, agar segera sampai dirumahnya dengan cepat.


"Tuan, saya belum mau mati. Bisakah anda menyetirnya, dengan sedikit pelan??" Dengan raut wajah, yang terlihat pucat.


Dave tidak mengindahkan apa yang dikatakan ssekretarisnya, rasa sakit hati yang dia rasakan saat ini, dia luapkan dengan melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi, tanpa memikirkan keselamatan dirinya, dan juga Daven.


"Tuan..., aku mo..hon, Tuan?" Seru Daven memperingati, karena rasa takut yang semakin menjadi.


Dan tiba-tiba saja didepan mereka, ada sebuah truk besar berlawanan arah. Karena frustasi yang dia rasakan, membuatnya tidak fokus. Saat melihat laju truk didepan mereka, yang melaju dengan kencang, Daven langsung meneriaki Tuanmudanya.


.Tuan..., awas.., ada truk didepan..."


Mendengar teriakan sekretarisnya, dengan cepat Dave membalikkan memutar arah lawan setir mobilnya, hingga kecelakaan bisa terhindar. Daven seketika mengusap dadanya, sebab baru saja mereka selamat dari kecelakaan maut. Bukan memelankan lajuan kendarannya, Dave malah tetap melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.


"Hei...brengsek....!! apa kau mau mati..!!" Teriak sopir truk itu, karena dia hampir saja, dia menabrak mobil yang dikendarai oleh Dave.


"Tuan..., kita baru saja lolos dari maut." Ucap Daven, dengan raut wajah pucatnya.


"Aku tau!" Jawabnya, dengan terus melajukan kendaran roda empat itu.


Setelah beberapa menit kemudian, tibahlah mereka dikediaman mewah milik Alana, dan Dave.


Dave membuka pintu mobilnya, dan membantingnya dengan kasar, seraya berlalu kedalam rumahnya, tanpa memperdulikan sekretarisnya.


Daven keluar dari mobil, dengan langkah yang begitu pelan. Kedua kakinya, seolah tak mampu menopang tubuhnya lagi.


"Nona Alana, hanya karena dirimu, aku hampir saja mati hari ini." Dengan memaksakan dirinya, melangkah kedalam rumah.


"Alana...., Alana...." Teriak Dave, memanggil nama istrinya.


Alma yang mendengar teriakan orang memanggil nama Nonamudanya, segera menghampiri asal suara.


"Tuan, Dave...?" Ucapnya yang sedikit kaget, saat mendapati pria itu dirumah.

__ADS_1


Tuan...?" Serunya lagi, dengan menghampiri pria tampan itu.


"Bibi Alma, apakah Alana sudah berada dirumah?"


"Nona Alana, belum pulang Tuan?"


Begitu terkejut saat mendengar jawaban pelayan rumahnya, kalau Alana belum berada dirumah.


"Jadi dia belum, pulang?"


"Iya, Tuan. Nona Alana, belum pulang."


Raut wajah Dave terlihat begitu memerah, dan tersimpan amarah disana.


"Louis, aku akan membuat perhitungan denganmu. karena kau sudah berani, menggoda istriku." Bathin Dave, dengan kepalan tangan yang begitu erat.


Meraih ponsel dari dalam saku celananya, dan menghubungi Alana.


Alma terlhat penasaran, dan dalam dirinya timbul tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi. Hingga membuatnya bertanya pada Daven, yang tengah menghampirinya.


"Sepertinya Tuan sedang marah, sebenarnya apa yang terjadi?" Bertanya, dengan sedikit berbisik.


"Tuan Dave, sudah mengetahui kalau Nona Alana, tengah menjalin hubungan dengan Tuan Louis."


"Benarkah?" Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.


"Iya, Bibi. Dia melihat kebersaan Tuan Louis, dan Nona Alana direstorant, saat kami menemui rekan bisnis tadi."


"Biarkan saja. Biar dia tahu, bagaimana sakit hati itu!"


Berkali-kali menghubungi Alana, tapi teleponenya sama sekali tidak diangkat. Menjambak rambutnya, dan dia terlihat frustasi.


"Alana..., kau sudah sangat keterlaluan. Bahkan kau tidak menjawab, teleponeku."


"Nona Alana mungkin masih berkencan dengan Tuan Louis, Tuan Dave? bukankah diLondon banyak tempat yang romantis," Seru Alma dengan sedikt berteriak, agar membuat hati Tuanmudanya bertambah sakit.


"Bibi Alma, apa yang kau bicarakan? apakah kau mau, dia memecatmu??"


"Biarkan saja, aku tidak perduli. Dia itu mencintai istrinya, tapi kenapa dia tidak sadar juga. Kau lihat sekarang, dia begitu frustasi saat mengetahui istrinya, telah menjalin hubungan dengan pria lain."


"Jam berapa, Alana pulang??" Tanya Dave pada Daven, dan juga pelayan rumahnya.


"Ntahlah Tuan, kami tidak tau." Jawab keduanya, bersamaan.

__ADS_1


"Aku akan menunggunya." Jawabnya dengan menjatuhkan dirinya disofa panjang, dengan raut wajah lelahnya.


__ADS_2