
Masuk kedalam kamar, dan menjumpai kedua anaknya sudah tertidur dengan begitu pulas, diwaktu yang sudah menunjukkan jam dua belas malam. Dan diapun memilih berbaring disamping, putrinya Louisa.
Matanya masih saja terbuka lebar, dan tidak dapat tidur karena memikirkan hidupnya, setelah bertemu dengan Dave, ayah darikedua anaknya. Dan Alana tidak menyangkah, akan terjebak diantara kedua orang yang saling mencintai. Terus larut dalam lamunannya, dan baru dapat tidur, diwaktu yang sudah menujukkan pukul 3 dini hari.
****
Pagi telah menyambut kota London. Alana membuka matanya perlahan saat pancaran sang surya mengenai sedikit wajahnya, dan mendapati matahari sudah tinggi. Memalingkan wajahnya, dan mendapati kedua anaknya sudah tidak berada dikamar lagi.
"Ternyata aku bangun, kesiangan." Gumamnya, dengan berlalu kekamar mandi.
Setelah membersikan diri, dan mengenakkan pakaiannya, Alana segera berlalu menuju lantai bawa, dan tak lupa memakai sedikit lipbalm, dan bedak untuk mencerahkan sedikit wajahnya.
Menuruni setiap anak tangga, dan mendengar suara seorang wanita dewasa, dan dia meyakini kalau itu adalah Laura.
"Dia bahkan sudahn berada divila, sepagi ini." Gumamnya, dengan senyuman sinis diwajahnya.
"Pagi semuanya..?" Sapa Alana, saat sudah berada diruang makan, dan berusaha bersikap biasa walapun ada Laura.
"Pagi, Maa..?" Jawab Louis, dan Louisa bersamaan.
"Ayo duduk disebelahku, Maa?" Pinta Louisa, dengan menarik sebuah kursi disebelahnya, yang masih kosong.
"Kamu baru bangun Alana?! bukankah ini sudah jam delapan?! bagaimana kau bisa menjadi istri dari Dave, kalau kau bangun saja sesiang ini?!" Ucapnya, dengan senyuman mencemooh.
"Laura..?" Seru Dave, pelan.
"Mamaku, semalam tidak dapat tidur, Bibi?!" Timpal Louisa, denga mimik cemberut.
"Mungkinkah, semalam Mama, dan Papa membuat adik bayi, jadi tidak dapat tidur?" Tanya Louis, dengan wajah polosnya.
Laura terlihat geram, saat Louis membicarakan hal itu, hingga membuatnya menatap tajam Dave, yang tengah mengunyah rotinya.
"Siapa yang membicarakan hal itu, padamu louis?" Tanya Dave, pada putranya.
"Paman Daven, Papa?" Jawabnya, seraya memasukkan mulutnya dengan roti, yang sudah diolesi dengan margarin.
"Lanjutkan makan kalian, dan tidak boleh berbicara lagi." Titah Alana, pada kedua anaknya.
"Baik Maa?" Jawab, kedua bocah itu.
__ADS_1
"Dave?! setelah ini aku ingin kita langsung pergi kebouitique, untuk mencari gaunku."
"Baiklah..?" Jawab Dave, dengan menghela napas berat.
Alana mengeserkan sedikit rambut panjangnya kebelakang, yang dari tadi dia pakai, untuk menyamarkan tanda kepemilikan, yang diciptakan Dave padanya lehernya. Dan itu sama sekali tidak disadarinya.
Saat melemparkan pandangan kearah lain, tak sengaja Louisa melihat leher Ibunya, yang banyak tanda merah. Dan dia terlihat begitu penasaran.
"Mama..?" Panggilnya, pelan.
"Ada apa, Sayang?"
"Kenapa lehermu, banyak tanda merahnya? apakah semalam Papa, memukulmu?" Tanya Louisa, dengan polosnya.
Seketika Dave langsung tersedak makanan, saat mendengar pertanyaan anak perempuannya itu, hingga membuat laki-laki tampan itu batuk-batuk, dan dengan segera meraih airputih, yang berada diatas meja.
Raut wajah Alana begitu merona, tak bisa dibayangkan bagaimana malunya dia saat ini. Dan dalam dirinya merutuki, kebodohannya, karena sudah melupakan bekas tanda merah itu.
"I...ini..?" Jawabnya dengan raut wajah sudah berubah gugup, dan tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya lagi.
"Apakah Papa, memukulmu Mama..?" Tanya Louisa lagi, yang semakin terlihat penasarn, karena tak kunjung mendapat jawaban.
Laura terus memperhatikan leher Alana, yang dipenuhi tanda merah. Tak bisa dibayangkan bagaimana raut wajahnya saat ini, cemburu, marah, bercampur jadi satu, hingga kepalan tanganpun terlihat jelas, apa bekas tanda merah itu.
"Aku sudah selesai." Ucapnya tiba-tiba, dengan beranjak dari duduknya, karena rasa kesal yang teramat sangat.
"Tapi kau baru sarapan, Laura?" Seru Dave, dengan nada membujuk.
"Aku akan pergi sekarang." Jawabnya dengan kemarahan teramat sangat, menatap Alana yang tengah tersenyum padanya, dan berlalu begitu saja.
Dave segera beranjak dari duduknya, saat Laura berlalu dari ruang makan itu.
"Lous, louisa, Papa pergi dulu.Lanjutkan sarapan pagi kalian, bersama Mama."
"Pa..paa...?" Panggil Louisa dengan ingin bangun dari duduknya, tapi Alana langsung mencekal tangan putrinya.
Aku ingin mengikuti Papa, Maa?" Pinta Louisa, dengan tatapan memohon.
"Lanjutkan makanmu, mulai sekarang kalian harus terbiasa dengan keeadaan seperti ini."
__ADS_1
"Tapi..Maa..?"
"Louisa..? Mama, mohon..?" Dengan tatapan memohon, menatap putrinya.
"Baiklah Maa? tapi apakah kau baik-baik saja?"
"Mama baik-baik saja, anakku?" Jawabnya, dengan mencoba untuk tersenyum.
****
" Laura...Laura..., tunggu..?" Panggil Dave, dengan berlari kecil mengejar kekasihnya.
Tidak memperdulikan panggilan Dave, wanita itu terus melangkahkan kaki menuju arah mobilnya. Dan saat akan membuka pintu mobil, Dave langsung mencekal tangannya.
"Lepaskan aku Dave..?! lepaskan..?!" Ucapnya, dengan berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.
"Aku mohon maafkan aku, aku minta kau mengerti. Bagaimanapun, Alana adalah calon istriku."
"Tapi aku kekasihmu? dan aku cemburu, dan aku tidak suka kau melakukan itu, padanya?" Dengan raut wajah yang terlihat memerah.
"Maafkan aku, maafkan aku." Tatapan memohon, menatap Laura.
"Katakan padaku, apakah kau mencintainya?"
"Manamungkin aku jatuhcinta padanya, Laura? aku hanya mencintaimu? kaupun tau, alasan apa aku menikahinya. Karena agar selalu dekat dengan kedua anakku.Tapi percayalah, kaulah pemilik hati ini."
Laura tampak melunak, dengan apa yang dikatakan Dave, padanya.
"Kau serius,Dave?! kau hanya mencintaiku?" Bertanya, dengan senyuman diwajahnya.
"Aku Dave hounston, hanya mencintai satu wanita. Yaitu Laura swift." Dengan penuh keyakinan, menatap wanita ittu.
Langsung berjalan kedalam pelukan Dave, dan membenamkan kepalanya didada bidang pria itu.
"Aku mencintaimu,. Dave? sangat mencintaimu." Ucapnya, dengan merangkul erat pria itu.
"Aku juga sangat mencintaimu, Laura? sangat mencintaimu." Dengan membalas, pelukan dari Laura padanya.
Alana hanya menitikkan airmata, saat melihat pemandangan mesrah itu. Ada rasa kecewa dalam dirinya, saat mendengarkan apa yang dikatakan Dave, walaupun dia sudah tau akan hal itu.
__ADS_1
"Kita lihat saja, siapa yang akan jatuhcinta terlebih dahulu. Akan kubuat kau, merasakan patahati yang sesungguhnya. Dan itu denganku." Gumamnya, dengan melangkahkan kaki kembali menghampiri kedua anaknya.