Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Memulai kerjasama.


__ADS_3

Mereka berpelukan, seolah tidak ingin terlepas lagi. Setelah merasa sudah mulai tenang, Alana melepaskan pelukannya, pada tubuh suaminya.


Wanita bermanik abu itu, menengadakan kepalanya menatap suaminya, dengan dalam. Tatapan penuh cinta, dan syarat dengan kerinduan disana.


"Dave...?" Panggilnya, pelan.


"Ada apa, Alana?"


"Kenapa kau, menangis?" Tanya Alana, saat melihat mata sembab suaminya.


Tawa kecil membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar pertanyaan istrinya.


"Kau masih saja bertanya, ini apa. Ini airmata bahagia, Alana? sebab aku mengira, kita akan benar-banar berpisah,"


Alana menghembuskan napas kasar, dan menundukkan kepalanya, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.


"Maafkan aku, maafkan aku Dave? yang sudah menghianati, pernikahan kita. Tapi percayalah, aku hanya mencintaimu. Dan kami sudah benaar-benar sudah berakhir. Dan dia pula, yang memberi alamat apartemenmu padaku."


"Benarkah??" Tanya Dave, seolah tidak percaya.


"Iya Dave, dia yang memberikan alamatmu padaku. Bukankah sejak dirumah sakit, kau tidak ingin bertemu denganku? bahkan telepone kupun kau tidak mengangkatnya, begitupun juga pesanku tidak kau balas," Ucapnya, sendu.


"Maafkan aku, Alana. Aku melakukan itu semua, hanya untuk cepat melupakanmu. Tapi percayalah, akupun menderita. Karena aku mengirah kau mencintai Louis, dan memilihnya."


"Maafkan aku Dave, maaf," Jawab Alana, yang semakin diliputi rasa bersalah.


Membelai pucuk kepala istrinya, menatap dengan penuh kasih sayang.


"Tidak perlu minta maaf. Lagi pula selama ini, aku sudah banyak membuatmu terluka. Aku janji hanya akan memberikan cinta, dan kebahagian padamu, dan juga kedua anak kita."


Senyuman seketika membingkai diwajah Alana, saat mendengarkan apa yang dikatakan suaminya.


"Aku mencintaimu, Dave?" Ucapnya, tersenyum.


"Aku juga mencintaimu, Alana,"


Tatapan Alana begitu intens menatap wajah suaminya, yang tengah tersenyum padanya. Menatap dengan dalam wajah tampan itu, yang beberapa hari ini membuatnya menderita akibat kerinduan.


Perlahan kedua tangan itu terangkat, dan mengalung sempurna dileher Dave.


Dia menengadakan kepala, dengan sedikit menjijitkan kakinya agar lebih dekat, dengan wajah suaminya. Dave tersenyum, dan sudah sangat memahami apa yang dinginkan istrinya.


Perlahan wajahnya menunduk, dan mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri.


"Aku mencintaimu, Alana?" Sebuah kalimat cinta yang diucapkan dengan pelan, sebelum dia mendaratkan ciuman panjang itu.


Mendapatkan ciuman dari sang suami, Alanapun membalas ciuman itu. Mereka saling mengecap bibir masing- masing, dengan begitu gairahnya. Ciuman yang biasa, menjadi ciuman yang menuntut bagi pasangan suami istri itu. Saling membelitkan lidah, dan bertukar saliva, yang menyalurkan cinta, dan rasa rindu dalam diri keduanya yang selama ini terpendam.


Daven melihat jam yang melingkar ditangannya, dan tinggal beberapa menit lagi, mereka harus segera kebandara. Dan memutuskan untuk menghampiri, Tuanmudanya. Saat berada disana, Daven begitu terkejut saat melihat dari kejauhan, Tuanmudanya, dan istrinya tengah berciuman dengan begitu intim.

__ADS_1


"Apakah aku tidak salah lihat, mereka berciuman? apakah mereka, telah kembali bersama?" Bertanya pada diri sendiri, dengan rasa penasaran yang menyelimuti diri.


Seketika raut wajah Daven nampak sumringah, dan dia nampak seperti orang yang tengah mendapatkan undian besar.


"Aku yakin, mereka pasti sudah kembali bersama. Kalau ciuman perpisahan, tidak mungkin seintim ini." Ucap Daven, dan memutuskan untuk merekam ciuman itu, dan mengirimkan digroup.


Ini pasti, akan menjadi berita yang bagus."


Alana nampak menikmati ciuman itu, dan enggan untuk mengakhirinya. Dan dia tidak menyadari, kalau itu membuat gairah suaminya bangun. Apalagi kedua gundukan miliknya, begitu menempel pada dada Dave. Hingga membuat laki-laki tampan itu menarik diri seketika, mengakhiri ciuman mereka, dan itu membuat Alana nampak kesal.


"Apakah kau tidak suka, berciuman denganku Dave?!"


"Tidak Alana, kau salah!"


"Terus kenapa kau melepaskan ciuman kita, kau membuatku malu," Ucapnya, menunduk.


"Kau tidak perlu malu, Alana? bukankah, aku suamimu?"


"Terus kenapa, Dave?"


Dave mengusap kasar wajahnya, dengan tatapan mata sudah berkabut, akibat gairah yang sudah menyelimuti dirinya.


"Kau membuatku menderita, Alana? kau membuat sesuatu yang selama ini tidur, tiba-tiba saja bangun,"


Seketika tatapan matanya menatap dengan intens wajah tampan itu, dan dia nampak tidak memahami, apa yang dimaksud oleh pengusaha itu.


"Jadi, kau tidak tau?" Tanya Dave, dengan senyuman diwajahnya.


"Kalau kau tidak beritahu, mana aku bisa tahu Dave?" Jawab Alana, dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.


"Apakah kau tidak merasakan, sesuatu dibawah sana,?" Dengan tatapan mata, melirik kebawa.


Alana seketika mengikuti arah pandang suaminya. Dan dia sekarang sudah tau, apa yang dimaksud oleh lelaki tampan itu.


"Kau membuatku malu, Dave?" Ucap Alana dengan rona merah dipipinya, dan segera menarik diri agar menjauh. Tapi niatnya itu gagal, saat Dave menahan pinggangnya.


"Dave.., apa yang kau lakukan?"


"Kau harus bertanggung jawab, Alana?" Dengan senyuman kecil, menatap istrinya.


"Ingat Dave! ini masih siang. Dan lagipula, disini ada Daven,"


Membingkai senyuman kecil diwajahnya, menatap istrinya dengan raut wajah yang merona.


"Kau tau Alana, aku sudah lama menginginkanmu. Dan aku ingin, saat ini kita harus melakukan itu."


"Tapi Dave, ini masih siang?" Dengan tetap, ingin menolak keinginan suaminya.


Tangannya kanannya merangkul penuh pinggang istrinya, dan tangan kirinya merogoh sesuatu dalam saku celananya. Mengeluarkan lembaran kertas, dan menunjukkan pada Alana.

__ADS_1


"Kau lihat, gambar ini. Dan gambar bayi yang kau gendong ini, belum ada diantara kau, dan aku. Dan aku yakin, kau pasti memilikinya juga, Alana?"


Alana tersenyum, seraya menganguk ia. Dia meraih sesuatu dalam saku celananya, dan menunjukkan pada Dave.


"Mereka menginginkan adik bayi, dari kita Dave?"


"Louis, dan Louisa mengirah adk bayi itu, pasti ada yang menjualnya. Dan jika ada, pasti aku akan membeli buat kedua anak kita, Alana? Tapi disini untuk mendapatkan adikbayi, butuh kerjasama antara kau, dan aku. Dan apakah kau tega mengecewakan anak-anak kita, Alana?"


"Tidak Dave, tentu tidak. Sebab aku sangat, menyayangi kedua anakku."


Mendapatkan jawaban itu, membuat wajah Dave, terlihat begitu bahagia.


"Aku rasa, aku tidak akan jadi pulang keAmerika. Dan aku putuskan, untuk kita berbulan madu disini dulu,"


"Maksudmu?" Tanya Alana, yang tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya.


"Perusahaan disini sudah aku jual. Dan aku tidak akan melakukan aktifitas apa-apa, selama berada diLondon. Jadi kau, dan aku akan fokus membuat adik bayi untuk Louis, dan Louisa. Dan setelah kau hamil, baru kita pulang. Sebab kalau disana, membuat adik bayi pasti akan terganggu dengan mereka berdua."


'Kau sangat, menyebalkan Dave?" Ucap Alana tersenyum, dengan memukul pelan dada suaminya.


"Dan aku ingin, kita membuatnya sekarang." Dengan langsung menggendong tubuh istrinya, hingga membuat Alana begitu kaget.


"Dave, apa yang kau lakukan?" Tanyanya, bingung.


"Apakah kau mau kita melakukan hal itu disini? kau lihat disana, ada Daven," Jawab Dave, dengan tatapan mata menatap sekretrisnya, yang tengah menata mereka dari kejauhan.


Raut wajah itu seketika pucat pasih, dan terlihat gugup.


"Ma.., maafkan saya Tuan? saya tidak bermaksud, untuk melihat ini semua," Ucap Daven, menunduk.


Alana segera menyebunyikan wajah ditengkuk suaminya, sebab merasa malu dengan sekretaris suaminya itu.


"Kau membuatku, malu Dave?" Ucap Alana berbisik pelan, saat berada dalam gendongan Dave.


"Daven.."


"Iya Tuan,"


"Kita batalkan keberangkatan kita, keAmerika. Sebab aku, dan istriku harus memulai kerja samanya hari ini juga." Ucap Dave, dengan berlalu menuju arah tangga bersama Alana.


"Baik Tuan,"


Daven nampak menimang apa yang dikatakan Tuanmudanya tadi, dan pria itu terlihat bingung.


"Kerjasama, kerjasama apa yang akan mereka lakukan dikamar?" Dan dia larut dalam pemikirannya sesaat, berusaha memikirkan perkataan Tuanmudanya tadi.


Tapi seketika senyuman mengembang diwajah sekretarisnya itu, saat sudah memahami apa yag dimaksud oleh Bosnya.


"Mereka akan bekerja sama membuat adik bayi, untuk kedua anak mereka."

__ADS_1


__ADS_2