Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Gelora asmara


__ADS_3

Hadi memarkir mobilnya di depan agak jauh dari kamar kost kostan Arini,Hadi celingukan sendiri depan pintu,ngetuk pintu nggak ada yang nyahutin,coba beri salam nggak ada yang jawab,coba panggil nama penghuninya nggak ada tanda tanda kehidupan,tapi di tengok dari jendela kacanya di dalam terang.


Hadi mencoba buka handel pintunya nggak dikunci,Hadi masuk pelan pelan barangkali di kamar mandi fikirnya,tapi sepi aja,Kayaknya Arini ada di rumah,lihat barang barangnya ada dan berantakan.


Hadi tertegun melihat sosok Arini tertidur dengan pulas di kasurnya, Hadi melihat sekeliling ruangan,sajadah dan kain mukena yang belum di bereskan,semua di simpan begitu aja bukan pada tempatnya, Hadi geleng geleng kepala.


Hadi duduk di ujung tempat tidur Arini pelan pelan menatap Arini yang lagi tidur,polos mukanya, cantik parasnya, rambutnya yang sejengkal di bawah pundaknya tergerai begitu saja,badan Arini putih mulus hanya mengenakan tangtop merah kontras dengan kulitnya yang putih.


Hadi ingin mengusapnya,ingin membelainya,ingin memeluknya, tapi Ia kasihan dan membiarkan saja Arini lelap dalam tidurnya, Hadi pun pindah duduknya ke kursi panjang.


Hadi coba menelepon ke ponsel Arini yang di dekatkan ke bantalnya, Arini bergerak pelan meraba raba tapi yang di pegangnya bukan ponsel nya tapi tangan,ya tangan seseorang, Arini kaget bukan kepalang dan bangun terduduk,


"Mas Hadi ?Hai masuk tempat orang nggak permisi,ngintip orang tidur lagi"


Arini gelagapan,gugup,malu, marah,tangannya sibuk mencari penutup badan dan kepalanya.


"Tenang tenang,maaf,maaf ya Rin aku nggak sengaja,habis aku salam nggak di jawab panggil panggil kamu juga nggak di jawab juga,aku takut ada apa apa sama kamu,pintunya nggak di kunci,tahunya jam segini tidur"


Arini diam ada rasa malu di hatinya,Arini diam seribu bahasa.


"Ok ok aku balik badan nih nggak ngelihat kamu,cepet pake baju sama kerudung mu"


Setengah loncat Arini ke belakang buka lemarinya dan mengambil kaos sweater dan kerudung instannya,setelah di rasa sopan baru ke depan duduk terdiam di kursi panjang juga.


"Capek ya,sampai ketiduran"


Arini masih diam melipatkan kedua tangannya di dada, perasaannya masih kesal.


"Jalan jalan yu,aku punya kejutan buatmu mau ?"


Arini melirik Hadi dengan mimik masih kesal,sambil membuka matanya lebar lebar serta bahu yang di angkat,tanda Ia merasa enggan,dan malas.


Hadi mencolek hidung Arini gemas,Arini menepisnya,Hadi menarik kepala Arini ke bahunya,meremas tangannya.


"Aku kan udah minta maaf,


yu keluar aku kasih sesuatu yang pasti kamu suka"


Hadi menarik tangan Arini berdiri,Arini mau tak mau berdiri juga.


"Tapi peluk aku dulu''


"Aaaaah Mas"


Arini meronta sambil memukul mukul dada Hadi manja, Hadi merangkulnya sambil tertawa dan mencium ubun ubun Arini.


Mereka berjalan keluar beriringan.


Mobil melaju entah ke arah mana,Arini tak tahu,biarlah paling Mas Hadi ngajak makan terus kasih semacam hadiah yang dirasanya romantis,setangkai bunga mawar merah,atau cincin,atau juga kalung hati atau semacamnya.


Mobil masuk ke perumahan elite yang berjejer rapi,melewati penjagaan satpam segala,timbul rasa curiga Arini,jangan jangan Mas hadi menculikku, membawanya ke satu rumah dan...dan...dan akan memaksa,yang pasti fikiran jelek jelek aja.

__ADS_1


"Stop,stopMas mau kemana ini ?"


Hadi ngerem mendadak karena Arini berteriak..mobil berhenti di pinggir jalan.


"Sayang,kan aku mau ngasih kejutan sama kamu"


"Nggak,aku nggak mau kejutanmu,aku turun di sini saja aku takut"


"Hai hai Rin denger,aku Hadinata nih lihat lihat,kamu nggak percaya ?Aku nggak punya niat jahat sama kamu,aku cinta, sayang sama kamu,aku mau membahagiakan kamu,


Kita jalan sebentar lagi ya"


Arini diam aja, Hadi menggenggam tangan Arini,mobil berhenti di depan salah satu rumah mewah, minimalis 2 lantai.


"Apa ini rumahmu Mas,sama Bu Hesti ?"


"Ssssssssst..."


Hadi menggeleng memberi kode pada Arini untuk mengikutinya, mereka turun dari mobil, Arini planga plongo tempat apaan ini,dan di mana,dirinya baru menginjak daerah ini Arini merasa ini tempat asing baginya,


Hadi menarik tangan Arini ke salah satu pintu rumah itu dan membuka kuncinya dan menghidupkan lampunya.


Setelah di dalam,mereka keliling keliling tengok sana sini.


Ke atas yu...Hadi menarik tangan Arini yang masih belum mengerti,mereka menaiki tangga yang berbelok, sampai di atas Hadi buka pintu depan tampak pagar keemasan penghalang teras depan bagian atas rumah ini.


Hadi berdiri tersenyum, melambaikan tangan pada Arini agar mendekat,Arini menghampirinya mengharap penjelasan,mereka berdiri sisi pagar berhadapan.


Apa kamu suka ?"


"Mas,Aaaku aaaku..."


"Jangan mengatakan apapun,aku sayang kamu Rin,aku ingin kamu bahagia,aku ingin serius sama kamu aku ingin menikahi kamu aku ingin kamu menjadi istriku, ibu dari anak anakku"


Hadi memeluk Arini erat, Arini berlinang air mata, Hadi mengusapnya lembut penuh kasih sayang,sekali lagi mereka berpelukan.


Hadi tak perlu jawaban Arini,semuanya tergambar jelas mereka saling cinta,sorot mata dan perlakuan satu sama lain adalah jawaban.


Hadi menuntun Arini memasuki satu kamar yang ukurannya paling besar diantara kamar kamar lain.


"Ini kamarmu Rin,kamar kita suatu saat kita akan mengisinya bersama"


Sini coba, Hadi memanggil Arini melihat pemandangan luar,


Arini menghampiri,Hadi meraih pinggangnya,Pemandangan yang menakjubkan,bintang di malam hari terlihat jelas,ada yang berkedip kedip ada juga yang diam,langit yang benderang terlihat lengang.


"Rin,kamu melihat semua bintang itu ?"


"Ya Mas,kenapa ?"


"Bisa menghitungnya ?"

__ADS_1


"Ya enggak lah"


"Menurut para ahli yang bisa menghitung bintang katanya ganjil jumlahnya,padahal seharusnya genap seperti ada siang juga malam,ada cewek juga cowok tapi aku percaya para ahli itu kamu percaya nggak ?"


"Emght aku tak yakin,karena aku belum pernah menghitungnya sendiri"


"Arini,kamu harus yakin bintang itu ganjil,kenapa ganjil ? karena yang satu sudah jatuh di hadapanku ini"


Hadi berkata sambil menepuk kedua bahu Arini.


"Aaaah, Mas curang,gombal gombal tahu"


"Haaaaaaaa..."


Hadi menarik Arini,lebih dekat lagi,lebih dekat lagi,memegang kedua pipi Arini, mengelusnya, dan merekapun berpandangan dengan getaran masing masing Hadi begitu lama memandang wajah Arini,wajah yang akhir akhir ini membuat semua konsentrasinya buyar,Arini bagai tersengat aliran listrik kejang ke seluruh pembuluh darahnya, nafas keduanya tersengal sengal tak beraturan,menahan debaran hati mereka,tanpa kata juga suara,Arini membalasnya tanpa malu malu dan memeluk Hadi, sama terbakarnya,mereka begitu menikmati semua gelora yang ada dalam jiwanya,seperti kemarau yang begitu lama tersiram air hujan,seperti musafir yang telah jauh mengelana merindukan oase di gurun gurun.


Dari berdiri berpelukan, bergenggaman tangan dan berpandangan di benderangnya langit berbintang,tak ada puasnya ingin terus dan terus mereguk kehangatan, menumpahkan semua rasa yang lama tertunda,seakan esok tak kembali,atau rasa itu keburu hilang.


Tanpa di sadari mereka bergulingan di spring bad yang masih terbungkus plastik,sesaat mereka tersadar oleh suara kresek kresek plastiknya dan sama sama tersenyum geli.


Seperti telah melepaskan beban yang teramat berat,Arini dan Hadi bangun terduduk tersadar dari kasmarannya mengatur nafas mereka, berdua berpandangan tanpa ada bosannya,sebelah tangan mereka bergenggaman,sebelah tangan lain Hadi memainkan hidung,mata,alis,pipi dan bibir juga dagu Arini,Dunia seakan tak punya masalah bagi mereka, yang ada hanya manisnya madu cinta dan rasa yang mereka miliki.


"Sayang,apa kamu bahagia ?"


"Selagi Mas mencintaiku,aku pasti bahagia"


"Aku tahu itu sayang telah lama aku mempersiapkan semua ini untukmu,akan aku berikan semuanya asal kau bahagia,


Dan satu lagi"


Hadi mencabut dompetnya dari saku belakang da memilih salah satu atm dan memberikannya pada Arini.


"Pegang ini untukmu,pakai sesuai kebutuhanmu,mau belanja pakaian,mau perawatan, mau ke salon beli apa yang kamu butuhkan"


"Mas,nggak usah,aku merasa cukup dengan semua yang aku dapat selama ini aku nggak enak"


"Nggak enak sama siapa ?


Rin,aku bukan orang pelit untuk berbagi dengan orang yang aku sayang,Aku belum perenah memberi apapun sama kamu"


"Apa Mas mau membeli aku ? jadi kemana semua ketulusan rasa yang aku berikan selama ini,aku juga mencintaimu Mas,aku ingin rasa yang sama dari Mas bukan berupa materi"


"Ya Ampun Arini sayang,maafkan aku,maafkan ya,kamu salah faham,aku bukan membeli mu aku begitu menghargaimu,kalau aku mau membeli banyak cinta sesaat yang di jajakan di pinggir jalan juga,aku bukan orang seperti itu,selama ini aku tidak meminta dan menuntut yang bukan bukan darimu Rin,Aku begitu menghargaimu,kalaupun aku memberi padamu itu adalah bentuk dari rasa sayang itu sendiri"


Arini terisak,di pelukan Hadi, Hadi mengusap usapnya.


"Ya sudah,aku bukan mau menyakitimu,kalau kamu nggak mau memakainya setidaknya simpanlah sampai waktu kamu merasa berhak menggunakannya ya"


Arini terdiam,Hadi mengajaknya turun,untuk melihat lihat bagian lain dari seluk beluk seisi rumah sampai ke dapur dapurnya.. dan halamannya.


"Rumahnya masih perlu sentuhan tangan wanita sepertimu Rin, kita bisa berdiskusi dan menyatukan selera kita, apa apa yang perlu di beli ke depannya untuk melengkapi isi rumah ini"

__ADS_1


"Iya Mas...


__ADS_2