
Demikian rutinitas dan aktivitas mereka jalani dengan penuh kebahagiaan dan rasa cinta yang membuncah di antara keduanya. Menghabiskan hari-hari dan bulan madu mereka seperti tak ada kekurangan, mereka saling menyempurnakan kekurangan mereka, saling memberi dan menerima juga saling menutupi kekurangan masing-masing.
Dua bulan sudah berlalu seperti biasa Andini selalu bangun duluan tetapi pagi itu dia merasa sakit seluruh badannya, kepalanya pusing luar biasa, Andini tidak bisa bangun dan membangunkan suaminya menyampaikan keluhan yang di rasanya.
"Mas aku sepertinya kurang enak badan kepalaku pusing dan aku pengen muntah, mual banget, perut ku seperti diaduk-aduk Mas bangun!"
Berkali Andini membangunkan dan menggoyangkan tubuh suaminya yang terlelap, Arman bangun dan kaget melihat istrinya dalam keadaan pucat duduk lesu di sampingnya.
"Mas, Mas aku pengen muntah, aku gak enak badan, ya Allah aku masuk angin sepertinya ini."
Arman meraba kening istrinya dan meloncat turun dari tempat tidur.
"Ya sudah kamu duduk aja di situ, kamu panas banget, aku ambilkan ember bersama lap jangan turun dulu sampai kamu merasa enakkan."
Sebelum suaminya datang membawakan ember dan lap Andini sudah muntah duluan ke ubin di bawah tempat tidur, terasa pahit mulut nya.
"Ya Allah Mas, maaf aku nggak kuat."
"Nggak apa-apa sayang kamu benar-benar sakit ini, biar nanti aku bersihkan, kamu duduk aja di situ entar aku ambilkan dulu air hangat biar kamu minum dulu ya."
"Mas aku pusing banget, seperti keleyengan dan aku sepertinya nggak kuat kerja hari ini."
"Nggak usah mikirin kerja dulu yang penting kamu sehat, nanti aku antar kamu ke dokter dulu biar kamu bisa istirahat dan minum obat."
Arman mengambil air hangat dan memberikannya kepada istrinya setelah merasa tenang Arman membersihkan muntah di ubin.
"Mas, apa ini tanda tanda kehamilan ya? soalnya aku merasa bulan ini aku belum mendapatkan menstruasi tetapi jangan senang dulu takut ini hanya masuk angin biasa untuk memastikannya kita periksa ke dokter."
"Ya ya ya, kamu tenang sayang, aku seneng banget walau semua itu belum pasti." Arman memeluk Andini dan menciumnya sambil mengusap keringat yang memenuhi keningnya.
__ADS_1
"Aku mandi sekarang ya sayang, sudah itu kita periksa ke dokter semoga harapan kita segera terwujud."
Arman setengah berlari masuk ke kamar mandi dengan berisik kedengaran langsung mandi jebar jebur khas mandi seorang laki-laki Adini menyandarkan kepalanya di bantal yang ditinggikan.
Andini merasa ini adalah firasat kehamilan karena ada kesamaan saat dulu kakaknya Arini mengalami hal seperti ini dengan tanda-tanda bangun tidur merasa pusing mual walaupun tidak sampai muntah tetapi dirinya barusan sampai muntah segala.
Andini mencabut ponsel yang sedang di-charge di meja kecil di samping tempat tidur dan ternyata yang dicabut adalah ponsel suaminya tetapi Andini tetap saja membuka-buka melihat ada apa di ponsel suaminya.
Mereka tak ada sedikitpun yang disembunyikan segalanya serba terbuka tentang pekerjaan, sahabat, dan siapa saja yang masuk di ponsel masing masing, semua tidak menjadi permasalahan bagi mereka tetapi Andini melihat ada keganjilan satu pesan yang disampaikan oleh sahabatnya Arman yaitu Hans Wijaya dia menulis pesan seperti ini.
Bos aku udah transfer 1M taruhan kita, Bos memenangkannya. Selamat ya untuk pernikahannya dan Miss 1M nya, semoga bahagia selalu walau semua berawal dari taruhan haaaa...
Andini mengerutkan darinya berusaha mencerna isi dari pesan yang disampaikan sahabat suaminya itu.
Tapi Andini tak bisa mengartikan semuanya hanya mengirimkan ke ponselnya untuk suatu saat nanti dia akan melihat dan mempelajari dengan jelas apa maksudnya semua itu, dan Andini tak ingin bertanya kepada suaminya takut semua salah paham walau hatinya penuh dengan tanda tanya.
Andini menaruh kembali ponsel suaminya. "Mas, kalau aku hamil gimana?"
"Ya nggak apa-apa sayang, kan itu keinginan kita harapan kita, menikah resikonya punya anak. Kita tiap malam melakukannya berharap seperti itu ayo kamu kuat enggak kalau enggak kuat aku gendong ya mau?"
"Aku kuat Mas, aku malah ngeri kamu pangku takut jatuh."
Dengan telaten Arman menunggu Andini di luar kamar mandi takut istrinya ada apa-apa atau jatuh takut pusing lagi, dan saat berdandan juga begitu perhatian ikut membetulkan apa yang dipakai sama istrinya.
Walaupun hatinya penuh dengan tanda tanya tapi Andini tidak memperlihatkan tanda tanya di depan suaminya, Arman begitu perhatian sampai ke hal yang sekecil apapun, Andini mengakui kalau suaminya benar-benar mencintainya tetapi kenapa ada perkataan dan pesan yang disampaikan sahabatnya seperti itu?
Sungguh semua itu menurunkan segala mood-nya pagi itu, apalagi dirinya dalam keadaan pusing dan mual seperti ini, kata 'taruhan' terus saja bergaung berputar mengisi otak dan pikirannya.
Samapi dokter umum mereka langsung mendapatkan panggilan untuk periksa dan konsultasi menceritakan semuanya. Karena dirasa semua itu tidak seperti biasanya apalagi ditambah dengan kecurigaan kalau Andini sampai saat ini belum mendapatkan tamu bulanan.
__ADS_1
Andini di perikasa intensif dari mulai tensi keluhan yang dirasa dan dokter menyarankan untuk test urine. Andini dan Arman menunggu dengan perasaan masing-masing sampai pada akhirnya dokter dan suster datang membawa hasil test.
"Bu Andini Pak Arman, sakitnya Bu Andini adalah awal kebahagiaan kalian, selamat Bu Andini hamil kalian akan menjadi seorang Ibu dan Bapak, kehamilan Bu Andini menginjak usia Minggu ke-5 keadaannya sehat dan sakitnya itu adalah hal biasa yang dialami seorang Ibu hamil muda, merasa pusing, mual sebagainya Itu adalah perubahan hormon di dalam tubuh badan yang memicu perubahan juga kepada kondisi fisik dan tubuhnya."
"Ya ampuuuuun...sayang kamu hamil? terimakasih Ya Allah telah mempercayakan kepada kami."
Arman bersuka cita memeluk Andini, Andini kelihatan masih saja bengong seakan tak percaya kalau dirinya sekarang telah berbadan dua.
"Jaga kesehatan jangan terlalu capek dalam aktivitas, perbanyak istirahat melakukan hal-hal yang menyenangkan dan makan makanan yang bergizi untuk menunjang kelancaran sehat selama kehamilan. Jangan lupa minum susu untuk perkembangan otak janin dalam perut ibu."
"Terimakasih dokter."
"Iya, Ibu masih bisa beraktivitas yang bermanfaat, kalau tidak ada aktivitas juga jenuh tetapi dibatasi dan yang dirasa wajar saja, mengingat selemah-lemahnya seorang Ibu adalah saat mereka dalam keadaan hamil."
"Saya beri resepnvitamin dan nutrisi tambahan lainnya. Dan jangan lupa periksa kan kehamilan Ibu ada tidak ada keluhan tetap pantau perkembangannya dan untuk lebih memastikan setelah 4 bulan keatas Ibu bisa USG untuk melihat lebih detil perkembangan janin dalam perut Ibu."
"Oke dokter siap, mulai sekarang saya akan menjadi suami siaga buat istri saya." Arman mencium pipi Andini.
Dokter itu tersenyum. Arman dan Andini pamit, Arman merengkuh bahu Andini seakan ingin melindungi sekecil apapun sesuata yang akan menimpa terhadap istrinya.
*****
Meniti Pelangi memasuki bab bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Masa Lalu Sang Presdir by Enis Sudrajat. fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1