Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Positif


__ADS_3

Sesampainya di rumah Arman memeluk Andini dan menciumi perut yang masih rata itu.


Kebahagiaan tak terhingga diperlihatkan Arman. Walaupun Andini sendiri begitu bahagia tetapi ada ganjalan di dalam hatinya sesuatu yang ingin ditanyakan terhadap suaminya.


"Sayang kita akan punya anak buah hati kita, buah cinta kita, tak sia-sia kita praktik tiap malam akhirnya jadi juga, cewek apa cowok ya? kalau cowok pasti ganteng seperti aku juga kalau cewek pasti cantik seperti kamu, sayang kamu cenderung pengennya apa?"


"Aku apa aja Mas. Yang penting sehat cewek cowok sama aja, jangan kita menginginkan satu kelamin saja karena kalau kita dikasihnya lain dari harapan kita takutnya kita kecewa jadi kita terima aja apa yang diberikan Yang Maha Kuasa."


"Iya sayang, pokoknya aku akan mengontrol kehidupan kamu, jangan capek, makan harus teratur dan bergizi, minum susu, minum vitamin, pulang pergi ke toko aku yang antar jemput."


"Hadeuuuuuuuh Mas, banyak banget aturannya aku ini hamil masih kecil aku masih hamil muda, aku masih bisa beraktivitas jangan khawatir aku juga bisa menjaga diri dan merasakan sendiri."


"Nggak boleh nolak, ingat kata dokter tadi."


"Aaaaaah... gimana Mas Arman aja! aku pusing mau tiduran, ingat juga tadi kata dokter janin masih kecil dan labil jangan sering sering di tengok, nanti kalau sudah kuat kehamilan di atas tiga bulan baru boleh."


"Tapi pelan-pelan bisa kan?"


"Nggak!"


"Lho kok jadi ngambek gitu sayang? kenapa apa kamu nggak bahagia dengan khabar kehamilan mu itu?"


"Aku bahagia, tapi aku nggak tahu kenapa jadi sebel dan benci sama Mas Arman."


"Ya ampuuuuun...sayang apa salahku? kalau aku salah aku minta maaf terus kenapa kamu jadi tiba-tiba benci sama aku?"


"Pokoknya aku benci."


"Haaaaaaaa...tapi kan harus jelas masalahnya, masa aku begitu senangnya kamu hamil terus kita akan punya anak kok kamu jadi aneh begini? tiba-tiba saja kamu benci nggak jelas persoalannya apa, tiba-tiba kamu benci aku kan gak ngerti."


"Mas nggak usah ngerti aku benci aja titik."


"Oke, mungkin itu keanehan seorang Ibu hamil, aku terima mau dibenci mau diapain juga sama kamu. Tapi kamu ikuti saran dokter aku tidak marah tidak apa-apa."


Andini diam sikapnya berubah 180 derajat, Arman tak mengerti apa memang ibu hamil menjadi sensitif seperti ini?


"Sayang, apa kamu percaya satu cerita Ibu hamil?"


"Nggak!"


"Tapi kamu harus dengar dulu ceritanya seperti ini. Ada seorang Ibu hamil membenci seseorang pas lahir anaknya jadi mirip bahkan percis orang yang dibencinya. Apakah kamu mungkin seperti dalam cerita itu?"


"Kok ceritanya pendek amat?"

__ADS_1


"Haaaa...emang cerita pendek."


"Aku nggak tahu, mirip aku apa mirip Mas Arman biarin saja."


"Tapi jangan marah lagi ya, aku kan jadi sedih dan jadi malas pergi ke kantor, maunya peluk kamu dan cium perut dan usap usap perut kamu, juga nengokin bakal calon anak kita."


Arman mulai memeluk dan membelai Andini yang lagi rebahan di tempat tidur dengan hati-hati.


"Mas, mau ngapain?"


"Sayang jangan begitu, aku kan suamimu aku menginginkanmu, nggak baik lho nolak suami."


"Kan udah semalam, malah dua kali sama paginya sebelum bangun."


"Tapi itu kan malam, sekarang ini pagi menjelang siang apa salahnya kita malas malasan sambil aku pengen banget menengok bakal calon anak kita."


Andini tak bisa menolak, tak ada alasan dirinya untuk bisa menolak. Karena memang pusingnya sudah hilang walaupun belum mulai minum obat, rencananya nanti setelah makan siang mulai meminum vitamin yang dibeli tadi di apotik.


"Boleh kan sayang, terus kita mau ngapain kalau nggak 'main' berdua di tempat tidur?"


"Boleh, tapi harus pelan dan hati-hati, jangan merangsang ku terlalu berlebihan."


"Siap sayang."


Berkali-kali Arman mencium perut rata istrinya membuat Andini kegelian dalam permainan dan usapan juga ciuman suaminya.


"Sayang, kata orang paling enak berhubungan saat istri hamil, makanya aku begitu terobsesi dan selalu ingin mencoba."


"Ah Mas memang doyan banget, hamil nggak hamil praktek melulu siang malam."


"Haaaa...tapi kan ada hasilnya terbukti?"


"Ah Mas!"


"Kenapa sayang sakit?"


"Nggak, lanjutkan!"


"Haaa...kamu bikin kaget aku aja, aku mencoba pelan ya, kamu diam aja nggak usah banyak gaya jaga perut kamu."


Andini tersenyum membelai dada suaminya walaupun dalam hatinya banyak sekali ketakutan dan ganjalan tapi mencoba menikmati dan melayani keinginan suaminya.


"Mas, habis ini Mas beli makanan yang banyak ya? pokoknya aku pengen makan, cimol, cireng, cilung, cilok, cilor, cendil, candil, cendol."

__ADS_1


"Itu..ca-rinya..di ma-na ma-kanan itu sa-yang?" Arman bicara terputus putus sembari menyelesaikan puncak permainannya di atas Istrinya dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku nggak tahu, tapi aku ingin makan itu semua."


"Iya, itu semua nama makanan apa? aku akan coba cari sampai ke Bogor dan Cianjur, Subang, Sumedang, Purwakarta, apa akan habis semua itu?"


"Habis lah."


"Sekarang kita mandi dulu, lalu kita cari bersama kalau nggak dapat biar kamu percaya."


"Aku nggak mau, mau istirahat di sini."


"Kalau nggak mau pergi sama aku cari makanan itu, biar aku naik aja lagi, bangun nggak?"


"Hait... enak aja, Mas udah melebihi takaran minum obat, oke aku ikut tapi pelan-pelan bawa mobilnya."


"Haaaa...siap apa lagi aturannya hemght?"


Arman berpikir memang harus banyak sabar menghadapi wanita hamil, tapi sepertinya ada hal yang di buat-buat istrinya yang membuat Arman geli sendiri, Andini pada awalnya nggak seperti ini nggak banyak maunya. Malah suka menolak di tawari apa-apa juga, memang ini keinginan saat hamil mungkin dan segala kemauannya ada hubungan dengan calon anak di dalam perutnya.


Mau makan makanan aneh-aneh padahal baru tadi ketahuan hamil. Dan di situ Arman tahu ini benar-benar dibuat-buat dan cemberutnya Itu bukan marah beneran itu hanya mencari perhatian dirinya biar bisa lebih memanjakannya.


Makanan di daftar banyak banget apa kemakan kalau dapat semuanya? aneh memang.


Arman mencium pipi istrinya yang masih belum mau bangun, mencoba membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Mandi bareng yuk!"


Andini mengangguk lalu menyodorkan tangannya minta dibantu untuk bangun.


"Sayang kok kamu tambah manja aja sih? nggak manja juga aku akan memanjakan mu sayang."


"Perasaan aku nggak manja, biasa aja Mas."


"Iya, aku semakin sayang sama kamu, jaga anak kita ya, apa-apa harus hati-hati."


*****


Meniti Pelangi memasuki bab bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Masa Lalu Sang Presdir by Enis Sudrajat. fav, like dan vote ya 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2