
"Hai bro sabar pesawat ada jadwalnya nggak mengikuti kata rindu seseorang, walaupun lo lari sekuat tenaga tetap saja berangkatnya sesuai jadwal belum lagi kalau ada hambatan."
"Gue biasa aja, cuma nggak sabar kangen melihat senyum Andini."
"Senyumnya apa bibirnya?" Hans menggoda Arman.
"Pokoknya semuanya lah"
"Baru seminggu belum sebulan atau setahun."
"Alah cepet lo mandi gue sudah dari shubuh tadi mandi packing pakaian dan siap meluncur ngapain lama-lama kalau bisa di percepat."
"Yang kangen kagak tahan cuy" Hans malah menggoda Arman.
"Lo kayak nggak merasakan aja lama lama mau gue tampol kepala lo itu!?"
"Haaa...rindu memang nggak sabar, tanya tuh cewek lo rindu juga nggak. jangan-jangan cuma lo sendiri yang merindu."
"Enak aja! gue tahu hatinya Andini tiap hari tiap malam kita teleponan, video call dan segudang pesan pesan singkat kangen, masa gue nggak tahu kalau orang tak merindu merengek pengen ketemu?"
"Kali aja elo yang ganjen sendiri."
Hans Wijaya malah makin menggoda.
"Cepetan mandi kalau nggak gue lempar asbak nih!"
"Lihat tuh baru jam tujuh. Kita punya jadwal terbang jam 10 masih lama bro mending lo sarapan dulu."
"Gue sudah sarapan dari pagi juga, lagian kalau masih pagi mana mood orang makan apa-apa yang penting ngopi sama minum air putih udah itu aja."
"Tapi kali ini lho mesti sarapan percaya gue deh kalau lo nanti ketemu cewek lo terus lo belum sarapan gue khawatir lo pingsan nanti malah gue yang repot."
"Hans Wijaya mandi nggak lo?!
"Oke boss, gue mandi karena gue mau ketemu cewek cantik lo, siapa tahu cewek lo punya teman nganggur dan menanti cowok idaman seperti gue."
"Kalaupun Andini punya teman, gue malah menyarankan tidak direkomendasikan buat elo."
"Wah jahat banget lo, bukannya mendukung malah membiarkan gue sedikit lagi nyemplung."
"Ngoceh melulu lo, gue tendang lo kalau nggak mandi-mandi.
"Kok jadi gue yang kena sasarannya sih?"
__ADS_1
"Sesukamu lah pokoknya gue menelepon dulu sama Andini."
"Telephon teruuuus... padahal bentar lagi juga ketemu."
Hans tertawa sambil langsung keluar kamar Arman, mungkin mau mandi dan membiarkan Arman mulai menelepon.
"Halo Mas?"
"Ya sayang, sudah mandi?"
"Kok tanyanya mandi sih?"
"Emang kenapa?"
"Aku mengira kalau kamu itu sudah mandi, sudah cantik dan wangi banget."
"Iya Mas aku sudah mandi."
"Tuh kan tebakanku benar kalau kamu itu jam segini pasti sudah mandi, karena wanginya sampai ke sini nih ke hidung aku tercium banget."
"Mas suka ada-ada aja deh."
"Karena aku kangen banget sama kamu, tapi sayang aku belum pasti pulangnya nggak tahu besok atau lusa." Arman berbohong.
"Iya masih ada pertemuan yang belum kami tuntaskan, jadi pulangnya ditunda dulu rindunya ditunda dulu juga surprisenya ditunda dulu, enggak apa-apa kan sayang?"
"Nggak apa-apa Mas, lagian hari ini aku juga mau ke kampus dulu mau melihat pengumuman untuk jadwal wisuda dan lain-lainnya. Aku mungkin ke kampus dulu sampai siang jadi tokonya tutup dulu."
"Kalau aku disitu ingin rasanya aku mengantar kamu dan pulangnya kita jalan-jalan sambil melepas rindu."
"Iya Mas, masih banyak waktu kita kedepan untuk selalu bersama-sama."
"Kamu sudah mulai betah di situ kan sayang?"
"Banget Mas, makasih ya Mas telah mengubah hidup aku sekarang aku begitu semangat mengerjakan apapun tiada hari tanpa semangat dan yang paling semangat akhir-akhir ini adalah menunggu kedatangan mu Mas."
"Aaaaaah...sayang kok kamu ngomongnya begitu? aku jadi kangen banget nih dengarnya, aku ingin terbang langsung ke pelukanmu."
"Habis aku belum pernah merasakan dan belum pernah merindukan seseorang seperti ini Mas."
"Kamu jujur banget sayang membuat aku semakin cinta sama kamu, dan rasanya semuanya menjadi tidak fokus sebelum aku bisa bertemu dengan kamu, tapi aku bersyukur kamu adalah yang hadir disaat hatiku mulai terpuruk dan membangkitkan lagi semangat kerjaku hingga sampai pada hari ini aku sendiri merasa tercengang dengan pencapaian ku dan aku janji akan memberi kejutan buat kamu."
"Kejutan apalagi Mas? ini semua yang aku nikmati sekarang sudah lebih dari cukup Mas, Mas yang menjamin hidup aku memenuhi segala keperluanku dan kebutuhanku, aku nggak berharap lebih apalagi aku belum resmi menjadi istri Mas Arman."
__ADS_1
"Ssssst... jangan ngomong seperti itu Aku ikhlas dengan semuanya bahkan aku ingin memberi lebih kepadamu karena suatu saat kamu akan menjadi istriku."
"Mas aku kangen."
"Sama, tapi udah dulu ya tuh temanku sudah teriak-teriak seperti orang yang kesurupan. Nanti ada waktu kita sambung lagi kamu hati-hati ke kampusnya, Jangan lirik-lirik kan sudah ada aku yang lagi kamu rindukan, kalau sudah selesai langsung pulang."
"Iya Mas."
"Ya sudah sampai ketemu ya."
Telephon terputus Arman menjatuhkan dirinya di tempat tidur sambil membayangkan seorang Andini yang tak hilang dari otak pikiran dan perasaannya. Mendengar suaranya kenikmatan tersendiri bagi dirinya dan melihat foto di ponselnya benar-benar membuat Arman melayang dengan angan-angan yang tak terjangkau.
Tubuhnya yang tinggi putih semampai berbicara begitu lembut dan empuk kedengarannya, saat tertawa begitu renyah, senyumnya begitu memabukkan dan melihat parasnya sesuatu yang tak akan terlupakan.
Andini aku ingin memilikimu seutuhnya dan aku ingin menjadikan kamu seorang istri sebagai pendampingku yang bisa mengobati semua galau hatiku seperti saat ini.
"Hai jadi nggak pulangnya? malah mengumbar lamunan, jorok pastinya ya yang ada di otak lo?"
"Jadi lah, enak aja gue ngelamun jorok emang elo?"
"Hai bro seandainya gue kalah dan lo nikah duluan 1M nya buat beli apa?"
"Haaaaaaaa...lo sudah keder duluan ya siap-siap kebobolan 1M? paling gue mau persembahkan buat seorang perempuan yang bisa gue nikahi."
"Wow. lo emang jenis makhluk langka yang hampir punah bro.
Gue saranin jangan seratus persen mencintai itu sisain lah nol koma berapa di hati lo, karena kalau habis rasa cinta itu lo berikan suatu saat lo kecewa oleh perasaan cinta itu sendiri lo end! lo mampus!"
"Tapi itu hanya pendapat sebagian orang yang gagal dalam mencapai kebahagiaan cintanya dan meraih mimpi dengan orang yang dicintainya."
"Bro, bro oke selamat menikmati manis madunya cinta dan gejolak asmara yang membara, akan gue kasih julukan seandainya cewek lo yang menjadi pemenang akan aku sebut dia " Miss 1M"
"Sembarangan. Jangan sekali-kali lo ucapkan kedengaran cewek gue ingat ya! dan gue mohon karena itu bagi gue adalah sesuatu yang kurang enak didengar takut gue malah menyinggung dia gue sangat menjaga sekecil apapun perasaannya."
"Oke. oke semua hanya kita berdua yang tahu."
"Sekali lagi gue tawarkan apa lo masih berminat meneruskan perjanjian dan pertaruhan ini? dan semoga ini tidak akan menjadi sesal buat lo."
"Haaaaaaaa...nggak lanjuuuut, Hans Wijaya bukan bukan orang penakut bukan orang yang plin-plan dan bukan orang yang suka ingkar akan janji."
"Siap bro, gue siap kalah dan siap menang!"
Mereka keluar dari kamar hotel dan membawa koper masing-masing, mereka check-out ke resepsionis dan memesan taksi ke bandara Juanda menuju bandara Husein Sastranegara Bandung.
__ADS_1
_Selamat membaca,Terimakasih!