Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Kelahiran


__ADS_3

Proses panjang prosedur rumahsakit akhirnya selesai juga,setelah mendapat rekomendasi pulang Arini begitu gembira,minimal dirinya tak bolak balik rumahsakit dan bisa merawat suaminya di rumah,dirinya bisa tenang mengawasi dan mengontrol suaminya sambil menunggu masa masa melahirkan.


Lain dengan Hadi yang menyambut kepulangannya dengan datar datar saja,gurat kesedihan tetap melingkupinya,hanya satu yang menjadi penyemangat hidupnya yaitu Arini istrinya dan kehidupan baru di dalam perutnya.


"Akhirnya kita sampai di rumah Mas"


Semua menyambutnya dengan gembira, Arini memegang samping kursi roda suaminya berjalan pelan,sambil memegang perutnya Pak Priyo mendorong kursi roda diiringi Tyo,Lusy dan Andini,di pintu depan Bapak, Ibu nya juga Bi Minah menyambutnya.


"Mas mau duduk di mana di sofa apa di sini aja ?"


"Saya di sini saja"


"Ayo silahkan duduk Pak Pri,Lusy, Tyo...saya permisi dulu ya"


Arini melenggang ke ruangan belakang,Ibu Bapaknya,Bi Minah juga Andini di ruangan tv,


Hadi duduk di kursi rodanya dan yang lainnya duduk di sofa,Bi Minah datang dengan kue dan teh hangat,juga Arini dengan tentengan toples di tangannya, lalu duduk di sofa samping kursi roda suaminya.


"Pak Pri apa khabar kantor kita ? juga kantor radionya Bu Lusy ?"


"Baik Pak Hadi, Alhamdulillah lancar cuma tender perumahan Departemen Perumahan Rakyat kita nggak masuk Pak,entah di mana kekurangannya"


"Nggak apa yang penting ada proyek lain yang masuk,dan kita masih bisa produktif,


Radionya masih berjalan seperti biasanya kan Bu Lusy ?"


"Iya Mas,saya mulai jarang ke kantor ada Bu Lusy yang bisa kita andalkan ya kan Lus ?" Arini menjawab duluan.


"Iya,Bu Rini Pak Hadi,semoga semua berjalan sesuai keinginan kita,dan saya yang di percaya bisa menjalankan kepercayaan ini"


"Terimakasih untuk team kerja kita Pak Pri juga Bu Lusy semoga kita tetap kompak,


Untuk Lusy,biar istri saya lebih tenang menghadapi persalinan mungkin sementara Bu Rini ngantor dari rumah aja ya"


"Baik Pak"


"Pak Pri,sudah sampai di mana proyek untuk mall ?"


"Masih lancar Pak Hadi,selagi kantor kontraktor berjalan,insya Allah semua berjalan sesuai rencana,sekarang sudah mulai ngecor lantai dua"


"Alhamdulillah semoga lancar"


"Pak Hadi apa sebaiknya tidak di barengi dengan alternatif untuk mempercepat penyembuhannya Pak ?"


"Sementara saya mau menjalankan medis dulu sampai maksimal,biarin trauma saya hilang,baru nanti sudah agak pulih luka luarnya saya cari informasi alternatif"


"Pak Pri saya menitik beratkan pada Pak Pri soal istri saya,seharusnya saya yang siaga tapi berhubung keadaan seperti ini saya mengharapkan Pak Pri setiap saat siang maupun malam siap dengan segala kemungkinan menggantikan saya,saat Istri saya membutuhkan bantuan"


"Iya Pak Hadi saya siap tinggal telephon aja...semoga Bu Arini sehat sehat aja sampai pada waktunya melahirkan nanti"


"Semoga..."


****


Perlu adaptasi yang extra untuk Hadi membiasakan dirinya melakukan rutinitas di dalam rumah,dengan kemampuannya yang hanya satu kaki dan tangan yang berfungsi di tambah luka luar yang belum pulih benar,seperti turun dari kursi roda ke tempat tidur,atau sebaliknya,mau ke kamar mandi,mau duduk di kursi,atau sekedar mau berjemur,perlu bantuan orang lain untuk bisa bangun dan membimbingnya.


Bi Minah dengan telaten selalu membantu dan mengawasinya,juga Arini untuk hal hal pribadinya seperti ke kamar mandi Arini lah yang membantu walau dengan perut yang semakin membuncit.


Rasa kasihan Hadi pada istrinya semakin nyata,dengan berat beban di perutnya Arini masih melakukan mengurus dirinya dan kebutuhan lain dirinya membantu Bi Minah.


Seperti saat ini,Hadi memandang istrinya yang tertidur di sampingnya,ingin rasanya memeluknya mengusap usap perutnya dan menciumnya,juga ingin rasanya dirinya ucapkan terimakasih setiap waktu untuk kesetiaan dan pengorbanannya.


Hadi hanya mengusap usap rambut istrinya yang kejangkau tangannya,Arini membuka matanya dan mendapatkan suaminya lagi menatapnya,Arini kaget takut suaminya membutuhkan sesuatu atau perlu bantuannya.


"Mas,mau minum ? atau mau ke kamar mandi ?"


"Enggak sayang,aku hanya tak bosan memandang mu"


"Aaah Mas,bisa aja...Mas belum tidur ya ?"


"Perasaan aku nggak ngantuk"


"Biar aku temenin ya,atau mas mau makan apa ? atau perlu teman ngobrol ?"

__ADS_1


"Enggak sayang,kamu tidur aja,istirahat yang cukup kasihan bayi di perutmu,sini tidurnya mendekat,aku pengen memelukmu dan bayi di perutmu,aku setiap saat bisa istirahat dan tidur,siang ataupun malam"


Arini mendekatkan tubuhnya ke suaminya,bergenggaman tangan dan membenamkan kepalanya di leher suaminya, begitu ingin dirinya bermanja seperti dahulu saat suaminya masih sehat,tapi keadaan merubah semuanya,Arini tercenung dalam diam sambil merasakan kontraksi halus di dalam perutnya,membuatnya geli dan merangsang sang Ibu buang air kecil,Arini bangun dengan enggan,perasaan ingin buang air kecil mendorongnya pergi ke kamar mandi.


"Rin sayang kok malah bangun ?"


"Aku nggak kuat pengen pipis Mas"


"Ya ampun sayang hati hati,nyalain dulu lampunya semua...kalau enggak kamu pipis di pispot ku aja biar nggak jauh jauh ke kamar mandi"


"Aku bisa kok Mas,jangan berlebihan,semua akan baik baik saja kok,masa semua pipis di pispot ?"


"Nggak apa apa demi kebaikan dan keselamatan apa salahnya ?"


"Aku kuat kok Mas"


Hadi menatap istrinya turun dari tempat tidur,dirinya berusaha bangun dan duduk dengan susah payah,hasratnya yang ingin membantu tapi tak berdaya,


Begitu juga Arini berusaha bangun sekuat tenaga dengan beban berat di perutnya dan kasur yang empuk menenggelamkan sebagian badannya menimbulkan kesulitan tersendiri bagi ibu hamil.


Arini berjalan perlahan ke pintu, Hadi hanya bisa menatapnya dengan sedih,hatinya gundah banyak penyesalan di dalam dirinya kenapa tak merancang kamar mandi di dalam kamarnya dulu biar istrinya kalau mau buang air kecil nggak terlalu jauh,tapi semua serba terlambat.


"Sayang mulai besok suruh Bi Minah tidur di ruangan tengah biar kalau kamu ke kamar mandi ada yang mengawasi kalau Andini lagi di sini suruh aja gantian.


Sekembalinya Arini dari kamar mandi Hadi langsung memberi saran yang dirasanya cukup masuk akal.


"Iya Mas,sekarang kan aku masih kuat nggak apa apa"


"Tapi aku khawatir Rin,tolong dengar aku dan jangan menolak untuk hal ini,apa ibumu nggak bisa nungguin kamu sampai waktunya melahirkan ?"


"Mas,Bi Minah sama Dini juga cukup,Ibu kan masih punya kewajiban mengurus bapak yang masih kerja juga Arya,Mas semua akan berjalan baik baik aja,jangan terlalu cemas kan kata dokter nggak baik buat kesehatan Mas"


"Iya aku mengerti Rin,tapi aku mau yang terbaik buat kamu biar kamu nyaman menghadapi persalinan nanti,aku akan tenang kalau kamu mendapatkan pelayanan yang terbaik,karena aku nggak bisa melakukannya"


"Sudahlah,sudah malam kita tidur lagi ya"


Arini mencium dan memeluk suaminya,Hadi hanya terdiam.


****


"Kemungkinan itu betul tanda tanda melahirkan Neng,cuma itu masih awal,Neng masih bisa mempersiapkan diri, mengumpulkan barang yang di perlukan untuk di bawa ke rumahsakit biar bibi bantuin"


"Berapa lama dari berasa celekat celekit seperti ini sampai lahirnya Bi ?"


"Nggak tentu Neng,ada yang sehari,ada yang dua hari bahkan ada yang tiga hari,ada juga yang pagi berasa sorenya lahiran,Neng rasain aja semakin sering apa masih jarang jarang ?"


"Masih jarang jarang Bi"


"Ya sudah tenang aja,masih banyak waktu mempersiapkan diri,Neng mau di Antar siapa ? apa mau manggil taksi aja ?"


"Entar aja kita fikirkan itu Bi,saya mau nelephon Dini dulu...Eeeh Bi jangan di kasih tahu dulu sama Mas Hadi ya, Biar dia nggak panik biasa aja"


"Baik Neng,terus kalau nanya gimana ?"


"Bibi jawab aja terus terang kalau saya sama Dini sudah berangkat ke rumah bersalin,saya titip Mas Hadi ya Bi"


"Iya Neng pasti bibi urusin"


"Kayaknya agak siangan semakin sering mules mulesnya Bi"


Arini meringis sambil memegang perutnya,sesekali mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya untuk mengurangi rasa sakit.


"Neng jangan nunggu Neng Dini,sama Pak Priyo aja telephon sekarang"


"Pak Priyo lagi kerja,takut dia lagi ada urusan penting,sebentar lagi Dini datang Bi,Bibi tolong buka pintu garasi dan masukin tas itu semua di bagasi,lalu buka kunci pagar depan,kalau Dini datang langsung suruh masukin motornya"


"Neng mau bawa mobil sendiri ?"


"Kalau darurat nggak ada pilihan Bi"


"Aduh Neng jangan,bibi khawatir,jangan nyetir dalam keadaan menahan kontraksi"


"Ssssssssst,jangan berdebat Bi,saya akan baik baik saja, Bibi jaga aja Mas Hadi layani keperluannya,Mas Hadi lagi tidur siang menjelang ashar dia bangun,buka aja nanti pintu kamarnya"

__ADS_1


Selang beberapa saat Andini datang,kedengaran dari suara motornya,Arini menghampirinya ke depan berjalan meringis menahan sakit,Arini memegang kunci mobil kantornya menyuruh Andini meminggirkan motornya.


"Teteh mules mau lahiran ?"


"Ssssssssst,Aku keluarin dulu mobil,kamu masukin motor kita ke rumah bersalin sekarang


Jangan banyak tanya ikutin apa kata Teteh aja"


"Ya ampun Teteh mau nyetir sendiri,kenapa nggak minta diantar siapa aja dari kantor ?"


Arini tak menghiraukan kata kata adiknya,menghidupkan mobilnya dan melaju pelan ke halaman depan,Andini cepat memasukan motornya dan menutup garasi,Bi Minah tergopoh-gopoh menghampiri mobil yang mau keluar halaman.


Andini masuk dengan setengah panik melihat kakaknya mandi keringat di depan kemudi sambil sesekali meringis dan memegang perutnya.


"Bibi hati hati di rumah,do'a in saya ya Bi semuanya lancar,dan tutup pintu pagarnya"


"Ya Neng hati hati..."


Mobil melaju pelan,Bi Minah mengantar sampai mobil hilang di dari pandangan, hatinya cemas berdoa sebisanya lalu menutup pagar.


Sampai di rumah sakit bersalin Arini memarkir mobilnya dan menyuruh Adiknya turun dan minta bantuan,


Arini memencet klakson berkali kali hingga satpam pada panik berlarian menghampiri.


"Tolong kursi roda Pak kakak saya mau melahirkan"


Andini berteriak melambaikan tangan ke arah post satpam.


"Iya,kursi roda,kalau enggak ranjang dorong biar langsung ke ruang bersalin"


"Ya Ampuuuuuun kenapa nyetir sendiri,kemana bapaknya ?"


Satpam satpam pada berkomentar,sambil berlarian,satpam rumah sakit mengerumuni Arini yang meringis menahan mulas sakit kontraksi perutnya ,di bantu suster dan satpam Arini di bimbing keluar mobil menaiki ranjang dorong,Andini mengeluarkan tas perlengkapan kakaknya dan mengunci pintu mobil,setengah berlari menyusul kakaknya yang di dorong memasuki ruangan bersalin.


Andini duduk sendiri di ruang tunggu dengan cemas,mencoba menelephon orangtuanya mengabarkan apa yang terjadi.


"Maaf anda siapanya Bu Arini ?"


"Oh eh saya adiknya suster, gimana keadaan kakak saya ?"


"Bu Arini mau melahirkan,sudah di periksa dokter,sekarang masih dalan keadaan proses kontraksi,sudah pembukaan 6,maaf apa suaminya ada ? atau orangtuanya barangkali ?"


"Suaminya lagi sakit,dan orangtua kami jauh di luar daerah sudah kami kabari,untuk administrasi saya adiknya yang bertanggung jawab"


"Oh iya,silahkan anda ke bagian administrasi untuk mendaftar, mendapatkan kamar setelah melahirkan,dan administrasi lainnya,setelah itu anda bisa menemani pasien di ruang persalinan"


"Baik suster"


Andini bergegas ke ruang administrasi,ingin segera menyelesaikan segala urusannya dan menemani kakaknya, memberi semangat dan memotivasinya.


Andini berdiri di samping ranjang kakaknya yang merintih,meringis banjir keringat,tangannya menggenggam tangan Arini yang dengan sabar merasakan sakit mules perutnya,di temani suster yang yang dengan sabar memberi instruksi,tangannya di infus dan nafasnya di bantu dengan oksigen.


"Berdo'a Teteh"


"Ya Allah Dini sakit banget"


"Sabar teteh"


"Tarik nafas panjang dari hidung Bu,buang dari mulut,tarik nafas panjaaaaang..."


Setelah berkutat beberapa jam,dalam keadaan payah Arini masih bisa semangat,Andini sendiri yang menemani bingung harus minta bantuan siapa lagi untuk sekedar teman,dirinya hanya bisa berdo'a semoga semua cepat terlewati.


"Tarik nafas panjang Bu,tarik nafaaaaaaaas... panjaaaaang,sedikit lagi tarik nafaaaaaaaas"


Dan....


"Oe oe oe oe.........."


"Alhamdulillah ya Allah..."


Arini menitikkan airmata dalam lemas seluruh tubuhnya,Andini mengusapnya dan memeluknya sama sama menangis dalam keharuan dan kebahagiaan.


"Bu Arini selamat ya,anaknya laki laki,Ibu istirahat dulu sebentar, coba kasih minum teh hangat,biar pulih,biar suster mengurus anaknya dulu,baru ibunya,nanti di pindah ke ruang perawatan"

__ADS_1


"Dini,kabari mas Hadi"


"Baik Teh..."


__ADS_2