Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Sembuh jadi lebih semangat


__ADS_3

Di Rumah Arini dan Hadinata.


"Mas sepertinya aku menangkap keganjilan dari Andini,dua kali kita kunjungi tak ketemu dan datang juga ke sini enggak juga aku merasa kangen juga sama dia, apa segitu sibuknya ? paling kesibukannya mengerjakan tugas skripsi katanya tinggal revisi revisi aja tapi kok se begitu padatnya kemarin juga dek Bima tanya lagi Ateu Dini nggak sini sini ya Ma ? katanya "


"Anak muda ya begitu kalau nggak bikin cemas ya namanya anak sudah dewasa dan orang tua ,biarin saja lagi masa masanya mencari jati diri baru memandang masa depan ya jangan kita kekang nggak baik kita terlalu ikut campur masalah pribadinya"


"Aku bukannya ikut campur Pa tapi setidaknya ada khabar, dan herannya juga dia nggak minta duit akhir akhir ini apa dia nggak butuh duit atauv puasa terus ?"


"Kalau sudah habis dan butuh pasti telephon lah,mungkin di kirim Bapak sama Ibu kali dan sama aku juga pernah satu kali habis Mama kirim belum lama mungkin kurang dan lagi banyak keperluan kampusnya telephon aku lagi dan minta duit dengan pesan jangan bilang sama Teteh dan aku nggak ambil pusing aku tambah aku kirim aja lagi tanpa ngomong sama Mama heee..." Arini tersenyum mungkin semua orang juga begitu saat ada yang bisa di pinta ya minta kalau lagi kepepet.


"Apa aku terlalu ngatur sama Dini Pa ?"


"Mungkin, tapi seiring usia seseorang akan menyadari apa yang kita ucapkan sebagai nasehat akan dianggap nasehat bukan kebawelan kita saja"


"Aku hanya khawatir saja Pa sama Dini mungkin sebagai anak paling tua aku terlalu banyak ngatur juga,dan Dini orangnya gitu kalau nggak suka lebih baik diam,aku jadi introspeksi diri juga Pa takut Dini pergaulannya kurang baik"


"Ssssssssst...jangan suka berprasangka dan curiga berlebihan,memang Mama nggak pernah masa masa itu ?"


"Heeeee...iya juga,tapi mungkin naluri seorang Kakak cemas saja takut adiknya terbawa pergaulan yang kebablasan"


"Sudah sudah kita tengok saja lagi nanti dan jangan di telephon dulu, mungkin benar dia lagi sibuk dan kita lihat benar motornya masih mogok biar aku lihat dulu sebelum di bawa ke bengkel"


"Iya Pa"


"Ada sebulan nggak kesini ?" Hadi memandang istrinya sambil menyuap roti oles di piringnya.


"Lebih Pa,aku ingat ingat perasaan sebelum kita pulang kampung dan saat aku dikasih kejutan Papa bisa jalan dan ulang tahun Mama"


"Lama juga ya ?"


"Makanya itu,Mama nanti mau sempatin ke sana dulu mau tanya takutnya ada masalah dengan skripsinya,jadi dia merasa terbebani dan dalam kesulitan"


"Mungkin juga motornya mogok dan ngadat lagi jadi malas ke sini naik umum heeee..."


"Oh iya Pa kan waktu itu juga saat Mama telephon motornya lagi di bengkel katanya"


"Iya anak gadis seperti Andini nggak mau pusing kalau di rasa motor lagi ngadat di biarin saja teronggok sampai mood nya datang dan baru di bawa ke bengkel lebih baik numpang teman sementara apalagi lagi sibuk"


"Tapi kata Dewi Dini pergi sama pacarnya apa iya ya Pa ?"


"Pacaran biasa saja anak muda ngapain cemas ?" Hadi minum susunya dan menyandarkan badannya di kursi makan.


"Waktu itu pernah Papa tanya juga malah di depan Bi Minah pacarnya nggak pernah di bawa ke sini Din ? kata Papa,dia jawab baru putus ! belum di kenalin sudah putus ?"


"Malah dia jawab mau fokus dulu di akhir masa kuliahnya dan baru nanti mikir pacar setelah kerja"


"Andini sepertinya agak cuek kalau soal pacar,dan kelihatan biasa saja,Mama belum pernah dengar cerita kalau Dini punya pacar,malah yang kemarin tahu punya pacar dari temannya Dewi"

__ADS_1


"Cari yang langsung serius seperti Papa kali Ma belajar dari Kakaknya heee..."


"Memang Papa serius sama Mama ?" Arini menggoda suaminya.


"Itu hasil seriusnya sudah ada dek Bima,apa masih kurang serius apa ? tiap malam nggak di lepas lepas dan nempel terus heee..."


Arini melempar sisi roti kering ke arah perut Hadi dan di sambut Hadi dengan tertawa,begitu senangnya dirinya menggoda istrinya yang akhir akhir ini kelihatan serius,tegang dan cemas dalam penglihatan Hadinata, apalagi sekarang mungkin sedang memikirkan adiknya Andini yang tidak dalam keadaan biasanya,adiknya yang menambah kecemasan hatinya dan Arini tak merasa tenang sebelum dapat memastikan Andini baik baik saja.


"Bi kalau dek Bima belum bangun biarin saja bilangin nanti Mama pulangnya cepat dan kita jalan jalan ke tempatnya Ateu Dini tapi saya sama Mas Hadi ke kantor dulu"


"Iya Neng"


"Bibi sarapan dulu sini ada roti nih mau sarapan apa ?"


"Ah Bibi mah mau nasi uduk aja nunggu yang lewat nanti,lagian belum mau kalau masih pagi mah, biarin Neng saja sama Mas Hadi yang sarapan yang mau ke kantor kan bibi nggak ke kantor"


"Ya sudah terserah maunya bibi apa, uangnya pakai aja tuh di atas kulkas,sama jangan lupa belanja sayur nunggu yang lewat saja ya, biar kalau aku sempat sore kita masak,juga biar kalau dek Bima bangun nggak di tinggalin dan nyariin"


Arini masuk kamarnya dan berdandan,mematut dirinya di depan cermin.


Kehidupanku mulai berjalan baik dan pulih semua hampir normal dan satu lagi kehidupan pribadiku semakin bergairah,tempat tidurnya selalu hangat dengan belaian, pelukan dan ciuman bagaimana normalnya kehidupan suami istri,bahkan Mas Hadi seperti ingin menebus kurang lebih tiga tahun tak menyentuh dirinya,dan seakan tak pernah absen juga bosan meminta jatah malamnya bukannya Arini nggak mau tapi masih khawatir akan fisik Mas Hadi yang baru saja sembuh.


Tapi Mas Hadi selalu meyakinkannya kalau dirinya sudah sembuh dan sudah nggak ada yang di rasa lagi selain rasa ingin memeluk dan melepaskan gairahnya.


Hadi yang memakai kemeja biru muda dan bawahan celana biru Dongker garis garis segede jarum sangat serasi di tubuhnya yang tinggi menjulang dan dasi serasi Arini yang pilihkan.


"Apa senyum senyum pagi pagi tumben hemght ?" Hadi memeluk Arini dari belakangnya dan mencium pinggir lehernya saat Arini mau mengenakan hijabnya.


"Loh kenapa memang nggak boleh orang senang ?"


"Tapi senyummu itu kelihatan mesum dan menggodaku sayang"


"Apa ? Mas terlalu istri sendiri di bilang mesum dasar !"


"Haaaaaaaa...senyum senyum sendiri kalau nggak ngebayangin yang jorok habis ngebayangin apa hayo ?"


"Jujur aku ngebayangin suami aku sendiri heee..."


"Ngebayangin apanya ?" Hadi mengerutkan keningnya.


"Sudah siang kita berangkat,


nggak usah di bahas lagi"


Hadi tertawa dan menangkap tangan Arini,memeluknya dan memandang wajah cantiknya dan menciumnya dengan bertubi tubi dan Arini meronta merasa dandanannya berantakan lagi.


"Stop Mas jangan ngaco waktunya berangkat kerja"

__ADS_1


"Mama yang ngaco pagi pagi menggoda orang"


"Apaan sih Mas kapan aku menggodanya ?"


"Ini lagi aku lagi tergoda dan nggak mau berangkat kerja,bobo lagi yuk ?"


"Nggak mau !"


"Suka mengalihkan dan bohong"


"Aduh Mas udah deh jangan mengada ada"


"Oke tapi awas nanti ya"


"Pakai ngancam segala lagi"


"Iya lah Papa mau tapi Mamanya lagi sensitif banget nggak mau di sentuh sedikit juga"


"Eith eith eith...tahu waktu dong Mas,masa aku sudah dandan begini kita tidur lagi yang ada kita bikin bingung Bi Minah dan di tunggu orang kantor dan Mas juga di kantor kontraktor ! gimana sih ? nanti kan habis siang ada malam dan minum tuh vitamin dan jamu kuat" Hadi tertawa mendengar jawaban istrinya dan Arini mengingatkan kalau nanti itu malam minggu.


"Iya iya iya...ayo kita berangkat,tapi nanti Mama mau ke kostan Andini Papa ikut nggak ?"


"Ya ikut lah Pa Mama masa jalan sendiri kan ada suaminya yang ganteng ini heee...kan sambil jalan jalan ajak Bi Minah dan dek Bima"


Arini mencium pipi Bima dan keluar kamar dan Mas Hadi telah menghidupkan mesin mobilnya siap untuk berangkat.


.


.


.


.


.


Jangan lupa ikuti dan kunjungi juga novel karya Enis Sudrajat lainnya ya :


❤️ Pesona Aryanti (end)


❤️ Meniti Pelangi (on going)


❤️ Biarkan Aku Memilih (on going)


Up setiap hari


Salam !

__ADS_1


__ADS_2