
Perjalanan pulang ke Tasikmalaya malam itu membuat Andini sedikit agak lega seperti beban yang terlepas satu demi satu dari dalam dadanya, dan harapan baru membentang depan matanya. Mobil dengan mulus membelah jalan yang berkelok keluar kota Bandung.
Apa yang menjadi harapan setiap orang dalam suatu hubungan adalah keseriusan, setidaknya Arman memperlihatkan itikad baik, keseriusannya di buktikan dengan nyata, hubungan mereka ingin di diketahui orang tua mereka masing-masing.
Andini merasa bangga dengan membawa Mas Arman ke hadapan orangtuanya, mungkin kedua orangtuanya juga akan merasa bangga, apalagi Mas Arman akan langsung melamarnya.
Semoga semua ini awal yang baik, mulusnya perjalanan cintaku dengan Mas Arman. Setidaknya itulah harapan Andini sekarang.
Jauh di lubuk hati Arman banyak yang di sembunyikan tentang permasalahan dengan Kakaknya Andini yaitu Arini, terkadang surut juga langkah Arman, tapi tak sebanding dengan rasa cintanya pada Andini membuat Arman melupakan kesalahannya pada Arini calon Kakak iparnya.
"Mas Arman kok melamun?"
"Aku hanya berpikir, takut orangtuamu kaget."
"Anaknya punya niat baik masa kaget, kita pelan-pelan saja terangin pada mereka. Mas Arman kan sudah kenal orangtuaku sejak dulu masa-masa sekolah sama Teh Rini."
"Iya, tapi mungkin orangtuamu sudah lupa padaku, aku akan datang sama orangtuaku dan mereka sudah di kasih tahu sebelumnya. Apa orangtuamu sudah di kasih tahu?" Arman melirik Dini yang berseri-seri.
"Aku sempat telephon pada Ibu Bapakku lewat ponsel adikku Arya."
"Oh ya? gimana sambutan mereka?"
"Awalnya aku kasih khabar hari wisudaku, tapi akhirnya sampai juga pada pembicaraan soal aku aka bawa seseorang."
"Terus masa nggak ada pertanyaan orang mana, siapa gitu?"
"Bapakku malah yang ngomong gini, katanya mau kerja dulu seperti Kakakmu, sekarang semua berubah."
"Aku jawab aja, sekarang aku sudah kerja."
"Tepatnya belajar usaha sendiri."
"Heeeee..."
"Mas, Aku telephon Kak Arini aja ya, Aku nggak enak dia yang ada sama-sama di Bandung kok nggak pernah kita berkunjung."
"Kamu mau ngomong apa?"
"Ya mau jujur, kan selama ini Mas Arman belum pernah ketemu sama Teh Arini, walaupun Teh Arini itu sahabat Mas Arman."
"Telephon lah."
"Apa kita juga bilang mau tunangan?"
"Bilang aja sekalian, nggak apa-apa."
"Mas jangan menyela, jadi pendengar aja ya, aku mau tahu gimana terkejutnya Teh Rini saat tahu kekasihku adalah temannya waktu SMA."
__ADS_1
"Biar Kakakmu tahu nanti saja saat tunangan, jangan bilang kalau aku pacar kamu sekarang."
"Gitu ya?"
Arman menghela nafas dalam- dalam, dan menyeka keringat yang tiba-tiba membasahi di keningnya.
Telephon tersambung dan tak butuh waktu lama Andini langsung menyambut salam dari Kakaknya.
"Waalaikum salaam Teh..."
"Iya Dini, apa khabar kamu baik baik aja kan?"
"Baik Teh, Alhamdulillah."
"Gimana Teh Rini sama keluarga juga Bima?"
"Alhamdulillah sehat, ada apa malam-malam telephon nggak biasanya, butuh duit? gimana usaha sama pacarmu itu?"
"Bukan Teh, Dini mau kasih tahu juga mengundang Teh Rini kalau minggu besok Dini Wisuda, juga kalau sempat Dini juga mengundang Teh Rini di acara tunangan Dini."
"Hah, apa tunangan? yang bener kamu."
"Iya, Teh ini Dini di perjalanan pulang mau ketemu Bapak sama Ibu."
"Ya, ampun Andini kenapa begitu mendadak seperti tidak ada persiapan sama sekali, ada apa sama kamu ini. Pacaran aku tahu dari teman mu Dewi, di tunggu datang ke rumah nggak datang-datang."
"Kamu itu sibuk pacaran, sampai lupa segalanya. Aku tanya nih jangan-jangan kamu kecelakaan makanya tunangan dan mungkin nanti menikah buru-buru."
"Astaghfirullahaladzim, kok Teh Rini bicaranya begitu sih? nggak Teh, pokoknya aku bikin kejutan buat teh Rini, Teh Rini pulang ya!"
"Kejutan apa?"
"Ya bukan kejutan kalau aku kasih tahu sekarang, tolong sampaikan juga pada Mas Hadi ya."
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
"Iya Teh, makasih."
Sambungan telepon akhirnya terputus Andini melirik kepada Arman sambil tersenyum.
"Kok senyum?"
"Aku akan bikin kejutan buat Teh Rini, kelihatannya dia mau pulang, sebenarnya dia juga pasti merasa penasaran."
"Aku sebenarnya malu sama kakakmu Dini."
"Kok malu, bukannya senang bisa bertemu teman dan akan jadi kakak ipar?"
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tak mengerti."
"Aku memang nggak tahu apa-apa, tapi aku mau mempertemukan Mas Arman sama Teh Rini, semoga Teh Rini nya benar-benar terkejut."
"Pasti, karena tak bakalan menyangka kalau kita sudah pacaran dan sekarang saja mau serius."
"Mas Arman tahu, tapi Teh Rini nya yang belum tahu."
"Iya, semoga kejutan yang benar-benar berhasil."
"Aku sudah kangen banget sama Dek Bima yang ganteng dan lucu."
Arman diam dan hanya menyimak apa yang di omongkan Andini di sampingnya. Antusiasnya kalau bicara soal Kakaknya, merasa bangga dan sangat mengidolakannya.
"Perjalanan teh Rini juga begitu panjang dan berliku sampai pada waktu menikahnya. Sudah menikah juga cobaannya nggak kira-kira dan tak henti-henti."
"Semua orang juga punya cerita perjalanan masing-masing Dini, di situlah pendewasaan kita, kamu begitu rumit tidak perjalanan hidupnya?"
"Begitu mudah perasaanku Mas, jatuh cinta untuk pertama kalinya, Mas yang mencintaiku, bertemu secara tak sengaja menjalani semuanya sampai sekarang kita mau serius."
"Kamu belum mengalami perjalanan berliku, dalam cinta dan kehidupan."
"Iya Mas, biarin jalan orang aja yang berliku jalanku lurus aja, tak seperti Teh Rini Mas. Dalam keadaan hamil suami kecelakaan, dan mengurus usaha suami yang hampir bangkrut, suami lumpuh, harus menyetir sendiri ke rumahsakit dalam keadaan kontraksi mau melahirkan."
Arman merasa berdarah hatinya mendengar langsung dari Andini cerita Kakaknya. Setidaknya ada andil dirinya dalam penderitaan Arini Kakaknya Andini.
"Bolak-balik rumahsakit dalam kondisi hamil sampai Mas Hadi bisa di rawat di rumah. Yang paling sedih, melahirkan hanya di temani aku Mas, Teh Rini begitu sabar tak ada suami di sampingnya."
"Kamu sanggup seperti itu?"
"Aku tak setegar Teh Rini Mas, mungkin aku nangis."
Mendengar semuanya mau tidak mau Arman merasa jadi orang paling bersalah, dengan segala keegoisannya di samping rasa cinta Arman untuk Arini yang mulai hilang terkikis waktu.
"Aku sayang kamu Andini, aku tak akan jauh darimu dalam kondisi apapun, akan aku perlihatkan kalau cintaku begitu besar padamu."
"Makasih Mas Arman sayang, aku juga sayang banget sama Mas Arman." Andini menumpang kan tangannya di atas tangan Arman yang berada di atas gigi.
Hangatnya cinta mereka menjalar sampai kemana-mana, menikmati kebersamaan dengan orang yang di cinta memang luar biasa asyiknya, seakan waktu ingin berhenti saja agar tetap bisa merasakan kebersamaan itu.
Arman ganti meremas jemari Andini dan mencium jemari itu dengan sayangnya, berdua menikmatinya getaran hati mereka dalam diam tak ada kata-kata.
"Sudah dekat Din, semoga aku masih ingat jalan dan rumahmu itu."
***
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️
__ADS_1