
Saat wisuda akhirnya datang juga Andini merasa orang yang paling bahagia, bisa bertemu dengan teman temannya, bergerombol sambil bicara masa depan yang akan di jalani dan rencana yang sebenarnya belum pasti.
Bahkan sebagian teman ada yang berbicara tentang pernikahan dan juga rintisan usaha yang mulai mereka kelola dan mereka jalani.
Ada juga yang sudah merancang rancang memasukkan lamaran lamaran pekerjaan kepada perusahaan perusahaan besar idaman mereka yang dianggap mampu menampung tenaga muda yang masih potensial seperti lulusan wisuda tahun ini.
Tetapi Andini hanya tersenyum mendengar semua ungkapan teman-temannya, Ada kebanggan yang paling bangga dengan dirinya adalah sesuatu pencapaian yang telah dijalani berkat bantuan tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, dirinya bisa sekaligus semuanya di jalani, kerja iya, belajar usaha iya, dan menikah iya juga.
Dewi teman dekat Andini bertanya serius bagaimana kelanjutan kisah cintanya walaupun Andini merasa enggan untuk berbicara karena mungkin akan dianggap pemecah rekor setelah wisuda kurang lebih 2 mingguan lagi dirinya akan naik ke pelaminan.
Padahal menurut teman-temannya Andini termasuk orang yang diam alias keong bahkan julukan itu melekat sampai sekarang. Tetapi entah kenapa jadinya malah memecahkan rekor sendiri jadi yang menikah pertama setelah lulus dan wisuda baru beberapa minggu ini.
Takdir memang berbicara lain terhadap siapapun tak diperkirakan tak diduga, bahkan tak diinginkan juga tak bisa ditolak semua datang dengan sendirinya.
Andini juga baru taksir taksiran dengan seorang anak dosen yang bernama Alwan harus kandas cintanya berpaling seketika terbius oleh pesona Arman yang begitu memikat hatinya, memberikan segala fasilitas dan kebutuhan hidupnya menjadikan Andini seorang putri impian bagi Arman.
Orangtua Andini duduk diantara banyaknya mungkin ribuan tamu undangan lainnya bersama Kakaknya Arini juga Kakak iparnya Hadinata. Di tempat terpisah Arman dan Hans Wijaya yang ikut juga menghadiri acara pelantikan dan pelepasan alias wisuda gelombang ke sekian asik mengobrol.
"Bos, jadi semakin serius nih sama yang satu ini?"
"Lebih dari kata serius Hans, aku sudah tunangan dan maaf dua minggu lagi kita mau meresmikan semuanya menjadi halal."
"Astaga! kok nggak ada pemberitahuan padaku soal itu?"
"Sorry terlalu sibuk dan banyak pikiran, jadi kamu nggak kepikiran haaa..."
"Lo jahat banget sama gue, padahal gue nggak begitu rela akan kehilangan uang 1M, tapi terima nasib apa boleh buat."
"Haaa...kalau itu gue nggak ikutan, gue serahin sama lo semuanya, mau konsekuen mau nggak terserah, yang pasti gue bahagia dengan pertunangan dan sebentar lagi pernikahan yang akan gue jalani."
"Ya gue konsekuen lah, gue bukan pecundang buluk yang hanya bisa main janji."
"Terserah, tapi akan gue syukuri semuanya sebagai kado pernikahan istimewa termahal haaa..."
__ADS_1
"Oke, aku siap. Eh tapi ngomong-ngomong gimana hubungan lo sama yang cantik satu lagi itu?" Hans menunjuk Arini dengan mukanya yang sedikit diangkat dan kepalanya melirik ke arah Arini duduk di jajaran depan.
"Hubungan apa? gue nggak pernah ada hubungan apa-apa sama dia, gue asli hanya berteman."
"Gue tahu lo berteman tapi hati lo kan begitu hangat dulu, begitu cinta dan begitu berharap."
"Cinta gue memang tak bersambut, sudahlah ceritanya harus seperti ini."
"Tapi gue mau tahu gimana mencintai dua kakak beradik rasanya? haaaa..."
"Lo jangan sembarangan gue tampol baru tahu lo!"
"Sorry bos gue bercanda, yang pasti lo beruntung banget, nggak dapat Kakaknya dapat Adiknya sama cantiknya, juga memenangkan taruhan 1M dari gue hidup yang sempurna!"
Arman tertegun masih saja ada orang yang memandang enak terhadap hidupnya, padahal perjuangan dirinya dari awal karir dan percintaan itu banyak berliku, ada hal yang tak terbuka pada siapapun termasuk pada Hans Wijaya sahabatnya.
Kebahagiaan calon istrinya Andini adalah segalanya bagi Arman kini, tapi semua itu harus melewati jalan yang berliku. Dan Arman punya pengakuan dosa yang teramat besar pada keluarga Arini dan Hadinata calon Kakak iparnya.
Semua itu hanya Arman yang tahu, dan tak ingin di bagi dengan siapapun termasuk nanti istrinya sendiri.
"Gue nggak mau calon istri gue tahu kalau kita itu taruhan, titik! jangan pernah sebut apapun depan dia soal ini, gue nggak akan memaafkan mu."
"Oke siap, gue dukung seratus persen, tapi giliran gue nanti serius dukung juga ya!"
"Dengan senang hati kawan." Arman menyikut Hans Wijaya yang ada di sampingnya.
Usai juga Acara seremoni yang menjadi kebanggaan semua mahasiswa setelah sekian tahun menuntut ilmu, inilah pengukuhan yang sebenarnya, memasuki dunia baru bukan selesai semuanya, tapi gerbang sebenarnya menanti di masyarakat.
Penerapan ilmu akan di pakai di mana sehingga bisa bermanfaat, syukur-syukur job yang di dapat sesuai dengan pendidikan supaya ada kesinambungan antara ilmu dan pekerjaan nanti.
Andini mencium tangan kedua orangtuanya, bersimpuh dan berpelukan dengan Kakaknya, juga menyalami Arman dan Sahabatnya Hans Wijaya yang turut hadir di acaranya.
Sesi photo tak pernah lupa, di situlah Arman bisa menyapa Arini dengan saling bertatap mata.
__ADS_1
Ada keengganan di mata Arini saat bertatapan dengan Arman tapi semua tak bisa di hindari lagi.
"Hai Rin, sehat?" hanya itu yang keluar dari mulut Arman.
"Seperti yang kamu lihat."
Arman tertawa, Arman selalu kehabisan kata saat ngobrol dengan Arini.
Dunia begitu sempit Rin, dan semua kalah sama takdir dan nasib kita, aku yang bermimpi terlalu tinggi, akhirnya terhempas dalam mimpi baru yang tak kubayangkan sedikit juga."
"Ya, semoga nasib baik bersama adikku ke depannya, dan adikku bisa merubah kesombongan mu sedikit demi sedikit, karena hidup di atas kesombongan tak akan nyaman."
"Aku mengaku salah Rin, dan berusaha jadi orang yang lebih baik lagi. Mungkin juga aku di sadarkan oleh takdirku sendiri."
"Aku akan menjadi saksi perjalanan rumahtangga mu dengan janji perbaikan kesombongan mu."
"Cobalah berdamai dengan keadaan Rin, jika aku harus seperti apa meminta maaf padamu katakan! akan aku lakukan, sungguh."
"Aku sudah memaafkan mu Arman sebelum kamu bertemu dengan adikku juga, dan menjalin hubungan serius dengan adikku, tapi aku tak akan memaafkan mu jika sampai adikku kecewa dan tersakiti, jaga perasaannya hanya itu pinta dan pesanku padamu."
"Terimakasih Arini, harapanmu adalah amanat buatku yang harus aku pegang."
"Cieee... akrab banget seperti nostalgia saja heee..." Andini datang sambil memeluk tangan Arman manja.
Andini menarik keduanya untuk berfoto setelah dirinya selesai berfoto ria dengan teman-teman sesama wisudawan dan wisudawati teman-temannya.
foto keluarga sebagai kebanggaan semua orang, sampai akhirnya Arman mengajak semuanya untuk makan di salah satu restoran terkenal sebagai perayaan syukuran atas selesainya acara wisuda Andini, dan sebagai pengakraban dirinya terhadap keluarga Andini yang sebentar lagi resmi akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Bapak Atmaja.
Tadinya Arini menolak, tapi setelah Arman memaksa akhirnya mau juga mereka makan bareng.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
__ADS_1
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, SANG RATU MALAM By Asire, fav, like dan vote ya 🙏❤️