Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Kesedihan


__ADS_3

Arini terpekur di sisi ranjang suaminya terbujur kepala dan tangan penuh perban,matanya terpejam layaknya tidur,nafasnya teratur dengan irama yang pelan... nafasnya di bantu oksigen dan tangannya di pasang jarum infus.


"Mas,bangun kamu dari kemarin nggak sadar sadar Mas...ini aku,ini udah mau hari ketiga,


buka matamu,kamu kan kuat,


Aku menyesal mas waktu pagi itu kamu nggak mau kerja,tapi aku paksain kita berangkat,kalau tahu bakal kejadian seperti ini pasti aku mengiyakan,


Arini mengusap ngusap dan menciumi tangan yang ada selang infusnya itu,


Mas maafkan aku ya"


Arini menumpahkan kesedihannya dengan bercucuran air mata,terasa sekejap semuanya berubah, rasanya baru kemarin masih bersenda gurau dengan suaminya,masih terasa hangat pelukannya,usapan dan belaiannya juga ciuman ciumannya.


Tak kuasa rasanya Arini menanggung kesedihannya, apalagi di masa kehamilan tuanya,tempat bermanja dan yang sangat memanjakan dirinya kini tak berdaya di hadapannya, Orang yang paling banyak aturan tapi pelindung bagi dirinya.


"Mas,Mas Hadi...bangun Mas..."


Airmata Arini menetes di seprai putih samping tempat tidur, Arini membelai belai kepala dan rambut suaminya hatinya hancur,perih dan sedih tak terkira,Andini yang duduk di samping Arini menemaninya sejak kemarin mengusap usap punggung kakaknya,dengan berlinang airmata,merasakan kesedihan kakaknya.


"Teh,sudahlah, Teteh istirahat biar mas Hadi aku yang nungguin, Teteh kan lagi hamil lihat kaki teteh bengkak bengkak,istirahat dulu di rumah semalam besok kesini lagi,


Mungkin nanti malam Bapak sama Ibu datang ke sini, biar kita gantian"


"Ingat kasihan si kecil di perut teteh perlu asupan makanan dan nutrisi, Teteh pulang dulu ya,nanti sehabis Mas Hadi diperiksa dokter"


"Teteh mau kalau Mas Hadi sadar ingin teteh yang pertama di lihatnya"


"Iya nanti kalau ada perkembangan aku khabarin Teteh"


Arini mengangguk dan memeluk adiknya,dengan perasaan luluh lantak,perasaannya rapuh,serasa dirinyalah yang saat ini paling terpuruk dan berada di titik terendah.


"Teteh tenang masih ada keluarga yang selalu ada setiap waktu,sebentar lagi dokter memeriksanya"


Dokter datang diikuti susternya lalu memeriksa semua tubuh Hadi,tensinya,detak jantung,mata lidah dan yang lain lainnnya.


"Bu Arini mari ikut saya"


Arini mengikuti langkah dokter diikuti Andini dan suster.


"Silahkan duduk"


"Bu Arini,maaf sebelumnya saya hanya menyampaikan rekam medis dan hasil analisa saya sebagai dokter yang menangani Pak Hadinata,semua baik tensi,jantung, fungsi mata,dan telinganya tapi,


Hasil photo rontgen tubuh Pak Hadinata ada urat syaraf yang menuju ke kepala tangan dan kaki Pak Hadinata sebelah kanan terganggu walau tidak fatal,itu bersumber dari luka di leher,itu tidak semua tapi sebelah,yang mengakibatkan suplai darah sementara tidak jalan,Pasien akan sakit kepala hebat, dan gejala lainnya seperti mata berkunang kunang,mual sampai muntah muntah,tapi itu terjadi pada sebagian pasien"


"Soal sampai kini belum siuman itu akibat apa dok ?"

__ADS_1


"Itu trauma,atau syok tubuh kaget menerima sakit dari benturan yang hebat itu


Ini hari ketiga ya ? harusnya pasien sudah siuman tergantung daya tahan tubuh masing-masing pasien...operasi kemarin kami kasih obat bius dan anti nyeri agar nanti kalau siuman tidak terlalu sakit,


Jadi kesimpulannya pasien kemungkinan besar akan mengalami kelumpuhan"


"Ya Allah, Mas Hadi"


Air mata Arini tumpah seketika,seluruh hidupnya serasa berakhir hari ini,tubuhnya lunglai,seakan tak kuasa menopang tubuhnya.


"Sabar Bu Arini semua bisa di lalui dengan kesabaran dan do'a kita,Untuk luka luar sudah saya operasi kecil dari kemarin"


"Bisa sembuh semua itu dokter ?"


"Bu Arini saya hanya perantara dan menjalankan ikhtiar,semua kita serahkan pada Yang Maha Kuasa saja semua masih mungkin sembuh dan bisa di sembuhkan kasih motivasi yang kuat terutama dari keluarga, Semua akan berangsur pulih dengan kesabaran"


"Kiranya sementara itu yang dapat saya" sampaikan, barangkali ada pertanyaan ?


"Dok,apakah vita suaranya terganggu tidak ? maksud saya bisa berbicara ?"


"Itu belum bisa di simpulkan kita lihat aja setelah pasien sadar"


"Terimakasih dokter"


Terhuyung Arini keluar dari ruangan dokter di peluk sama adiknya Andini,airmatanya tak bisa di bendung lagi bercucuran tak henti hentinya,tak menghiraukan sekelilingnya,


Berjalan melalui lorong koridor rumahsakit ke kamar di mana suaminya di rawat.


Arini !!! kamu kuat,kamu bisa pasti semua terlewati semangat dan pantang menyerah,


Arini menguatkan hatinya,sibuk memotivasi dirinya sendiri kalau bukan dirimu siapa lagi yang akan meneruskan semua usaha suaminya,jadi,harus dan harus bisa,Sekarang fokus dulu ke pada kondisi Mas Hadi.


Memasuki kamar suaminya di rawat Arini mengusap airmatanya,Hadi masih seperti kemarin kemarin seperti tidur nyenyak dan nafas yang teratur.


Arini menghampirinya,mencium tangan dan kening suaminya dengan menahan, airmatanya, mengusap ngusap tangannya.


"Mas,aku pulang aku mau istirahat dulu,anakmu juga perlu istirahat besok aku kesini lagi,nanti malam ada Bapak yang menemani"


"Dini Teteh pulang dulu ya,hati hati titip Mas Hadi,teteh udah nelephon Tyo biar menjemput, Kalau ada apa apa khabarin Teteh ya"


"Ya teh..."


Dini mengantar Arini sampai lobby depan rumahsakit,tanpa basa basi Arini masuk ke mobil yang di bawa Tyo dari kantornya,


Mobil melaju perlahan,Arini memejamkan mata mencoba rileks dengan fikirannya, Tyo melihat pimpinannya memejamkan mata mau bertanya juga diurungkannya biarlah Bu Arini istirahat,yang sebenarnya Tyo mau tahu kabar terakhir Pak Hadinata.


"Tyo,tahu kan rumahnya ?"

__ADS_1


"Oh iya saya tahu Bu,waktu pulang sama Lusy kan mampir dulu ke rumah Ibu ngasih tahu Bi Minah..


"Hemght..."


"Kabar terakhir Pak Hadi bagaimana Bu ?"


"Masih seperti kemarin kemarin belum ada perkembangan"


"Sabar ya Bu kita semua berdo'a untuk kesembuhan Pak Hadi"


"Iya Aamiin,terimakasih untuk do'a do'anya"


Sampai di rumah Bi Minah buru buru menyambut Arini,membuka pagar dan membimbing tangan Arini turun dari mobil.


"Tyo makasih ya"


"Iya sama sama Bu..


saya permisi dulu balik ke kantor"


"Ya ya..."


"Neng duduk dulu,istirahat terus mandi biar seger bibi ambilkan minum dulu ya"


"Iya Bi,terimakasih"


"Sama sama Neng"


Setelah mandi,sholat maghrib Arini berbaring di tempat tidurnya,Bi Minah mengurut urut kakinya yang bengkak dengan minyak kayu putih,kebanyakan duduk di kursi dan menggantung kakinya,seharian menunggui Mas Hadi, Arini duduk di samping ranjang perawatan suaminya.


"Bengkak begini kenapa Bi ?"


"Biasa orang hamil mah Neng,apalagi udah mendekati bulannya,nggak apa apa,


Biarin bibi urut ngilangin pegel pegelnya"


"Malam ini Ibu sama Bapak mau datang Bi,biar Bapak temani Andini di rumahsakit"


"Syukurlah,biar Neng Rini tenang bibi juga nggak khawatir juga Mas Hadi ada yang nungguin"


Terasa lengang rasanya rumah segede ini nggak ada sosok suaminya,begitu sunyi sepi apalagi saat ini sedang dalam masa masa hamil tua,ingin rasanya Arini bermanja,seperti hari hari yang telah di lewatinya bersama suaminya,tak ada yang mengusap usap perutnya, mencium perut gendutnya,juga yang selalu memeluk menghangatkan ranjangnya, Suaminya yang selalu menolongnya di setiap sekecil apapun kebutuhannya,tanpa terasa airmatanya meleleh di ujung matanya,terasa sesak nafasnya menahan tangis, matanya terpejam dan berusaha menyeka airmatanya.


Terasa lelah sekujur badannya, Arini mengusap usap perutnya yang sesekali kontraksi.


"Bi,bibi tidur di kamar sini sama saya ya, temenin saya"


"Iya Neng,Neng tidur aja duluan,Neng kelihatan cape banget"

__ADS_1


Tak terdengar lagi percakapan,


Bi Minah sedih menatap wajah Arini yang sudah terlelap, dirinya menganggap seperti anaknya sendiri,di besarkan dalam pengasuhannya Bi Minah tahu karakter,kebaikan dan semua yang ada di diri Arini,sekarang Neng nya yang dulu kecil cantik dan lucu sudah besar menikah dan hamil,dan sekarang lagi tertimpa masalah..


__ADS_2