Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Paska tunangan


__ADS_3

Lain lagi dengan perasaan Arini, hatinya porak poranda tak karuan, mengingat Arman adalah bisa di bilang masa lalunya, walaupun tak ada kata cinta dari hatinya.


Tapi walaupun begitu Arman telah menorehkan luka yang tak mungkin untuk dilupakan, kini kembali lagi kepada adiknya Andini, sekarang akan menjadi keluarganya di mana posisi Arini harus berada?


Arini mencoba tegar dengan kenyataannya berusaha menjadi teman baik kembali bagi Arman walau tak bisa seutuhnya. Berusaha juga menjadi adik yang baik bagi Andini dengan mengawal bagaimana perjalanan cintanya sampai berujung kepada pernikahan.


Tak mudah bagi Arini menjalani semuanya terlebih Arini punya kecurigaan kepada Arman, satu yang belum terungkap sampai sekarang siapa penabrak liar dan tak bertanggung jawab terhadap mobil suaminya hingga menimbulkan kecacatan selama 3 tahun tidak berdaya, sehingga Arini yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya, juga kendali perusahaannya dipegang Arini dalam keadaan terpuruk.


"Merasa diingatkan kembali Arini ingin mengungkap semuanya, walaupun mungkin bukan Arman pelakunya, tetapi hatinya mengatakan ada naluri dan insting ke arah itu.


Meski hati adiknya Andini dipertaruhkan tetapi kejujuran harus diungkap, juga bukan untuk dendam atau balas dendam tapi ini murni mencari kebenaran dan diharapkan Arini bukan Arman pelakunya.


Arini mengharapkan Arman telah berubah, Arman telah menjadi seorang yang baik bukan dengan tujuan lain untuk menikahi adiknya, bukan tujuan dendam ataupun untuk memperlihatkan betapa kuasanya dia dengan segala hal yang dimilikinya.


Arini tertidur dalam pelukan suaminya yang merasa kalau istrinya begitu tak tenang pikirannya, Hadi mencium istri tercintanya dan mengusap perlahan kepalanya.


Arini menggeliat, ternyata belum tidur pikirannya sibuk dengan lamunan yang ada dalam otaknya.


"Kenapa kok gelisah amat sayang?"


"Mas, apa aku salah kalau menilai Arman kurang baik buat adikku Andini?"


"Tak salah sayang karena kalian pernah punya kisah tersendiri yang tak mengenakkan, tapi alangkah baiknya jika kamu merubah cara berpikir kamu, berharap lah yang baik-baik karena semua itu akan menjadi doa baik."


"Aku begitu sulit merubah cara pandang ku pada Arman Mas."


"Perlu waktu, biarlah waktu akan membawa kamu pada situasi normal kembali."


"Aku hanya khawatir saja Mas takut ada unsur lain."


"Ssssst...jangan berlebihan, kelihatan mereka begitu saling cinta seperti tidak ada yang disembunyikan dari keduanya."


"Di satu sisi aku juga merasa lucu Mas, Arman yang tak aku cintai sedikitpun dan perasaanku menganggap kalau Arman itu adalah tetap sahabatku, tapi adikku Andini bertemu dengannya mereka begitu saling cinta di situ aku memahami perbedaan."


"Iya sayang biarlah semua berjalan apa adanya karena semuanya kini telah terjadi tak ada yang bisa kita cegat dan kita ubah atau kita halangi lagi, katanya mau program buat adik Bima gimana boleh malam ini ya?"

__ADS_1


"Kalau Mas mau ayo, suasananya begitu adem enak banget ini."


"Makasih sayang, mungkin adikmu juga belum tidur lagi berkhayal pasti tentang masa depannya yang indah."


"Pasti lagi nelephon, atau video call, terasa banget kan dulu juga sama kita, masa-masa pacaran masa-masa yang paling berat." Arini mencium bibir suaminya.


"Berat apanya?" Hadi mulai mengeratkan pelukannya.


"Berat melewatinya, inginnya kalau bertemu tak ingin lepas."


"Mungkin tak seberat perjuanganku mendapatkan mu sayang." Hadi mulai melepaskan satu-satu pakaiannya.


Arini tersenyum seakan tergambar dengan jelas masa-masa mereka pacaran dan awal-awal pernikahan mereka yang penuh dengan manis madu cinta.


Mas Hadi yang selalu datang dengan kejutan-kejutan, membuat Arini tak bisa berkelit lagi dengan perasaannya yang sama-sama jatuh cinta.


Arini merasa nyaman dipeluk suaminya dengan hangat.


Melepaskan rasa kangen suami istri, dengan kemesraan itulah yang selalu di lakukan mereka setiap saat, apalagi Mas Hadi sudah sembuh dari sakit yang tak berdaya selama 3 tahun, seolah Arini dan Hadi menemukan kembali saat-saat bulan madu mereka.


"Mas, tadinya aku berfikir apa yang akan terjadi dengan masa depanku seandainya Mas belum sembuh."


"Aku juga begitu sayang sehingga terbersit keinginan ku yang begitu tak sabar ingin sembuh. Waktu itu kesadaran ku datang disaat aku mengasuh anak kita Bima yang masih kecil. Hingga aku tanpa sepengetahuan mu melakukan terapi bersama Pak Priyo, Pak Priyo begitu mendukung, juga merahasiakan di depan kamu."


"Sekarang semua sudah terlewati sayang, kita tinggal bersyukur dengan keadaan kita yang mulai kembali normal dan aku menginginkan satu anak lagi, aku mau punya dua kalau bisa yang ganteng satu yang cantik kayak kamu satu."


"Belum tuntas Mas, Andini adikku masih perlu pemikiran ku dan masalah baru datang kenapa Arman yang bakal jadi calon suaminya."


"Tapi setidaknya masalah kita sudah selesai dan teratasi, yang teramat vital dalam hidupku satu Rin, kini aku sudah sembuh dan bisa membahagiakan kamu lagi."


"Belum ada tanda-tanda tajam membuahkan hasil tapi heee..."


"Ya kita harus rajin, pokoknya aku mau tiap malam."


"Itu kesenangan dan maunya Mas."

__ADS_1


"Semua berbuah dari kesenangan dan cinta kita sayang."


Arini tersenyum menatap dalam-dalam mata suami yang begitu di cintai dan mencintainya.


"Kita mulai sekarang ya?"


Arini mengangguk manja, rasa yang tak pernah bosan, apalagi sejak suaminya sembuh serasa ingin mengisinya setiap malam dengan malam panas mereka.


"Sepertinya aku begitu semangat sayang."


Arini tak menjawab, hanya melirik buah hati mereka yang tertidur dengan pulas.


Seperti baru merasakan kembali saat-saat pertama mereka bersentuhan, kemesraan mereka di nyatakan dalam belaian dan ungkapan cinta dan sentuhan lembut.


Keduanya saling mengagumi sejak awal mereka kenalan, Hadi kagum akan kecantikan Arini juga kemandiriannya, Kepintarannya dalam mengelola perusahaan juga dalam bekerja juga sangat disiplin.


Begitu juga Arini kagum kegagahan seorang Hadinata yang berpostur tinggi dan wajah berkharisma. Mereka sama-sama jatuh cinta dan menerima ketidak sempurnaan mereka masing-masing.


Awal menikah yang begitu manis mereka rasakan di sambung dengan kehamilan Arini yang begitu di tunggu Hadi selama hidupnya.


Perjalanan cinta mereka harus jeda oleh musibah yang menimpa Mas Hadi saat Arini hamil besar.


Hadi ingin mengembalikan dan menebus semuanya yang tak bisa mendampingi istrinya saat hamil besar, dan melahirkan juga saat anaknya mulai tumbuh kembang.


Sekarang waktu dan hidupnya di dedikasikan untuk keluarga untuk istri dan anaknya, tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan mereka, karena keluarganya kini hanyalah bersama Arini dan Bima putra kesayangan mereka.


Mereka tertidur dalam damai rasa cinta yang mereka rasakan, setelah perayaan cinta mereka lakukan beberapa kali di malam itu dengan penuh kemesraan. Memberikan pelayanan buat orang tersayang adalah kepuasan dan kebahagiaan.


Begitu juga Hadi dan Arini saling memberi dan menerima, saling butuh dan mengisi menjadikan harmoni rumahtangga mereka begitu indah.


****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2