
Paginya Arini sudah bersiap-siap untuk berangkat, Bima sudah beres di dandani, Mas Hadi lagi nge-teh sama Bapak di teras depan, Arini mempersiapkan sarapan bersama Bi Minah juga Ibunya.
"Pengantin belum pada keluar Bi? apa nggak lapar nggak ikut sarapan?"
"Tadi Neng Dini sudah dari kamar mandi, masuk lagi kamar nggak keluar luar lagi."
"Ssssst...biarin saja, jangan di ganggu, Rin kamu juga kenapa begitu buru-buru pulang apa nggak bisa satu malam lagi di sini?" Ibunya menatap anaknya yang sudah menjadi Ibu juga.
"Mas Hadi banyak kerjaan Bu."
"Ibu masih kangen sama Bima."
"Ibu, Bapak tinggal ke Bandung anak Ibu semua di Bandung, mau di Rini mau di Dini tinggal pilih."
"Tapi justru Ibu yang nggak betah tinggal di rumah anak, kalau nanti sudah kangen banget pasti datang sama Bapak."
"Gitu dong ya Bi Minah, jalan-jalan Ibu Bapak senang, Dek Bima senang aku juga sama Mas Hadi pasti lebih senang."
"Tapi jangan sekarang sekarang Bu main ke Bandingnya." Bi Minah ikut nimbrung menimpali.
"Loh kenapa?" Arini heran.
"Kan Neng Dini sama Mas Arman masih dalam suasana bulan madu takutnya kalau Ibu Bapak berkunjung malah terganggu."
"Hadeuuuuuuuh Bi Minah, kalau sekarang mah kita masih bertemu ngapain kangen, kan kata Ibu nanti kalau sudah kangen yang bulan madu juga udahan kali."
"Heeeee...di kira Ibu sama Bapak sudah mau berkunjung sekarang-sekarang ini."
"Rini, Ibu ingin kamu tetap perhatikan adikmu itu, walau dia sudah berumahtangga tetap saja dia masih hijau dalam pengalamannya."
"Iya Bu, jangan khawatir."
"Ibu senang kalau kalian bisa saling menjaga satu sama lain. Ibu melihat Dini terlalu dimanja sama suaminya takut dia keluar dan menjalankan segalanya serba berlebihan, hanya itu saja ketakutan Ibu."
"Rini lihat Dini bagus dalam memanage dirinya, dia bukan wanita yang boros dan suka seenaknya, dia apik dan terkontrol dalam segala hal, walau suaminya memberi segalanya dia tetap bisa bawa diri sampai saat ini Rini lihat."
"Ibu hanya takut saja Rini, sebelum menikah kemarin Dini di belikan mobil, jauh sebelum menikah sudah di kasih tempat untuk usaha juga modalnya, usahanya jalan sampai sekarang."
"Bukti cinta bisa apa aja Bu, semoga mereka baik-baik saja."
Mereka sarapan tanpa pengantin baru dan habis sarapan Arini sekeluarga pamitan dan berangkat duluan hanya titip pesan sama Ibunya kalau nanti ke Bandung jangan lupa khabarin dulu biar bisa di jemput di terminal bus.
Dalam perjalanan ke Bandung kembali hanya Arini yang kelihatan diam, Hadi Bi Minah dan Bima semua pada ceria dan itu mengundang tanya Hadi yang terus melirik pada istrinya yang duduk disampingnya.
"Kenapa Mamamu Dek Bima, kelihatan cemberut aja?"
"Mama cemberut ya?" Bima bertanya lucu.
__ADS_1
"Iya, Tante Dini yang nikah mamamu yang pengen bulan madu."
"Ssssst...apaan sih Mas bicara begitu di hadapan anak? Mama itu lagi mikir bukan cemberut." Rini seperti berbisik pada putranya Bima dan Mas Hadi kelihatan nyengir saja.
"Mama lagi mikir apa?" Bima menatap Mamanya.
"Mamah lagi mikir takut Tante Dini sakit karena tadi tidak ikut sarapan sama kita."
"Oh, Mama takut Tante Dini sakit ya? kan kalau sakit ada Om Arman sekarang."
"Iya betul itu Dek Bima, Tante Dini awalnya pasti sakit tapi lama-lama jadi enak juga."
Arini mencubit pinggang suaminya, Hadi mengaduh sambil tertawa terbahak sampai Bi Minah yang lagi nundutan di belakang terbangun.
Dalam hati Hadi ingin rasanya cepat sampai dam memeluk istrinya dan membawanya ke tempat tidur membisikan kata-kata kalau kita juga akan bulan madu setiap waktu kita mau.
Perjalanan kurang dari dua jam tanpa berhenti akhirnya sampai juga.
Bima tidur kecapekan mengoceh sepanjang perjalanan, Bi Minah memindahkan bawaan dari bagasi, Mas Hadi menggendong Bima di pindah ke tempat tidur di kamar bawah, Arini membawa tas kecil dan jinjingan plastik entah apa isinya.
"Mas mau ke kantor siangan nggak?" setelah mereka ada di dalam kamar.
"Nggak, aku sudah menelephon tak ada yang urgent, semua biasa saja, kalau semua pekerjaan proyek sudah jalan aku tenang cukup Pak Priyo memantau kalau ada kekurangan sedikit-sedikit dari mandor yang di lapangan dan aku hanya menerima laporan itu aja laporan bisa lewat telepon."
"Tapi siang ini aku ke kantor Radio ya, aku nggak enak meninggalkan Lusy kelamaan."
"Aku nggak izinin."
"Aku mau sama kamu hari ini, dan nggak mau kamu pergi."
"Mas, ada apa? apa terinspirasi sama pengantin baru juga ya?"
"Di bilang begitu juga bisa, pokoknya aku mau kita berdua hari ini."
"Mas, siang-siang begini ada anak, sebentar lagi juga bangun."
"Bima kan tidur di kamar bawah, kita bebas di sini sayang."
"Sampai siang bangun kita di sini, nanti aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang punya kenangan cinta kita sayang."
"Ke mana?"
"Nanti aku ajak pokoknya."
"Mas?"
"Aku kangen kebersamaan kita Rin, semenjak aku sembuh perasaan aku nggak pernah puas kita bersama sama. Kita lupakan dulu soal pekerjaan dan masalah semua kini telah kembali normal."
__ADS_1
Arini tersenyum menerima uluran tangan suaminya. Sebenarnya dirinya juga sama ingin menebus waktu yang terbuang dalam kesendirian selama bertahun-tahun dan sekarang semua telah kembali.
Arini memeluk suaminya, mereka berciuman sangat mesra, dan tangan Hadi mulai merayap mencari sesuatu yang begitu menggairahkannya.
"Mas, kan kita semalam juga melakukannya, aku takut Mas kecapekan."
"Aku sehat, kuat Rin dan malah semakin bergairah sekarang."
"Begitu ya?"
"Aku malah seperti awal-awal kita menikah dulu, nggak ada puasnya, setiap melihat kamu selalu hasrat ku meronta."
"Aku jadi takut Mas."
"Takut apa?"
"Takut nggak kuat melayaninya heee..."
"Aku ingin anak satu lagi sayang, apa kamu siap jadi Ibu dua anak kita?"
Arini mengangguk sambil merapatkan tubuhnya tanpa jarak dengan suaminya.
Senyuman Hadi terkembang memeluk istri tersayangnya dan membopongnya ke tempat tidur.
"Mas."
"Hemght..."
"Aku pengen liburan dan sudah lama banget kita tak melakukan perjalanan."
"Mau ke mana? pantai? atau kemana? tapi sementara kita nikmati dulu di kamar kita ini."
Hadi mulai mengungkung tubuh istrinya, membelai tubuhnya dengan berjuta cinta.
"Arini, aku begitu sayang sama kamu."
"Jangan gombal, kalau minta minta aja."
Mereka tenggelam dalam kemesraan suami istri yang begitu hangat, padahal malam tadi mereka melakukannya juga, tapi jiwa muda mereka dalam bercinta tak ada kata bosan, malah kerinduan kian mendalam.
Mereka memacu hasrat yang semakin memuncak dan hanya ada ciuman dan usapan juga belaian yang mereka rasakan, berdua memulai bulan madu kedua mereka.
******
Meniti Pelangi memasuki bab bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
__ADS_1
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Fine The Perfect Love by Eveliniq, fav, like dan vote ya 🙏❤️