Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Rencana pindahan


__ADS_3

Mereka kembali ke Ruko dan Dewi langsung pulang pamitan dengan mengendarai motor Andini.


"Dewi teman kamu paling dekat dan akrab ya ?"


"Heemght...Mas, kenapa emang ?"


"Pantesan senyam senyum saja tadi"


"Maksudnya apa ?"


"Ya kalau teman paling akrab berarti teman paling suka curhat luar dalam dong"


"Iya lah kan diantara kita nggak ada rahasia rahasiaan dan saling menjaga"


"Aku jadi malu" Arman menatap Andini sambil tersenyum.


"Memang malu kenapa ?"


"Kamu pasti curhat juga waktu kita bablas di kamarku saat nggak sadar aku sudah icip-icip sesuatu"


"Iya Mas aku habis di jejalkan pepatah ada sampai tiga karung,terkadang kita begitu butuh seorang sahabat untuk bisa saling mengingatkan"


"Harusnya kamu jangan kasih tahu untuk hal yang memalukan seperti itu aku kan jadi malu"


"Biarin kalau Mas malu jadi kapok deh haaaa..."


"Sepertinya nggak akan kapok tapi malah kecanduan,saat ingat saat itu ingin sekali merasakan lagi"


"Kan katanya kita harus sabar Mas ?"


"Iya iya...itu juga salah aku,dan salah yang mengasikkan dan menagih lagi dan lagi heee..."


"Mas !?"


"Iya bercanda sayang..."


"Nih aku cubit ya !"


"Pindah dong cubitanya jangan di situ melulu,kan aku mau merasakan di tempat lain"


"Kalau di tempat lain bukan di cubit namanya tapi di elus,di usap dan di cium heee..."


"Kamu ini bisa juga menggoda ya ?"


"Hehehe..."


Arman menarik Andini ke pelukannya dan terjadilah ciuman lembut diawali dengan tatapan kerinduan dan cinta yang membara di dada keduanya Arman begitu hangat mencium bibir mungil itu dan tak melepaskannya dan Andini pun sama seperti sudah kena candu yang sangat memabukkan keduanya tak bertemu dan berpelukan sehari rasanya seperti sakit dan meriang.


Nafas keduanya saling memburu dan Arman semakin mepet di ujung tangga atas di tembok b pembatas dapur dan kamar mandi mengusap tangan Andini dan punggungnya juga meremas jari jemarinya.


Braaaaaak...braaaaang...!


Arman dan Andini yang masih berciuman di kaget kan bunyi kaleng jatuh di bawah,dan Andini mendorong badan Arman menjauh dari dirinya sambil menggigit bibirnya sendiri dan menahan senyum.


"Ada apa Pak ?" Arman bertanya agak teriak dari atas.

__ADS_1


"Ini Pak Arman kaleng bekas lagi di tumpuk malah jatuh"


"Owh...di kira ada apa"


"Sayang apa kamu sudah punya nama usaha kamu ini nanti mau dikasih nama apa ?"


"Iya ya Mas sebenarnya aku sudah punya satu nama tapi nggak tahu cocok nggak sama Mas Arman heee..."


"Apa coba namanya ? harus punya nama lah kan sebagai identitas juga yang mudah di ingat dan si sebutkan di hati setiap yang melihatnya"


"Iya Mas, boleh nggak pake satu nama yang selalu ingin aku abadikan atas cinta kita Mas ?"


"Boleh sayang coba katakan apa menjual nggak namanya ?"


"Eternal"


"Artinya ?"


"Abadi seperti cintaku yang selalu ingin aku abadikan dan berharap cinta kita jadi satu yang bisa kita pertahankan sampai maut yang bisa memisahkan kita"


"So sweet sayang aku setuju semoga menjadi do'a dan semangat buat kamu,kamu pintar seperti Kakakmu heee..."


"Kok sama samain aku sama Teh Rini sih ?"


"Ya kalau sesuatu yang bagusnya nggak apa apa emang kenyataan kamu sama Kakak kamu itu sama sama pintar tapi..."


"Tapi apa hayo...?"


"Tapi cantikan kamu heee..."


"Tapi karena kamu yang jadi kekasih aku jelas aku menilai kamu yang paling cantik dari siapapun"


"Makasih Mas aku sudah jadi yang paling cantik di hatimu"


"Iya dong,calon istriku memang paling cantik"


Andini merasa tersanjung dan merasa jadi seorang yang paling di hargai di depan Arman,Arman begitu memujanya dan memanja nya dan mereka berdua ingin cinta mereka jadi satu kenyataan menuju satu tujuan yaitu bahtera rumah tangga.


"Sayang aku transfer ke rekening yang kartunya kamu pegang untuk modal awal,seperti kata kamu dari awal mau bertahap datang barangnya biar tidak kewalahan saat menatanya,aku harap jangan terlalu capek dan jangan sampai nggak ada waktu untukku melepas kangen kita"


"Makasih sayang aku sayang Mas Arman" Arman mengangguk.


"Mas aku nggak akan capek apa lagi kita jadi dekat nggak waktu banyak paling kalau nanti aku kangen habis tutup telephon Mas Arman sudah ada di depan pintu"


"Heeee...kamu bisa saja, ya sudah ayo kita mulai nanti tempat tidurnya mau tempatin di mana ?"


"Gede kecil Mas ?"


"Aku ingin yang gede sayang kan nanti kita gunakan bersama sama setelah kita resmi saat kita nggak sempat pulang di sini juga harus nyaman"


"Terserah Mas saja deh aku ikut aja"


"Iya nanti saja di atur kalau barangnya sudah ada,dan kita ke bawah aja yuk kamu kasih saja petunjuknya untuk menempatkan rak rak itu" Arman menunjuk semua rak yang sudah di belinya sambil turun di tangga menggandeng Andini.


"Papan namanya mau di pinggir jalan apa di tempel di depan rukonya saja sayang ?"

__ADS_1


"Sepertinya di depan rukonya saja Mas,biar nggak kena pajak heee..."


"Iya nggak apa apa seperti yang itu ya ?"


Arman menunjuk salah satu ruko di sebrang jalan yang menjual berbagai makanan prozen.


Andini mengangguk dengan senangnya.


"Besok kamu sudah bisa mendatangkan barangnya sedikit sedikit dan tiga hari kedepan sudah bisa pembukaan dan langsung saja pindahan kasih tahu aku ya biar nggak bolak balik mau pindahan dulu apa pembukaan resmi dulu ?"


"Pindahan dulu aja Mas jadi aku nggak mikir pulang lagi ke kost an,aku langsung total mengurus semuanya di sini dan kalau belum ngantuk bisa sampai malam"


"Semangat banget kamu sayang"


"Kan penyemangat nya ada di sini heee..."


Andini mencium pipi Arman manja dan Arman tertegun sambil tersenyum merasa nggak ada aba aba juga merasa malu karena masih ada si Bapak yang bekerja menggeser geser rak pajangan mengikuti sisi tembok, untung si Bapak nya lagi sibuk dan Arman mengucek ujung kepala Andini sambil tertawa.


"Mas kalau Mas lagi sibuk kerja kerja aja biarin aku di sini dulu kan ada si Bapak ini dikit lagi juga selesai kok, biar kalau nanti aku selesai nelephon Mas Arman"


"Biarin aku mau temani kamu selagi longgar sampai selesai, kerjaan ku sudah selesai nggak terlalu sibuk saat ini kalau kerjaan sudah berjalan nggak apa apa banyak di tinggal juga tak seperti awal awal mulai pasti banyak kekurangan ini itu,tapi nanti aku kayaknya akan ke luar kota meninjau lokasi proyek baru itu sayang dan lumayan agak lama nggak apa apa ya aku tunggal dulu ?"


"Mas berapa lama perginya ?"


"Tiga sampai lima hari paling"


"Lama banget Mas ?"


"Sayang kan sudah aku persiapkan kesibukan kamu di sini,jangan sedih kan ini urusan kerjaan,aku baru dapat proyek di luar kota dan prospeknya bagus banget,untuk dapat proyek perumahan elite ini perusahaan orang harus ikut tender sedang aku sama temanku langsung masuk dan dapat kepercayaan walau ikut tender hanya formalitas doang,kamu yang bikin aku semangat"


"Aaaaaah... Mas aku bakalan kangen banget sama Mas"


"Iya aku juga pasti,kan kita bisa teleponan setiap saat juga"


"Ini perpisahan pertama kita Mas, rasanya aku belum siap heee..."


Arman mengusap pundak Andini yang kelihatan agak sedih,dan bisa di bayangkan kerinduan mereka akan seperti apa nanti, semalam atau sehari saja tak bertemu seperti itu kerinduan dan rasa kangen mereka apalagi seminggu ?


.


.


.


.


Jangan lupa ikuti dan kunjungi juga novel karya Enis Sudrajat lainnya ya :


❤️ Pesona Aryanti (end)


❤️ Meniti Pelangi (on going)


❤️ Biarkan Aku Memilih (on going)


Up setiap hari

__ADS_1


Salam !


__ADS_2