Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Kehidupan baru


__ADS_3

Berjalannya waktu seperti air yang mengalir,begitu tak terasa,begitu nikmat di jalani dengan kebahagiaan,tapi akan terasa lama seandainya di lalui dengan kecewa,frustasi dan kegagalan.


Bertambahnya kebahagiaan mereka seakan melengkapi kebahagiaan yang ada dengan kehamilan yang begitu di tunggu tunggu Hadi selama ini,menjadi pengalaman baru buat ke


duanya,begitu antusias menjalani hari demi hari yang ingin cepet di laluinya,Arini dengan kehamilannya yang tanpa kendala apapun,begitu menikmati peran barunya sebagai calon ibu,hanya sekarang selain perutnya semakin kelihatan membesar juga badannya bertambah melar.


Tujuh bulan sudah di laluinya,masa masa rawan dalam kehamilan sudah terlewati,Arini begitu bahagia menjalaninya,Kebahagiaan juga di rasakan kedua orangtuanya, yang langsung mengirim Bi Minah menginjak usia kehamilan tuanya,biar Arini merasa tenang juga mengawasi dan menemaninya saat suaminya lagi kerja.


Satu lagi Arini masih bersikeras kerja dan datang ke kantornya walau nggak full tiap hari,dengan alasan aktifitas dan di rumah nggak ada kerjaan juga jenuh.


Terkadang adik Arini datang ke rumahnya meramaikan suasana rumahnya,ya Andini sekarang kuliah di Bandung di salah satu perguruan tinggi swasta,dan sekarang menginjak semester empat, ngekost dekat kampusnya dengan alasan efektifitas waktu dan ngirit transfortasi.


Berulangkali orangtuanya menitipkannya pada kakaknya, tengok dan lihat adikmu,


pesan itu selalu di ingat dan di jalaninya,


Itu merupakan tanggungjawab Arini juga.


Pagi hari selalu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pasangan muda beda usia ini,setiap pagi Arini jalan jalan di temani suaminya,keliling komplek perumahan mereka dan pulang kalau di rasa sudah cukup terkena sinar matahari pagi,


dan duduk duduk di kursi taman.


"Sayang hari ini kita jangan masuk kerja ya, aku mau di rumah aja tiduran menciumi dan mengelus perut kamu"


"Heith heith...harusnya aku udah ada ini semakin memicu semangat kita Mas,


apa apaan malas malas an di rumah"


Arini menunjuk perutnya yang semakin membesar,Hadi yang duduk di sampingnya mengelus punggungnya.


"Sehari aja ya sayang,aku malas banget,biarin kerjaan masih bisa di handle ini sama Pak Priyo,kamu juga ada Lusy kan ?"


"Mas,kan tiap minggu kita libur,ini baru kamis,jangan begitu ah...mengandalkan orang lain tak seperti kita yang pegang,apalagi kita melepaskan tugas kita tanggungjawab kita di mana ?"


"Iya Arini sayang,aku kerja hari ini,kamu juga kontrol diri ya jangan terlalu lama di tempat kerja,apalagi sampai sore aku khawatir udah hamil tujuh bulan belum cuti"


"Heeee cuti tuh di mana mana juga sebulan sebelum dan sebulan sesudah melahirkan Mas"


"Ini kan perusahaan kita,aku berhak dong ngasih cuti kamu lebih ? malah kalau kamu mau berhenti juga aku bolehkan"


"Justru ini perusahaan kita jadi aku nggak mengajukan cuti mas Hadi sayang heeee..."


Hadi mencium perut istrinya dengan penuh perasaan.


"Mamamu bandel nih masih aja nggak mau istirahat,biarin papamu yang kerja ya"


Hadi berbicara pada perut Arini seakan bayi itu ada di hadapannya.


"Neng Rini sarapannya dah siap nih"


"Ya Bi..."


"Nanti aja saya mandi dulu"


"Susunya belum bibi seduh Neng takut kelamaan jadi dingin.


"Iya Bi terimakasih,biarin aku seduh sendiri"


"Nasi goreng pake kunyit Neng sarapannya,bagus buat ibu hamil"


"Bibi makan aja atuh duluan"


"Bibi udah minum teh,nanti aja kalau udah mau bibi makan...bibi mau nyapu samping rumah dulu ya Neng,hati hati kalau ke kamar mandi takut licin"


Selesai mandi dandan juga sarapan Arini dan Hadi berangkat,Bi Minah yang menutup pagar menyaksikannya dengan tersenyum,Arini seperti anaknya sendiri dari kecil dirinyalah yang mengasuh,karena Bi Minah ikut orangtuanya Arini sejak di tinggal suaminya dan punya anak satu sudah berumahtangga.


Begitu juga Arini sangat sayang sama Bi Minah,walau sedari kecil Arini ada orangtuanya yang juga sangat menyayanginya.


"Hati hati di rumah ya Bi,tengah hari juga aku pulang,jangan buka pintu untuk orang asing,kalau ada tamu intip dulu dari kaca kenal apa nggak,paling beli sayur aja di tukang sayur yang lewat duitnya atas kulkas nanti masaknya bareng saya ya Bi"


"Iya Neng,hati hati naik mobilnya"


"Iya Bi..."


Sampai parkiran Radio Riang 89,14 Fm Hadi memarkirkan mobilnya,mobil yang agak tinggi untuk di naikin orang yang lagi hamil gede seperti Arini,Hadi membantu istrinya turun dan membimbingnya.


"Aku anterin sampai atas ya"


Arini diam aja di gandeng tangannya sama Hadi,fikirnya nggak bakalan menang pasti perang mulut dulu bersitegang adu argument sama suaminya seandainya menolak.


Mereka naik lift,kalau banyak orang pasti jangan dulu kalau lagi sama suaminya,takut perutmu kena sikut orang,nunggu sepi lah...toh lift masih berjalan naik turun,

__ADS_1


terkadang perlakuan suaminya berlebihan membuatnya geli dan ingin tersenyum.


Sampai atas Arini melongok dulu ke ruangan karyawan ada Lusy yang lagi ngaca membetulkan make up nya.


"Pagi Pak Hadi sama bumil cantik..."


"Heee pagi juga semua"


Hadi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,Arini memasuki ruangannya di susul Hadi di belakangnya.


"Hari yang cerah Mas"


Arini memandang keluar jendela,terasa hangat mentari pagi menerobos memasuki ruangannya.


"Iya sayang tapi aku setiap saat cemas dan khawatir akan dirimu sama si kecil ini,


aku takut kamu ceroboh"


"Heee Mas, Mas...., lebih cemas lagi aku yang menjalaninya, sudahlah aku baik baik aja,aku sehat,bayiku sehat"


"Rin sayang aku mau memelukmu dulu,sama si kecilnya"


"Dasar kolokan..."


Arini membiarkan dirinya di peluk suaminya,di cium keningnya dan bibirnya sekilas lalu di elus elus perutnya dan di ciumnya.


"Sayang hati hati ya aku pergi dulu"


"Ya Mas...Mas juga hati hati aku sama anakmu menunggumu"


Sepeninggal Hadi suaminya Arini duduk di kursinya menghadap mejanya menghidupkan laptopnya,mencoba konsentrasi melihat lihat data yang ada di laptopnya juga yang ada di map map nya,Hatinya nggak tenang,mencoba minum air mineral yang ada di depannya dan mengusap usap perutnya seakan menenangkan dirinya sendiri.


Teringat adiknya Andini udah mau dua minggu nggak datang ke rumahnya, mungkin lagi sibuk atau ada kegiatan di kampusnya.


"tok tok tok..."


"Ya masuk"


"Hallo bumil,sehat sehat selalu ya"


"Iya Lus,Aamiin...semoga sehat sampai pada waktunya"


"Emang kenapa Lus,kamu naksir ya"


"Hai hai hai...jangan begitu Bu...prasangka nya yang manis manis dan baik aja"


"Heeee,nggak apa apa sama sama single kan nggak ada salahnya"


"Nggak Bu,aku dah punya yang setia"


"Di jamin nggak ? heeeee...


kadang dia ngabarin aku mungkin nelephon sebulan yang lalu.. aku dah lupa.


"Nelephon aku hampir dua minggu yang lalu, orangnya kaku ya Bu,paling nanya khabar Bu Arini...gitu aja,


pernah makan bareng sekali kalinya,


"kriiiiiiiiiiiiing ...ponsel Arini berbunyi,Arini mengerutkan keningnya.


"Hallo..."


"Selamat siang,ini dengan Bu Arini ?"


"Siang juga,ya ini saya sendiri"


"Maaf Bu saya dari rumahsakit saya mau ngabarin kalau Pak Hadinata sama sopirnya Pak Priyo kecelakaan lalulintas,pasien udah di tangani rumahsakit,tapi kasusnya sudah di tangani kepolisian,


Kondisinya sangat memprihatinkan,Ibu atas nama keluarga harap datang ke rumah sakit"


"Astagfirullahaladzim....Lusy Lus"


Semua jadi berkunang kunang, pusing tujuh keliling,gelap,dan lep...Arini pingsan"


"Halo ...hallo..."


Ponsel jatuh di meja.


"Toloooooong, toloooooong...mbak Ana,Tyoooooo...toloooooong Bu Arini pingsan"


Semua datang mengerumuni Arini.

__ADS_1


"Ayo angkat bareng bareng ke sofa aja,


Hati hati...itu bantalnya,


Ambilkan teh manis hangat,sama minyak angin"


"Lusy angkat telephonnya tuh masih nyala"


Tyo mencolek Lusy yang sibuk menggosok gosok minyak angin dan mencium cium kan di dekat hidung Arini, Mbak Ana terusin nih..."


"Ya hallo saya dengan Lusy teman kerja Bu Arini"


.............


"Ya ampuuun...baik baik sesudah Bu Arini siuman kami langsung ke rumahsakit,


Ya selamat siang"


"Pak Hadi sama Pak Priyo kecelakaan tabrak lari...sekarang kritis di rumahsakit"


"Ya Allah..."


"Astagfirullah..."


"Bu,Bu Arini...sadar Bu, sadar..."


Tangannya mulai bergerak gerak,matanya mulai buka ...masih remang remang.


"Lusy...hiks hiks....Mas Hadi..."


"Sabar Bu...Alhamdulillah Ibu udah sadar"


Lusy memeluk Arini yang menangis pilu,Arini berusaha bangun dan duduk mengelus perutnya dengan bercucuran air mata,menutup mukanya dengan kedua tangannya menangis sesenggukan.


"Tenang dulu Bu,minum dulu, baru kita berfikir"


Lusy menyodorkan gelas teh manis hangat,Arini meneguknya.


"Kita ke rumahsakit sekarang,Tyo yang bawa mobil Lusy ikut saya yang lain tetap di sini,


Lusy tolong telephon adik saya Andini kasih tahu biar langsung ke rumahsakit.


"Ya Bu,Ibu kuat ? nggak pusing ?"


"Aku nggak apa apa"


Sampai di ruang tunggu rumahsakit,Arini langsung mencari informasi,seorang suster menghampirinya.


"Ibu Arini ?"


"Ya saya"


"Begini Bu, Pak Hadinata lagi di tangani dokter,karena harus segera ada tindakan, Pak Hadinata kena benturan kuat di kepala sebelah dan badannya sebelah,masih Alhamdulillah Pak Hadinata memakai sabuk pengaman kalau tidak saya nggak bisa membayangkan sedang Pak Priyo hanya benturan di kepala saja, dan luka ringan,Kita berdo'a semoga semua baik baik saja"


"Suster tadi dibawa ke sini suami saya masih sadar ?"


"Enggak Bu,dalam keadaan pingsan"


"Ya Allah...."


"Kalau Ibu mau menemui Pak Priyo bisa di ruangan sebelah"


Suster mengantar dan menunjukkan kamar, Arini, Lusy dan Tyo masuk beriringan.


"Pak Pri...bagaimana kejadiannya, Pak Pri nggak apa apa ?"


"Maafkan saya Bu Arini,saya lengah,saya sama Pak Hadi mau ke proyek, Pak Hadi seperti kurang mood,saya tanya sakit apa enggak dia bilang enggak katanya, saya menawarkan diri untuk menyetir,kami keluar dari parkiran sangat pelan dan hati hati, tak tahunya pas ke jalan raya jedaaak mobil sangat kenceng menabrak pintu mobil sebelah kiri kami Astagfirullah,


Saya hanya melihat mobil yang menabrak sekilas dan langsung kabur,warnanya silver,saya panik lihat Pak Hadi


berlumuran darah,mobil kami terpental sampai naik ke trotoar"


"Sudah, sudahlah Pak Pri, Pak Pri pulihkan diri dulu,istirahat dulu...kita berdo'a saja"


"Saya masih syok Bu Arini, bagaimana kondisi Pak Hadi sekarang ?"


"Saya belum tahu masih di tangani dokter,


semoga baik baik aja"


"Lusy pulang dulu ya mampir ke rumah,kasih tahu Bi Minah,takutnya dia cemas saya nggak pulang,saya di sini dulu sampai tahu kondisi mas Hadi,ada apa apa nanti saya khabari,Nanti saya di temenin Andini...

__ADS_1


__ADS_2